
Awalnya Rena menangis saat di masukkan ke dalam sebuah ruangan misterius oleh Rustam. Tapi, setelah melihat lima anak yang sedikit lebih tua darinya berada di ruangan itu dengan wajah sendu, membuat rasa takut Rena sedikit memudar karena ia ternyata tidak sendirian.
"Bagaimana caranya kita keluar dari sini, ya?" ucap Rena mondar-mandir bak detektif yang mencoba menyelesaikan masalah. Sungguh, dia sangat menggemaskan. Kalau Erwin melihatnya, pasti Rena langsung digendong dan dicubiti karena gemas melihat tingkahnya.
Anak perempuan yang matanya sipit kembali menangis terisak-isak.
"Di sini ada yang kenal sama Doraemon?" tanya Rena kepada lima anak yang sedang meringkuk di bawah lantai sambil menangis sesegukan itu.
Tidak ada jawaban. Rena kembali berpikir keras, mencari cara agar mereka berenam bisa kabur. "Coba aja ada Doraemon, kita bisa terbang pakai baling-baling bambu. Kalau nggak keluar lewat pintu ajaib di kantongnya."
Mereka semua tidak menjawab. Hanya terdengar rintihan dari mulut mereka. Rena akhirnya mendengus sebal.
Anak laki-laki berpakaian kumal, berkulit coklat, dekil, yang diperkirakan lima tahun lebih tua dari Rena tampak menatap Rena dengan tatapan tak terbaca. "Mereka nggak akan ngerti bahasa lo."
Rena menoleh kemudian terdiam agak lama. "Emang mereka pakai bahasa hewan, ya?" tanya Rena polos.
Anak laki-laki itu masih mempertahankan ekspresi datarnya. "Ini yang dua dari Vietnam, sementara yang dua lagi dari Beijing, penduduk asli kota ini. Mereka nggak ngerti bahasa Indonesia, bahasa kita."
Rena menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Pantesan matanya sipit. Emang anak-anak luar negeri kudet-kudet, ya? Bahasa Indonesia yang multifungsi aja mereka nggak paham."
"Multifungsi?" tanya anak laki-laki itu sedikit malas karena melayani bocah sekecil Rena.
"Iya, Bahasa Indonesia itu multifungsi. Di infoteiment, bahasa Indonesia buat ngegosip, ngehina orang, nyakitin orang. Bahkan, Mama-Papa aku kalau bertengkar pakai bahasa Indonesia."
Anak laki-laki itu memutar bola matanya malas. "Ya, ya, terserah lo aja!" jawabnya ketus.
"Kamu orang mana?" tanya Rena penasaran.
Anak laki-laki itu mendengus. "Anak luar angkasa!"
"Kok, bisa bahasa Indonesia? Di sana bahasa Indonesia terkenal, ya?"
Bego, pikir anak itu. "Ya, gue bisa bahasa Indonesia, karena gue orang Indonesia, tolol!"
"Owh orang Indonesia juga, ya, pantesan dekil." Rena melongo Sambil manggut-manggut. Sementara anak laki-laki itu langsung melotot sebal menghadapi tingkah ajaib Rena.
Rena menoleh ke arah anak perempuan yang memakai baju merah. Anak itu mengencangkan suara tangisnya seolah ingin keluar.
__ADS_1
"Hey, tenang. Jangan nangis! Rena aja nggak nangis, kok!" Rena mencoba menangkannya dengan berjongkok memegangi bahu anak itu.
"Dia nggak ngerti bahasa lo, bego!" umpat anak laki-laki tadi.
"Ih, kasar! Yang lain pada nangis malah bentak-bentak." Rena mengerucutkan bibirnya.
"Huh, calon jablay!"
Rena ikut terduduk di sebelah mereka. "Kalau gitu aku juga mau nangis, ah!" Hidung Rena mulai kembang-kempis ingin menangis.
Kini mereka semua malah lomba menangis sekeras-kerasnya. Padahal ceritanya aja lomba selingkuh.
"Maafin Papa tiri Rena yang jahat, ya!" Rena menangis sesegukan menenggelamkan kepalanya sambil memeluk lututnya sendiri.
"Hah? Papa lo? Masak Papa lo tega nyulik anaknya sendiri?" tanya anak laki-laki tadi yang mencoba tidak ikut menangis walaupun matanya sudah terlihat bengkak.
"Papa tiri aku emang jahat, dia udah pisahin Mama dan Papa kandung aku, terus nyakitin Mama aku, dan nyulik aku." Rena malah bercerita sendiri.
