
"Arrrrgggghhhhhh, kenapa bisa ketahuan!" Rustam membalik meja dengan kasar, sehingga pecahan botol minuman dan beberapa gelas kecil berserakan di atas lantai.
Empat orang memakai tuxedo hitam yang berdiri sejajar di hadapannya hanya menunduk.
"Mereka sudah menabuh genderang perang! Berani-beraninya mereka menantang kita!!!" Rustam menggeram, tangannya terkepal kuat.
"Suruh beberapa pembunuh bayaran untuk membunuh seluruh anggota intelijen yang sekarang berada di Paris. Lalu, seret mayat Reserse narkoba Bambang Wijayanto, dan juga Briptu Aldo Flavio ke sini!" Rustam mengepalkan tangannya geram. "Ambil otaknya dari tempurung kepala, saya penasaran terbuat dari apa sampai berani-beraninya bermain-main dengan kita!"
"Baik, Pak!" Keempat pria itu mengangguk. Kemudian, berlalu dari hadapan Rustam dengan sopan.
Rustam menghempaskan tubuhnya ke sofa sambil memijat-mijat keningnya, pusing. Pria itu merogoh ponselnya hendak menghubungi seseorang. "Rurri, saya punya barang baru," ucapnya setelah telepon terangkat.
"...."
"Ya, gampanglah, ini anak saya sendiri." Rustam terkekeh.
"..."
"Nggak usah banyak bacot, yang penting jaringan perdagangan manusia kita lancar."
"..."
"Oke, saya tutup dulu, lagi banyak masalah, nih!"
***
"Sebaiknya anda pulang saja, Pak, biar kami yang urus ini semua." Aldo mencoba membujuk Dendy yang terus saja mengintil aparat kepolisian yang sedang menjalankan misi.
"Saya harus ikut ke Beijeng! Sampai saya bisa melihat anak saya dalam keadaan selamat." Dendy tetap bersikeukeuh dengan pendiriannya.
"Tapi ini terlalu beresiko, Pak!" Aldo menggigit bibir bawahnya, menatap Dendy dengan tatapan memohon.
"Saya berani mati demi anak saya!"
Aldo menghela napas. "Pak, percayalah. Anak dan cucu anda pasti akan baik-baik saja."
"Saya akan ikut!" Dendy malah melototi Aldo.
Aldo terdiam. Sebenarnya kehadiran Dendy hanya menambah beban untuk mereka. Namun apa daya, Dendy tetap ngotot dengan pendiriannya. Kini mereka semua sedang dalam perjalanan menuju ke bandara Paris. Mereka akan melakukan penerbangan menuju Beijeng, tempat persembunyian organisasi yang dipimpin Rustam bersembunyi.
Aldo juga sudah menghubungi tim gabungan Polri, TNI, dan juga anggota BIN yang berada di Indonesia untuk bersiap-siap terbang ke Beijeng menyerang markas persembunyian Rustam. Mereka tidak main-main, karena organisasi yang dipimpin Rustam sudah sangat meresahkan masyarakat Indonesia. Mulai dari mengedarkan narkoba, penculikan, dan juga menghacking beberapa situs-situs resmi milik negara. Rustam memang punya banyak markas di luar negeri, tapi target operasi yang ia incar hanyalah negerinya sendiri, Indonesia. Organisasi Rustam memang masih tergolong lemah untuk melakukan operasi di negara lain selain Indonesia. Alasannya simple, karena aparat keamanan dan orang-orang yang memiliki jabatan tinggi di Indonesia mudah sekali disuap, tidak seperti negara lain yang rela mati demi negaranya sendiri. Terkadang Aldo merasa miris memikirkan hal itu.
"Saya hanya ingin mengawasi kalian. Saya takut kalian menghentikan tugas ini hanya karena uang. Pimpinan kalian saja bisa dengan mudah disuap apalagi kalian anak buahnya?" sindir Dendy menusuk, membuat seluruh polisi yang ada di dalam mobil Van itu melongo.
