
"Lama sekali, mobil jemputannya?" Erwin melirik jam tangannya. Sudah hampir satu jam mereka berdiri di depan Bandara Internasional Beijeng, namun mobil jemputan yang dijanjikan belum juga datang.
"Sudah kami sengaja," jawab salah satu lelaki yang bersamanya sejak dari Jakarta, menghisap putung rokoknya santai.
"Maksudnya?" tanya Erwin menaikkan sebelah alisnya.
"Untuk mengantisipasi adanya kedatangan bala bantuan Anda yang menyusul ke kota ini," jelas lelaki itu.
Erwin terdiam beberapa saat, kemudian menghela napas. "Tidak ada."
Lelaki itu menghembuskan asap rokoknya ke udara, kemudian tersenyum. "Semoga ucapan Anda benar."
Erwin kembali melirik jam tangannya. "Saya mau solat dulu."
"Anda tidak boleh kemana-mana!" sergah lelaki yang satunya, mencengkram tangan Erwin dengan erat.
"Sekarang sudah masuk waktu magrib," jawab Erwin sambil melirik ke arah lengannya yang di cengkram semakin kuat.
"Kami tidak perduli! Anda tidak boleh kemana-mana!"
Erwin memejamkan matanya menahan emosinya yang hampir meletup-letup. "Saya hanya mau solat, tidak mau kemana-kemana?"
"Bisa saja itu hanya alasan Anda untuk memanggil bala bantuan."
Erwin mengepalkan tangannya yang satunya lagi. Emosinya benar-benar akan meledak, tapi ia mencoba kembali untuk meredamnya. "Solat itu kewajiban, bukan alasan," ucap Erwin penuh penekanan.
Lelaki yang mencengkram tangan Erwin terdiam.
"Lepaskan tangan saya," ucap Erwin mencoba tenang.
"Tidak!" sergah lelaki itu.
"Lepaskan, saya mau solat!" Erwin sedikit menaikkan nada suaranya hingga membuat beberapa orang bermata sipit khas orang Tiongkok yang berada di sekitar mereka menoleh.
"Anda tidak boleh kemana-kemana!" ucap lelaki berambut gonderong itu tegas.
__ADS_1
Erwin benar-benar naik pitam. Lelaki yang selalu tampil kalem itu akhirnya menampilkan wajah murkanya di depan kedua pria asing pesuruh Rustam tersebut. "Kalian itu hanya debu!" umpat Erwin kesal. "Kalian itu siapa sampai-sampai melarang orang beribadah!"
"Kalian itu hanya Iblis yang berwujud manusia."
"Manusia celaka yang diperbudak oleh uang."
"Kalian menghalalkan segala cara hanya demi mendapat uang. Tanpa sadar kalau kalian hidup di dunia ini punya tujuan lain."
Erwin masih melotot tajam ke arah mereka berdua, rahangnya mengeras, aura mengerikan muncul di dalam raut wajah Erwin. "Saya yakin sejauh apapun kalian mengejar harta, tidak akan pernah akan merasakan namanya kebahagiaan yang abadi. Saya juga yakin, hidup kalian dipenuhi dengan masalah. Semua orang di dunia ini pasti hidupnya penuh masalah. Kalian itu hanya mampir minum di dunia ini. Dan, berani-beraninya kalian meniadakan Tuhan padahal tujuan kalian hidup itu untuk menyembah Tuhan."
"Uang hanya sekedar untuk menyambung hidup, sementara setiap hembusan nafas kalian sebenarnya untuk menyembah Tuhan."
Kedua pria itu langsung tertegun.
Melihat keterdiaman dua orang itu membuat Erwin merasa lega. Ia berbalik badan untuk mencari tempat berwudhu. Namun baru lima langkah Erwin melangkah, salah satu pria itu langsung berteriak sambil menodongkan pistolnya.
"Satu langkah lagi anda melangkah, nyawa anda melayang."
Plakkk...
Erwin tersenyum hangat. Walaupun hatinya merasa bersalah karena melontarkan kata-kata yang seakan-akan dirinyalah orang yang paling suci. Padahal dia juga makhluk hina yang sering kali lalai terhadap agamanya sendiri.
