
Bantu vote cerita ini yuk!
****
"Bagaimana kalau kita kawin lari aja?" Rustam memberi ide.
Wanita berambut pirang yang berada di depannya terperangah. "Ha? Kamu udah gila apa? Kasian anakku, dong!"
"Viola, manusia berhak mencari kebahagiaan masing-masing." Rustam mengenggam tangan wanita bernama Viola tersebut.
Tatapan mereka saling beradu. Memberi keyakinan pada diri masing-masing bahwa keputusan yang mereka ambil adalah jalan terbaik.
"Ya, tapi, kan…"
"Ssttt … Rena kita bawa. Kita akan tinggal di Paris." Rustam meletakkan jari telunjuknya di depan bibir ranum Viola.
Viola terdiam, dengan sorot sendu.
Rustam menghela napas berat. Kemudian
menyesap kopi cappucinonya sembari menunggu Viola memberi jawaban.
"Gimana?"
"Orangtuaku?" tanyanya resah.
"Untuk apa mikirin mereka? Mereka juga tidak memikirkan kebahagiaan kamu. Hidupmu tergantung dengan pilihanmu, sayang." Rustam menekankan kata-katanya. "Kita akan buat dunia baru, yang lebih indah, yang lebih nyaman, tanpa ada Erwin dan kedua orangtua kamu di dalamnya." Rustam tersenyum tipis.
Viola kembali terdiam.
"Aku yakin, cepat atau lambat orangtua kamu bakalan setuju kalau kamu hidup bahagia sama aku."
"Apalagi hartaku lebih besar daripada harta yang dimiliki keluargamu."
"Tapi … apa nggak ada cara lain selain itu?" tanya Viola masih kurang mantap dengan ide Rustam.
"Ada." Rustam menyeringai. "Bunuh Erwin."
Viola melotot. "Terlalu kejam."
"Lagipula Erwin yang mati. Bukan Rena anak kamu, juga bukan orangtua kamu. Hanya Erwin yang lenyap dari bumi ini. Bukankah itu yang kamu mau?" Rustam menaik turunkan alisnya.
"Aku mending kabur ke Paris daripada membunuh Mas Erwin. Itu namanya kriminal." Viola mendengkus sebal.
"Semua akan di setting dengan rapi. Tidak ada yang tau kalau kita yang merencanakan pembunuhan."
"Nah, kalau itu aku setuju," jawab Viola ragu-ragu. Hatinya masih terasa berat. Maafkan aku mas Erwin.
"Aku akan menelpon pesuruhku untuk membunuh Erwin."
"Kalau kita gagal?"
Rustam tersenyum. "Pergi ke Paris."
"Oke, aku setuju."
Rustam menelpon beberapa pesuruhnya untuk membunuh Erwin dengan cara yang klise. Seperti menabraknya ditengah jalan. Atau mendorongnya dari tangga, atau apapun, pokoknya supaya tidak terlihat kalau itu adalah pembunuhan yang disengaja.
Pria jahat itu juga menyuruh Zahra keponakannya untuk meracuni Erwin. Jika, upaya itu gagal, masih ada rencana-rencana lain.
Rustam tidak peduli jika dirinya sudah punya istri, karena cintanya pada Viola sudah mendarah daging.
Pun dengan Viola yang mata hatinya sudah dibutakan oleh cinta. Apapun akan dia lakukan agar bisa bersama dengan Rustam.
Mereka adalah dua kekasih yang dipisahkan oleh restu orang tua. Viola harus menerima perjodohannya dengan pria mapan bernama Erwin Zamzami hingga membuat Rustam merana.
Meski sudah menikah dengan Sari, Rustam tetap tidak bisa menghilangkan perasaannya pada mantan kekasih.
Hingga setan menunjukkan keahliannya dalam menyesatkan anak manusia.
__ADS_1
Cinta itu sejatinya suci. Tergantung bagaimana cara kita memaknai.
Ketika kita membiarkan mata kita menatap yang haram-haram. Tidak mampu menjaga pandangan. Kenikmatan sesuatu yang halal pun akhirnya tidak dapat lagi kita rasakan.
Hati yang berbunga-bunga, debar-debar dalam dada, perasaan cinta yang memabukkan. Ketika menatap pasangan yang sudah menghalalkan kita dengan ikatan suci, sudah terasa hambar untuk kembali dinikmati.
