
"Bukannya sekarang ada banyak kerjaan di kantor, Fan?" tanya Erwin kepada Refan yang sedang fokus mengemudi.
"Kebetulan saya lagi cuti, Pak," jawab Refan tersenyum.
"Jangan panggil saya, Bapak!" ujar Erwin sambil membenarkan letak kepala Zahra yang bersender di bahunya agar lebih nyaman. Perempuan itu tertidur, karena perjalanan dari Jakarta ke Malang lumayan jauh dan melelahkan.
"Sebenarnya saya disuruh oleh Pak Dendy untuk menemui Bapak."
"Kenapa?"
"Saya ingin memberi informasi, bahwa…" Refan menghela napas panjang sambil mengerem mobilnya karena lampu merah. "Perusahaan Pak Dendy bangkrut."
"Bagaimana bisa? I phone produk perusahaan itu bukannya lagi naik daun. Fitur-fitur di dalam ponselnya juga canggih. Mustahil kalau mereka kalah saing dalam penjualan." Erwin tampak terkejut.
"Dalam segi penjualan, produk kita masih menguasai pasar. Tapi, Pak Rustam sudah menghack seluruh system dalam perusahaan. Sehingga pendapatan yang masuk ke rekening saham mengalir pada rekeningnya."
"Tak hanya itu, Pak Rustam juga sudah membagikan beberapa rahasia-rahasia system pada produk kita kepada orang luar via email."
Erwin termenung.
"Saya pikir Bapak bisa mengerti setelah mendengar cerita tersebut," lanjut Refan melirik Erwin dari kaca spion.
"Itu alasannya kenapa Rustam dan Viola kabur ke Paris dan tidak bisa dihubungi?" tanya Erwin dengan tatapan mengintimidasi.
"Betul." Refan mengangguk. "Pak Dendy minta tolong kepada Bapak. Agar kembali menjadi CEO di perusahaannya."
"Saya tidak bisa, Fan."
"Please, Pak, paling tidak untuk membantu perusahaan membuat system baru agar data-datanya tidak bisa lagi dihack maupun diretas oleh para hacker." Refan memohon kepada Erwin.
Erwin tampak berpikir.
"Kami semua minta tolong, Pak. Hanya Bapak yang bisa kami andalkan. Kami butuh kecerdasan Bapak."
"Saya tidak pantas memegang jabatan itu, Fan."
"Sudah berapa kali Pak Dendy bilang, kalau beliau sudah menganggap Bapak sebagai anaknya sendiri. Meskipun, Bapak sudah bukan lagi menantunya. Saya harap Bapak menghargai Pak Dendy yang sudah menganggap Bapak sebagai anaknya sendiri."
Erwin akui jika Refan memang pandai merayu. Dulu, saat Erwin menikahi Zahra adalah ide dari Refan. Walaupun Erwin sempat menolak, namun Refan terus merayu Erwin agar menuruti ide gilanya itu yang tetap saja bagi Erwin adalah dosa. Karena berniat menikahi Zahra hanya karena untuk menyaingi Viola selingkuh.
"Jadi, Pak?''
"Hufftt, ya." Erwin mengangguk. Demi, menolong orang banyak.
"Lalu bagaimana dengan Viola sekarang?" lanjut Erwin bertanya kepada Refan.
"Belum ada kabar sama sekali dari Bu Viola."
"Apa tidak ada orang yang menyusulnya ke Paris?" tanya Erwin khawatir.
"Mereka pasti baik-baik saja, Pak. Mereka hanya kabur melarikan diri."
"Tapi Rustam berbahaya, Fan. Bagaimana dengan nasib Rena? Masih ingat dengan rencana Rustam menyuruh beberapa orang untuk membenuhku tempo lalu?"
Refan merenungi ucapan Erwin. "Pak Dendy pasti punya rencana lain untuk menyelamatkan putrinya."
"Tapi bagaimana dengan Rena, anakku, Fan?" Erwin menaikkan nada suaranya. Sebelum kemdian beristigfar, menyiram api amarahnya. Ia harus sadar jika semua yang terjadi sudah kehendak Tuhan.
***
Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga jam lebih, akhirnya mobil yang ditumpangi Erwin sampai di sebuah desa yang terletak di kabupaten Malang Jawa Timur, tempat kediaman orangtua Erwin.
__ADS_1
Erwin merasakan kerinduan yang mendalam kepada Rena. Sehingga hati kecilnya menyadarkan Erwin bahwa kedua orangtuanya juga merasakan rindu yang sama kepada dirinya.
