
Aku memberi isyarat agar mereka bertiga mengikutiku.
Mereka bertiga sedikit kesal karena merasa aku kerjai. Namun, kekesalan mereka pasti akan terbayar dengan pemandangan yang akan mereka lihat sebentar lagi.
"Lihatlah!" tunjukku ke arah dua pengunjung yang sedang asyik berfoto di depan villa.
Wajah Sari memerah, memunculkan kemarahan. Wanita itu langsung bergegas menghampiri pasangan itu, dan...
Plakk!!!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Rustam.
Paman Aji dan Tante Susi sempat melirik ke arahku tak percaya. Sementara aku hanya terdiam, menyorot pertengkaran itu dengan sendu.
Banyak pengunjung yang menatap mereka. Rustam dan Viola hanya menunduk, dipermalukan di depan umum.
Sari menangis tersedu-sedu sambil meluapkan amarahnya.
Ya, aku juga bisa merasakan bagaimana perasaanmu, Sari.
"Rustam tidak bisa dibiarkan!" desis paman Aji di sebelahku. "Berani-beraninya dia menyakiti putriku."
Lanjutnya kemudian melangkah menghampiri mereka. Sorot mataku hanya mengawasi dari belakang. Aku tidak ingin menampakkan diri di depan Viola, karena tidak mau mereka tahu akulah dalang dibalik kekacauan ini semua.
Mulutku menganga lebar melihat paman Aji melompat sambil memukul wajah Rustam. Beberapa pengunjung langsung berbondong-bondong memisahkan mereka.
Kulirik tante Susi yang bergegas menghampiri kekacauan dengan wajah panik. Kemudian beralih ke arah Sari yang melabrak Viola dan menjambak rambutnya.
Aku menghela napas kasar. Mengambil ponsel untuk menelpon pesuruhku yang ada di sini.
"Hallo," sapaku saat telepon terangkat.
"Tolong lindungi Viola dari kekerasan. Kalau perlu bawa dia ke tempat yang aman."
Tut!
Aku memundurkan langkah. Tak sanggup melihat kekacauan. Dalam hati berharap Viola sadar jika apa yang dia lakukan itu salah.
Aku melangkah kembali ke tempat Zahra dan Rena berada. Mereka berdua yang berdiri di atas jembatan kayu terlihat bingung melihat kegaduhan di seberang sana.
Untung saja, Zahra dan Rena tidak berniat mendekat.
"Itu ada apa, Pak?" tanya Zahra penasaran.
"Hm, urusan orang dewasa." Aku berjongkok. Memegang kedua bahu Rena.
Gadis kecil itu terlihat resah, karena melihat ketegangan orang dewasa. "Suka tempatnya?" tanyaku dengan suara serak.
Rena manggut-manggut. "Tapi itu kenapa, Pa?" tanyanya.
"Nggak pa-pa. Ada orang main film, cuma akting aja." Aku mengangkat tubuh mungil itu ke dalam gendongan.
"Habis ini kita pindah ke taman Mini. Kamu udah lama nggak ke sana, kan?" ucapku.
"Mbak Zahra ikut?" Rena menunjuk Zahra.
__ADS_1
Aku melirik ke arah Zahra yang terdiam. "Tentu, Sayang."
"Tapi ...," Rena menggigit bibir. "Mama kok nggak nyusul-nyusul sih, Pa?"
Aku tertunduk lesu melihat mata bening yang berkaca-kaca itu. "Mungkin mama lagi sibuk."
***
Senja di sore hari mengakhiri kebahagiaan kita bertiga. Senyum kebahagiaan yang menghiasi wajah kami di sepanjang hari ini mulai tergantikan oleh rasa letih.
Aku mengantarkan Rena pulang ke rumah. Perlahan, kembali muncul rasa yang ditahan-tahan dan coba dilupakan dalam ingatan. Momen dimana Rustam dan Viola dipermalukan.
"Papa nanti langsung pergi, nggak tidur di rumah lagi?" tanya gadis kecil itu sambil menggelembungkan pipi.
Aku menoleh ke arahnya dengan sorot sendu. Lalu, merapatkan bibir.
"Mbak Zahra tinggal sama aku aja ya, soalnya Rena juga sering ditinggal sama mama. Rena kadang cuma di rumah sama bibi."
Rena tampak murung. Wajah cerianya memudar tergantikan oleh kesedihan sejak kata pulang mulai terucap.
"Iya, nanti papa coba ngomong sama mama ya, supaya mama Zahra nemenin kamu." Aku menepuk mulut, karena keceplosan.
"Mama Zahra?" Rena mengerutkan dahi. Sementara Zahra tampak meringis.
"Iya, Zahra ini istri papa. Mama kedua kamu." Aku terpaksa jujur. Meskipun berat.
"Terus mama Viola gimana?" Air mata Rena mulai menitik.
