Bola Bola Hujan

Bola Bola Hujan
59. Malaikat atau hantu?


__ADS_3

sekolah sudah berakhir, kuliah ataupun bekerja adalah hak setiap orang, bagi yang rajin dan penuh ambisi, kuliah sambil bekerja tetap mereka lakoni. Bahkan menjadi pengangguran saja tidak ada yang melarang.


Begitulah, hidup adalah pilihan. Dan Seina memutuskan untuk kuliah sambil bekerja, ia ingin hidupnya maju dan sukses, seperti yang kakaknya harapkan selama ini.


Hingga acara perpisahan ini selesai, Seina menatap bangunan sekolahnya sebelum ia pulang, senyum tipis tersirat di bibirnya. Sekolah yang menjadi tempatnya menimba ilmu, sekolah yang bisa membuatnya luar biasa, dan sekolah yang akan selalu di penuhi kenangan.


Ada sedikitnya hal hal bahagia dan tidak bisa ia lupakan bersama teman teman kilatnya.


dan tiba tiba saja sudut mata Seina menangkap bayangan kakek Suji yang pernah menolongnya saat di kelas kosong waktu itu. Dia tersenyum dan melambai, agak ngeri karna pak penjaga bilang kakek Suji sudah meninggal sejak lima tahun yang lalu.


Apa yang dilihat Seina saat ini adalah hantu? Tapi hantu mana yang suka menampakan wujudnya di siang bolong begini.


Seina tidak begitu merasa takut, mungkin saja pak penjaga itu bohong dan hanya mengerjainya, ia pun balas tersenyum dan malah berjalan menghampirinya.


"kek tunggu!"


kakek itu malah akan pergi saat Seina hendak menghampirinya.


" aku ingin mengatakan sesuatu pada kakek!"


tapi kakek tak kunjung bicara, ia terus berjalan, dan membawa langkahnya ke dekat kolam renang tempat dimana Ana menenggelamkannya beberapa waktu lalu.


"hidupmu tetap akan berakhir!" ucap kakek tiba tiba. dia berdiri membelakangi Seina yang justru penasaran akan wajahnya.


"apa maksud kakek?"


"kamu hanya bisa menitipkan pesan terakhir pada kakek" ucapan kakek semakin membuat Seina tak mengerti.


"katakan nak!"


"tapi kenapa?, kakek tau darimana kalau hidupku akan berakhir? apakah kakek malaikat? Ataukah kakek hantu seperti yang pak penjaga katakan?"

__ADS_1


Senyap!


Tak ada jawaban dari kakek, sampai akhirnya angin berhembus kencang, seolah menabrak tubuh Seina hingga membuat dia terhempas dan melayang jauh dalam sekali hembusan.


Swush!


Seina menutup telinganya sambil terpejam, di situlah kejadian aneh bermula, tepat saat Seina menutup mata. Seina melihat bayangan dirinya yang bersimbah darah, orang orang mengelilingi tubuhnya dan menatapnya penuh kengerian.


"Haaaaaa!" teriaknya memecah terpaan angin itu dan membuat Seina tersadar kembali dari alam bawah sadarnya.


"a a apa itu tadi?" tanyanya masih tak percaya.


"katakan nak!" desak kakek penuh penekanan, nada bicaranya seakan tahu kalau Seina baru saja mengalami hal aneh barusan.


"aku tidak perlu mengatakan apapun kek, tidak ada pesan yang ingin di sampaikan, kecuali..." kalimatnya terputus, berfikir akan suatu hal.


"ah, mungkin ada satu, sebentar ya!" lanjutnya lagi, ia membuka tasnya, mengambil buku dan mengambil selembar kertas, lalu menulis sesuatu.


"ini untuk satu orang yang spesial, pesan untuk yang lain hanya satu. bilang pada mereka, jangan menangisi apapun, aku baik baik saja"


Konyol sekali!


Ya, itu memang tak masuk akal, Seina menganggap jika kakek itu hanya berlelucon saja, atau bisa saja dia itu arwah siswi yang gantung diri di kelas kosong dan menyamar jadi kakek kakek,


ah sudahlah!


Hal hal gila seperti ini sudah sering di alaminya, tidak perlu merasa syok atau takut lagi.


"ya sudah, aku pergi ya kek, salam perpisahan!" senyumnya segera membalikan badan.


Namun saat hendak melangkah, ia kembali teringat sesuatu.

__ADS_1


"oh ya, a-"


Degh!


Bertepatan saat Seina membalikan tubuhnya lagi untuk mengucapkan kalimat terakhirnya, kakek itu sudah hilang, entah kemana.


matanya sudah lirik ke sana kemari, tapi tak menemukannya, benar benar aneh. Bulu kuduk Seina langsung meremang, jantungnya berdetak tak karuan.


Puk!


Ia kembali di kejutkan dengan tepukan tangan seseorang di pundaknya.


"Aaaaaaa!" Seina kembali menjerit dan menutup mata. Tubuhnya bergetar hebat detik itu juga.


"kau kenapa?" tanya suara lembut yang sudah Seina kenali siapa pemiliknya.


Dia pun membuka mata dan melihat Ana juga Elena yang menatapnya keheranan.


"kalian?"


"Sedang apa kau di tempat begini? Kami mencarimu dari tadi, ayo kita rayakan perpisahan ini di rumah Ana, katanya ibunya sudah menyiapkan makanan, benarkan?" tutur Elena.


"yap, ayo cepaat!"


Mereka saling merangkul dengan perasaan yang di selimuti kehangatan. Tapi, dalam langkahnya Seina tetap bertanya tanya.


Siapa kakek itu sebenarnya?


-


-

__ADS_1


-


-


__ADS_2