Bos Somplak

Bos Somplak
Part 32 : Ketagihan


__ADS_3

Erwin menatap nanar foto dirinya bersama Rena dan Viola, kebersamaan keluarga kecilnya pada zaman dahulu kala. Mambuat air matanya tiba-tiba menetes karena sadar jika kenangan itu hanya menjadi sebuah sejarah yang bisa dipelajari tapi tidak bisa diulang kembali.


"M ... Mas?" panggil Zahra dengan suara serak, baru bangun tidur. Perempuan itu mengucek-ngucek mata sayunya habis bangun tidur.


Erwin buru-buru memasukkan foto itu ke dalam laci, kemudian berbalik badan menengok ke arah Zahra. Entah mengapa melihat wajah lucu Zahra baru bangun tidur membuat Erwin ingin tertawa.


Sepertinya Erwin ingin menghibur dirinya sebentar. Lelaki tampan itu mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompetnya. Kemudian menghempaskan uang itu ke arah Zahra. "Terimakasih untuk tadi malam."


Zahra langsung terbelalak. Menatap Erwin dengan tatapan bingung. Perempuan itu mengerjap-ngerjapkan mata. membuat Erwin ingin sekali mencubitinya, gemas.


"Kurang?" Erwin mengeluarkan beberapa lembar uang lagi dari dalam dompet, kemudian kembali menghempaskannya ke arah Zahra.


Zahra meneguk ludahnya dengan susah payah. Tubuhnya memanas, karena Erwin seperti sedang menyindirinya. Karena dulu Zahra sempat bekerja sebagai PSK.


"Owh, masih kurang?" Erwin melempar dompetnya ke arah Zahra, membuat Zahra langsung tersentak.


Zahra beranjak, kemudian menyenderkan tubuhnya pada kepala ranjang, kikuk. Tangannya mengibas-ngibaskan uang yang berserakan di atas selimutnya.


Erwin menahan tawa melihat ekspresi takut Zahra. Matanya menyipit, kemudian tangan kanannya terangkat membentuk huruf V. "Hehe, seandainya..."


Zahra menghela napas lega. Tak lama kemudian ia langsung melotot. "Aku deg-degan tau!"


Erwin langsung menyemburkan tawanya. "Deg-degan kenapa?"


"Kirain kamu nyindir perilakuku yang dulu. Padahal aku yang dulu bukanlah yang sekarang." Zahra mengerucutkan bibir.


"Haha, dasar baper." Erwin menepuk-nepuk puncak kepala Zahra.


Zahra menangkis tangan Erwin sebal.


"Ya, aku takut, lah, kalau kamu marah."


"Kalau aku marah, aku nggak tertawa sekarang." Erwin mengecup dahi Zahra. Membuat jantung perempuan itu berdebar-debar kencang. Aneh, tapi ini menyenangkan.


"Nggak usah bahas masa lalu!" Zahra melipat kedua tangannya.


Erwin tertawa. "Kalau marah mirip nenek lampir."


"Isshhh!" Zahra mendengus.


"Habis bibirnya sampai bisa dikuncir." Erwin mencubit bibir mungil Zahra membuat gadis itu mendengus kesekian kali.


"Bodo amat!"


"Aku cuma becanda, kok, kamu masih tetep marah, sih?"


"Habis kamu nganggep aku kayak pelacur." Zahra membuang wajah. "Pakai lempar-lempar uang segala lagi."


"Iya, maaf-maaf."


"Nggak ada kata maaf!" jawab Zahra ketus.


"Please..." Erwin menampilkan wajah puppy-eyesnya.


"Nggak!"


"Yah, ngambek, deh."


"Salah sendiri kayak gitu!"


"Aku harus bagaimana, dong, biar kamu maafin?" tanya Erwin pelan.


Zahra terdiam. Tidak kuat mendengar suara serak dari suaminya yang meluluhkan hati.


"Hey, cantik?"


"Aku minta maaf, dong!" Erwin mengguncang-guncang tubuh Zahra.

__ADS_1


"Yah, bidadariku ngambek."


"Please, maafin cowok kerenmu ini, dong!"


Zahra terdiam.


"Please!" Erwin masih merayu Zahra.


Zahra bergumam lirih, nyaris tak terdengar. "Ci....hmmm."


"Apa?" Erwin langsung menganga lebar.


"Ci...," lirih Zahra malu-malu kucing. "Umm."


"Ha?"


Zahra salah tingkah. "Cium!"


"Ha?"


"Isshhh, cium dulu baru aku maafin!!!" Zahra memekik kencang karena kesal.


Erwin terkekeh. Cup!


Sweet. Menurut Zahra, Erwin adalah laki-laki istimewa.


Sikapnya tidak mudah ditebak, selalu misterius. Kadang pendiem, kadang dewasa, kadang humoris, kadang religius, pokoknya susah ditebak. Erwin selalu tau caranya menempatkan posisi. Terutama terhadap lawan mainnya.


***


Zahra akhirnya kembali bekerja di warung makan. Setelah beberapa hari belakangan ini mereka pasrahkan kepada kedua karyawannya.


Seperti biasa, rumah makan selingkuh mereka selalu ramai diserbu pelanggan. Bahkan Erwin yang turut menbantu terlihat kuwalahan melayani beberapa pesanan dalam waktu yang bersamaan.


