Bos Somplak

Bos Somplak
Part 60 : Suprise Dadakan


__ADS_3

"Bagaimana kondisi anak saya, Dok?" tanya Dendy khawatir.


"Anak Bapak mengalami pendarahan yang cukup parah pada kepalanya, untung masih bisa segera di tangani. Ada beberapa bagian wajah dan lengannya yang harus dijahit. Kondisi pasien berangsur membaik walaupun masih tidak sadarkan diri." Dokter tampan itu tersenyum.


"Apa saya boleh melihatnya, Dok?" tanya Ibu Viola.


"Silahkan!" ucap sang Dokter ramah. "Tapi satu-satu saja, pasien masih butuh beristirahat."


"Aku ingin ikut masuk, Dok!" sahut Zahra dengan mata sembabnya.


"Gantian, ya!" ujar sang Dokter ramah.


"Yah, aku pengennya sekarang, Dok!" rengek Zahra memohon, matanya yang sebening kristal itu terlihat berair, membuat sang dokter gemas melihatnya.


"Ya, Dok? Aku ikut masuk, ya?"


Dokter itu terkekeh geli, karena gemas ingin mencubit pipi Zahra. Sungguh siapapun pasti gemas ingin *******-***** pipi Zahra. Terpaksa dokter itu mengangguk karena terbuai dengan kecantikan wajah Zahra. Udah ada yang punya belum nih, sih?


Zahra menyeka air mata yang ada di pipinya kemudian mengekori Ibu Viola masuk dalam ruangan.


"Ya ampun, Mbak Viola?" Mulut Zahra menganga lebar melihat keadaan Viola yang kepalanya di balut dengan perban, serta lengan kirinya yang digips. Ia masih tidak menyangka, padahal beberapa waktu yang lalu Viola masih bercanda dengannya di bioskop.


Ibu Viola hanya terdiam menatap Viola yang belum sadarkan diri dengan wajah yang dibalut perban. Zahra tidak bisa menebak apa yang dirasakan Ibu Viola, karena ekspresinya terlihat datar-datar saja dengan matanya yang membengkak.


"Kira-kira kapan Mbak Viola sadar, Tante?" tanya Zahra sambil menggigit jari telunjuknya, kasihan.


Ibu Viola berdehem singkat. "Hmm, doain, ya?"


"Kasihan banget, sih, Mbak Viola. Kena musibah terus." Zahra masih nyerocos tidak jelas.


Ibu Viola hanya terdiam, membiarkan perempuan muda cerewet ini berbicara sendiri. Ia hanya membatin, mungkin anaknya nanti perempuan, soalnya dia cerewet.


***


Setelah pulang dari rumah sakit, Zahra menyempatkan diri mampir ke ruko rumah makan Ayam Geprek Selingkuh miliknya. Seperti biasa, toko terlihat ramai pelanggan. Mulai dari anak kuliahan sampai orang perkantoran makan di tempat Zahra.


Namun, kaki Zahra tiba-tiba gemetar saat langkahnya sampai di dalam ruangan, suasana gaduh orang-orang yang ngobrol sambil menyantap makanannya berubah menjadi senyap. Keringat dingin menetes begitu saja di dahi Zahra, tempat yang sekarang ia pijaki terasa sempit karena terlalu banyak tersimpan kenangannya bersama Erwin. Zahra menyesal sudah datang ke sini.


"Wahahahaha, Kak Zahra dateng!!!" Vina langsung menghambur memeluk Zahra yang mematung di ambang pintu.


Zahra masih terdiam dengan tatapan kosong.


"Mau makan, Kak? Aku siapin terus suapin, ya?" Vina begitu antusias menyambut kedatangan Zahra.


Zahra hanya tersenyum kikuk. "Aku langsung pulang aja, deh, Vin."


"Lho gimana, sih, Kak? Kangenku, kan, belum sembuh. Kak Zahra, kan, jarang ke sini." Vina berkacak pinggang sambil melotot.


"Kapan-kapan, deh, Vin. Aku ke sini bantuin kalian." Zahra mengecup dahi Vina kemudian berbalik badan untuk pergi.


"Kak Zahra!!!" Fitri dan beberapa anak panti yang bekerja di situ langsung berlari menghentikan langkah Zahra. "Kak Zahra nggak boleh pulang dulu. Kami kangen tau!" ucap Fitri menterlentangkan tangannya.