Anak laki-laki itu terperangah beberapa saat kemduian manggut-manggut. "Owh, gitu."
"Gimana caranya sekarang kita keluar? Rena pengen keluar! Pokoknya sekarang kita keluar!" Rena malah mencak-mencak melempari anak itu dengan bekas kaleng minuman yang ada di ruangan itu. Bisa dibayangkan betapa kumuhnya ruangan yang mengurung Rena sekarang. Bahkan Rena juga menyiram anak itu dengan debu.
"Gimana caranya keluar! Ihh, aku takut!" Rena memukul-mukulkan tangannya ke lantai kesal sendiri.
***
Dendy baru saja keluar dari bandara, Erwin dan Zahra sudah menantinya di ruang tunggu.
"Alhamdulilah, Bapak baik-baik saja," ucap Erwin setelah Dendy sampai dihadapannya.
Dendy memejamkan matanya beberapa saat kemudian menunduk. "Maaf, anak kamu belum bisa saya dapatkan, Win, entahlah dia masih hidup apa tidak," lirih Dendy menghapus air mata yang tiba-tiba menetes ke pipinya.
Erwin menatap nanar ke arah Dendy. Air matanya sudah bergerumul di pelupuk mata. Dendy langsung memeluknya.
Sementara Zahra memegangi mulutnya yang ingin muntah. Entah kenapa sejak tadi pagi perutnya rasanya mual. Bahkan sekarang ketika ia mencium bau-bau yang menyengat seperti aroma parfum yang dipakai orang-orang yang berlalu lalang, perutnya kembali mual. Karena tidak kuat akhirnya Zahra izin ke toilet. "Aku ke toilet dulu, Mas."
Zahra berlari ke toilet umum kemudian memuntahkan isi di dalam perutnya ke wastafel. "Hueekkk-hueekkk!"
__ADS_1
Zahra menarik tissue gulung didekatnya untuk mengelapi mulutnya. "Kenapa, sih, ini? Maagku kumat lagi, ya?" tanya Zahra sambil meringis. Ia mencuci tangannya kemudian keluar dari toilet.
Saat hendak kembali ke tempat Erwin, tak sengaja dia menabrak seseorang. "Eh, maaf!" Zahra langsung merapikan busana gamisnya yang terkoyak.
"Zahra?" ucap seorang laki-laki memakai seragam pilot. Begitu gagah dengan dasi hitam yang ia gunakan.
Mulut Zahra langsung menganga lebar. "Vilan?"
Pria bernama Vilan itu langsung merengkuh tubuh Zahra dengan erat, melepaskan rindu yang sudah hampir satu tahun ia tahan.
Zahra hanya terdiam dengan tatapan kosong.
"Kamu apa kabar?"
Zahra masih mematung di tempatnya. Benar kata Caramel kalau Vilan sekarang sudah jadi pilot.
"Aku rindu sama kamu." Vilan mengeratkan pelukannya.
"A..., Aku," gagap Zahra.
Vilan melepas pelukannya. "Apa? Kamu juga rindu sama aku?" Vilan mencubit gemas pipi Zahra.
"Aku suka penampilan kamu yang sekarang. Kayak gadis solehah, kamu lebih cantik daripada SMA dulu."
Zahra terlihat kikuk. Saat mencium aroma parfum milik Vilan Zahra kembali mual-mual. "Aku pengen ke toilet." Zahra buru-buru berlari kembali menuju toilet.
Vilan menatap punggung Zahra yang berlari dengan aneh.
Zahra mencoba menenangkan debaran pada jantungnya dan juga napasnya yang tidak beraturan. Ia kembali bertemu dengan Vilan. Cinta masa SMA-nya dulu. Tapi, dengan keadaan yang berbeda. Sekarang dia sudah jadi orang sukses.
Zahra memegang kepalanya yang ingin meledak. "Aku mau bilang bagaimana ke Vilan kalau aku udah menikah." Zahra ingin menangis sekarang juga.
Bersambung....
Ada kabar baik nih, dan....
Juga kabar buruk hehe....
__ADS_1
Kabar baiknya kemungkinan Zahra hamil. Kabar buruknya, pembaca Lomba Selingkuh menyusut wkwkwk kasihan.
Rekomendasikan cerita ini ke temen-temen kalian ya agar pembacanya meningkat. Bye-bye, semoga kalian terhibur dengan part ini.