Bola Bola Hujan

Bola Bola Hujan
32. Pengeroyokan!


__ADS_3

Kriing!


Kring!


Kring!


Bel pulang membuat murid murid bersorak gembira, Apalagi saat pelajaran sedang rumit rumitnya.


"anak anak, Pelajaran hari ini cukup sampai di sini, untuk soal berikutnya silahkan kerjakan di rumah, dan kita bahas minggu depan, terima kasih, selamat siang!" Guru langsung mengakhiri pelajaran dan keluar kelas.


Diikuti oleh murid murid di belakangnya, terutama Seina, tapi biasanya dia paling telat keluar kelas karna memilih untuk menyelesaikan tugas di sekolah agar kegiatannya membuat es jelly di rumah tidak terjeda.


Tapi karna ini hal yang penting, dia berlari mendahului bu guru untuk menemui Elena, tentu saja karna merasa bersalah telah menamparnya tadi, suatu tindakan di luar kendali, menciptakan karakter jahatnya.


"Permisi, kau lihat Elena?" tanyanya saat tiba di kelas Elena yang kebetulan murid muridnya baru keluar kelas.


"dia tidak masuk sejak pelajaran pertama!"


"Apa?" tanyanya mulai khawatir. Dia langsung saja pergi mencarinya ke setiap penjuru sekolah, berharap Elena ada berada di suatu tempat.


Tapi nihil, keberadaannya tak ditemukan sampai Seina berdiri di balkon sekarang.


"aku keterlaluan!" umpatnya benar benar merasa bersalah.


BUGH!


Tiba tiba seseorang menghantam pundaknya dengan pemukul.


"akh!" ringis Seina langsung saja berbalik , mendapati Lily dan teman temannya itu.


"Pegangi dia teman teman" suruhnya pada teman teman yang sudah menjadi Bodyguard nya itu, sepertinya walaupun Lily masuk neraka, mereka tetap akan setia mengikutinya.


"kenapa kau menggangguku lagi? Aku salah apa?" tanya Seina kembali menjadi tikus penakut.


"salah apa? Kau fikir aku tidak melihat kejadian pagi tadi?, kau sudah mempermalukan sahabatku di depan banyak orang"


"Elena?" tanyanya hampir tidak percaya. "jadi kalian..."


Lily tersenyum miring, dan kembali melayangkan alat pemukul tersebut ke kepalanya.


BUGH


BUGH


BUGH

__ADS_1


Tiga pukulan berturut turut dibagian tubuhnya membuat Seina langsung terkulai lemas, kepalanya pusing dan darah keluar dari pelipisnya.


"lepaskan dia!"


BRUK!


Begitu mereka melepaskan cengkraman tangannya, Seina langdung jatuh tak berdaya


"apa kau sudab mengerti sekarang? Yah, sebaiknya kau mengerti" Lily langsung saja pergi setelah mengucapkan kalimat terakhirnya itu.


tinggalah Seina seorang diri yang berusaha untuk bangkit, dia berjalan terseoh seoh karna pusing di kepalanya itu.


Belok ke kiri, belok ke kanan, maju, mundur, seperti orang sedang mabuk. Sampai akhirnya dia tak bisa menyeimbangkan tubuhnya dan jatuh, ke pelukan seseorang.


"Seina..." panggil orang itu samar samar, Seina yang pandangannya mulai kabur itu tak bisa melihat dengan jelas siapa yang menolongnya, setelah itu ia tak sadarkan diri.


...-------SKIP-------...


Perlahan, kelopak mata Seina bergerak gerak dan mulai terbuka seluruhnya. begitu menyadari dirinya sedang berada di tempat asing, Seina langsung bangun dan duduk.


"aku dimana?" gumamnya sambil memindai seluruh ruangan, sebuah kamar yang mewah dan luas, juga wangi dan rapi, kasur empuk yang di dudukinya saat ini benar benar nyaman.


Kepala Seina juga sudah diperban, luka luka memar dibagian pundak dan dada sepertinya habis di kompres. Dia langsung memeluk dirinya, pasti orang yang mengompresnya menyingkap bajunya terlebih dahulu, astaga, dirinya ternodai lagi!


Pintu terbuka lebar, dan menampilkan seorang Pria bermata sesejuk embun dengan bulu mata lentik penampung hujan, Dan senyum yang setenang samudra. sudah berjalan menghampirinya,


"Alzyland?"


"sudah bangun? Maaf aku membawamu pulang ke rumahku"


"a a apa kamu yang mengobati luka ku?" tanya Seina memastikan.


Dan dengan percaya dirinya Alzyland menjawab. "iya"


Mata Seina melotot dan semakin erat memeluk dirinya. "sungguh?"


Alzyland terkekeh lalu duduk di sampingnya. "kamu sungguh berfikir aku yang melakukannya?"


Seina menggangguk.


"aku tidak seburuk itu, lagipula yang mengobati lukamu itu pelayan di rumah kami"


Ah ya benar, kenapa Seina jadi sering berfikir buruk seperti itu?, sebagai gantinya dia hanya menyeringai dan berkata. "terima kasih"


"siapa yang memperlakukanmu seperti ini?"

__ADS_1


Gadis itu tak menjawab, dia hanya tersenyum menyembunyikan kekecewaannya. Masih berfikir tentang mereka.


Lily dan Elena bersahabat? tapi sejak kapan? Kenapa dia tidak pernah melihat mereka jalan berdua?


"beritahu aku, aku akan mengadukan pelakunya pada guru supaya dia dihukum!" bujuk Alzyland terlihat begitu mengkhawatirkan kondisinya.


"ini masalahku, aku akan mengurusnya sendiri"


"tapi Seina-"


"jangan membantuku lagi, mau aku di pukul atau ada yang menggangguku lagi, biarkan saja, jangan bantu aku!"


"kenapa?"


Seina meletakan tangannya pada rambut kasar pria itu. "jangan sampai sesuatu terjadi padamu, apalagi pada kepalamu, kamu sudah mengingatku sekarang, aku tidak ingin kamu melupakanku lagi"


belum sempat Alzyland berbicara, seseorang kembali datang ke kamarnya. Yah, Aletha, ibunya Alzyland.


"Kamu baik baik saja Seina?" tanyanya.


"iya, aku baik Bu" senyumnya canggung dan menjadi tak nyaman.


"oh syukurlah, saya terkejut saat melihat Alzyland membawamu dengan kondisi seperti ini"


"ah tidak apa apa, ini hanya luka kecil, aku bisa pulang sekarang, terima kasih Bu" senyumnya langsung saja beranjak, namun di tahan Oleh Alzyland.


"jangan pulang sendirian, aku akan mengantarmu"


"ya itu benar, siapkan mobilnya sekarang Al" tambah Aletha langsung mendapat anggukan kecil dari Alzyland.


Tinggal mereka berdua sekarang, suasana yang berusaha Seina hindari.


"Kau senang setelah tahu ingatannya kembali normal?" tanya Aletha mulai mengintrogasi.


"tentu saja" jawabnya pasti.


"kau tahu seberapa besar anakku tidak ingin melupakanmu?"


Untuk pertanyaan itu Seina menggelang pelan.


"sangat besar, hari itu saat dia pulang dengan kepala yang terluka...." Aletha mengingat kembali bagaimana Alzyland begitu antusias membicarakan Seina untuk pertama kalinya.


...----------...


...OOOOOOOOOOOOOOOOOOO...

__ADS_1


__ADS_2