Zahra menghela napas panjang. "Huffttt... lima menit aja, ya?"


"Yah, kok, gitu sih, Kak?" Fitri mendengus.


"Aku lagi nggak enak badan, Fit." Zahra berjalan ke arah meja yang kosong. "Satu porsi, ya?"

__ADS_1


Fitri terdiam beberapa saat, kemudian mengangguk dan berjalan menuju dapur.


Zahra meringis, menahan perasaan sesak yang menghimpit pernapasannya. Entah kenapa nuansa kehidupannya selalu berubah menjadi abu-abu. Zahra benar-benar kehilangan warna dalam hidupnya.


Tak lama kemudian, Fitri datang membawa nampan berisi seporsi ayam geprek beserta jus jeruk. "Kak Zahra lagi flashback, ya?" tanya Fitri membangunkan Zahra dari lamunannya.


Zahra menatap Fitri kikuk, kemudian menghela napas jengah. "Tempat ini terlalu menyimpan banyak kenangan, Fit."


"Kak Zahra jangan sedih terus, dong." Anan, salah satu anak panti yang bekerja di rumah makan Zahra tau-tau sudah ada di belakang Zahra memegang pundaknya.


"Kakak nggak sedih, kok, cuma keinget aja." Zahra berdalih.


"Hmm, besok warungnya libur, kan, ya?" sahut Fitri sambil menatap iba ke arah Zahra. "Gimana kalau kita nongkrong di Cafe, kak?"


Zahra menggelembungkan pipinya. "Aku lagi nggak mood, Fit."


"Ya, elah, Kak, sekali-kali, dong, refreshing."


"Udah tiap hari kali, Fit, aku sama Mbak Viola juga sering jalan-jalan." Zahra menghembuskan napas kasar setelah ingat kalau Viola sedang terbaring lemah di rumah sakit.


"Maksudku sekali-kali, lah, jalan-jalan sama kita, Kak."


"Hmm," Zahra tampak berpikir. "Masalahnya Mbak Viola lagi dirawat di rumah sakit."


Fitri dan Annan langsung terkejut. "Kenapa, Mbak?"


"Dia habis kecelakaan." Zahra memanyunkan bibirnya.


"Ya ampun ada-ada aja, sih, cobaannya."


Zahra mulai menyuapkan sesuap nasi ke mulutnya.


"Alhamdulilah sudah membaik."


Zahra mengeser piringnya kemudian menyeruput jus jeruk yang berada di sampingnya. Entah, kenapa hingga kini nafsu makannya tidak pernah stabil. Padahal itu sangat tidak baik untuk kesahatan janin yang ada di dalam kandungannya.


"Gimana kalau besok sehabis kita nongkrong di cafe, jengukin Mbak Viola?" Fitri memberi ide.


Zahra kembali berpikir.


"Nongkrong-nongkrong gitu, Mbak, biar keliatan muda lagi. Besok aku tunggu sama Vina di Cafe atas, ya?"


"Aku ikut, dong!" Anan yang masih berdiri menyahuti.


"Yaudah, nanti temen-temen kamu di panti juga diajak," ujar Fitri kemudian kembali menoleh ke arah Zahra. "Gimana, Mbak?"


"Hmmm, yaudah."


***


Akhirnya tibalah pada hari yang ditentukan. Zahra bersama beberapa anak panti yang ingin ikut jalan-jalan memesan lima taxi online sekaligus untuk menuju ke tempat yang disebutkan oleh Vina dan Fitri. Ada sekitar lima anak panti yang bekerja di rumah makan Zahra berserta beberapa anak panti yang murni ingin ikut.


Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, akhirnya mereka sampai di tempat yang di maksud Vina dan Fitri. Anak panti yang jarang sekali keluar panti terlihat heboh melihat tempat yang akan mereka kunjungi. Zahra tersenyum, tingkah konyol mereka sedikit menghibur Zahra.


"Ini namanya nongkrong, bukan jalan-jalan." Annan yang berdiri di sebelah Zahra terkikik.


"Kalau nggak dipaksa sama Vina dan Fitri, Kak Zahra nggak bakalan mau ke sini," jawab Zahra pelan.

__ADS_1


"Siapa tau bakalan dapet pacar baru." Anan meledek Zahra.


"Kamu itu," Zahra mendengus.


