
Viola terbelalak. "Apa?"
"Kenapa?" tanyaku datar.
"Jadi, kita akan semobil dengan Zahra?"
"Ya," anggukku. "Sekaligus memperkenalkan ke Rena mama barunya."
Mataku melirik ke arah Rena yang terdiam mengamati suasana jalan. Kemudian, terdengar decakan kesal dari bibir Viola.
"Ya udah deh, aku turun di sini aja. Kalian berdua lanjutin aja jalan-jalannya."
"Rena mintanya sama kamu," jawabku.
"Rena!" panggil Viola kepada putri kecilnya. Rena yang sedang melamun langsung menoleh.
"Kamu sama papa duluan, ya. Nanti mama nyusul, mama lagi ada urusan."
"Urusan apa, Ma?" tanya Rena kepo.
"Em ...," Viola tampak bingung mencari alasan. "Anu itu, bantuin tante Silvi bersih-bersih rumah, iya. Nanti malam di sana ada acara."
Wajah Rena tampak cemberut. Viola beranjak untuk membersihkan ingus di wajah gadis kecil itu. "Nanti pasti mama nyusul."
Rena hanya bergeming. Sorot matanya memperlihatkan ketidak relaan.
"Boleh ya sayang." Viola mencubit pipi Rena. "Mas, berhenti sini aja!" ucap Viola kepadaku.
Aku menghela napas kasar. Menepikan mobil ke pinggir jalan raya.
"Naik apa?" tanyaku dingin.
"Taxi online!" jawab Viola ketus.
Aku terdiam, membiarkan wanita itu turun dari mobil. Viola mencium pipi Rena sebentar untuk berpamitan.
Kemudian kami kembali melanjutkan perjalanan. Sesekali aku melirik wajah Rena yang digelayuti awan mendung.
Hingga beberapa menit kemudian kami berdua sampai di kediaman rumah Zahra.
"Ini di mana, Pa?" tanya Rena penasaran.
Aku termenung. Memikirkan jawaban yang pas untuk Rena. Takut bila bocah kecil ini masih belum paham apa itu artinya mama baru.
"Emm, nyariin teman buat kamu, Sayang," jawabku kikuk. Menghentikan mobil di pelataran rumah.
"Kamu tunggu sini bentar, ya." Aku melepas sabuk pengaman, kemudian turun dari mobil.
Tampak paman Aji dan istrinya sedang sibuk bersiap-siap. Memasukkan barang-barang yang dibutuhkan ke dalam mobil.
Ngomong-ngomong, aku tidak melihat mobilku yang dipinjam Rustam?
Zahra baru saja keluar dari rumah mengenakan dress muslim abaya yang dibeli dari Turky. Wajahnya sudah dipoles cantik dengan lisptik menyala pada bibir. Sangat cantik sekali.
"Ngambil apa, Mas?" tanya Zahra melangkah menghampiri.
"Emm, anakku," jawabku kikuk.
Zahra manggut-manggut dengan mulut yang membentuk huruf O.
Sari juga baru saja keluar menenteng tas brandednya. Wajahnya terlihat masam.
"Lho, itu Sari. Terus mobilnya siapa yang bawa?"
"Hmm, tadi kak Rustam nggak jadi ikut karena ada urusan mendadak."
"Urusan?" tanyaku heran.
__ADS_1
"Iya, nggak tahu deh. Kak Sari jadi uring-uringan sekarang."
Aku memijat pangkal hidung pening. Jangan-jangan, Rustam membatalkan liburan karena janjian dengan Viola?
"Kamu ke mobil duluan ya, kenalan sama Rena. Aku mau ngomong sama Sari bentar."
Zahra mengangguk.
Aku menghampiri Sari yang sedang memasukkan baju gantinya ke dalam mobil.
"Suamimu ke mana?" tanyaku membuat Sari menoleh.
"Nggak tau deh, tiba-tiba ada urusan gitu aja."
"Hmm." Aku berpikir keras sambil mengetuk-ngetukkan sepatu ke tanah. "Kita rencananya mau liburan kemana?"
"Niatnya sih ke Bandung gitu, banyak destinasi wisata. Berhubung mas Rustam nggak jadi ikut yaudah, nyari tempat sekitaran Jakarta aja."
Aku termenung beberapa detik. Hingga muncul sebuah ide yang terlintas di kepalaku.
"Owh ya, bagaimana kalau kita naik satu mobil aja. Saya yang nyetir!" Aku mengeraskan suara. Agar paman Aji dan istrinya mendengar.
"Emangnya mobilmu cukup?" tanya paman Aji. "Jangan pakai mobil saya, nanti rusak kalau ditumpangi orang banyak."
Aku memutar bola mata malas. Padahal mobil pak tua itu bermerk Alphard, lebih dari cukup untuk membawa penumpang satu keluarga.
"Oke, saya akan menyuruh orang untuk membawa mobil Alphard ke sini."
Paman Aji dan istrinya mengangguk.
"Untuk tempat rekreasinya biar saya yang atur."
"Oke, yang penting gratis," sahut Tante Susi. Tampaknya wanita tua tidak terlalu tertarik ikut jalan-jalan.
Aku kemudian menepi, untuk menelpon suruhanku membawakan mobil Alphard kesini. Kemudian menghubungi Refan untuk mencari keberadaan Viola dan Rustam.
"Papa, mbak Zahra lucu deh, masak nggak bisa mainin rubik." Rena tekekeh melihat ekspresi Zahra.
"Mbak?" tanyaku.
"Terus katanya, mbak Zahra ini mama baru Rena, istrinya papa. Masak menghayal gitu, Pa!"
