
Jangan lupa Vote dan komen 🙏
***
"Kalau kamu laper masak sendiri sana, Zahra. Tapi bahan makanannya beli sendiri, jangan ngambil sayur-sayuran di kulkas. Itu punya kami." Tante Susi menjawab enteng.
Dasar benalu nggak tahu diri! Aku benar-benar kehilangan kesabaran. Awas kalian, ya!
"Ayo mas!" Aku menarik pak Erwin menjauh dari mereka.
Pak Erwin malah nyengir kuda. "Ciee ... !!"
"Cie apanya?" tanyaku kesal.
"Manggil, Mas!" goda pak Erwin mencubit pipiku gemas.
"Maaf, lupa." Aku mengerut sebal.
"Pertahankan manggil Mas. Aku kawal sampai punya anak." Pak Erwin memainkan rambut panjangku yang sebagian menutupi wajah.
"Bapak cinta sama saya aja juga enggak. Pakai ngomong soal anak." Aku mengerucutkan bibir.
"Kalau tidak cinta, kenapa saya rela tinggal di sini sama kamu?" Pak Erwin mendekatkan wajahnya.
Sekujur tubuhku langsung merinding menatap wajah putih bersih itu dari jarak yang sangat dekat.
"Aku hanya istri kedua, Bapak." Aku menunduk.
Pak Erwin terdiam, sorot matanya tampak berubah. Datar, seperti sebelumnya.
"Ya udah gimana ini, Pak? Kita makan di luar?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Hmm." Pak Erwin yang mengenakan kaos oblong hitam dengan bawahan celana jeans termenung.
Aku masih menunggu dia berpikir dengan sorot datar.
"Kita delivery makanan aja." Pak Erwin mengerlingkan sebelah mata.
Wajahku bersemu merah. Melihat iris mata bening itu mengerling.
Pak Erwin merogoh ponselnya, kemudian mencari nomor kontak seseorang.
"Hallo, assalamualaikum," ucapnya setelah telepon tersambung.
"Refan, tolong pesankan makanan seluruh menu restoran yang tersaji di AB food. Kirim ke rumah Zahra, nanti saya sharelok.
"Ha? Semua menu makanan?" Aku terbelalak.
Pak Erwin tersenyum tipis. "Ngajarin mereka supaya nggak pelit."
Paman Aji dan Tante Susi memegangi perutnya yang kekenyangan setelah selesai makan. Kemudian menyalakan rokok seperti kebiasaannya.
"Kalau mau makan, itu masih ada semangkuk karedok, nasinya masih ada satu centong. Nanti sekalian dibersihin meja makannya ya, Zahra," ucap tante Susi kemudian masuk ke dalam kamar.
Aku menatap sinis. Keterlaluan memang.
Paman Aji yang duduk di sofa tampak menikmati seputung rokoknya dengan santai. "Zahra, ambilkan paman asbak."
"Ogah!" jawabku kesal.
Pria botak itu melotot, lalu merapatkan bibir dan menjentikkan rokoknya ke lantai. Mungkin malu jika koar-koar karena ada mas Erwin.
Begitulah kelakuannya pada keponakan sendiri.
Aku dan pak Erwin masih berdiri di ruang tengah. Melihat Rustam dan kak Sari yang menyusul pergi dari dapur. Mereka tampak kekenyangan. Sampai segitunya, hanya karena tidak ingin aku numpang makan bersama mereka.
__ADS_1
Kak Rustam sama sekali tidak berani menoleh ke arah kami. Menganggap aku dan pak Erwin patung. Sementara kak Sari menjulurkan lidah, meledekku karena tidak kebagian makanan.
Pak Erwin tersenyum dalam sekali hentakkan. Kemudian memutuskan melangkah menuju rumah.
Aku langsung mengekor dari belakang, pria jangkung itu.
"Kamu kenal dengan tetangga-tetanggamu?"
Aku menggelembungkan pipi. "Aku nggak pernah bergaul sama mereka. Cuma kenal tapi nggak pernah akrab. Karena dilarang sama paman Aji."
"Hmm, mungkin biar kamu nggak ngomong aneh-aneh sama tetanggamu."
"Pasti!" Aku mendengkus kesal.
"Yaudah, kita ngundang anak-anak panti aja nemenin kita makan."
"Ha?" Aku membulatkan mata. "Maksudnya?"
"Saya pesen seluruh menu makanan yang ada di restoran, nggak akan habis kalau kita makan."
"Kok banyak amat sih, Pak? Harusnya pesen dua porsi aja cukup."
"Ngajarin keluarga pamanmu biar nggak pelit." Pak Erwin duduk di kursi kayu yang ada di depan teras.
"Mereka beli makanan disantap sendiri. Kita beli makanan disantap bareng-bareng orang satu RT."
