Bola Bola Hujan

Bola Bola Hujan
64. Ranvir


__ADS_3

...Jangan pernah jatuh cinta saat hujan, karna ketika besok lusa kamu patah hati, setiap kali hujan turun kamu akan terkenang dengan jeadian menyakitkan itu ...


...~kutipan, Tere liye ...


Keesokan paginya....


Musim hujan sudah berakhir, tak ada lagi awan mendung di pagi hari atau jalanan yang becek, Dunia kembali cerah seperti semula.


Namun tak secerah hati Seina yang masih di landa kebingungan, menunggu kabar Ranvir dan tak sabar untuk segera menemuinya.


Pagi ini dia pergi bersama Ana, Elena, juga supir pribadi Elena, mereka pergi setelah pamit pada oang tua Elena. Pergi dengan harapan kalau Ranvir baik baik saja di sana.


Perjalanan mereka cukup jauh, mereka menghabiskan waktu sepanjang hari di perjalanan hingga akhirnya tiba dengan penuh perjuangan, melawan pusing dan mual, serta pegal karna Seina sama sekali tak membiarkan mereka berhenti sebentar saja untuk istirahat.


Akhirnya mereka bisa menghirup udara segar


Di sebuah Kota kecil, bersama orang orang ramah yang mau menuntunnya sampai akhirnya mereka tiba di kediaman Ranvir dan neneknya.


Rumah bilik kecil yang kondisinya sudah mengkhawatirkan, terlihat di depan teras itu seorang nenek yang tengah merajut kain.


Seina yakin itu neneknya Ranvir, yang selalu dia ceritakan tentang kehebatan merajutnya.


Seina berjalan mendekat dan menyapanya.


"Selamat malam nek!" sapa Seina dengan sopan.


Nenek itu langsung saja mendongak, dan terpana begitu melihat kedatangan Seina, walau usianya sudah tua, tapi dengan cepat dia bisa mengenali Seina.


"Seina?"


"iya nek, ini Seina!"


Tanpa menunda waktu, Si nenek langsung beranjak dan segera memeluk Seina dengan erat, tangisnya seketila membuncah, membuat Seina khawatir dan tidak mengerti apa yang terjadi.


"Dunia ini terlalu luas nak, Akhirnya nenek bisa melihat kamu sebelum pergi dari dunia ini" ujarnya tak terdengar jelas karna si nenek sudah tak memiliki gigi barang sebiji pun.


"aku juga senang bisa bertemu nenek, syukurlah kalau nenek baik baik saja, tapi bagaimana dengan Kak Ranvir? Apa dia ada?" tanya Seina masih belum merasa lega sebelum melihat keberadaan Ranvir.


Nenek melepas pelukannya dan menatap Seina dengan tatapan sendu, lalu kembali menangis.


"Untunglah kamu datang sekarang, karna besok kamu tidak akan melihat keberadaan Ranvir lagi"

__ADS_1


Alis Seina mengerut tajam, tak bisa mencerna apa yang di katakan nenek.


"maksudnya nek?"


Nenek tersenyum hambar, mata yang sudah berlamur itu terus saja meneteskan air mata.


"ada apa nek?" tanya Seina memaksa.


"ayo ikut bersama nenek sekarang!" Ucapnya sambil menarik tangan Seina dan membawanya pergi entah kemana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nenek membawa Seina ke lapas, membuat dia semakin tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


Nenek terus menuntun tangan Seina dan menghampiri sebuah sel penjara yang ada di paling ujung, di sudut ruangan sana, seorang pria berbadan kurus kerontang meringkuk di atas ubin yang dingin, tubuhnya menggigil hebat, namun tampaknya tak ada yang peduli padanya.


"dia siapa?" tanya Seina tak mengenalinya.


"itu Ranvir"


Demi mendengar itu Seina langsung syok, air mata jatuh tanpa permisi, ia segera berlari dan memegang jeruji besi itu.


"kak..." panggilnya.


