Bos Somplak

Bos Somplak
Part 57 : Tegar


__ADS_3

Upacara pemakaman anggota tim intelijen dan tim Densus 88 yang gugur saat menunaikan tugas membasmi mafia berlangsung dengan haru. Tangis dari keluarga yang ditinggalkan pun pecah menyaksikan prosesi pemakaman.


Dendy dan keluarganya yang turut hadir juga ikut bersedih, melihat para pahlawan-pahlawan yang menyelamatkan anaknya itu harus menemui Sang Pencipta lebih cepat dari teman-temannya. Dendy berjanji akan memberi santunan kepada anak-anak yang telah mereka tinggalkan sampai lulus sekolah.


Pun, juga dengan Caramel yang harus kehilangan sang kakak sekaligus menjadi orang yang paling bersalah karena ulah kakak kandungnya memakan banyak korban.


Zahra menangis sesegukan karena teringat dengan Erwin. Zifa, adik Erwin, bersama Ayah dan ibunya mengusap-ngusap bahu Zahra mencoba menenangkan. Zahra tampak begitu terpukul karena Erwin tidak terselamatkan.


"Tenang, Mbak, kasihan Mas Erwin di sana kalau Mbak sedih terus." Zifa masih mencoba menangkan Zahra yang terlihat begitu terpukul.


"Bagaimana aku bisa tenang, Fa, kalau mayat Mas Erwin belum ditemukan." Zahra sampai tersedak tangisnya sendiri.


Zifa, ayah, dan ibunya ikut memecahkan tangisnya karena teringat dengan Erwin. Tak percaya karena anaknya sudah tiada.


"Zahra!" panggil seseorang membuat satu keluarga itu langsung menoleh secara serempak. 


"Maafin aku, Ra," ucap Viola lagi sambil menyeka air mata yang membasahi pipinya.


Zahra masih menangis dipelukan Zifa. Rasanya dunia ini begitu sempit dan menyesakkan untuk dilanjutkan.


"Ini semua gara-gara kamu!" cibir Zifa dengan nada ketus, memperlihatkan kebenciannya kepada Viola.


"Zifa!" tegur ibunya.


"Kamu udah bikin Mas Erwin susah!" 


"Kalau tau semua bakal kayak gini, dari dulu aku gak bakal setuju Mas Erwin dijodohin sama kamu!!" Zifa masih menyemprot Viola habis-habisan. 


"Zifa, jaga ucapannya, Nak." Ibu Erwin mencoba menenangkan Zifa.


"Udahlah, Bu, aku muak liat mukanya!" serah Zifa kemudian pergi dari hadapan mereka.


Ibu dan Ayah Erwin menepuk-nepuk punggung Viola kemudian berlari mengejar Zifa.


Viola hanya bisa memejamkan matanya pedih. "Kamu nggak benci sama aku, kan, Ra?" ucapnya dengan suara serak melangkah mendekati Zahra.


"Bunuh aku sekarang, Ra, kalau kamu benci sama aku. Aku iklash," suara Viola hampir habis karena berhenti di kerongkongan.


"Zahra?"


Tak disangka-sangka Zahra malah merengkuh tubuh Viola. Tangis mereka berdua pecah dalam pelukan. "Tidak ada yang salah Mbak, ini semua sudah takdir."


"Nggak, Ra, semua ini berawal dari kebodohanku."


"Percayalah Mbak kalau Mas Erwin berada pada pilihan yang sulit waktu itu. Ini semua sudah diskenario oleh Tuhan. Aku malah kasihan sama Mbak, karena Mbak juga kehilangan Rena."


Viola merasakan getaran kecil ditubuh Zahra. "Mas Erwin sudah dipastikan meninggal dunia karena aku melihatnya sendiri dari cctv saat mas Erwin dan Rena meledak bersama bom di sebuah ruangan."


Udara di sekitar Zahra tiba-tiba menipis, Zahra kesulitan menghirup oksigen gara-gara mendengar cerita dari Viola.


***


Berhari-hari Zahra menyendiri di dalam kamar. Tidak ingin keluar kemana-mana. Mungkin, perasaannya tidak akan pernah tenang sebelum mayat Erwin dan Rena ditemukan. 


Tok... Tok... Tok...


Terdengar ketukan pintu dari luar. Dengan malas-malasan Zahra beranjak untuk membuka pintu. Berharap yang datang adalah seseorang yang memberi kabar tentang Erwin.


