
Aku sudah mengelola banyak perusahaan propety dan batu bara milik keluarga sendiri dari usia yang masih sangat muda.
Kemudian setelah menikah dengan Viola, mertuaku memberikan jabatannya sebagai CEO di perusahan smartphone dan pengelolaan hotel Wijaya Group kepadaku.
Pusing? Tentu saja. Jadwal yang begitu padat membuatku sering kehilangan waktu untuk memperhatikan keluarga.
Hingga akhirnya hancur seperti sekarang.
Aku menyesap secangkir kopi susu di atas meja. Lalu, kembali melanjutkan aktivitas menandatangani berkas-berkas.
Sesekali perhatianku beralih ke layar komputer. Menginput data-data pemasukan yang dikirimkan oleh karyawan di perusahaanku yang lainnya. Kemudian berpindah ke arah ponsel, membaca keluhan dari para manager tentang kendala yang dihadapi para karyawan sehingga system tidak berjalan dengan lancar.
Aku langsung mendongak setelah terdengar ketukan pintu dari luar. "Masuk!"
Perlahan baja persegi itu terbuka, memunculkan sosok wanita berambut pirang yang mengenakan setelan outer berwarna mustard.
Viola duduk di kursi yang ada di depan mejaku sambil memangku tas brandednya yang berwarna hitam.
"Rustam bilang kamu baru saja melangsungkan pernikahan?" tanyanya dengan tatapan sinis. Menyelipkan rambut panjangnya yang tergerai ke telinga.
Aku menghempaskan tubuh pada sandaran kursi busa dengan santai. "Ya!"
"Cepat urus surat perceraian kita. Izinkan aku menikah dengan Rustam."
Aku menggoyang-goyangkan kursiku sambil menghela napas. "Kamu mau jadi istri kedua dia?"
"Rustam akan segera menceraikan istrinya."
Kedua sudut bibirku tertarik sedikit. "Kamu mendingan tetap jadi istriku yang pertama, daripada jadi yang kedua sebagai istri Rustam."
Viola tampak menggeram. "Sudah lah urus saja kebahagiaanmu sendiri! Biarkan aku bahagia dengan caraku sendiri!"
"Aku tidak yakin jika Rustam bisa membahagiakanmu," desisku sambil membungkuk. Dengan kedua tangan yang menopang meja.
"Rustam tidak pernah mengecewakanku!"
"Ada yang salah dengan otakmu," sindirku sambil menyeruput secangkir kopi susu di atas meja.
Viola tampak mengepalkan tangan. "Tidak usah kebanyakan mukadimah, cepat urus surat perceraianmu denganku!"
"Orang tuamu belum setuju, Viola!"
"Kita sudah dewasa, tidak perlu menunggu persetujuan mereka!"
Aku terdiam cukup lama. "Hmm, kalau aku tidak mau menceraikanmu bagaimana?"
Viola semakin kesal. "Yaudah biar aku sendiri yang akan meminta surat gugatan cerai ke pengadilan!"
"Aku akan menceraikanmu, asalkan kamu tidak menikah dengan Rustam."
"Kenapa? Itu tujuanku bercerai denganmu!" Viola menaikkan dagu dengan wajah menantang.
Emosiku langsung meledak.
"Dia orang jahat Viola!" Aku menggebrak meja dengan kasar. Kehilangan kesabaran.
"Apakah kamu tidak tahu seberapa jahatnya dia!" lanjutku penuh amarah.
"Aku tidak peduli, yang penting kita bisa bersama. Hanya dia yang mengerti perasaanku!" Viola membalasnya dengan suara yang tak kalah kencang.
"Apa selama ini aku pernah menyakitimu?"
"Iya, buktinya kamu nikah lagi!" jawab Viola dengan wajah memerah.
"Aku nikah lagi karena jengah melihat drama yang sudah kamu pertontonkan!"
"Kamu, papa, dan mama nggak pernah mengerti perasaanku. Aku benci dengan perjodohan kita dahulu!" Viola berdiri dari duduknya sambil menunjukku dengan jari telunjuk.
"Kamu nggak kasihan sama Rena?"
"Kalau kita cerai, Rena akan ikut aku. Aku yang akan membesarkannya!"
Aku memejamkan mata menahan emosi. Kemudian menghembuskan napas beberapa kali.
