
Hari yang panjang, sangat lelah dan menguras energi.
Sekarang ketiganya sudah tiba di rumah masing masing, Seina ingin segera membaringkan tubuhnya di kasur.
Namun, Arkhan sudah berdiri menyambut kedatangannya.
BRUK!
Tanpa bicara, Seina tiba tiba jatuh ke pelukannya, ia tak sanggup menopang tubuhnya lagi, sangat lemas rasanya.
"Darimana kau sepanjang hari ini?" tanya Arkhan penuh selidik.
mata itu sudah merem melek, dan tubuhnya hampir merosot, untung saja Arkhan memeluknya lebih erat.
"Aku ingin tidur!"
Pria itu membopong tubuhnya dan menidurkan Seina di kasurnya, menyelimuti gadis itu sampai sebatas dada dan mengelus ngelus rambutnya.
"Kau tidak boleh terlalu lelah, ingat bayi kita!"
Seina tersenyum lemah dan menatap Arkhan. "aku tidak lelah, hanya mengantuk!" Seina memiringkan tibuhnya, dan melingkarkan tangannya ke pinggang Arkhan dan membenamkan wajahnya di dada bidang pria tersebut, mengendus aroma wangi di tubuhnya.
"Aku suka kau yang seperti ini" Arkhan balas memeluk, menciumi pucuk rambutnya penuh sayang.
"Aku juga suka kau yang seperti ini" Mata itu mulai tertutup seluruhnya. "Karna itu berhentilah menjadi pria brengsek!" ucapnya lagi sebelum benar benar tertidur.
...-------SKIP------...
__ADS_1
Tengah malam, waktu paling lelap dalam tidur, damai bersama mimpi indah masing masing. Namun mendadak Seina terbangun saat mendengar Arkhan bergumam dalam tidurnya.
"Seina, jangan pergi!." panggilnya dalam ketidak sadaran.
"Arkhan, bangun!" diguncangnya bahu Arkhan dengan pelan.
"Seina..Seina!" lagi lagi Arkhan menyebut namanya dalam mimpi buruknya itu, entah apa yang sedang Arkhan mimpikan, dahinya berkeringat dingin, raut wajah itu teelihat sedih dan hendak menangis.
Puk, Puk, Puk!
Seina beralih menepuk pipinya dan berhasil membuat Arkhan mengerjap, kembali terjaga dengan nafas yang memburu.
Arkhan melirik cepat ke arah Seina yang menatapnya dengan penuh tanda tanya.
BRUK!
"Seina!" Arkhan menarik Seina dalam pelukannya, penuh rasa takut.
"Aku bermimpi buruk!""
Seina melepas pelukannya dan menatap Arkhan. "Tentang apa?"
"Kau, dalam mimpiku kau tertabrak truk dan meninggal di tempat, darahmu mengalir deras...kau...kau pergi meninggalkanku Seina, aku berteriak ketakutan, aku takut." Untuk pertama kalinya Seina melihat pria itu menangis, sampai sesegukan hanya karna sebuah mimpi.
"Berjanjilah untuk tidak meninggalkanku!" pintanya serius, tangannya sudah membelai rambut lembut Seina.
Seina mengulum senyumnya, "Bukankah setiap yang datang akan pergi? Kenapa aku harus berjanji, Toh, kita memang tidak bisa bersama untuk selamanya didunia ini"
__ADS_1
"Jangan katakan kalimat yang sama!" ucapnya membuat Seina menautkan alisnya tak mengerti.
"Maksudnya?"
"Apa kau masih mengingat kakek di kelas kosong itu?"
Seina mengangguk pelan.
"dia datang dalam mimpiku dan mengatakan kalimat yang kau katakan barusan!"
Kakek itu lagi? Kenapa dia selalu memberi pertanda, siapa dia sebenarnya?
"Apalagi yang kakek itu katakan?"
"Aku tidak ingat, aku hanya ingin kau tetap bersamaku"
Seina hanya memasang senyum palsunya, membuat Arkhan sebal.
"Cepat berjanji Seina!" Paksanya.
"Kalau aku berjanji, aku akan membawa beban kalau kejadian dalam mimpimu itu emmph-" kalimatnya tak selesai karna bibirnya langsung di bungkam oleh bibir Arkhan.
"hempp" Seina memberontak saat mendapat serangan tiba tiba, tapi justru Arkhan semakin brutal.
"emm..puah!" Akhirnya Ciuman itu terlepas.
"aku akan membawa beban kalau peristiwa dalam mimpimu terjadi.." Seina melanjutkan kalimatnya yang tak selesai tadi.
__ADS_1
"Tidak akan ada yang bisa mengambilmu dariku, sekalipun itu malaikat maut, aku akan melawan takdirmu" Arkhan kembali menarik Seina dalam peluknya.
Ucapan yang terdengar pongah dan menantang, tapi semua itu hanyalah kata kiasan.