Bos Somplak

Bos Somplak
Part 13 : Formulir Pendaftaran Menantu


__ADS_3

"Saya tidak menyangka bapak masih bisa selamat dalam tragedi kebakaran itu," ucap Zahra ketika mereka di dalam mobil.


"Ceritanya panjang."


"Keren, dari sekian banyaknya rencana pembunuhan yang direncanakan Rustam bapak tetap selamat."


Erwin menoleh sekilas ke arah Zahra, kemudian kembali fokus mengendarai mobilnya.


"Bapak nggak kaget?"


"Saya sudah tahu kalau Rustam yang mengatur semuanya, Zahra."


Zahra tersentak mendengar ucapan Erwin. Khawatir jika pria misterius itu juga mengetahui kejahatannya, memberikan racun ke minuman Erwin.


"Bapak, yakin mau menikah dengan saya?" tanya Zahra mengalihkan pembicaraan.


"Ya, besok saya akan mendatangi keluargamu." Erwin menatapnya dengan wajah datar. Kemudian membuka pintu untuk turun dari mobil.


"Untuk sementara waktu kamu tinggalah di apartemenku," lanjutnya sambil memberi kode agar Zahra mengikutinya.


Mereka berdua mulai memasuki lobby, menaikki lift, kemudian menyusuri lorong kamar.


Erwin menggesekkan kartu chip pada kotak sensor yang terletak di sebelah pintu. Tak lama kemudian pintu langsung terbuka.


Pria itu lalu menyerahkannya kepada Zahra. "Pegang kartu ini untuk masuk."


Zahra menatapnya dengan wajah sendu. "Bapak yakin akan mendatangi paman saya?"


Erwin mengangguk.


Zahra mengerucutkan bibir sambil merapatkan kerudung yang tersampir di atas kepalanya. Hanya tersampir, tidak dipakai.


"Mereka mungkin sudah tidak peduli padaku."


"Saya tetap butuh mereka sebagai wali nikahmu."


Keduanya kembali melangkah memasuki kamar. Ruangan yang tadinya gelap langsung terang benderang setelah Erwin menyalakan lampu.


"Telepon saya kalau kamu butuh sesuatu." Erwin memberikan salah satu ponselnya kepada Zahra.


I phone.


"Aku masih tidak yakin bapak akan menikahi saya." Bibir ranum gadis mungil itu kembali mengerucut.


"Apa yang membuatmu ragu?" tanya Erwin dingin.


"Bapak tidak benar-benar tulus mencintai saya."


"Kalau tidak tulus, mana mungkin saya mau menyelematkanmu. Dan, mana mungkin saya mau menikahimu."


Iris mata Zahra yang tadinya sendu mulai berkaca-kaca.


"Apakah kamu mencintai saya Zahra?" tanya Erwin dengan tatapan mengintimidasi.


Semburat merah muncul di kedua pipi Zahra. "Awalnya sih iya."


"Sekarang?"


"Sekarang jadi iyaaa banget." Zahra nyengir kuda.

__ADS_1


Sudut bibir Erwin tersenyum tipis.


***


Mobil Pajero sport Erwin memasuki pelataran rumah. Pria itu lalu turun dari mobil sambil merapikan jas kantornya.


Detak langkah sepatu pantofel yang menapak lantai menggema memenuhi ruangan.


Jam sudah menunjukkan pukul 01.03 dini hari. Erwin membuka pintu kamar dan mendapati Viola sedang tertidur pulas.


Erwin melangkah perlahan agar istrinya tidak terbangun. Tangan pria itu gemetar saat hendak mengusap-ngusap rambut Viola.


"Apa kita akan masuk neraka sama-sama?" tanyanya getir.


Melihat dengkuran halus dari napas Viola yang teratur.


"Kamu sudah gagal menjadi istri yang baik. Aku juga sudah gagal menjadi imam yang baik. Aku yang akan menanggung dosa-dosamu, dan kamulah yang menyeretku ke neraka. Jadi, sebelum itu terjadi mari kita bersenang-senang, Sayang."


Erwin beranjak dari duduk, pergi dari kamar istrinya. Kemudian berjalan menuju ke kamar putri kecilnya.


Pria itu melepas jas dan dasi yang tersampir di kemejanya. Lalu, menaruhnya di atas meja belajar.


Erwin memilih tidur dengan Rena, putri kecilnya yang masih kelas satu SD. "Maafin Papa karena tidak bisa jadi orang tua yang baik."


Erwin mengecup kening putrinya lembut.


***


"Sudah siap?" tanya Erwin setelah Zahra menyusul masuk ke dalam mobil.


Gadis yang mengenakan baju muslimah bermotif bunga itu menghela napas. Menyiapkan mental untuk bertemu dengan para bedebah.


Dalam perjalanan, Zahra hanya terdiam. Menahan amarah yang bergejolak di dalam dada. Kebenciannya pada Rustam sudah memuncak.


Pak Satpam langsung bergegas membuka pintu. Begitu melihat mobil mewah masuk ke pelataran rumah.


Entah punya berapa mobil mewah bos tampan satu ini. Setiap hari ia selalu membawa mobil berbagai merk berkelas yang berbeda-beda.