"Lagipula aku juga tidak sudi dimadu. Kamu nggak usah menahanku untuk bahagia, karena aku juga tidak pernah melarangmu untuk bahagia!" Viola kemudian pergi dari hadapanku yang masih mematung dengan tatapan kosong.
Brakkk!!!
Beberapa saat kemudian, aku menghempaskan kembali tubuhku ke kursi busa. Lalu, memijat kening yang bertambah pusing.
Aku harus memikirkan rencana untuk menggagalkan niat Viola menikah dengan Rustam.
Hanya laki-laki bodoh yang mau mengikhlaskan kekasihnya untuk singa buas seperti Rustam.
***
Sepulang dari kantor, aku menyempatkan diri mampir ke apartemen Zahra. Biar bagaimanapun, gadis itu sekarang sudah sah menjadi istriku.
Ada yang aneh. Melihat ranjang Zahra yang terlihat sangat rapi. "Apa kah kamu memberi saya kode?"
__ADS_1
Zahra yang mengenakan daster cerah bermotif bunga menggindikkan bahu. Perempuan itu baru saja membawakan secangkir teh hangat dari dapur.
Dengan wajah lelah, aku melepas jas kantor dan mengendurkan dasi.
"Saya siapkan air hangat untuk Bapak mandi."
Aku mengernyitkan dahi.
"Kenapa?" tanyanya.
"Hufft, kenapa masih memanggilku bapak? Aku bukan orang tuamu."
Zahra mengulum senyum, memperlihatkan dua gigi gingsul. Kemudian melanjutkan langkahnya ke kamar mandi.
"Aku nanti tidak tidur di sini."
Wanita muda itu berhenti dan berbalik badan. "Lalu, tidur di mana?"
"Di tempat lain. Ada urusan yang aku urus."
"Lembur?" tanyanya.
"Ya, bisa dibilang begitu." Aku mengangguk sambil menyeruput teh hangat buatannya.
Wajah imut Zahra tampak cemberut. "Kamu tinggal di mana sih?"
Aku menghela napas lelah, sambil mengusap kening.
"Aku curiga kamu udah punya istri?" Zahra melipat kedua tangannya di depan dada.
Aku tertunduk lesu. Lidah ini terasa kelu untuk menjelaskan semuanya.
"Kita bahkan belum melakukan ritual malam pertama, Pak."
Terselip kemarahan pada suaranya.
"Apa Pak Erwin tidak mencintaiku. Lalu, untuk apa kita menikah."
Aku mendorong kursi ke belakang, kemudian beranjak. Menghampiri Zahra dan mendekap tubuh mungilnya.
Wanita setinggi bahuku itu hanya terdiam saat aku mengusap-usap punggungnya.
"Apa kamu ingin melakukan malam pertama denganku?"
"Tidak sih, cuma penasaran aja kenapa pak Erwin terlihat tidak tertarik melakukan itu."
"Maaf, aku tidak bisa tidur denganmu malam ini." Kudekap tubuh itu dengan erat.
"Bapak belum menjawab pertanyaanku?"
"Apa?"
"Apa pak Erwin sudah punya istri."
Aku menghela napas kasar. Memejamkan mata sambil mendorong wajah Zahra ke dadaku. "Aku belum bisa menjawabnya sekarang."
Zahra langsung berusaha melepas pelukanku. Kemudian melotot tajam. "Itu tandanya iya!"
"Kenapa kamu berspekulasi seperti itu?"
"Kalau Pak Erwin nggak punya istri pasti jawabannya cepat dan menyakinkan. Kalau bapak bilang begitu berarti tandanya punya. Gimana sih pak, istri bapak bukan anak kecil!"
Aku terdiam beberapa detik, kemudian menunduk. "Maaf."
"Jadi, bapak beneran udah punya istri?" tanya Zahra dengan wajah penasaran.
Aku mengacak-acak rambut pusing, kemudian melangkah menuju kamar mandi. "Iya, aku dan istri pertamaku akan cerai. Makanya aku nikahin kamu."
Entah bagaimana ekspresi Zahra, aku terus melangkah masuk ke kamar mandi kemudian membasuh muka.
Namun, hal itu tak mampu mendinginkan pikiranku.
Akhirnya kuputuskan untuk melipat lengan kemeja sebatas siku dan melakukan wudhu.
Setelah selesai berwudhu, aku keluar dari kamar mandi. Melirik ke arah Zahra yang melamun di meja makan.