Cklekk..

__ADS_1


Saat pintu terbuka, Zahra menghela napas kasar. "Masuk!" ucapnya malas.


Vilan tersenyum, kemudian melangkahkan kakinya memasuki rumah. Vilan duduk di sofa yang ada di ruang tamu.


"Aku ambilin minum dulu." Zahra melenggang pergi menuju dapur.


Tak lama kemudian Zahra sudah kembali membawa segelas teh hangat di atas nampan.


"Wajah kamu, kok, selalu mendung gitu, sih?" tanya Vilan penasaran.


Zahra hanya bergumam lirih. "Ada keperluan apa?"


"Mumpung libur, aku sempetin main kerumah kamu. Keluar, yuk?" ajak Vilan.


Zahra hanya terdiam. Merasa bersalah, karena sampai saat ini ia belum berani berterus terang kepada Vilan kalau ia sudah bersuami. Owh, entahlah, suaminya sekarang sedang hilang ditelan bumi.


"Bukan mahram." Hanya itu kalimat yang bisa keluar dari bibir Zahra.


"Jalan-jalan doang, kok, nggak lebih. Kayak kemarin?" Vilan masih mencoba membujuk. 


"Aku lagi nggak enak badan." Zahra beralasan.


Aduh, Zahra kenapa, sih, kamu nggak terus terang aja kalau sudah bersuami.


"Kayak kemarin ke timezone?"


"Itu yang terakhir, dan jangan ngajak lagi."


Vilan terperangah saat mendengar penolakan Zahra yang cukup kasar kali ini. "Kenapa?"


Zahra mendongak, kemudian mengusap-usap wajahnya yang kembali digenangi air mata. "Aku udah bukan yang dulu lagi, Lan."


"Isshhh, bukan itu maksud aku. Aku itu udah menikah, Lan!"


Vilan langsung membeku. Suhu tubuhnya panas-dingin seketika itu juga.


"Suamiku itu Erwin. CEO smartphone Indophone yang menghilang belum ditemukan." 


Vilan meneguk ludahnya dengan susah payah. Jadi, pengusaha sukses yang sering diberitakan di media baru-baru ini adalah suami Zahra?


"Jadi, aku mohon. Mulai sekarang kamu jangan temuin aku lagi." Zahra memohon.


Vilan menatap nanar ke arah Zahra. Tak percaya wanita yang ia cintai sudah bersuami. 


"Maafkan aku sudah menyakitimu, Lan." Zahra malah menangis sesenggukan. 


Lidah Vilan terasa kelu, ia ingin pergi, tapi merasa kasihan dengan Zahra yang sedang mendapat musibah. Tapi, kalau tidak segera pergi hatinya terasa teriris-iris karena melihat wajah Zahra.


"Ke... kenapa kamu tidak bilang dari awal?" ucap Vilan kikuk.


"Aku takut kamu sakit hati." Zahra menundukkan wajahnya dalam-dalam sambil menangis.


Cklekk...


Pintu rumah Zahra terbuka, nampak sosok Zifa dan kedua orangtua Erwin di ambang pintu yang terkejut melihat Zahra bersama pria asing di dalam rumah. "Asstagfirullahaladzim, Zahra?"


Mereka bertiga tidak jadi masuk ke dalam rumah dan buru-buru pergi daripada menganggu mereka berdua.


Zahra buru-buru mengejar mereka. "Ayah, Ibu tunggu!"

__ADS_1


Zifa menjorokkan tubuh Zahra hingga jatuh ke bawah. "Kamu nggak ada bedanya sama mbak Viola."


"Kenapa, sih, Mas Erwin selalu dapat istri yang tukang selingkuh?" Zifa memaki-maki Zahra.


"Zifa aku bisa jelasin."


"Nggak perlu dijelasin." Zifa berbalik badan, menyusul kedua orangtuanya yang berjalan lebih dahulu.


"Kamu salah paham!" teriak Zahra yang masih terduduk di tanah.


Zifa berhenti melangkah kemudian kembali menoleh ke arah Zahra. "Aku tau kalau Mas Erwin sudah tiada. Tapi, tolong .... kasih jeda sedikit lagi buat pindah ke laki-laki lain. Kasihan Mas Erwin di sana." Zifa meneguk ludahnya dengan susah payah, kemudian menyeka air matanya yang entah sejak kapan sudah menetes. Zifa kembali berlari menyusul ayah dan ibunya. Niatnya ingin pamit pulang ke Bandung kepada Zahra, malah disuguhi pemandangan yang menakjubkan.