Kebahagiaan mencintai kehalalan akan musnah jika kita selalu membiarkan hati kita mencintai sesuatu yang haram!
***
Beberapa hari kemudian...
"Apa? Mas Erwin hangus terbakar?" Viola begitu shock setelah mendapatkan kabar dari Rustam.
"Kenapa kamu kaget begitu, Sayang, bukannya ini yang kita inginkan?" tanya Rustam di seberang sana, dengan nada yang begitu tenang.
Entah kenapa Viola merasa sedih, padahal ia sendiri yang merencanakan semua ini.
Viola dan Rustam lah yang menyuruh beberapa orang untuk merusak rem mobil Erwin, berupaya menabrak Erwin, sampai mengkonsletkan aliran listrik di rumah kakek Erwin hingga terbakar.
Mereka tahu bahwa Erwin sangat menyayangi kakeknya. Pria itu pasti tidak akan membiarkan sang kakek hangus terbakar di dalam rumah. Hingga Erwin nekad ingin menyelamatkan dan masuk ke dalam jebakan.
Namun, kenapa Viola justru merasa hancur setelah rencananya berhasil?
"Sayang?" panggil Rustam di seberang telepon.
"Ah, iya," jawab Viola kikuk, terbangun dari lamunannya.
"Kamu nggak seneng?"
"Eh, ehmm… aku… iya, aku seneng, kok," jawab Viola terpaksa.
"Ya udah, kamu pura-pura tidak tau saja, biar polisi yang mengabari kedua orangtua kamu, dan juga orangtua Erwin. Udah, ya, aku matiin dulu teleponnya, love you."
Tut.
Viola menghela napas gusar, sambil mengusap-usap wajahnya.
Pantaskah ia melakukan ini kepada laki-laki yang selalu bersikap lembut kepadanya?
Meskipun ia tidak pernah membalas cinta tulus Erwin selama ini.
"Mama!" Rena, anak semata wayangnya, berlari menghampiri Viola yang duduk di sofa ruang keluarga.
"Apa, Sayang?" tanya Viola menahan tubuh Rena yang melompat ke pangkuannya.
Gadis kecil itu mengenakan piama dengan rambut yang dikuncir ekor kuda. Terlihat sangat imut, mirip seperti Erwin.
Tanpa sadar Viola kembali teringat dengan nasib suaminya itu. Bagaimana perasaan Rena nanti jika tahu ayahnya sudah meninggal. Viola tidak sanggup membayangkan itu.
"Besok, Mama sama Papa datang ya, ke sekolah. Rena ikut lomba nyanyi lho," ucap Rena manja sambil memainkan rambut panjang Viola.
"Kok, mendadak banget?"
"Biar supreise, Rena lupa-lupa terus mau ngomong," Rena terkikik.
"Pokoknya Mama sama Papa harus dateng. Mama-papa temen-temen Rena juga dateng. Ini sebenarnya sama ngrayain ulang tahun sekolah, ada banyak lomba, tapi Rena cuma ikut lomba nyanyi."
"Mama aja ya, yang datang, Papamu lagi ada urusan keluar kota soalnya." Viola memejamkan matanya pedih, seperti teriris-iris.
"Pokoknya Papa juga harus datang, TITIK." Rena cemberut.
"Tapi …" Viola meneguk ludahnya dengan susah payah. "Emangnya kamu mau nyanyi lagu apa?"
"Rena mau nyanyi lagu Ibu kita Kartini. Pokoknya Mama sama Papa harus dateng, nyemangatin Rena."
"Iya besok pasti dateng, kamu tidur dulu ya, udah malem." Viola mengusap-usap puncak kepala Rena lalu mengecupnya.
Rena mengangguk. "Awas kalau Mama sama Papa nggak dateng," ancam Rena sebelum berlari menuju ke kamarnya.
__ADS_1
Semalaman suntuk Viola tidak bisa tidur, gelisah memikirkan nasib Erwin.
Entah kenapa ia begitu khawatir, setidaknya ia ingin tau kabar terakhir tentang Erwin. Tapi Rena? Arrggghhh… Viola begitu pusing.
***
Dengan mata yang membengkak, Viola menonton pertunjukkan tahunan yang diadakan di sekolah Rena. Sebentar lagi lomba bernyanyi akan segera di mulai, itu artinya Rena akan tampil di atas panggung.
