
"Mas, berhenti, Mas!!!" ucap perempuan berumur 23 tahun itu kepada suaminya yang sedang fokus mengemudi.
"Apaan, sih?" dengus sang suami menginjak rem dengan kasar kemudian menoleh ke arah sang istri.
"Itu tuh Mas, nama rumah makannya lucu." Wanita itu menunjuk sebuah toko di pinggir jalan sambil terkikik.
Sang suami juga terlihat memberi respon yang positif tatkala menatap warung makan di seberang sana, apalagi dengan keadaan perutnya yang lapar saat ini. "R-rumah Ma-makan Selingkuh?" ucapnya mengeja plakat besar di toko itu.
"Ah yuk, ke sana Mas! Pengen nyobain rasanya," ajak sang istri semangat 45.
"Hmm, boleh." Suaminya tersenyum. "Aku jadi penasaran kenapa warungnya dinamain rumah makan selingkuh? Jangan-jangan ada banyak cewek-cewek cantik yang siap untuk dijadikan selingkuhan … aw!!!" pria itu memekik saat dicubit oleh istrinya.
"Awas kalau aneh-aneh!" dengusnya.
"Iya-iya ah, becanda!" jawab sang suami membanting stir ke arah kiri memasuki area parkiran toko tersebut yang terlihat sudah ramai.
Ya, rumah makan Zahra memang mengalami perkembangan yang cukup signifikan.
Baru setengah bulan rumah makan itu berdiri, Zahra sudah meraup keuntungan besar karena dagangannya diserbu oleh banyak pembeli. Daya tarik dibalik nama 'RUMAH MAKAN SELINGKUH' sangat mempengaruhi minat pelanggan.
Awalnya memang Erwin membayar banyak orang untuk menjadi pelanggan tetap, yang meramaikan usaha istrinya. Namun, lama-kelamaan banyak pelanggan asli berdatangan sendiri. Entahlah. Mereka datang karena rumah makan itu selalu terlihat ramai, atau karena penasaran dengan nama rumah makannya yang unik.
Bahkan Zahra sendiri harus turun tangan untuk membantu karyawannya yang kualahan melayani pesanan dari para pelanggan.
"Oke, temen-temen, saya kali ini sudah berada di Rumah Makan Selingkuh. Wow keren banget, kan, namanya? Kali ini kita ingin mencicipi makanannya nih, jangan lupa like and subcribe dan tekan tombol lonceng untuk mendapatkan notifikasi terbaru dari channel ini!" celoteh salah satu pemuda yang berbicara ke arah camera digital yang dipegang oleh temannya.
Itulah salah satu alasan mengapa warung makan yang didirikan Erwin cepat sekali mendapat banyak pelanggan. Hadirnya para youtubers yang tidak hanya satu atau dua orang ke warungnya untuk membuat konten video, cukup mempermudah melejitkan nama Rumah Makan Selingkuh.
"Awas nanya-nanya doang tapi nggak beli!" ancam Vina yang langsung diinjak kakinya oleh Fitri. Pasalnya karyawan cantik yang satu itu sudah bosan meladeni para youtubers yang banyak tanya tapi sama sekali tidak memesan makanan.
"Owh, nggak usah kawatir Mbak, kami pasti beli, kok," jawab pemuda itu dengan tawa renyahnya. "Kira-kira kenapa, nih, warungnya dinamain Rumah Makan Selingkuh?"
Vina memutar bola matanya malas. Sudah puluhan kali ia menerima pertanyaan seperti ini dari youtubers yang berkunjung ke warungnya. "Hmm, lain kali bisa nggak buat plakat youtubers dilarang makan di sini?" gumamnya dalam hati.
Pemuda itu masih senantiasa menunggu jawaban dari Vina.
"Oke, jadi begini… ah, YA AMPUN!!!" Vina memekik kencang dan menjatuhkan nampan yang ia pegang saat melihat gerombolan orang berpakaian rapi memasuki warung makannya.
"Kenapa Mbak?" tanya si youtubers saat melihat Vina terlihat begitu histeris menatap ke arah pintu.
