Bos Somplak

Bos Somplak
Part 34 : Nggak Pengen Kayak Mama


__ADS_3

"Pak, mereka nggak mau bekerja sama dengan kita. Mereka takut rugi."


Rustam melempar sebiji kacang kulit ke pria yang berbicara tadi. "Ya, jelas nggak mau, lah. Kalau menguntungkan buat mereka, merugikan buat kita, bego!"


Seorang wanita menuangkan sebotol bocardi ke gelas kecil, yang langsung disambar Rustam dengan satu tegukan. "Lo harus pinter-pinter modus. Menipu musuh itu nggak semudah nipu perempuan," lanjut Rustam kepada pria tadi sambil menjatuhkan gelas ke meja bar dengan kencang. "Udah sana-sana, pergi!" imbuhnya mengibas-ngibaskan tangan.


Rustam mengambil sebungkus rokok dan menyulutnya sebatang. Sesaat kemudian, kepulan asap langsung mengepul di udara. Lelaki itu tampak menelpon seseorang. "Hallo, Valdo?" tanyanya setelah telpon terangkat.


"…"


Rustam mengangguk kemudian meneguk bocardi langsung dari botolnya. Kepalanya yang tadi terasa berat langsung terasa ringan. Tubuhnya seperti melayang-layang. "Denmark, Swiss, Vietnam, Filipina udah dikirim?"


"…"


"Bagus. Hati-hati jalur laut sekarang banyak polisi. Pintar-pintarnya kalian." Rustam menghisap rokoknya kuat, dan kembali menenggak minuman beralkoholnya.


Rustam memanggil seorang pria yang sedang berdebat serius dengan tiga laki-laki di sudut ruangan. Pria itu tampak meminta izin kepada ketiga orang tadi kemudian melenggang pergi menghampiri Rustam.


"Ada apa, Bos?"


"Bagaimana perkembangan terkini perusahaan keluarga Viola?" gumam Rustam yang matanya sudah memerah.


Pria tadi tersenyum. "Kode dan password situs perusahaan yang Bapak berikan memudahkan para hacker untuk meretas data-data penting di perusahaan itu. Sebentar lagi kita akan mendapat tambahan dana untuk keperluan jaringan penyelundupan."


***


Dendy, Ayah Viola menyruput kopinya sambil menatap serius ke arah layar komputer. "Siapa yang sudah mengubah kode dalam, system operasi perusahaan?"


Santi, istrinya memasuki ruangan dengan mata sembab. Karena setiap hari menangis memikirkan Viola.


"Ada yang telah melakukan sabotase secara luas dan merusak system perusahaan ini." Dendy memijat-mijat keningnya, pusing. Saat Santi mulai duduk di sebelahnya.


Santi mengernyit. "Siapa, Pa?"


"Besar kemungkinan pelakunya adalah Rustam. Sebelum dia mengundurkan diri menjadi pimpinan perusahaan ini. Ia telah membagikan sejumlah besar informasi kepada orang luar tidak dikenal lewat email." Dendy mengepalkan tangannya geram.

__ADS_1


"Rustam memang keterlaluan!" Santi menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, menahan tangis. "Mungkin itu sebabnya dia langsung kabur ke Paris membawa Viola dan Rena."


"Dan, itu juga yang menjadi alasan kenapa Viola tidak menghubungi kita." Dendy menggebrak meja dengan kasar. "Viola dalam bahaya!"


"Kita harus menyusul Viola, Pa. Kita harus menyusul mereka di Paris!!!" Santi mengguncang-guncang tubuh Dendy.


"Tenang, Ma. Kita selidiki dulu. Belum tentu mereka beneran berada di Paris. Papa akan kirim beberapa orang untuk menyelidiki keberadaan mereka bertiga."


"Kita harus bertindak cepat, Pa. Kita harus lakukan sesuatu." 


"Iya, Ma, tenang. Sambil menunggu kabar, kita selamatkan perusahaan ini dulu. System perusahaan harus dirubah agar para hackers kesusahan untuk meretas situs perusahaan. Dan, Papa sangat butuh Erwin." Dendy menghela napas gusar.


"Tapi, bagaimana dengan nasib Viola dan Rena?" Santi tidak bisa lagi menahan isaknya.


"Mereka akan baik-baik saja. Jika Rustam tidak cinta dengan Viola, untuk apa dia kabur membawa Viola? Jika dia hanya mengincar harta kita. Dia pasti lebih memilih kabur sendiri dibanding mengajak Viola dan Rena. Papa yakin, Rustam tidak akan mau menyakiti cintanya." Dendy mencoba menenangkan istrinya. Tak lama kemudian ia menelpon seseorang.


