Bola Bola Hujan

Bola Bola Hujan
70. Pengorbanan.


__ADS_3

Jika mengakhiri hidup sama dengan memutuskan semua hubungan dengan tuhan, maka Seina memilih untuk mengorbankan hidupnya demi seekor kucing liar dijalanan. Yang menurut Seina lebih berhak hidup.


Karna tidak ada kucing yang pernah putus asa dalam hidupnya, tidak ada kuda yang mengeluh, tidak ada katak yang ingin bunuh diri. Sedangkan mereka tidak punya akal. Sementara manusia? Di beri akal sehat dan begitu sempurna, mereka tetap merutuki nasib yang telah tuhan takdirkan.


Aku ingin menjadi jantungmu!


Aku bersedia


Kalau aku tiada, dan kalian menemukanku, aku ingin hidup di dalam tubuhnya, camkan itu baik baik!


Kini, ucapan itu benar adanya. Saat ini, Elena, Ana, dan Arkhan juga Aletha menangis Terisak.


Seina sudah tiada bersama janin dalam kandungannya, akhir kisah yang begitu menyedihkan semakin membuat mereka bagai tertusuk puluhan tombak.


"Pantas saja, semalam aku bermimpi, seorang kakek datang dalam mimpiku, dia mengatakan kalau aku tidak boleh menangisi kepergiannya" jelas Ana masih dalam isak tangisnya.


Arkhan dan Elena terhenyak, mereka jadi saling pandang dan menghentikan tangisnya.


"Aku bermimpi itu juga!" sahut Elena dengan suara sangau karna tangis.


"Kita bermimpi hal yang sama!" tambah Arkhan.


"Aku kira itu hanya sekedar mimpi karna aku begitu mengkhawatirkannya, aku menyesal telah membiarkan dia pergi sendirian"


"Seina, kau tidak bisa pergi begitu saja!" teriak Arkhan merasa rapuh.

__ADS_1


"Cukup!,hentikan semuanya, apa kalian ingat dengan apa yang Seina katakan? Dia ingin hidup kembali, bersatu dengan Alzyland" seru Aletha membuat suasana jadi hening.


Benar, itu benar, itu pengorbanan terakhir yang ingin Seina lakukan demi menyelamatkan hidup orang yang di cintainya.


...-------SKIP------...


2 minggu kemudian....


Kelopak mata Alzyland mengerjap, tatkala sinar hangat mentari menyentuhnya, dengan sangat perlahan ia membuka kedua matanya dan menyesuaikan pandangannya.


"Ibu..."panggilnya begitu melihat orang pertama yang dia lihat.


"Ini ibu sayang" Aletha bernafas lega, ia menangis bahagia begitu mengetahui putranya sudah kembali.


"Kalian juga di sini?" tanya Alzyland menatap ke arah Elena, Ana, dan Arkhan bergantian.


Semua diam, ragu untuk menjawab.


"Dimana Seina?" suaranya serak karna teriak.


"Dia di sini nak!" Dengan pelan Aletha menekan dada kiri Alzyland. Dan itu cukup membuatnya mengerti.


"Ibu, apa dia yang...."


Aletha mengangguk cepat, air mata membuat pandangannya jadi kabur.

__ADS_1


"Jangan sakit lagi, Percayalah, hanya kau yang dia fikirkan selama ini!" Kali ini Arkhan mengambil alih, dia menepuk pundak Alzyland memberi kekuatan.


satu satunya pria yang Alzyland lihat dihadapannya ini, berpenampilan sangat kusut, kacau dan acak acakan, hitamnya mata yang mengalahkan langit malam itu, kini meredup, mengeluarkan cairan bening ketulusan.


Alzyland memegang dada kirinya, menekan sedikit kuat dan menangis, terharu, bahagia, pilu, semua rasa tercampur dalam dirinya.


Seina!


Satu nama yang tidak akan pernah dia lupakan.


Seina Aurelia!


Satu nama yang akan selalu, dan selalu ada di hatinya.


Setiap detakan jantung, helaan nafas, denyutan nadi, dan darah yang beredar dalam dirinya, adalah persatuan antara dirinya dan Seina.


"Satu pengorbanan pun masih tak bisa ku balas Seina, katakan bagaimana aku bisa membalas semua yang telah kau lakukan padaku, katakan bagaimana aku membalasnya bu..." racaunya.


"Seina membuatku pulih dan memiliki kesempatan hidup lebih lama lagi, tapi saat aku bangun, kenapa dia pergi Ibu? Kenapa dia meninggalkanku? Kenapa tidak bilang apapun padaku? Kenapa bu, kenapa?"


Hujan terjadi di kamar rawat ini, bola bola air mata yang menetes, adalah bukti ketulusan hati mereka.


......................


...****************...

__ADS_1


...----------------...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2