"Sabyan Gambus? Ihhh, Nissa Sabyan mau makan di sini!" Vina berlonjak-lonjak girang. Si youtubers langsung ikut menengok ke arah pandang Vina dan melongo melihat grup penyanyi itu juga tertarik makan di sini.
Vina berlari ke arah dapur menghampiri Zahra yang sedang sibuk memasak ayam goreng. "Mbak Zahra ada artis yang mau makan di tempat kita!" teriak Vina histeris.
"Apaan sih, Vin?" Zahra menyeka peluh yang ada dahinya kemudian menoleh ke arah Vina.
"Itu Mbak ada artis!" tunjuk Vina ke arah luar.
__ADS_1
"Ya, kamu layanin, dong, mau pesen berapa." Zahra memutar bola matanya.
"Owh, iya, lupa." Vina menepuk jidatnya kemudian berlari menghampiri grup Sabyan Gambus yang sudah duduk di ujung sana. Terlihat beberapa pelanggan histeris meminta foto.
"Mau pesen berapa, Kak?" tanya Vina mencoba biasa saja. Ia ingin berteriak saat Nissa Sabyan tersenyum ke arahnya.
"Hmm, ini kita berapa orang?" tanya Nissa menghitung personil Gambus beserta manager dan kru-kru mereka. "Duabelas porsi Mbak, yang pedas, ya. Sama minumnya es teh aja," ucapnya setelah menghitung.
Vina memamerkan sederet giginya putihnya, kemudian merogoh ponselnya yang berada di saku celana dibalik apron. "Selfie dulu, dong, Kak. Kapan lagi ya kan, ketemu Nissa Sabyan."
"Haduh keburu laper kita Mbak." Nissa terkekeh. "Yaudah, sini biar aku pegangin handponenya." Nissa meraih ponsel yang dipegang Vina.
"Lho, ini gimana sandinya, Mbak?" tanya Nissa Sabyan karena tidak bisa membuka kunci layar ponsel Vina yang diberi kata sandi.
"Owh, sorry Kak gini!" Vina membantu penyanyi sholawat kondang itu untuk membuka sandinya. Namun saat Vina ingin kembali menyerahkan ponselnya. Si youtubers tadi sudah menguasai perhatian Nissa Sabyan.
"Nissa Sabyan kenapa, nih, tertarik makan di sini? Karena makan favorit atau?" tanya si youtubers tadi.
"Bukan favorit, sih. Makanan favorit aku itu nasi kotak." Nissa meledakkan tawanya.
"Hmm ya, karena yang pertama laper, yang kedua penasaran aja sama nama warungnya. Rumah Makan Selingkuh." Nissa mengakhiri kalimatnya dengan penuh penekanan.
Sementara Vina kepalanya sudah berasap, tinggal siap-siap menunggu untuk meledak. Rasanya ia ingin sekali mencakar-cakar wajah si youtubers tadi. Gara-gara ingin mendapat gaji dari google adsanse laki-laki itu sampai berani kurang ajar menggagalkan acara selfienya yang belum keturutan bersama Nissa Sabyan.
"Vina! Cepetan, sih, ngantri itu!" tegur Fitri yang terlihat kelelahan mondar-mandir mengantarkan pesanan ke meja pelanggan.
"Ah, elah. Nanti juga bisa. Itu pelanggannya dilayanin dulu." Fitri melotot ke arah Vina.
"Huh, gagal, deh, selfie bareng sama Nissa Sabyan." Vina mengerucutkan bibirnya kemudian melenggang ke arah dapur.
Di sudut ruangan, Erwin yang kebetulan berada di tempat itu langsung menelpon seseorang. "Iya, cepetan ke sini ya Rena, ada Nissa Sabyan, nih."
"Duabelas porsi, Mbak," ucap Vina kepada Zahra. "Aku mau selfie du …" Vina menghentikkan ucapannya saat Zahra melangkah keluar dari dapur penggorengan.
"Kamu goreng ayamnya dulu ya Sayang. Mbak mau proto-proto dulu sama dedek Nissa Sabyan." Zahra terkikik.
Astaga naga! Vina ingin sekali menyebutkan nama-nama hewan saat ini juga. "Jahat, padahal aku juga ingin foto!"
"Nanti Mbak kasih fotonya, ya." Zahra mengedip-ngedipkan sebelah matanya meledek Vina.