Aku menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal, sambil nyengir kuda.
Zahra menoleh ke arahku. "Aku akhirnya ngaku sebagai babysitter kamu," jawabnya ketus.
Aku mengerutkan dahi, kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Puas?"
***
Aku menyeringai lebar, setelah mendapat informasi dari pesuruhku perihal keberadaan Rustam dan Viola.
Benar dugaanku, jika mereka sekarang sedang jalan berdua.
"Kita tidak jadi ke Bandung, ke hutan mangrove aja di Muara Angke," ujarku kepada para penumpang.
"Aku sudah pernah ke sana," tolak Sari.
"Hmm, aku punya suprise untuk kalian."
Kulirik ke arah Zahra yang terdiam dengan wajah heran. Dipangkuan wanita langsing itu ada Rena yang tampak semakin akrab dengan dirinya.
Setelah satu jam lebih akhirnya kami sampai di tempat tujuan.
Suasana begitu ramai. Banyak keluarga yang menghabiskan waktu liburnya di tempat ini. Rencananya hari ini kami akan mengunjungi dua tempat destinasi wisata sekaligus. Setelah puas menikmati keindahan alam di sini, kami akan berpindah ke taman mini Indonesia indah. Untuk menyenangkan hati Rena.
__ADS_1
Selain berekreasi, aku juga berniat menjalankan misi. Ingin tahu bagaimana respon Paman Aji dan Sari melihat suaminya selingkuh.
Rena begitu senang, ketika melihat rerimbunan pohon mangrove yang menjalar di sekitar jembatan. Di sudut sana ada villa-villa yang sudah dihuni para turis yang bersantai.
"Papa!" panggil Rena yang berada digendongan Zahra. Bocah itu sama sekali tidak ingin jauh-jauh dari Zahra. Seakan sudah terbangun chemistry antara keduanya.
"Mbak Zahra aku bawa pulang ya, Pa. Soalnya lucu," ucap Rena sambil menyunggingkan seulas senyum.
"Kamu suka?" tanyaku sambil mencubit pipi chubby-nya.
Rena manggut-manggut.
"Iya, nanti kita bungkus bawa pulang."
Zahra langsung cemburut. "Ish emangnya aku rujak, sampai dibungkus."
Aku terkekeh. "Kalian cocok jadi adik-kakak."
"Ih enak aja, aku udah cocok jadi mamanya Rena, tahu!" Zahra terkikik sambil mencium pipi Rena gemas.
"Tuh kan Pa, mbak Zahra ngayal lagi jadi mama Rena." Rena ikut terkikik.
"Kamu mau nggak kalau tante Zahra jadi mama kamu?" tanyaku mendekatkan wajah ke arah Rena.
"Terus mamaku gimana?" Rena cemberut.
Aku merapatkan bibir, sambil meneguk ludah dengan susah payah. Kemudian mengusap-ngusap rambutnya.
Kemudian pandanganku beralih ke arah Sari dan kedua orangtuanya yang sedang asyik berswa poto.
Meskipun merupakan wilayah konservasi mangrove, bukan berarti di taman wisata ini hanya sekedar wisata melihat mangrove. Taman wisata ini nyatanya memberikan pengalaman yang berbeda dari wisata alam biasa. Terutama di era serba media sosial ini, kebiasaan mencari spot foto yang lucu dan unik menjadi kebiasaan banyak orang.
Karena itulah di TWA Mangrove Angke juga mendesain kawasannya agar terlihat cantik ketika dibidik kamera. Apalagi dari kejauhan nampak gedung-gedung pencakar langit yang terlihat. Perpaduan antara keindahan alam dan perkotaan yang sangat unik.
Kami bertiga menyusuri jembatan beralas kayu yang mengelilingi kawasan hutan mangrove. Air pesisir yang tenang, serta udara yang sejuk meningkatkan kebahagiaan para pengunjung.
Ponselku berdering. Tampak satu notifikasi pesan masuk saat aku membuka layar ponsel. Seorang pesuruhku memberi informasi keberadaan Zahra dan Rustam di tempat ini.
Aku menoleh ke arah Zahra dan Rena yang mengobrol asyik menikmati pemandangan. Jarak mereka sudah menjauh beberapa meter dari posisiku.
"Zahra!" teriakku.
Mereka berdua menoleh.
"Kalian di sini dulu ya, aku mau ke toilet," pamitku yang dijawab anggukan oleh mereka berdua.
Aku bergegas mencari keberadaan Sari dan kedua orang tuanya. Mereka sedang asyik menertawakan beberapa pengunjung yang dikejar monyet. Rerimbunan pohon mangrove di beberapa sudut memang terdapat monyet-monyet yang dibiarkan berkeliaran.
"Sari, ayo ikut saya. Saya punya kejutan untukmu."
Sari terlihat bingung. "Kejutan apa?"
Paman Aji dan istrinya menatapku dengan sorot curiga. Mungkin mereka khawatir aku mengajak Sari selingkuh.
"Paman dan Tante boleh ikut. Kalian harus tahu hal ini."
Aku memberi isyarat agar mereka bertiga mengikutiku.
Mereka bertiga sedikit kesal karena merasa aku kerjai. Namun, kekesalan mereka pasti akan terbayar dengan pemandangan yang akan mereka lihat sebentar lagi.
"Lihatlah!" tunjukku ke arah dua pengunjung yang sedang asyik berfoto di depan villa.
Wajah Sari memerah, memunculkan kemarahan. Wanita itu langsung bergegas menghampiri pasangan itu, dan...
Plakk!!!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Rustam.
__ADS_1
Jangan lupa follow Instagram Nurudin_fereira