"Bentar, Mas." Zahra membenarkan letak kerudungnya yang berantakan sebelum keluar dari mobil.
Cup!
Erwin mencium kening Zahra lembut kemudian tersenyum. "Biar lebih semangat lagi ketemu Ibu."
Ketiganya turun dari mobil kemudian mengetok pintu rumah. Erwin tersenyum membayangkan masa kecilnya dulu yang sering bermain petak umpet bersama sepupu-sepupunya, dan di belakang kandang ayam itu selalu menjadi tempat favoritnya bersembunyi. Rasanya indah sekali jika ia kembali lagi ke zaman kecil dulu. Hidup dengan tenang, ketika minta mainan saat acara hajatan tetangga adalah satu-satunya masalah yang membuatnya menangis. Segala sesuatu yang ada di rumah ini seolah menempatkan Erwin pada bom waktu yang ditarik mundur.
"Kemana diriku yang dulu?" gumam Erwin dalam hati.
"Mas," lirih Zahra menyenggol Erwin agar terbangun dari lamunannya.
"Eh, iya, apa?" tanya Erwin kikuk.
"Aku takut dimarahi Ibu kamu." Zahra memasang wajah memelas yang begitu menggemaskan untuk Erwin.
"Kenapa Ibuku harus marah?" tanya Erwin menahan tawa.
"Nanti aku disangka pelakor lagi." Zahra *******-***** gamisnya gugup.
"Ibuku sudah tau semua ceritanya. Kamu lupa kalau aku kadang sampai larut malam nelpon Ibu?"
"Ya, kan, tetep saja, Mas." Zahra cemberut.
"Rewel aku ceburin ke empang, ya?"
"Issh, emangnya aku anak kecil." Zahra mencubit kecil lengan Erwin. Erwin tertawa.
Sudah berulangkali Refan mengetuk pintu, tapi sang pemilik rumah tak kunjung membukakan pintu.
"Coba aku telpon." Erwin meraih ponselnya pada saku celananya. Belum sempat memencet tombol dial, ada seorang gadis berseragam sekolah masuk ke pelataran rumah mengendarai motor bebeknya.
Gadis yang dipanggil Zifa itu melongo mentap Erwin, sampai-sampai menabrak kandang ayam yang berada di samping rumah. Gadis itu mengumpat karena tidak fokus mengendarai motornya. Untung saja tidak sampai terjatuh.
Erwin, Zahra, dan Refan tertawa. "Awas nabrak!" teriak Erwin meledek adik bungsunya itu.
"Udah nabrak!" Zifa mendengus kemudian melepas helmnya. Gadis itu menghampiri Erwin dengan raut wajah kerinduan.
"Ke sini nggak kabar-kabar, Kak." Zifa memeluk Erwin kemudian mencium tangannya. "Kalau tau ke sini, pasti Bapak potongin ayam."
"Bapak sama Ibu ke mana?" tanya Erwin.
"Hmm, kayaknya belum pulang pengajian." Zifa beralih ke arah Zahra dan dan Refan. "Ini sopir pribadinya, Kak?" tanya Zifa menunjuk Refan, yang dibalas Erwin dengan anggukan.
"Lah, kalau ini." Zifa bersalaman dengan Zahra canggung.
"Ini istri Kakak."
"Ha? Jadi, ini yang namanya Kak Zahra?" Zifa menatap heboh ke arah Zahra.
"Kok, imut gini kayak anak SMA." Zifa mencubit pipi Zahra yang menggemaskan.
"Heh, nggak sopan!" Erwin melotot.
Zahra tersenyum manis, manis sekali sampai-sampai cicak-cicak di dinding diam-diam merayap datang seekornya nyamuk, hap, lalu ditangkap.
"Pinter banget, deh, cari istri." Zifa kagum melihat kecantikan Zahra.
Erwin ikut tersenyum. Tidak ingin menjelaskan kepada Zifa kalau dia dan Zahra itu seumuran, mungkin terpaut satu tahun lebih tua dari Zahra.
__ADS_1
"Eh, ayo masuk!" Zifa membuka pintunya yang terkunci kemudia mempersilahkan mereka masuk.
Suasana di dalam rumah tetap sama seperti dulu, walaupun ada beberapa interior yang direnovasi. Erwin dan Zahra merebahkan tubuhnya di sofa merenggangkan otot-ototnya yang kaku karena baru saja melakukan perjalan jauh.Mereka memutuskan untuk tidur sebentar sembari menunggu Ayah dan Ibu Erwin pulang dari pengajian.