Vina mengerucutkan bibir hingga beberapa senti. Kemudian membolak-balik ayam di wajan dengan sebal. "Ada aja halangannya. Padahal ini kesempatan emas yang nggak bakalan dateng dua kali."
"Ya Tuhan tolonglah hambamu ini!"
"Hamba hanya orang kampung yang nggak pernah ngliat artis!"
"Mereka benar-benar keterlaluan!"
__ADS_1
"Mbak Zahra sama Pak Erwin yang biasanya baik berubah jadi jahat gara-gara ketemu artis."
"Karena lapar merubah segalanya."
Vina menciduk nasi ke mangkuk berbentuk bulat untuk dijadikan cetakkan. Kemudian menaruhnya ke atas 12 piring yang sudah ia tata rapi. Tak lupa ia menambahkan beberapa lalapan disamping nasi, disusul ayam goreng yang sudah matang. "Selesai!" ucapnya setelah menaburi bawang goreng di atas nasi.
"Tinggal nyiapin sambelnya." Vina kembali mendengus karena keinginannya untuk foto bersama Nissa Sabyan kembali bergejelok. Namun, ia harus tetap profesional.
"Vina! Ikut foto nggak nggak?" tanya Zahra yang menyembulkan kepalanya dibalik pintu.
"Ha? Ini makanannya?"
"Udah, ditinggal aja bentar."
"Beneran, Mbak?" Vina langsung terlonjak girang.
"Yuk, cepetan!"
"Alhamdulilah!" Vina bersyukur. Ia bergabung dengan grup Sabyan Gambus yang sudah berdiri sejajar bersama Erwin, Zahra, dan juga Fitri. Ada Rena dan Viola juga yang entah sejak kapan sudah datang. Fitri menjulurkan lidahnya memancing emosi Vina. Vina mendengus kemudian berjongkok di depan mereka. Membentuk formasi seperti pemain bola akan bertanding. Rupanya si youtubers tadi yang dengan baik hati memfotokan mereka.
***
Rumah Makan Selingkuh sudah tutup. Karena stok makanan mereka sudah habis diserbu pelanggan. Kini Zahra dan dua karyawannya sedang sibuk menghitung keuntungan yang akan mereka pakai untuk membeli kembali bahan pokok yang akan dijual besok, sebagian disimpan untuk gaji Vina dan Fitri di akhir bulan, sisanya ditabung.
Rena dan Viola baru saja pulang setelah menyempatkan diri berkunjung ke sini.
"Vina, nanti beli daging ayamnya yang banyak ya, biar nggak kehabisan lagi," ujar Erwin yang ikut membantu mereka menghitung laba, mencatat rasio keungan dan juga profit yang didapat. Mengatur berapa jumlah uang yang keluar, dan berapa yang akan ditabung.
Pengalaman Erwin memimpin banyak perusahaan sudah tidak diragukan lagi, apalagi dibidang bisnis. Karyawannya saja ribuan, apalagi hanya untuk memajukan sebuah rumah makan. Itu masalah kecil.
Kalau bukan karena demi menyenangkan hati Zahra, Erwin tidak akan mungkin mau mengurusi hal sesepele ini.
Ponsel Zahra berdering. Zahra beranjak dari duduknya kemudian pergi ke dapur untuk mengangkat telepon. Karena suara Vina dan Fitri yang saling mengejek cukup keras sehingga menggangu pendengaran Zahra.
"Iya, Bu."
"Zahra, kamu cepetan ke panti, Nak!" ucap wanita paruh baya di seberang sana terdengar sedang menangis. "Vul, Alin, Sita, Agnes, Rinda, dan Aris diculik orang, Ra!"
Klontang!
Ponsel yang dipegang Zahra terjatuh. Kakinya melemas, sampai-sampai ia harus memundurkan langkahnya hingga bersandar ke tembok agar tidak terjatuh.
"Kenapa, Ra?" tanya Erwin yang terlihat khawatir karena mendengar bunyi benda jatuh di depan.
"Ki… kita ke panti sekarang, Mas!" gagap Zahra meneguk ludahnya dengan susah payah.
***
__ADS_1
Jangan lupa follow Instagram nurudin_fereira