
Jangan lupa vote dan comment ya
****
Sudah banyak polisi yang menginterogasi Bu Anti. Zahra yang baru saja datang langsung memeluk Bu Anti.
"Mereka diculik orang yang nggak dikenal, Ra," tutur Bu Anti sesegukan.
"Pak, tolong cari pelaku secepatnya!" teriak Zahra dengan air mata yang mengalir deras.
Erwin hanya bisa mengusap-ngusap punggung Zahra, mencoba menenangkan.
"Kami perlu mengumpulkan bukti-bukti untuk menemukan para pelaku. Masalahnya kami tidak punya bukti apapun untuk menyelidiki siapa pelakunya," jawab Pak polisi itu.
"Pakai anjing pelacak kek, atau tentara sekalian. Pokoknya Bapak harus menemukan korban-korban penculikan itu secepatnya!" Zahra terlihat emosi. Ia kembali mengeratkan pelukannya pada Bu Anti.
"Zahra ... tenang," ucap Erwin lembut.
Zahra mengepalkan tangannya geram. Melihat kesedihan Bu Anti yang teramat pilu. Wanita itu begitu menyayangi anak-anak asuhnya.
Kembali terbesit diingatan tentang sesuatu yang ia rahasiakan. Zahra yakin, hilangnya anak-anak panti ada kaitannya dengan hal itu. Perempuan itu berlari ke arah jalan raya, memberhentikkan taksi yang kebetulan lewat.
"Zahra kamu mau ke mana?" Erwin buru-buru mengejar Zahra, ikut masuk ke dalam taksi setelah Zahra masuk terlebih dahulu.
"Kamu mau ke mana, Ra?" tanya Erwin gusar.
Zahra menyebutkan alamat rumah paman Aji kepada sopir taksi, barulah Erwin mengerti. Setelah beberapa menit akhirnya mereka sampai di kediaman keluarga paman Aji yang menguasai hartanya.
Zahra langsung berlari memasuki pelataran rumah sembari mengambil kayu besar yang ada di depan gerbang yang kebetulan tidak dikunci.
Bruakk… Bruaakkk… Bruaakkk…
"Hey, penjahat!!! Buka pintunya!!!"
"Kembaliin anak-anak!" teriak Zahra sambil memukuli pintu rumah menggunakan kayu dengan membabi buta. "Keluar kalian!!!"
Bruakkk… Bruaakkk… Bruaakkk…
"Zahra tenang!" Erwin mencoba menghentikan aksi Zahra.
Zahra yang sudah kesetanan menghempaskan kayunya ke sembarang arah.
"Anak-anak diculik, Mas!" Zahra memeluk Erwin dengan tangis yang kembali pecah.
"Pasti ini ulah dari keluarga bejat itu!"
Erwin mengrutkan dahi. "Apa urusannya dengan mereka?"
"Mas masih ingat dengan rencana kita mengambil semua hartaku dari tangan mereka?" tanya Zahra dengan wajah sembab.
__ADS_1
Aku mengangguk.
"Paman Aji tahu keinginan kita, dan dia mengancamku akan mencelakai anak panti. Karena dia tahu bahwa sejak kecil, orang yang paling berharga di hidupku adalah anak panti!" Zahra menangis terisak-isak, sambil menenggelamkan wajahnya ke dada Erwin.
"Sekarang anak panti banyak yang diculik, aku yakin ini semua ulah paman Aji!"
Aku hanya terdiam sambil menelan ludah dengan susah payah.
Tak lama kemudian ada seorang warga yang mendatangi mereka. Mungkin karena penasaran dengan kegaduhan yang terjadi di depan gerbang rumah itu.
"Ada apa, ya?" tanya orang itu.
"Ini orangnya ke mana, Pak?" tanya Erwin.
"Owh, ini rumahnya sudah dijual, Pak. Orangnya nggak tau pindah ke mana."
Zahra bergindik-gindik kesal. "Tuh, kan, mereka itu jahat, Mas."
"Rumahku sekarang dijual sama mereka!" Wanita mengencangkan tangisnya. "Hartaku dirampas semua!"
"Aku juga yakin kalau mereka dalang dibalik penculikan ini."
***
"Kalian saya tinggal nggak papa, kan?" ucap Erwin kepada kedua karyawan Zahra yang menunggu rumah makan.
"Asiaappp, Pak!!!" jawab Vina dan Fitri serempak.