Aldo terkekeh kemudian menepuk pundak Dendy. "Mau ditaruh di mana wajah Pak Soekarno kalau anak bangsanya berjiwa pengecut seperti itu. Pak, saya akan mati-matian melenyapkan siapa saja yang sudah menganggu kedaulatan negara kita."
Dug!
Mereka semua langsung terjingkat kaget ketika mobil yang mereka tumpangi oleng karena dipepet terus oleh mobil hitam.
"Semua siaga, kita diserang!" ujar Reserse Bambang Wijayanto.
Mereka semua langsung bersiap memegang senjata laras panjang mereka masing-masing.
Duoorrr...
Terdengar bunyi ledakan dari mobil yang melaju di belakang mereka. Mobil itu yang ditumpangi oleh teman-teman mereka. "Bajingan!" pekik Aldo geram.
Seluruh anggota kepolisian yang berada di dalam mobil nomor dua hangus terbakar.
Bruak...
__ADS_1
Bruak...
Bruak...
Mereka semua begitu panik ketika seorang penumpang di mobil hitam itu mencoba memecah kaca jendela mobil mereka. "Awas! Mereka akan melemparkan granad ke mobil kita kalau sampai kacanya pecah!"
Aldo hendak menembak orang yang menggedor-gedor kaca mobilnya, namun dengan cepat disergah oleh Bambang. "Jangan buka kaca jendelanya! Mereka akan melemparkan granad ke dalam mobil kita! Sopir, cepat tambah laju kendaraan!"
Aldo begitu gusar ia harus melakukan sesuatu. Orang-orang biadab di dalam mobil hitam itu telah meledakan mobil teman-temannya, dan sekarang berniat meledakkan mobil yang ia tumpangi. "Awas kacanya hampir pecah!"
Aldo mendengus, tangannya tergerak, bersiap-siap membuka pintu mobil.
Satu.
Aldo menatap nanar ke arah teman-temannya yang berada di dalam mobil secara bergantian. Menikmati wajah mereka satu-persatu yang bisa jadi akan menjadi momen terakhir kebersamaan mereka. Ia kemudian memegang tangan Dendy yang menegang di sebelahnya.
Dua.
Aldo menarik pria paruhbayah itu untuk melompat keluar dari mobil yang mereka tumpangi. Matanya terpejam, seperti adegan slow motion yang begitu lama dinikmati, bahkan ia masih sempat membayangkan wajah teman-temannya di dalam mobil satu-persatu saat terjun dari mobil.
Tiga.
Mereka berdua jatuh terjerembab ke rerumputan. Aldo menatap ke arah mobilnya yang masih melaju kencang, bahkan sampai meninggalkan mobil hitam yang meneror mereka.
Duooorrrr...
"Bajingan!" Aldo mengepalkan tangannya geram ketika mobil yang ditumpangi oleh Komisaris Besar Reserse Bambang Wijayanto beserta rombongannya meledak.
"Arrrggghhhhhh....!!!" teriak Aldo bringas. Ia berlari mengejar mobil hitam itu dengan sekuat tenaga. "Brengsek!!!"
Aldo menembak ban belakang mobil hitam itu dengan senapan laras panjangnya. Ia benar-benar murka. "Arrrrgggghhhhhhh, seeeetaaaaaannnnnnn!!!"
Aldo menjatuhkan senjatanya kemudian terduduk lemas dengan napas tak beraturan. Ia memukul-mukul aspal sampai tangannya berdarah. "Bangsat! Biadab!! Arrrggggghhhh!!!"
Tak lama itu polisi Paris dan beberapa ambulance datang, mencoba membereskan kericuhan yang terjadi di kota mereka. Aldo yang masih shock dibantu berdiri oleh beberapa anggota kepolisian Paris. Ia ingin melihat kondisi Dendy, dan alhamdulilah, Dendy baik-baik saja walaupun tatapannya kosong karena masih tidak percaya dengan apa yang terjadi.