"Seina!" ucapnya dengan mata yang sudah berkaca kaca.


"Kakak..."


Mereka tak bisa saling memeluk karna terhalang jeruji besi, hanya saling berpegangan tangan dan sama sama menangis.


Ada begitu banyak tanda tanya di hati Seina, namun waktunya tidak banyak, Seina tidak bisa menanyakan semua itu sekarang.


"kenapa semuanya jadi seperti ini kak, apa yang terjadi?" tanya Seina diringi dengan isak tangisnya.


Baru saja Ranvir hendak menjelaskan, namun beberapa pihak kepolisian datang dan mengeluarkan Ranvir, bermaksud untuk membawa Ranvir pergi dari sana.


"Pak, tolong beri aku waktu sebentar saja untuk bicara pada Adikku" ucap Ranvir dan untung saja hal itu di kabulkan.


"waktuku terlalu singkat untuk menjelaskan semuanya, aku hanya punya satu permintaan untukmu, tolong tetaplah tersenyum, jangan biarkan bola bola hujan itu menjadi tetesan air mata yang tidak kunjung berhenti, biarkan penderitaan itu mengalir bersama hujan, jangan menangis untuk kepergianku, Seina"


"kepergian? maksudnya?"

__ADS_1


dengan berat hati Ranvir menjawab. "aku dihukum mati"


Sedikit demi sedikit Seina mulai mengerti, Ranvir di keluarkan dari sel bukan untuk di bebaskan, tapi untuk menghampiri ajalnya yang akan tiba sebentar lagi, yakni hukuman mati.


"tidak, aku tidak mau, aku sudah kehilangan kakakku, bagaimana aku bisa kehilanganmu juga, kita belum sempat berbagi cerita, lalu bagaimana kita bisa berpisah sesingkat ini, Pak Polisi aku mohon jangan hukum kakakku, dia miliku satu satunya, aku tidak bisa kehilangannya pak..." oceh Seina meronta ronta.


Mereka yang menyaksikan ikut terenyuh, namun demi menegakan keadilan, tak ada yang bisa mereka lakukan.


"jangan menangis Seina, ada hal yang ingin aku katakan"


"apa?"


"aku mencintaimu" Ranvir tersenyum tulus, tapi justru malah membuat Seina berteriak histeris.


"maaf, surat suratmu tidak aku balas lagi, tapi aku membacanya, nenek yang mengantarkannya ke sini!" dia masih memasang senyum pelanginya.


"kakak!" Seina meronta, ia tak bisa bernafas, sesak rasanya.


Ranvir menghapus air matanya. Lalu menarik Seina ke dalam pelukannya dan menciumi setiap inci wajahnya.


"Jaga dirimu baik baik.." Ucapnya untuk yang terakhir kali, karna waktunya untuk berbicara sudah habis.


Tangan Ranvir di borgol dan segera dibawa pihak kepolisian.


"Kak...Kakak jangan tinggalkan aku" Seina kembali menangis, berusaha menghalangi mereka untuk tidak membawa Seina, Namun tubuhnya di tahan oleh seorang polisi wanita di sana.


"Kak...Kau tidak bisa meninggalkanku seperti ini, siapa yang akan menjadi teman curhatku? Siapa yang akan menjadi tempatku untuk merindu? Siapa yang akan menjadi tempatku untuk memgadu? Siapa yang akan menjadi teman hati ku, Kak!, biarkan aku ikut bersamamu, aku mohon!" teriak Seina Frustasi.


Ranvir yang mendengar jeritan Seina tak menoleh lagi, sungguh dia tak sanggup, tak ingin menyayat hatinya lebih dalam lagi.


Biarkan dia yang menyedihkan ini, pergi bersama takdir yang akan mengakhiri kepedihan Seina.


Harapannya saat ini hanyalah...


Semoga kita bisa bertemu di alam keabadian dengan kebahagiaan yang tak terbatas, Seina....


......................


...****************...


...----------------...

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2