Aku berjalan ke arah lemari. Mengambil sajadah. Menatanya di dekat ranjang, menghadap kiblat. Kemudian bersiap menunaikan sholat.
"Tunggu, Pak!"
Aku menoleh.
"Aku ikut!" Perempuan itu buru-buru masuk ke kamar mandi.
Aku sedikit terperangah. Kemudian, merekahkan senyuman melihat tingkahnya.
Zahra sudah kembali keluar dengan wajah yang basah. Tampak semakin berseri-seri terbasuh air wudhu.
"Mau ikut ke mana?"
__ADS_1
"Sholat sama bapak." Zahra mengambil mukenah dari dalam lemari.
"Aku terharu."
"Kenapa Pak?" Zahra berhenti dari aktivitasnya mengenakan mukenah, hanya untuk menoleh ke arahku.
"Karena kamu mau ikut sholat."
"Aku aja nggak nyangka kalau orang sekelas bapak mau sholat," balas Zahra meledekku.
Aku tertawa. "Kamu pikir hidupku hanya diisi dengan kerja dan kerja?"
"Orang kaya biasanya kayak gitu, gila harta dan hanya memikirkan kesenangan."
Aku tertawa pilu dalam hati. Benar, apa yang dikatakan Zahra. Karena mengejar dunia aku terkadang sampai lupa sholat.
Mungkin, itu yang jadi penyebab hidupku berantakan. Aku lupa tujuan hidup yang sebenarnya.
Zahra mengambil sehelai kain penutup meja yang ia taruh di belakangku untuk pengganti sajadah.
Kemudian kami mulai melaksanakan shalat isya. Setelah selesai, aku membaca dzikir untuk meminta pengampunan dan memenangkan hati.
Keadaan menjadi lebih baik. Lalu kututup dengan doa kepada orang tua dan doa sapu jagad.
"Pak!"
Aku menoleh.
"Cium tangan dulu napa!" ucapnya dengan wajah memelas.
Aku terkekeh. Menyodorkan tanganku ke arahnya. Zahra langsung mencium tanganku dengan takdzim.
"Makasih ya." Aku menepuk-nepuk puncak kepalanya.
"Untuk?" Iris mata bening Zahra menyorot ke arahku.
"Karena sudah mau menjadi pendamping hidupku."
Perempuan berkulit putih itu merapatkan bibir. Kemudian manggut-manggut.
"Baper?"
"Hmm, iya lah!" jawabnya kikuk. Mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Aku mencapit bibir tipisnya yang menggemaskan. "Dasar!"
"Ih!" Zahra mencoba menyingkirkan tanganku yang mengunci mulutnya. "Apaan sih, Pak!" teriaknya setelah terlepas.
Aku terkekeh. "Kamu masih ingat perjanjian kemarin?"
"Perjanjian apa!" jawabnya ngegas. Masih kesal bibirnya kucubit.
"Kalau kamu manggil aku 'bapak' dapat hukuman?"
"Bodo amat!" Zahra merengut sebal. Mengalihkan pandangannya ke arah lain sambil bersedekap.
"Perjanjian tetaplah perjanjian!" Aku mencekal tangannya yang tertutup mukenah.
"Ishh, emangnya sekarang mau dihukum apa? Push up? Sit up? Rol depan rol belakang?"
"Cium?" Aku menyodorkan pipiku.
"Ogah!"
"Kenapa?"
"Bapak nggak mau tidur di sini."
"Ciee ...," Aku mencolek pipinya. "Minta dihamilin, ya?"
"Dih, enggak ya."
"Terus?"
"Kan, suami istri. Masak nggak tinggal bareng sih." Zahra masih bertahan dengan ekspresi kesalnya.
"Nanti, kalau urusanku udah beres, hmm."
"Terserah!" jawabnya cuek, kemudian beranjak dari duduk.
Aku buru-buru menariknya hingga terjatuh ke dalam pelukan.
Memeluknya dengan hangat, mencari ketenangan di sana. "Besok solat jama'ah lagi," bisikku.
Zahra terdiam. Membalas tatapan mataku. Pandangan kami saling menyorot. Menyelami iris mata masing-masing.
Aku mencium pipinya gemas. Berulang-ulang kali.
Hargai penulis dengan follow Instagram nurudin_fereira ya 🙏
__ADS_1