"Refan, bisa ke ruangan saya sebentar!" ucap Dendy kemudian menutup teleponnya.


Beberapa menit kemudian, Refan datang menghampiri Dendy. Pria itu sedikit terkejut melihat istri bosnya menangis. Namun, Refan tidak mau ikut campur, pria itu melangkah mendekat sambil menunduk.


"Kamu bisa membujuk Erwin untuk kembali menjadi CEO di perusahaan ini?"


***


Setelah lelah menikmati berbagai wahana wisata yang ada di Disneyland Paris akhirnya mereka memutuskan mampir di sebuah cafe untuk memesan dua cangkir cappucino dan juga croissant.


"Yah, kita nggak foto-foto, Ma. Kenapa, sih, Papa Rustam nglarang kita bawa handpone?" tanya Rena sambil melahap croissant di tangannya.


Viola terdiam. Sebenarnya mereka tidak ingin Rena nanti nangis-nangis dan membuat khawatir orang rumah, jika menelpon mereka. Makanya Viola memutuskan untuk tidak memegang ponsel sejak pertama menginjakkan kakinya di kota Paris.


"Huh, pasti diem aja!" Rena mendengus kemudian menyeruput cappucino-nya untuk menghangatkan badan.


"Kamu rewel terus, takutnya mereka bukannya seneng malah khawatir." Viola mengusap-usap puncak kepala Rena.


"Ya, habis nggak pulang-pulang. Rena rindu sama Papa Erwin, Nenek, Kakek, Bibi-Mama, temen-temen sekolah."  Rena memasang wajah memelasnya.

__ADS_1


"Kamu itu mau Mama sekolahin di sini biar pinter. Orang kalau sekolahnya di luar negeri pasti pinter." Viola melahap


croissantnya dengan lahap.


"Rena nggak mau sekolah di sini, Rena mau pulang!" Rena lagi-lagi terisak dikeramaian.


"Rena, jangan nakal gitu, ah, Mama pusing." Viola melotot. "Kamu mau naik pesawat sendiri pulang ke Indonesia? Berani kamu?"


Rena lagi-lagi menangis.


"Nangis. Pasti ujung-ujungnya nangis lagi."


"Kamu itu udah gede. Malu diliatin orang-orang," bisik Viola.


"Coba kalau kamu diatur enak. Nggak gampang nangis. Pasti Mama ngizinin kamu nelpon Papa Erwin suruh nyusul ke sini. Kalau perlu ikut tinggal di sini sama Mama Zahra untuk ngurusin kamu."


"Di sini nggak enak, Ma. Orang-orang di sini ngomongnya pakai bahasa hewan, ada yang pakai bahasa planet. Rena nggak punya temen," rengak Rena.


"Setiap negara punya bahasa masing-masing, Rena. Kayak bahasa Arab yang Papa ajarin waktu kamu solat. Di Paris juga ada bahasa sendiri, bahasa Prancis. Kalau kita mau komunikasi sama mereka harus pakai bahasa Internasional, bahasa Inggris. Kamu harus belajar bahasa Inggris biar pinter, biar bisa banggain orangtua." Viola memberi wejangan kepada Rena. "Katanya kamu mau jadi penyanyi kayak Nissa Sabyan? Kamu harus pandai bahasa Arab, juga bahasa Inggris untuk komunikasi sama orang-orang luar negeri. Kamu pengen, kan, jadi orang terkenal?"


"Pengen, Ma. Tapi, Rena nggak pengen jadi ahli selingkuh kayak Mama." Rena mengerucutkan bibirnya.


Viola menatap Rena dengan tatapan sebal.


"Udah punya Papa Erwin malah pindah sama Papa Rustam. Kata temen aku itu namanya selingkuh. Selingkuh itu bencana buat orang-orang tersayang. Rena nggak mau bikin sedih orang banyak."


Viola mendengus. "Udah nyeramahin Mamanya?"


"Rena nggak ceramah. Rena cuma jawab pertanyaan Mama."


"Nggak nyambung!" ucap Viola ketus.


"Sama kayak Papa Rustam, pengen hidup bahagia malah ngejauhin keluarga di Indonesia. Nggak nyambung!"


"Kamu ini keturunan siapa, sih?" Viola mendesis.

__ADS_1


Bersambung…


Jangan lupa follow Instagram nurudin_fereira


__ADS_2