Ayah Erwin memang lebih suka tinggal di desa dan menjadi orang biasa. Daripada harus meneruskan bisnis orang tuanya di kota.
Untung saja, Erwin sebagai sang cucu mau meneruskan perjuangan kakeknya.
***
"Rena kangen sama Papa, Ma!" Rena terus merengek digendongan Viola.
"Kalau kamu nangis terus nggak akan ketemu sama Papa." Viola membentak Rena kesal. "Luapin Papa kamu!"
Rustam keluar dari kamar sambil membawa gagang sapu. "Aku pusing tau liat kamu nangis!"
Plak!
Rustam memukul Rena dengan gagang sapu tanpa belas kasihan.
"Rena!" teriak Erwin kencang.
"Erwin…"
Suara lembut itu membangunkan Erwin dari tidurnya. Tidur sebentar saja sudah membuat Erwin berkeringat, sangking kelelahannya sampai tidak sadar jika semua orang menatap ke arahnya.
"Kenapa tidurmu kelihatan resah sekali?" tanya wanita paruhbaya berkerudung itu.
"Ibu…" Erwin langsung mencium tangan Ibunya tulus kemudian memeluknya erat, melepas kerinduannya. Erwin sampai menitikan air matanya.
"Maafin, Erwin, Bu." Erwin mengeratkan pelukannya. Zahra terlihat terharu.
"Minta maaf, kenapa? Orang kamu nggak salah apa-apa?" jawab Ibunya bingung. Sungguh tangan lembut itu sangat membuat Erwin rindu.
Erwin melepas pelukannya kemudian beralih ke arah Ayahnya. "Pak, Erwin kangen sama Bapak." Erwin langsung memeluk tubuh seseorang yang selalu mengorbakan apapun untuk dirinya itu. Walaupun sekarang tubuh itu terlihat rapuh dan tidak sekuat dulu, tapi tetap saja dia adalah pahlawan untuk Erwin.
"Kamu kenapa, sih, Win?" Ibunya mengusap-ngusap punggung Erwin.
"Sekarang Erwin mengerti, Bu, rasanya rindu sama anak." Erwin kembali duduk kemudian mengelapi air matanya.
"Owh." Ibunya tersenyum. "Doain yang terbaik supaya anak kamu baik-baik saja sama Ibunya."
"Owh, iya kita masak-masak, yuk!" Zifa mencoba mengalihkan suasana yang sempat haru itu.
"Ayo, kita makan-makan, ya, hari ini." Ibunya menjawab antusias. "Mbak Zahra katanya pinter masak." Ibu Erwin mencubit gemas pipi Zahra.
"Ayo, Kak, kita ke dapur." Zifa menarik Zahra menuju ke dapur.
"Terkadang dalam hidup kita itu harus siap menerima penderitaan. Ketika kita mengayuh sepeda untuk menaiki gunung, berat tidak?" tanya Ibu Erwin. Ayah Erwin dan Refan mengamati dengan antusias.
Erwin mengangguk pelan.
"Harusnya kamu gimana, kalau mengayuh sepeda menaiki gunung? Sedih apa senang?"
Erwin terdiam.
"Harusnya kamu senang. Karena sebentar lagi kamu sampai ke puncak, dan beban kamu akan terasa ringan karena kamu akan meluncur mulus saat pulang, walaupun sepedamu itu tidak dikayuh tapi pasti pasti bisa sampai ke bawah dengan mudah."
"Artinya, jika kamu mengayuh sepeda menaikki gunung kamu harus merasa senang, karena sebentar lagi kamu akan sampai ke puncak kebahagiaan, lalu kemudian kembali melanjutkan perjalanan dengan mulus karena kembali turun dari gunung tanpa kesulitan. Nah, di saat itu kamu jangan terlena dengan kebahagiaan. Karena setelah turun gunung, ada gunung lagi yang harus kamu lewati. Begitu seterusnya itulah kehidupan, Nak. Selama kita hidup, kita akan selalu naik-turun gunung."
Ibu Erwin menepuk-nepuk pundak Erwin. Seketika itu Erwin merasa rindu dengan wejangan-wejangan Ibunya yang menenangkan.
__ADS_1
Bersambung…
Jangan Lupa follow Instagram nurudin_fereira