Di depan sana tampak Rustam sedang bersantai sambil membaca koran. Pria itu langsung mendongak ketika mobil Erwin datang.


Tangan Zahra terkepal kuat. Wajahnya memancarkan amarah. Perempuan itu langsung buru-buru turun sebelum mobil berhenti dengan sempurna.


Rustam terbelalak melihat kemunculan Zahra yang mengenakan pakaian muslimah. Sangat berbeda dari biasanya yang pecicilan.


Gadis itu langsung melepas high-heelsnya kemudian melemparkannya ke arah Rustam.


Untung saja Rustam masih mampu menangkisnya dengan lengannya, sambil meringis merasa nyeri.


"Bajingan!!" Zahra langsung menyiramkan secangkir kopi panas ke wajah Rustam.


Pria itu mengumpat kasar. Lalu mendorong meja di depannya hingga ambruk. "Brengsek!!"


Rustam mencekik Zahra dengan kesal. "Kau pikir nggak sakit?!" bantaknya.


"Itu masih belum seberapa dibandingkan dengan apa yang udah kamu lakukan padaku, b*ngsat!" Zahra berteriak kencang. Sembari berusaha melepas cengkraman Rustam.


Namun, Rustam mencekiknya semakin kencang. Hingga Zahra tidak bisa bernapas.


Bugh!

__ADS_1


Sepercik darah langsung muncrat ke udara setelah Erwin memukul wajah Rustam sekuat tenaga. Disusul dengan tubuh pria itu yang jatuh tersungkur ke lantai.


Erwin mengusap-usap pergelangan tangannya yang baru saja digunakan untuk memukul. Kemudian tersenyum tipis. "Anda tidak boleh kasar dengan perempuan!"


Rustam memegang sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. Kepalanya langsung terasa pusing setelah menerima pukulan Erwin.


"Astaga ada apa ini?!" teriak paman Aji yang keluar dari rumah. Pria botak itu terkejut melihat Rustam sudah babak-belur, meja dan kursi di depan teras berjatuhan, ditambah kehadiran Zahra dan Erwin di sebelahnya.


Zahra masih melotot ke arah Rustam dengan napas terengah-engah.


"Maaf kami memicu keributan," ucap Erwin dengan suara serak. Menarik Zahra ke belakang punggungnya. Agar emosi gadis itu sedikit terkontrol.


"Kenapa kalian menghajar Rustam?"


"Menantumu ini bajingan!" teriak Zahra dari balik punggung Erwin.


"Dia telah menjualku ke seorang pelacur!" lanjutnya sambil menitikkan air mata.


Rustam tidak melakukan pembelaan, tergolek tak berdaya. Kesadarannya sedikit konslet setelah dipukul Erwin sekuat tenaga. Erwin memang meluapkan segala kemarahannya pada pukulan tersebut.


"Saya pikir kamu sudah di sewa pria ini, Zahra," jawab paman Aji seenak jidatnya, sambil menunjuk Erwin.


Zahra ingin menjawab, tapi Erwin buru-buru menahannya. "Saya ingin menikahi keponakan bapak."


Paman Aji terbelalak. "Jangan-jangan Zahra sudah kamu hamili!"


"Tidak!" jawab Zahra dan Erwin serempak.


"Lalu, kenapa kalian ingin cepat-cepat menikah?"


"Karena kami berdua saling mencintai." Erwin melirik ke arah Rustam yang masih meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya yang pusing.


"Pantas saja sudah berhari-hari Zahra tidak pulang. Rupanya dia bersama kamu?" tuduh paman Aji.


"Aku dijual oleh Rustam tua bangka! Anda budek apa gimana sih?" teriak Zahra kesal.


Paman Aji tersenyum tipis. "Itu hanya alasanmu saja."


"Sialan!" Zahra menggeram.


Erwin dengan sigap menahan tubuh mungil Zahra yang ingin menyerang pamannya itu.


"Baiklah, kalian memang harus cepat-cepat dinikahkan. Saya sudah capek mengurusi Zahra." Paman Aji menghela napas kasar.


"Capek matamu! Anda tidak pernah adil kepadaku!" Zahra semakin murka.


"Zahra, sudah!" tegur Erwin. Gadis itu langsung terdiam.


Paman Aji mengamati penampilan Erwin dari atas sampai bawah. Kemudian tersenyum sinis. "Kalian berdua masuklah, kita akan membicarakan pernikahan kalian."


"Anda setuju kami menikah?" tanya Erwin dengan suara berat.


"Kenapa tidak?" Paman Aji mengangguk antusias. "Tapi ada persyaratan yang harus kamu penuhi."


Persyaratan yang harus kamu penuhi? Ulang Erwin dalam hati.


"Bu ambilin formulir pendaftaran menantu!" teriak paman Aji kepada istrinya.


Erwin terbelalak, kemudian menoleh ke arah Zahra yang tertunduk malu.

__ADS_1


Formulir pendaftaran menantu?


Hargai penulis dengan follow Instagram @nurudin_fereira ya 🙏


__ADS_2