Aku ikut duduk di sebelah pak Erwin. "Emang kebangetan itu keluarga benalu. Udah nggak tahu diri, pelitnya minta ampun."
"Sabar!"
"Emang kenyang makan sabar?" sentakku kesal.
"Pengen kenyang makan di restoran. Tapi ya tetep harus sabar." Pak Erwin mencolek bahuku.
Tapi malah meleset terkena ...
Wajah pak Erwin terlihat memerah. "Eh, sorry nggak sengaja!" ucapnya sambil mengangkat kedua tangan.
"Dasar!"
"Hmm, empuk juga." Pak Erwin terbahak.
"Sial!" Aku mentoyor kepalanya.
"Hey, udah berani mukul bosnya sendiri?" Rahang pria itu mengeras.
"Biarin!" jawabku sewot.
"Hmm, nanti boleh colek-colek lagi?" bisiknya.
Apaan sih, aku menyembunyikan wajahku yang bersemu merah. Salah tingkah, asli!
Tak lama kemudian beberapa mobil pick-up datang membawa alat perlengkapan prasmanan.
Mataku membulat sempurna. Kemudian menoleh ke arah pak Erwin meminta penjelasan.
Pak Erwin terlihat santai, mengamati orang suruhannya mendirikan tenda dan menata tempat prasmanan stainles.
Kursi-kursi dan meja ditata rapi. Makanan dari restoran dipersiapkan.
"Ini nggak salah?"
Pak Erwin tertawa geli melihat ekspresiku.
"Makan malam aja sampai kayak gini?" tanyaku masih tidak percaya.
__ADS_1
Parah, orang kaya mah bebas!
"Anak-anak panti yang dijemput pak Erwin juga datang. Naik mobil pick-up. Jadi total, ada 8 mobil pick-up di rumah ini.
Paman Aji dan Tante Susi keluar karena mendengar suara keramaian.
"Erwin, acara apa ini?" tanya paman Aji terlihat bingung. Melihat halaman rumah sudah disulap menjadi tempat hajatan makan besar.
"Kami mau makan malam, karena kebanyakan pesan makanan. Jadi, anak panti kami undang. Kalian mau ikut makan malam bareng kami?" Pak Erwin menawari.
"Nggak usah!" sahutku cepat. "Kalian pasti udah kenyang. Kalian nonton aja kami makan malam."
Tante Susi mendengkus kesal. "Dasar pelit, tahu gitu kami ikut makan bareng kalian!"
Dih, situ yang pelit, aku membatin.
"Anak-anak udah laper?" teriak pak Erwin kepada anak-anak panti yang berteriak riuh melihat beraneka makanan lezat dihidangkan di prasmanan.
Kak Sari dan kak Rustam juga buru-buru keluar. Mereka tak kalah terkejut.
"Makan malam siap, ayo makan!"
Baru kali ini makan malam ngundang anak panti rame-rame. Pak Erwin benar-benar somplak!
***
Acara makan malam selesai, saat itu juga semua perlengkapan prasmanan yang kami sewa dikemas. Seluruh halaman rumah kembali bersih seperti sedia kala. Ada uang, semua beres.
Hanya ingin makan malam saja sampai melibatkan dan menyusahkan banyak orang. Hadeuh!
Untuk pertama kalinya aku dan pak Erwin tidur seranjang. Karena tidak mungkin dia mencari kamar lain yang akan membuat seisi rumah ini curiga.
Pak Erwin menggeliat resah merasa tidak nyaman tidur di sebelahku.
"Kenapa, Pak?" Aku yang tadinya tidur membelakangi berbalik menghadapnya.
"Nggak pa-pa." Pak Erwin menggeleng.
Aku menatapnya intens, curiga kalau ada yang disembunyikan. Terlihat dari matanya yang memerah.
"Pak Erwin habis nangis?" tanyaku.
"Enggak!" Pak Erwin menggeleng pelan.
"Ishh, jujur aja. Aku istrimu!" Aku mencubit dada kekarnya.
"Hmm."
"Kamu boleh punya istri lagi, boleh selingkuh, boleh melakukan apapun asalkan jangan sembunyikan apapun dariku." Aku menatapnya penuh keyakinan.
"Aku kangen sama anakku."
Aku menghela napas kasar. "Bapak pulang saja."
"Tapi, Viola tidak suka aku berada di rumah. Dia benci sama aku." Sorot mata pak Erwin meredup."
"Apakah pak Erwin masih sayang dengan istri bapak?"
Pak Erwin terdiam.
"Jawab aja, Pak. Aku nggak pa-pa."
"Ya," ucapnya dengan suara serak.
Hatiku langsung mencelus.
__ADS_1
"Lalu, tujuan bapak menikahiku sebenarnya apa?"
Follow Instagram nurudin_fereira