Aldo memberontak saat digalang polisi Paris menaiki ambulance. Karena ia melihat tubuh hangus Reserse Bambang Wijayanto yang masih bergerak saat di tandu petugas ambulance. "Please help save him!" ucapnya memelas pada petugas ambulance.
***
Viola membuka matanya pada tengah malam, melirik ke arah Rustam yang tertidur pulas di sebelahnya. Ia membuka selimut, kemudian tangannya tergerak perlahan untuk meraih handphone yang berada di samping kepala Rustam. Ia begitu hati-hati karena takut tiba-tiba Rustam terbangun.
Yups, Viola berhasil mendapatkannya. Namun, ia tercekat karena tiba-tiba tangannya sudah dicekal oleh Rustam.
"Aku bukan orang bodoh yang bisa dengan mudah kamu liciki," ucap Rustam penuh penekanan. "Serahkan handphonenya kembali padaku!"
"Enggak!" jawab Viola lantang menyembunyikan handphonenya di balik punggung.
"Jangan buat aku marah!" Rustam melotot tajam.
"Kamu bukan raja yang bisa bertindak seenaknya saja!" Viola terus mundur turun dari ranjang.
"Viola!" bentak Rustam.
"Aku ingin menelpon orang rumah!" tubuh Viola terpentok tembok, karena Rustam terus mengintimidasinya.
Rustam sudah kehilangan kesabaran, dengan kasar ia mencoba merebut ponselnya dari genggaman Viola. "Jangan melawanku, Vi!"
Viola masih mencoba menahan tangan kekar Rustam yang hendak merebut ponsel yang ia pegang mati-matian. Bahkan, ia sampai harus meringkuk memeluk ponsel tersebut.
"Viola!" bentak Rustam geram. Terpaksa ia harus melakukan kekerasan. Namun, tiba-tiba Rena berlari memasuki kamar dan menggigit tangan Rustam.
__ADS_1
"Ahh, lepaskan bodoh!" Rustam memekik kencang ketika tangannya digigit.
Viola akhirnya bisa lepas dari cengkraman Rustam. "Kerja bagus, Nak. Kamu memang anak pintar!"
Rustam yang sudah emosi menghempaskan Rena sampai terpental ke lantai. Membuat Viola memekik. "Renaaa!!!"
Rustam kembali menghampiri Viola dan merebut handponenya. "Kalian benar-benar membuatku marah!"
"Jangan sakiti Mama aku!" teriak Rena yang masih meringis kesakitan.
"Diam!" Rustam melotot. Ia meraih tubuh mungil Rena dan membopongnya.
"Kamu mau bawa Rena kemana?" Viola beranjak dari posisinya mencoba merebut Rena dari gendongan Rustam.
Rustam sama sekali tak menggubris ucapan Viola. Ia keluar dari kamar dan mengunci Viola yang tak henti-hentinya berteriak.
"Lepasin aku, hantu jeruk purut!" Rena meronta-ronta digendongan Rustam.
"Sebentar lagi aku akan melepaskanmu untuk selama-lamanya, Sayang!" Rustam terkekeh geli.
Rena terus memukul-mukul bahu kekar Rustam. "Aku akan goreng Papa jadi telur mata anjing!"
Rustam menghempaskan tubuh Rena ke sofa, kemudian memplaster mulut Rena yang tidak bisa diam. Plaster yang sudah ia siapkan di bawah meja, beserta tali tambang untuk mengikat anak kecil itu. "Kamu akan Papa jual!" Rustam mengusap-ngusap pipi menggemaskan Rena kemudian tertawa.
***
"Asstagfirullahaladzim."
"Asstagfirullahaladzim."
"Asstagfirullahaladzim."
Desisan dzikir dari mulut Erwin mengiringi bunyi tasbih yang diputar-putar oleh jari telunjuknya. Di tengah-tengah keheningan malam, ia memohon ampun dan juga memohon pertolongan kepada Sang Pencipta seluruh alam.