Zahra masih terduduk dengan pandangan kosong menatap hampa kepergian keluarga Erwin. Vilan melangkah ragu-ragu untuk membantu Zahra berdiri.


"Pergi kamu dari sini!!!" usir Zahra kesal.


Vilan menatap tangannya yang sudah terulur ke arah Zahra kemudian menghela napas. 


"Kamu lihat, kan, mereka sudah menuduh kita melakukan yang tidak-tidak?"


Vilan hanya terdiam, meneguk ludahnya dengan susah payah. "Aku anterin kamu nyusul mereka."


Zahra berhenti menangis. Namun, belum memberi jawaban.


"Maaf, aku memaksa." Vilan terpaksa mengangkat tubuh Zahra dan berlari kencang ke arah mobilnya. Mereka berdua mengikuti taksi yang ditumpangi mertua Zahra dan adiknya.


Setelah satu jam mengikuti mereka, taksi akhirnya berhenti di terminal kampung rambutan. Zahra dan Vilan langsung turun menghampiri mereka yang diseret-seret oleh calo saat mencari loket bus menuju ke Bandung.


"Zifa! Ayah! Ibu!" teriak Zahra menghampiri mereka diikuti Vilan di belakangnya.


"Aku mau jelasin ke kalian." Zahra membungkuk dengan napas terengah-engah.


"Ngapain, sih, nyusul-nyusul segala? Drama!" Zifa memutar bola matanya malas.


"Kalian itu salah paham. Aku nggak selingkuh, Bu." Zahra memegang tangan Ibu Erwin mencoba meyakinkan.


"Maling ngaku penjara penuh, Mbak," cibir Zifa.


"Zifa...," tegur ibunya, yang langsung membuat Zifa langsung terdiam.


"Dia cuma temen aku, yang dateng jengukin aku, Bu." Zahra menunjuk Vilan di belakangnya.


"Zahra kalau kamu mau nikah lagi, ya, silahkan. Saya nggak nglarang, kok, tapi nunggu masa idah, ya?" ucap Ibu Erwin lembut, mengusap-usap puncak kepala Zahra.


"Ibu, aku nggak selingkuh!" Zahra masih tidak terima dengan jawaban Ibu Erwin yang masih menuduhnya selingkuh.


Ibu Erwin malah memeluk Zahra erat-erat. Ia sangat kasihan dengan Zahra yang diusia semuda itu sudah mendapat cobaan yang begitu berat. "Percayalah, tempat untukmu nanti adalah surga, Ra."


"Siapa orang yang lebih dulu masuk ke syurga?" tanya Ibu Erwin sambil mengusap-usap punggung Zahra menangis dipelukannya.


"Orang yang paling banyak cobaannya hidup di dunia. Cobaan itu datang bukan karena kamu terkena sial. Tapi, cobaan itu datang karena ada imbalannya. Jadi, sabar, terima semua ujian ini dengan hati yang lapang. Nanti akan ada malaikat yang menyambutmu bak suporter sepakbola yang bersorak merayakan kemenangan saat memasuki pintu syurga. Karena kamulah orang spesial yang mendapat banyak cobaan. Kamu akan masuk syurga lebih dulu dibanding orang-orang mukmin yang beribadah, Ra, kamu akan masuk syurga berada di belakang para syuhada, orang mati sahid, tanpa dihisap di Yaumul Mahsyar."


"Tapi Ibu percaya, kan, aku nggak selingkuh?" tanya Zahra polos sambil mendongak menatap wajah ibu Erwin lekat-lekat.


"Hmm, entahlah, Ra." Ibu Erwin menggindikkan bahu, tanda tidak yakin atas penjelasan Zahra.


Zahra menghembuskan napas kecewa. "Bagaimana aku mau selingkuh, Bu, kalau sekarang aku sedang mengandung anak mas Erwin."


Semua orang yang berada di dekat Zahra langsung tersentak. Tak terkecuali Vilan. Zifa yang merasa iba langsung mendekati Zahra dan memeluknya. Mereka kembali menangis teringat dengan Erwin.

__ADS_1


Bersambung... 


__ADS_2