Bos Somplak

Bos Somplak
Part 59 : Rindu


__ADS_3

Viola berlari menabrak beberapa anak panti yang sedang bermain. Ia celingak-celinguk mencari keberadaan Zahra. Terlihat Bu Anti yang sedang menyuapkan nasi ke mulut anak berumur enam tahun menoleh ke arah Viola yang baru saja muncul dengan napas terengah-engah.


"Zahra mana, Bu?"


Bu Anti melongo. "Itu di belakang, lagi nyiram bunga."


"Makasih, Bu." Viola langsung melesat menghampiri Zahra. Bu Anti hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Viola.


Viola langsung berteriak setelah melihat keberadaan Zahra. "Hey, Zahra!!!"


Zahra yang sedang menyiram bunga berbalik badan, kemudian mengernyit melihat Viola yang berteriak heboh menghampirinya.


"Ada kabar baik." Viola membungkuk dengan napas terengah-engah.


"Apa, Mbak?" tanya Zahra sambil menatap aneh ke arah Viola.


Viola merogoh sesuatu dari dalam slingbagnya. "Kita kebagian tiket nonton film Dua Garis Biru!"


Zahra langsung melemparkan selang yang ia pegang. "Wah, beneran?"


Viola manggut-manggut. Keduanya langsung terlonjak-lonjak girang kemudian berpelukan sangking senangnya.


Tanpa sadar, sudah banyak anak-anak panti yang berbondong-bondong melihat kehebohan emak-emak muda itu. Beberapa anak-anak panti itu tersenyum tengil, kemudian bersama-sama menyoraki Zahra dan Viola. "Orang gila... orang gila... orang gila..."


"Lho, kok?" Zahra langsung terhenti sambil menoleh ke arah anak-anak panti itu sambil menahan malu.


Sementara Viola langsung melotot. "Heh, kami nggak gila, ya!"


"Ada orang gila... ada orang gila...," Mereka terus saja menyoraki Viola dan Zahra dengan wajah tengilnya, kemudian langsung berlari terbirit-birit setelah Viola mencoba menangkap salah satu dari mereka.


Zahra hanya tertawa cekikikan melihat tingkah konyol Viola yang mengejar anak-anak panti seperti menggiring bebek masuk ke kandang. Namun, sesaat kemudian ia mengusap-usap perutnya yang mulai membesar. Lagi-lagi keceriaannya terusik setelah teringat dengan sosok itu. "Kamu akan hidup bahagia bersama Ibu, Nak, ibu janji!" ucapnya getir.


***


"Eh, kamu tau nggak, kalau nama aktor yang memerankan si Dara itu namanya juga Zahra." Viola berbisik kepada Zahra.


Zahra yang sedang khusuk menatap layar bioskop sambil melahap popcronnya mengernyit. "Zara kali, Mbak, bukan Zahra. Itu kan salah satu personilnya JKT48."


"Beda dikit, ah, cuma kurang satu huruf aja perhitungan banget." Viola terkikik.


Remang-remang Zahra melihat wajah Viola yang tersenyum. "Mbak nggak punya cita-cita kayak Dara gitu, hamil duluan?"

__ADS_1


Viola langsung menempeleng kepala Zahra. "Enak aja. Apa kata dunia kalau janda hamil duluan."


"Kirain aja cita-cita Mbak Viola gitu," ledek Zahra kini gantian terkikik melihat wajah Viola yang cemberut.


"Kalau ngomong hati-hati, ya, Ra. Gini-gini aku pernah bunuh orang lho." Viola memperingati.


"Cie... ciee... pembunuh." Bukannya takut Zahra malah terkikik.


"Dasar sableng!" dengus Viola kemudian kembali menonton film dengan khusyuk. Tidak berlangsung lama, karena Zahra tiba-tiba menyenggol-nyenggol lengannya. "Apaan, sih?"


"Eh, itu lihat deh, Mbak. Di tempat duduk sebelah sana, orang pacaran semua," tunjuk Zahra.


"Ya, bagus, sih, biar mereka tau dampak dari hubungan tanpa ikatan yang halal." Viola berucap santai.


"Udah pasti mereka baru ABG semua, ya, berarti Mbak Viola paling tua di sini." Zahra kembali terkikik. Ternyata niatnya hanya untuk meledek Viola.


"Enak aja, wajah aku keliatan masih umur 17 tahun kali. Jadi, nggak masalah nonton ginian," tampik Viola.


"Bilang aja nonton film kayak gini biar berasa muda lagi." Zahra menutup mulutnya menahan tawa.


"Bodo! Daripada kamu Ibu-ibu hamil... ups!" Viola langsung menutup mulutnya keceplosan.