Hatinya dipenuhi oleh kegelisahan. Ikatan batin antara ayah dan anak sepertinya tidak bisa dibohongi. Mulut Erwin tak henti-hentinya mengucapkan istigfar, berharap semua kegelisahannya hilang, berharap Tuhan akan menolongnya. Seperti kata para ulama, siapa saja yang mengucapkan istigfar satu kali, Allah akan tersenyum detik itu juga dan akan mengampuni dosa-dosa kita.
Mana kala seorang Imam Ahmad bin Hanbal, seorang ulama besar, pendiri madzhab Hanbali, murid Imam Syafi'i, tiba-tiba ingin datang ke salah satu kota di Irak. Entah kenapa beliau ingin pergi ke sana padahal tidak punya janji pada siapa-siapa. Karena tidak punya tujuan akhirnya ia melaksanakan solat jamaah di suatu masjid, setelah solat selesai ia ingin beristirahat. Namun, malah diusir oleh marbot masjid. Karena zaman dulu tidak ada foto, maka tidak ada orang yang tau kalau beliau adalah seorang ulama besar dan ahli hadis, soleh, dan Zuhud. Orang-orang zaman dulu hanya mengenal namanya tapi tidak dengan wajahnya.
Melihat seorang sepuh diseret-seret oleh marbot masjid karena diusir beberapa kali, membuat seorang tukang penjual roti merasa kasihan dan akhirnya menawari Imam Ahmad bin Hanbal untuk beristirahat dan menginap di rumahnya saja.
Di dalam rumah si penjual roti. Imam Ahmad tidak memperkenalkan diri. Karena si penjual roti tidak banyak bicara. Ia akan bicara jika Imam Ahmad bertanya, dan jika tidak penjual roti itu akan melafalkan istigfar sambil mengaduk adonan rotinya.
Imam Ahmad memperhatikan terus. Lalu imam Ahmad bertanya "sudah berapa lama kamu lakukan ini?"
Orang itu menjawab "Sudah lama sekali syaikh, saya menjual roti sudah 30 tahun, jadi semenjak itu saya lakukan."
Imam Ahmad bertanya lagi. "Apa hasil dari perbuatanmu ini?" Orang itu menjawab "(lantaran wasilah istighfar) tidak ada hajat yang saya minta , kecuali pasti dikabulkan Allah. semua yang saya minta ya Allah...., langsung diterima."
Memang Nabi saw pernah bersabda "Siapa yang menjaga istighfar, maka Allah akan menjadikan jalan keluar baginya dari semua masalah dan Allah akan berikan rizki dari jalan yang tidak disangka-sangkanya. Lalu orang itu melanjutkan "semua dikabulkan Allah kecuali satu, masih satu yang belum Allah kabulkan."
Imam Ahmad penasaran kemudian bertanya. "Apa itu?"
Kata orang itu. "Saya minta kepada Allah supaya dipertemukan dengan imam Ahmad."
Seketika itu juga imam Ahmad bertakbir, "Allahuakbar, Allah telah mendatangkan saya jauh dari Bagdad pergi ke Bashrah dan bahkan sampai didorong-dorong oleh marbot masjid itu sampai ke jalanan karena istighfarmu."
Penjual roti terperanjat, memuji Allah, ternyata yang di depannya adalah Imam Ahmad. Terkabulah sudah keinginannya berkat keutamaan beristigfar.
Masih banyak lagi cerita-cerita kehidupan perihal ajaibnya istigfar. Dari situlah Erwin termotivasi untuk selalu memperbanyak istigfar, agar Allah menolongnya. Menyelamatkan Rena dan Viola, dan menentramkan hatinya. Pada dasarnya kenapa doa kita belum terkabul adalah menumpuknya dosa. Bagaimana cara menghapus dosa itu agar doa kita cepat terkabul? Yaitu dengan beristigfar.
Jangan lupa follow Instagram nurudin_fereira
__ADS_1