Rena mendongak menatap ibunya. "Kok, Papa belum datang, sih, Ma?"
"Udah kamu siap-siap."
"Rena nggak pengen tampil kalau Papa nggak dateng," rengek Rena sambil memukul-mukul tangan Viola. " Rena pengen Papa liat kalau Rena itu pinter, Ma."
"Sstttt… jangan berisik, ah," Viola mencoba menenangkan Rena, walaupun hatinya sendiri tidak tenang. Ia juga merasa sedih karena sebentar lagi mereka akan mendengar kabar duka dari Erwin. Tentu saja hal itu akan membuat Rena semakin hancur.
"Ma, Papa mana, sih, Ma?" Rena menghentak-hentakkan kakinya ingin menangis dipangkuan Viola.
Viola mendongak sambil memejamkan mata. Kesedihan benar-benar menggrogoti hatinya.
"RENATA ZIVILIA."
Suara dari microfon itu membuat Rena menatap Viola dengan mata berkaca-kaca. "Papa beneran nggak dateng?"
Viola tersenyum, sambil mengusap-ngusap wajah Rena yang murung. "Nanti Mama rekam, biar Papa bisa lihat rekaman kamu nyanyi."
"Tapi Rena pengen Papa dateng."
"Rena. Kamu harus semangat, Papa pasti seneng, kok, liat rekaman kamu di atas panggung."
Papamu sudah tenang di alam sana, lanjut Viola dalam hati.
"RENATA ZIVILIA!!!"
Suara itu kembali menggema, membuat seluruh orang celingak-celinguk mencari pemilik nama yang belum juga maju ke depan.
"Cepetan, Sayang, ditungguin gurunya, lho!" Viola menghapus air mata Rena yang menatap ke arahnya.
Rena mendesis, kemudian berjalan menuju panggung. Sia-sia saja usahanya selama ini, diam-diam berlatih bernyanyi tanpa sepengetahuan kedua orangtuanya, hanya untuk memberi suprise.
Namun nyatanya, ayahnya tidak hadir sebegai penonton yang bertepuk tangan atas penampilannya.
"Rena kamu udah siap?" tanya Bu Maudy tersenyum ke arah Rena.
Rena hanya terdiam. Gadis itu mengedarkan pandangannya ke sekitar, melihat semua teman-temannya duduk bersama ayah dan ibunya. Bola matanya jatuh pada sosok ibunya yang mengacungkan jempol memberi semangat.
"Rena ayo cepetan nyanyi!" pinta Bu Maudy, yang sudah tidak sabar menunggu penampilan Rena.
Rena memberengut, ia sudah tidak punya hasrat lagi untuk bernyanyi karena ayahnya tak kunjung hadir.
Senyum di bibir Viola memudar melihat wajah masam putri kesayangannya itu. Rasa bersalah mulai menggrogoti hatinya.
Benar kata mas Erwin, perceraian hanya akan membunuh senyuman yang selalu terlukis indah di wajah Rena.
Rena menutupi wajahnya dengan telapak tangan. Ia lebih baik menangis di kamar mandi daripada harus bernyanyi. Ia sudah tidak punya semangat lagi.
"Rena … ayo!"
Rena tak menggubris ucapan Ibu guru. Semua penonton juga terlihat kesal karena Rena tak kunjung bernyanyi.
Rena berniat untuk turun dari panggung, karena percuma saja ia menampilkan yang terbaik kalau ayahnya tidak menyaksikan aksinya.
Baru selangkah Rena melangkah, tiba-tiba pintu aula terbuka menampilkan sosok gagah lelaki tampan mengenakan kemeja biru dongker yang dimasukkan ke celana, lengkap dengan dasi kupu-kupu.
Pria yang wajahnya terbalut perban itu tampak tersengal-sengal karena berlari terburu-buru.
Wajah Rena yang tadinya murung berubah ceria. Gadis kecil itu tersenyum manis sambil melambai-lambaikan tangannya ke arah pria itu.
Viola sedikit terkejut saat melihat perubahan raut wajah Rena. Rena kembali berdiri di depan microfone, bersiap-siap untuk bernyanyi.
__ADS_1
Bantu vote cerita ini yuk!