Viola senang karena Zahra tidak tersinggung. "Ishh, kamu itu ngeselin, Ra." Viola menggelitik tubuh Zahra hingga perempuan itu terkekeh geli.


"Sstttt..." Semua orang yang duduk di sekitar mereka, menegur mereka berdua dengan serempak.


Zahra dan Viola berbisik saling menyalahkan.


***


"Zahra kamu nggak mau ngecek keadaan rumah makan kamu?" tanya Bu Anti setelah Zahra merebahkan tubuhnya di tempat tidur bertingkat yang ada di sebuah kamar di panti asuhannya.


Zahra menggeleng lemah. "Enggak, Bu, aku trauma ngelihat rumah makan itu."


Bu Anti menghela napas. "Hmm, kamu ingat dengan Erwin, ya, kalau ke sana?"


Zahra mengangguk. "Biar Vina sama Fitri yang ngehandle rumah makannya."


Bu Anti menatap Zahra kasihan. "Yaudah kalau gitu." Bu Anti menutup pintu kamar Zahra pelan.


Zahra tersenyum miris, kemudian menggulingkan tubuhnya ke samping lalu membuka layar ponselnya. Ia memberanikan diri melihat foto-foto kenangannya bersama Erwin Zamzami, pria kharismatik yang bertemu pertama kali dengan dirinya di diskotik, yang ternyata adalah CEO perusahaan smartphone Indophone yang menjadi ponsel pintar favorit anak muda masa kini. Erwin adalah penyelamat hidupnya dari kesesatan. Menariknya dari lembah kemaksiatan menuju ke jalan yang lebih baik. Erwin rela menebusnya dari tangan mucikari. Erwin rela membayar kerakusan orangtua angkat Zahra yang meminta uang bulanan untuk kebutuhan. Bahkan, Erwin juga mati-matian melindungi anak panti, rela menebus anak panti yang diculik, walaupun saat itu anak panti yang hilang gagal di selamatkan. Erwin adalah pahlawan baginya, pria yang hanya ada satu di dunia ini, yaitu Erwin Zamzami anak santri cerdas dan jenius yang dijodohkan dengan anak orang kaya bernama Viola, lalu menikahinya untuk dijadikan istri kedua hanya untuk menyadarkan istri pertamanya.

__ADS_1


"Mana janji kamu? Katanya bakalan pulang?" Zahra mengusap-usap foto Erwin yang mengenakan setelan jas rapi pada layar ponselnya.


"Aku rindu tau." Zahra meneguk ludahnya dengan susah payah.


"Rindu senyuman kamu, mata teduhmu, cara kamu jalan mirip kayak cowok cool di film-film, aku juga suka sama rambut hitammu yang selalu klimis itu. Aku...." Suara Zahra mulai bergetar. Terpaksa ia mematikan layar ponselnya. Air matanya tiba-tiba meluncur mulus ke pipinya kemudian jatuh menetesi leher.


Zahra memejamkan matanya pedih. Sejauh apapun ia mencoba menyibukkan diri, bayang-bayang Erwin tetap senantiasa mengikuti.


Drrrtttttt.... Drrrtttttt...


Ponselnya tiba-tiba berdering. Ada panggilan masuk dari Ibu Viola. Dengan cepat Zahra langsung mengangkat teleponnya.


"Hallo, Ra, kamu bisa ke RS Citra Arini sekarang? Viola kecelakaan," ucap Ibu Viola dengan suara serak di seberang sana.


Zahra langsung beranjak dari posisinya. "Msayaallah!"


Cobaan apa lagi ini Tuhan.


***


Sesuai arahan Ibu Viola, Zahra sudah sampai di depan ruang operasi tempat di mana Viola sedang di rawat. Dendy, istrinya, dan juga Refan terlihat gusar di depan ruangan.


"Bagaimana keadaan Mbak Viola, Tante?" tanya Zahra panik.


"Kita tunggu informasi dari dokter," lirih Ibu Viola sambil menunduk lemah.


"Kok, bisa terjadi kayak gini, sih?" Zahra menggigit bibir bawahnya kesal. Ada-ada saja cobaan dalam hidupnya.


"Viola terlalu memaksakan diri mengemudi mobil sendiri. Mungkin ia tidak fokus menyetir karena terus teringat dengan Rena. Makanya kejadian naas itu terjadi," tebak Pak Dendy.


Zahra masih menggeleng-geleng tidak percaya.


Cklekk...


Pintu ruangan itu terbuka. Muncul dokter yang baru saja memeriksa Viola. Keempat orang yang sudah menunggu langsung berdiri menyambut dokter itu.


"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Dendy khawatir.


"Anak bapak...."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2