Bola Bola Hujan

Bola Bola Hujan
63. Tawa sebelum Luka


__ADS_3

Mulai saat ini, Seina tidak dibiarkan sendiri, Ana dan Elena bergantian untuk menjaganya. Terkadang bi Santi juga menemnaninya, karna Seina tak mau di ajak untuk tinggal bersama mereka.


"aku baik baik saja teman teman, berhenti mengkhawatirkanku!"


"tidak, tidak, pokoknya kau tidak boleh sendirian" ucap Elena


"aku tidak akan berfikir macam macam lagi"


"ya kami percaya" tambah Ana.


"setelah mendengarkan ucapanmu barusan, aku rasa kau benar, jika mengakhiri hidup, kita akan jadi orang yang rugi selamanya"


Mereka dapat bernafas lega setelah mendengar pengakuan Seina, tapi tetap tak bisa meninggalkannya sendirian.


"kalian pulang saja, karna aku ingin menemui seseorang"


"siapa? Kami akan ikut bersamamu!" tanya Ana penuh selidik.


"kakakku, yang hari itu pernah kau lihat, kami selalu berkirim surat selama 5 tahun ini, tapi beberapa bulan terakhir, Ranvir tidak pernah membalas suratku, aku sangat khawatir"


"hello...berkirim surat? Ketinggalan zaman sekali" cibir Elena.


Tapi tak di gubris oleh Seina, fikirannya kembali risau.


"tapi pasti dia sangat berharga bagimu kan? Kalau kau mau, aku bisa mengantarmu, kita bisa naik mobil ayah ku, apa alamat rumahnya itu sangat jauh?" Elena menawarkan diri.


"sungguh? Kau bisa?"

__ADS_1


"iya, kita akan pergi bersama"


"kamu tidak sibuk?"


Elena menggelang cepat, "aah, sibuknya nanti saja"


Wajah murung itu berubah jadi senang, akhirnya dia bisa bertemu Ranvir dengan bantuan Elena.


"kalau begitu, kita bisa pergi besok?"


"tentu saja bisa"😊"


...--------SKIP--------...


Niatan mengakhiri hidup itu berubah menjadi sebuah asa yang membara, Seina memgemas beberapa barang yang akan dibawanya besok, termasuk surat kelulusan dan nilai nilai terbaiknya di sekolah, ia ingin tunjukan itu pada Ranvir kalau sudah tiba di sana besok.


Ayolah!


Bayangan kebersamaan itu terus memenuhi fikiran Seina saat ini. Lupa tentang dirinya yang mau menikah, lupa tentang Alzyland ataupun Arkhan, juga lupa kalau dirinya sedang menangndung.


Bahagia itu rasanya aneh!


"sebenarnya Ranvir itu siapa? Sampai Seina sebahagia ini akan bertemu dengannya?" bisik Elena pada Ana yang sedang menyeruput mie nya.


Ya, mereka sedang duduk santai sambil menonton tv besar yang sengaja Elena bawa dari rumahnya ke sini, supaya tidak terlalu membosankan.


"Ranvir kakak angkatnya" jawab Ana.

__ADS_1


"seperti apa dia?"


"kurus, tinggi, kulitnya seputih mayat, dia memiliki jambul di rambutnya, dan lumayan tampan"


Hem...


Fikiran Elena melanglang buana, sedang membayangkan ciri ciri orang yang di sebutkan Ana, setelah itu dia tertawa kecil.


"jambulnya pasti aneh" cekikiknya membuat Seina yang masih mengemas barangnya menoleh.


Bisik bisik mereka cukup terdengar karna jarak dari ruang tengah, dapur, sekaligus kamar sangat berdekatan, ruangan sempit yang dibagi jadi tiga itu membuat suara sekecil apapun terdengar.


"jambul siapa yang aneh?" tanya Seina keluar dari kamarnya dan menghampiri mereka.


astaga!


Keduanya langsung berhenti cekikian dan terlihat sedang mencari cari alasan.


"jambul? Siapa yang membicarakan jambul? Aku bilang jambu ini bentuknya aneh, berbeda dari yang kubeli biasanya!" alibi Elena seraya menunjukan sebuah jambu merah yang bentuknya memang agak agak aneh di atas meja, diantara tumpukan makanan lainnya.


"oh, tapi benar kok, jambul Ranvir memang aneh!"


Pffft!


Mereka bertiga tertawa lepas, merasa lucu dengan fikiran masing masing, terutama Elena sampai tertawa membahana membayangkan kalau jambul Ranvir seperti ayam jago merah.


Biarlah mereka tertawa sepanjang hari, setidaknya itu membantu kesehatan mereka menjadi lebih baik lagi..

__ADS_1


__ADS_2