"Saya pulang dulu," pamitnya sebelum pergi meninggalkan warung.
Erwin merasa tidak tenang meninggalkan Zahra di rumah sendirian. Perempuan itu masih sangat shock, memikirkan nasib anak-anak panti yang diculik.
Beberapa menit kemudian, Erwin sudah sampai di depan kediamannya.
Nampak Zahra sedang duduk di kursi ruang tamu dengan tatapan kosong. Wajahnya terlihat begitu pucat, karena menghabiskan banyak waktu untuk menangis.
"Ada kabar dari anak-anak, Mas?" tanya Zahra dengan suara serak setelah Erwin membuka pintu.
Erwin menghela napas, kemudian menggeleng pelan.
"Mereka baik-baik saja, kan?" Zahra kembali menangis pilu.
Erwin menghampiri Zahra kemudian duduk di sebelah Zahra dan mengusap-usap pundaknya. "Serahkan semua sama Allah, Ra. Istigfar!"
"Tapi hal itu nggak bikin anak-anak ketemu, Mas!" gerutu Zahra khawatir.
"Emang kalau kamu sedih kayak gini mereka bisa ketemu, hm?"
Zahra terdiam.
__ADS_1
"Yuk, solat dzuhur dulu. Kita berdoa, minta sama Allah agar anak-anak yang diculik diberi keselamatan dan perlindungan."
Zahra mengangguk ragu.
***
"Angkat tangan!" seru polisi membekuk seorang pemuda yang diduga adalah tersangka penculikkan di warteg pinggir jalan. Polisi mencurigai orang tersebut karena ciri-cirinya sama dengan yang mereka lihat di cctv tempo lalu, apalagi sekarang pemuda itu bersama tiga anak yang tidak salah lagi adalah anak hilang yang sedang dicari-cari.
Pemuda itu mencoba kabur namun polisi dengan cermat meluncurkan peluru tepat mengenai kaki kirinya. Pemuda itu jatuh tersungkur kemudian langsung dikunci tangannya oleh polisi.
"Anda kami bawa ke kantor polisi!" sentak polisi itu memborgol kedua tangan sang pemuda yang masih mencoba memberontak.
"Anaknya biar saya bawa, Pak," ucap pedagang warteg mengusap-usap tiga anak yang berpenampilan dekil dan kumuh itu.
"Hubungi keluarganya, ya." Polisi itu melemparkan sebuah kertas berisi nomor telepon ke arah pedagang warteg, kemudian menggigiring si penculik memasuki mobil.
***
Zahra dan Erwin buru-buru menuju ke panti asuhan setelah mendapat kabar jika pelaku sudah ditemukan. Namun hanya tiga anak yang kembali, sementara sisanya masih diselidiki oleh tim investigasi.
"Ya ampun Vul, Alin, Sita!" Zahra langsung memeluk ketiga anak SD tersebut. "Yang lain mana?"
"Agnes, Rinda, sama Aris dibawa sama orang naik pesawat," ucap Bu Anti dengan nada getir. Informasi itu ia dapat dari hasil intimidasi polisi terhadap tersangka.
"Pelaku teridentifikasi dalam jaringan perdagangan manusia internasional."
Zahra membekap mulutnya menahan tangis. "Nggak mungkin! Agnes, Rinda, sama Aris pasti masih ada di sini. Buktinya mereka bertiga ketemu, kan?" Zahra masih tidak percaya dengan penjelasan Bu Anti.
Erwin hanya terdiam dengan sorot datar. Semua orang sibuk menenangkan Zahra yang terlihat paling terpukul.
***
"Brengsek!!!" Rustam menggebrak meja dengan keras. Lelaki itu berdiri dari duduknya kemudian menonjok tembok dengan penuh amarah.
"Kenapa bisa seperti itu sih, bego!" umpatnya sebal kepada sang penelpon di seberang sana.
"Goblok!!! Goblok!!!" Rustam benar-benar geram. Untung saja ruang kerjanya kedap suara sehingga tidak terdengar sampai luar.
"Kenapa masih di sekitar sini, sih?!"
"Harusnya langsung kabur ke mana dulu, kek. Bego!"
"Apa? Nunggu giliran? Jelas-jelas itu membahayakan kita. Sama aja lo nyiapin tiket buat kita ke penjara."
"Ujungnya kayak gini, kan?"
"Arghh, bego lo!"
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa follow Instagram Nurudin_fereira