"Ini masih mending, Pak. Kita berempat. Lah, kemarin kami cuma berdua, Pak." Vina masih sempat-sempatnya membanggakan diri saat dirinya tergesa-gesa mengantarkan empat porsi makanan kepada pelanggan.


Namun, sesibuk apapun aktivitas Erwin. Rasa rindunya kepada Rena tetap tidak bisa teralihkan.


Maklum, Rena adalah putri kesayangannya. Putri satu-satunya yang menjadi kebanggaan dalam hidupnya.


Kini Erwin menyadari sesuatu bahwa ternyata sesak sekali menahan rindu kepada anak sendiri. Entah sampai kapan ia akan bertemu kembali. Karena Viola dan suaminya sudah pindah ke Paris.


"Meja nomor tiga, Kak," ujar Fitri memasuki ruang dapur dengan keringat tipis yang membasahi wajah.


"Owh, dua porsi, ya?" tanya Erwin yang dijawab Fitri dengan anggukan.


"Kamu udah solat Magrib?" tanya Erwin.


"Belum, Kak. Masih ramai," jawab Fitri.


"Nanti seletah nganterin ini langsung solat, ya!" ujar Erwin sambil menyerahkan nampan berisi dua porsi ayam geprek dan juga dua gelas es teh manis kepada Fitri.


Fitri menggigit bibir bawahnya. "Tapi..."


"Jangan tinggalkan kewajiban hanya untuk kepentingan duniamu." Erwin tersenyum tipis.


Mereka memang menggunakan system gantian jika masuk waktu solat. Terkadang banyak pekerja yang malu untuk izin beribadah karena takut dengan bosnya, atau karena tidak enak dengan teman-temannya.


Tapi Erwin mencoba lebih bijaksana lagi daripada uang. Pria tampan yang mempimpin banyak perusahaan itu lebih memprioritaskan ibadah daripada pekerjaan.


Karena menurut Erwin, bos dan para karyawan yang rajin beribadah akan memberikan barokah tersendiri untuk bisnisnya.


Bisnis lancar, keuntungan melimpah, awet dan selalu bermanfaat. Itu yang namakan rezeki yang barokah.


Fitri mengangguk kemudian berlalu melaksanakan tugasnya.


"Aw!" Zahra tiba-tiba memekik. Membuat Erwin terkejut dan langsung menghampiri istrinya itu.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Erwin panik.


"Tanganku kecipratan minyak," gerutu Zahra.


"Mana?" Erwin memutar-mutar pergelangan tangan Zahra, mencari luka bakar dari cipratan minyak panas. Tanpa sadar wajah mereka semakin mendekat.


"Mana?"


Zahra terkikik. "Hehe, aku bohong!"


"Das...," ucapan Erwin terhenti saat Zahra tiba-tiba mengecup bibirnya.


"Pengen nyium." Zahra tersenyum salah tingkah.


Erwin tersenyum kikuk.


"Biar tambah semangat nggak papa, kan?" Zahra kembali ke aktivitasnya menggoreng ayam.


"Aku minta bayar?"


"Ha?" Zahra berhenti memainkan spatulanya. "Masak nyium aja harus bayar?"


"Bayar pakai ciuman lagi." Erwin terkekeh.


"Ciee... ciee...!!!"


Seketika itu juga Erwin dan Zahra langsung menengok ke sumber suara, dan mendapati Vina sudah berjongkok di ambang pintu dengan mata berbinar. "Romantis banget boskuuhhh!!!" ucap Vina bertepuk tangan pelan-pelan.


"Kamu mau aku cium?" tanya Erwin dengan wajah kaku.


Klontang!


"Nggak boleh!" Zahra memukul wajan dengan spatula.


"Ciee... cemburu," goda Erwin terkikik.


"Isshhh!"


***


"Ma, Rena kangen sama Papa. Rena mau pulang." Rena memukul-mukul pundak Viola sebal.


"Rena, jangan nakal!" tegur Viola dengan pelototan tajam.


Rena kembali terisak. Begitulah kehidupan mereka di Paris. Mengurusi Rena yang setiap hari rewel ingin pulang ke Indonesia. Rustam sampai lelah mengajak Rena jalan-jalan mengelilingi menara eiffel.


Karena muak dengan Rena akhirnya Rustam memilih keluar dari apartemen yang mereka tinggali untuk menenangkan pikiran. "Mau kemana, Mas?" tanya Viola.


"Urusin, itu anak kamu!" Rustam malah mendengus.


"Ma, ayo pulang!"


"Rena pengen pulang, Ma!"


"Rena kangen sama Papa Erwin." Rena menghentak-hentakkan kakinya kesal.


"Kamu pulang sendiri sana!" Viola beranjak dari duduknya. "Mama mau shoping."


Bersambung...


Ayok, ajak teman-teman kalian buat ikut baca cerita ini.


Rekomendasikan cerita Bos Somplak ke teman-teman kalian, ya, biar pada baper berjamaah hehe...


Jangan lupa Comment-comment, dong, kalau pengen Erwin dan Zahra cepet lanjut.


Semoga terhibur!!!

__ADS_1


Bye-bye sampai jupa di part selanjutnya. Cling!!!!


__ADS_2