Bola Bola Hujan

Bola Bola Hujan
54. ada apa dengan Ana?


__ADS_3

Sesampainya di sekolah, Seina berpapasan dengan Elena, dari kejauhan gadis itu berjalan dengan kepala yang tertunduk dalam.


Namun Seina tak berniat untuk menegurnya, ia sudah menganggap kalau dirinya tidak pernah mengenal seorang Elena.


Deal, mereka berpapasan tanpa saling menyapa ataupun melirik!


"kakak dia memang orang pertama yang mengulurkan tangannya padaku, tapi dia juga orang pertama yang menghancurkan hidupku" batinnya.


...--------SKIP--------...


Pagi ini pelajaran berlangsung dengan khidmat, hampir setiap guru memberi kisi kisi untuk soal ujian nanti, mereka banyak mencatat hari ini.


Perpustakaan di jam istirahat pun lumayan ramai, Seina yang tak terlalu sering pergi ke perpustakaan akhir pekan ini lebih kerap berada di sana.


Dia bisa berbincang dengan teman teman cupu langganan perpustakaan, toh, orang orang seperti mereka lebih bisa menghargai perasaan seseorang.


"kamu sudah pintar, apa masih perlu belajar?" tanya siswi berkacamata kotak yang duduk di sampingnya.


Seina menutup buku bacaannya dan melirik pada siswi tersebut, agak terkejut karna ternyata dia benar benar sedang mengajaknya bicara.


"aku? Ah tentu saja, aku suka belajar"


"aku juga suka belajar, tapi selalu tak masuk di otak, kenapa ya?" keluh gadis itu.


"bukan tidak masuk, tapi perlu waktu, kuncinya hanya satu, jangan pernah berhenti untuk belajar dan mencoba!" senyumnya kembali membuka buku bacaannya.

__ADS_1


Tak mempedulikan raut wajah gadis itu yang terlihat tampak senang dan bersemangat setelah mendapat dukungan dari Seina.


KRIIING!


KRING!


KRIIING!


Tak terasa bel masuk sudah berbunyi, terpaksa semua orang harus meninggalkan perpustakaan, kantin, dan tempat seru lainnya.


Begitu juga Seina, ia menutup buku bacaannya dan mengembalikannya ke rak buku, lalu keluar, berjalan gontai di barisan paling belakang.


Sret!


Tiba tiba tangannya di tarik seseorang.


"mmm...mmm.." ia kembali memberontak saat di seret orang itu, entah siapa, Seina tak begitu jelas melihatnya, yang pasti dia adalah seorang gadis.


Tak tau kemana dia akan membawanya, rasanya jauh sekali dan jauh dari keramaian.


Tiba tiba, tubuh Seina di dorong dengan kasar oleh orang itu.


BRUSH!


Ia terjebur ke sebuah kolam, Seina yang sangat terkejut itu berusaha untuk naik ke permukaan, tapi begitu kepalanya muncul, sebuah tangan kembali menenggelamkannya. Tak membiarkan Seina bernafas sedikit saja.

__ADS_1


Dengan sisa tenaganya, Seina terus berusaha untuk melepas lakban yang masih merekat di tangannya, tapi nihil, ia tak berdaya.


tubuhnya sudah terisi air, ia melemas, tak bisa bernafas, hampir sekarat, tangan itu semakin menenggelamkan dirinya.


"tuhan, kenapa kau tidak membiarkanku menulis takdirku sendiri" batinnya.


BAKH!


"Ana! apa kau sudah kehilangan akal sehat?" teriak Elena berlari secepat kilat dan mendorong pelaku yang tak lain adalah Ana.


Elena mengangkat tubuh Seina yang sudah tak sadarkan diri, melepas semua lakban di tubuhnya, memompa dada gadis itu agar air dapat keluar.


Syur


"uhuk...uhuk..." akhirnya Seina bisa mengambil nafas sebanyak yang dia mau. tubuhnya menggigil hebat, dia hampir saja mati kalau Elena tidak datang menolongnya.


"toloooong! Toloooong!" Elena berteriak sekuat yang dia bisa, beberapa saat kemudian beberapa orang datang menghampiri mereka termasuk salah satu guru.


Seina yang setengah sadar itu merasa bingung. Kenapa Ana? Kenapa jadi Ana? Ada apa dengan Ana?


......................


...****************...


...----------------...

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2