"Di bandara Beijeng ini tidak seperti bandara di Hongkong, Tuan. Di sini tidak menyediakan tempat solat."
"Kita bisa solat di lantai ruang tunggu." Erwin tersenyum ramah, apalagi melihat pria berambut gonderong yang ikut mencincingkan lengan panjangnya untuk berwudhu. Erwin ingin mengqodho' solat Dzuhur dan Ashar yang telah terlewatkan karena perjalanan jauh tadi. Ia juga ingin berdoa supaya ia selamat dari segala marabahaya dan malapetaka yang akan terjadi saat menebus Rena. Ia juga berharap Caramel, teman Zahra, si agen rahasia sekarang berada di sekelilingnya untuk membantunya.
***
"Kalau sampai gagal kamu akan saya bunuh!" Rustam menodongkan pistolnya ke arah Rian.
Rian menyipitkan mata, karena tinggal satu gerakan lagi kepalanya akan hancur. Anak yang seharusnya masih sekolah SMP itu menelan ludahnya dengan susah payah.
Rustam menendang tubuh Rian hingga jatuh tersungkur ke lantai, kemudian mengarahkan pistolnya ke arah beberapa anak buahnya yang berdiri sejajar seperti murid yang akan dihukum di depan gurunya. "Saya berjanji akan membunuh kalian semua jika ini gagal. Bodohnya kalian menerima kerja sama gila dengan anak ini!"
"Tapi, ide anak itu bagus, Pak. Bahkan sudah ada dua orang sekaligus yang mengawal Erwin agar kesini tanpa membawa siapapun. Sungguh Bapak akan mengerti nanti setelah Erwin sudah masuk ke kandang macan."
__ADS_1
"Untuk menghindari resiko-resiko yang terjadi setelah Erwin mengetahui markas kita. Kita akan bunuh Erwin dan anaknya itu di tempat ini juga."
"Yang penting kita punya tambahan biaya operasional untuk menjalankan jaringan narkoba yang sempat terhenti karena terlalu ketatnya pengamanan di pulau Sumatera. Dengan adanya uang itu, kita bisa membuat pusat pemerintahan beserta bawahannya mempersilahkan bisnis kita masuk."
Rustam menyeringai lebar, ke arah kedua anak buahnya. "Suruh anak itu untuk mempersiapkan bom di tempat bertemunya Erwin dan Rena untuk yang terakhir kalinya."
"Saya tidak sudi, melihat wajah Erwin."
Bukannya tidak sudi, tapi karena Rustam tidak tega membunuh Erwin. Sadar akan semua yang telah ia lakukan kepada Erwin, kejahatan-kejahatan yang ia lakukan, bahkan sampai merebut istrinya sendiri, selalu dibalas Erwin dengan sebuah senyuman hangat di bibirnya.
***
Rustam melepaskan ikatan di tubuh Viola. Wajah perempuan itu terlihat sembab karena setiap hari hanya menangis mencari Rena. "Aku ingin main sama kamu," ucap Rustam sambil mengusap-usap puncak kepala Viola.
"Mana Rena?" tanya Viola dengan suara serak.
"Rena baik-baik saja. Ayolah, Vi, sudah lama aku tidak bermain denganmu," rengek Rustam.
"Bawa Rena dulu ke sini." Wajah Viola benar-benar berantakan.
"Kita main satu ronde dulu," tawar Rustam. "Ayolah, sayang."
"Kamu penjahat, kamu bisa meniduri ribuan wanita ****** di kota Beijing."
Rustam tersenyum miris. "Kalau aku mau sudah aku lakukan setiap hari. Kamu ingat, sejak SMA dulu, tubuhmulah yang aku incar-incar."
"Aku mungkin penjahat, tapi aku punya komitmen tentang perasaan. Tubuhku ini sudah ditakdirkan untuk menyatu dengan dirimu, Vi." Rustam mengelus pipi Viola, Viola langsung menampik tangannya, jijik.
"Perihal pekerjaan ini, ini semua untukmu."
"Aku menyesal jadi istri kamu!" pekik Viola sambil meludahi Rustam.
Rustam terkekeh geli. "Sepertinya aku harus memperkosamu lagi."
Bersambung...
__ADS_1