Merekapun mencari tempat duduk mereka masing-masing, karena sepertinya tempat itu sudah di booking oleh Vina dan Fitri. Tunggu-tunggu! Gaji Fitri dan Vina berapa sampai berani-beraninya booking tempat ini?  Dengan tidak adanya Erwin, Zahralah yang mengatur keuangan dan gaji karyawan di rumah makannya, dan setau Zahra gaji Vina dan Fitri tidak akan cukup membooking tempat ini.


"Aku suka di sini, karena kita bisa karoekean juga, kak," ucap Fitri antusias sambil menunjuk panggung kecil tempat karaoke di depan sana, ada juga gitar dan microfone yang boleh dimainkan oleh para pelanggan yang nongkrong di cafe tersebut.


"Tapi aku nggak bisa lama, lho, ya, di sini," ucap Zahra serius. "Aku harus jengukin Mbak Viola."


"Yah, Kak, nanti bareng-bareng aja jengukin Mbak Violanya." Vina mengerucutkan bibirnya.


"Nanti kemaleman kalau lama-lama di sini," gerutu Zahra pelan, kemudian menoleh ke arah anak-anak panti yang berebut makanan yang dihadangkan oleh pelayan. "Hey, jangan rebutan! Pasti semua kebagian!" teriak Zahra menegur beberapa anak panti yang masih SMP itu.


"Masak Kak Zahra tega, sih? Jarang-jarang, kan, kita kumpul-kumpul kayak gini di luar suasana kerja. Apalagi sekarang Kak Zahra jarang ke warung, kita jadi nggak pernah ketemu," gerutu Vina panjang.


Zahra hanya menunduk, kalian sedih tidak bisa bertemu denganku yang masih ada di bumi, lihatlah aku sekarang yang sudah tidak bisa ketemu dengan Mas Erwin lagi.


"Ehmmm ... ehmmm ... cehck sound..." Semua orang langsung menoleh setelah mendengar suara dari seorang pria yang tiba-tiba sudah ada di atas panggung hendak menyanyikan lagu.


Tubuh Zahra langsung membeku seketika, melihat sosok yang ada di depan sana. Fitri dan Vina langsung berhigh-five ria karena rencananya berhasil.


"Lagu ini aku persembahkan untuk Mbak cantik yang pakai gamis sabrina di ujung sana," tunjuk pria yang memakai kemeja kotak-kotak dengan celana jeans hitam itu sambil membenarkan letak microfone-nya. Seluruh anak-anak panti berteriak heboh sambil menatap Zahra. Walaupun sebagian besar anak-anak panti itu masih SMP, tapi mereka paham betul jika yang dilakukan pria itu adalah hal yang sangat romantis.


Jreng... Jreng... Jreng...


"Waktu pertama kali..., kulihat dirimu hadir..., resah hati ini inginkan dirimu...."


Kaki Zahra mulai gemetar, mendengar merdunya suara lagu yang dipersembahkan untuknya itu.


"Hati indah mendengar ..., suara indah menyapa ..., geloranya hati ini tak kusangka ...."


"Rasa ini tak tertahan ..., hati ini selalu untukmu ...."


Jantung Zahra berdebar-debar kencang, tubuhnya mulai panas-dingin, aneh, tapi ini terasa menyenangkan. Suara tepuk tangan mulai terdengar riuh, diiringi suara siulan yang menggoda Zahra saling bersaut-sautan.


"Terimalah lagu ini..., dari orang biasa..., tapi cintaku padamu luar biasa...."


Zahra sedikit terpana, perempuan manis yang mengenakan gamis itu beranjak dari duduknya dengan tatapan yang tak mau beralih dari pria yang menyanyikan lagu untuknya itu.


"Aku tak punya bunga..., aku tak punya harta...,"


Zahra mulai melangkahkan kakinya perlahan menghampiri pria itu. Membuat penonton berteriak histeris.


"Yang kupunya hanyalah hati yang setia..., tulus padamu...,"


Tepuk tangan kembali bergemuruh. Pria itu tersenyum menatap Zahra yang melangkah menghampirinya.


Satu langkah...


Dua langkah...


Tiga langkah...


Dan...


Plakkk!!!

__ADS_1


Seluruh orang di dalam cafe itu hanya terperangah tak bisa berkata apa-apa.


Bersambung...


__ADS_2