Aku dan Zahra saling tatap dengan wajah kikuk. Kemudian menghela napas kasar.
Gadis kecil itu terisak, sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Aku tak tahu harus mengatakan apa kepada Rena. Bocah berambut poni itu memukul-mukul tangan Zahra yang memangku tubuhnya. "Rena nggak mau dekat-dekat sama Mbak Zahra lagi. Ternyata mbak Zahra orang jahat! Ngrebut papa dari Rena!"
"Rena, mbak Zahra nggak bermaksud begitu." Zahra mendekap tubuh Rena yang meronta-ronta.
"Lepasin! Rena mau turun!" teriak Rena sambil menangis meraung-raung.
Kepalaku bertambah pusing. Bahkan mobil yang kukendarai hampir saja menyrempet pengendara motor.
***
Sesampainya di rumah. Aku tak menemukan Viola di rumah. Kuputuskan untuk menelponnya, tapi tak kunjung mendapat jawaban.
"Mama ke mana, Pa?" Rena menggoyang-goyangkan kakiku sambil mendongak.
Aku menghela napas kasar, lalu berjongkok dan memeluknya. Tak mampu memberi penjelasan.
Zahra yang berdiri di sebelah kami hanya terdiam dengan wajah sendu.
"Kamu ikut papa sama mama Zahra ya."
Rena melirik ke arah Zahra dengan tatapan sinis. Kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Mbak Zahra jahat. Papa jangan ikut mbak Zahra!" Rena memukul-mukul pundakku.
__ADS_1
"Sayang, nggak boleh gitu." Aku mendekap tubuh mungil Rena yang meronta-ronta.
"Papa cuma becanda, mbak Zahra itu cuma mau jadi babysitter kamu. Mama kamu tetep mama Viola, mbak Zahra cuma pengen temenan sama kamu." Aku mengusap air mata di pipi Rena, sambil melirik ke arah Zahra dengan wajah memelas, meminta pengertian wanita.
Zahra menghela napas kasar, lalu mengangguk.
***
Semenjak tragedi di hutan mangrove kemarin, Viola dan Rustam belum menampakkan hidungnya. Entah, kabur kemana mereka untuk menutupi rasa malu.
Hati ini terasa sakit melihat Rena menangis menahan rindu kepada sang mama.
"Rena, udah jangan nangis lagi, ya." Zahra sampai kehabisan cara untuk menenangkan Rena. Sementara aku hanya bisa memijat-mijat kepala pening.
Apa yang harus kulakukan. Mencari Viola, atau membiarkan mereka bahagia dengan cinta butanya?
Drrrttt... Drrttt...
Ponsel yang ada di saku celanaku berdering. Kakek menyuruhku datang ke rumahnya. Ya, kakek yang aku selamatkan saat tragedi kebakaran beberapa bulan yang lalu. Kakek yang begitu aku sayangi.
***
Plakkk!!!
Satu tamparan keras mendarat di pipiku saat aku berjongkok di depan pria tua yang duduk di kursi roda itu.
"Aku tidak pernah mengajari cucuku untuk poligami!" Kakek melirik ke arah Zahra yang menggendong Rena di ambang pintu.
"Maafin Erwin, Kek!" Aku hendak mencium tangannya, tapi langsung ditepis oleh kakek.
"Kemana sekarang istrimu. Bagaimana dia bisa pergi dengan pria lain. Ini pasti karena ulahmu yang poligami."
Aku menunduk sambil mengepalkan tangan.
"Tidak ada wanita yang mau dimadu Erwin, seharusnya kamu mengerti itu!"
"Tidak ada laki-laki yang ikhlas melihat istrinya selingkuh, Kek!" balasku cepat.
Kakek langsung terdiam.
"Selama ini aku sudah sabar menghadapi sikap Viola. Tapi, dia malah semakin menjadi-jadi dengan mantan pacarnya!" rahangku mengeras dengan mata yang berkilat-kilat. Baru kali ini aku bertindak berani di depan kakek yang sangat aku hormati.
"Viola ternyata tidak pernah bahagia bersamaku, Kek. Aku harus bagaimana?!"
"Tujuh tahun kami menjalani rumah tangga, tapi sikap Viola tidak pernah berubah. Viola merasa menderita dengan perjodohan kita. Aku harus bagaimana, Kek?"
Emosiku sudah tak terkendali.
"Apakah kamu masih mencintai Viola?" tanya kakek dengan nada yang berubah getir.
Aku melirik ke belakang. Zahra dan Rena sudah pergi. Itu tandanya aku bisa menjawab dengan leluasa tanpa memikirkan perasaannya.
"Ya, kakek. Rena adalah bukti cintaku pada Viola."
"Perjuangkan dia, bawa dia kembali kepelukanmu."
__ADS_1
jangan lupa Follow Instagram nurudin_fereira