Bos Somplak

Bos Somplak
Part 24 : Pernikahan Mantan


__ADS_3

"Kamu masih muda, kalau kamu mau cari pasangan baru yang mungkin bisa membuatmu lebih bahagia tinggalkan saja aku," ucapku sambil menyesap kopi susu yang baru saja dibuatkan Zahra. 


Wanita yang masih memegang nampan itu menunduk dengan bibir yang bergetar, entah ingin mengucapkan apa. 


"Kalau pak Erwin ingin kita pisah karena jijik sama aku, aku akan pergi. Tapi kalau pak Erwin ingin kita pisah karena pak Erwin merasa nggak bisa ngebahagiain aku, aku akan tetap di sini."


Aku langsung terbelalak mendengar penuturannya.


"Mungkin aku akan menjadi wanita menjijikan di tempat itu, andai saja pak Erwin tidak datang untuk menyelematkanku." Zahra meneguk ludahnya dengan susah payah. 


"Mungkin aku sudah mati. Hmm, mungkin ... jika saja pak Erwin tidak segera menyelamatkan aku dari kebakaran. Ah, kenapa aku harus pergi ninggalin bapak, istri macam apa aku yang ninggalin orang yang sudah merubah hidupku yang tadinya sangat hina menjadi terhormat?" 


Sorot mataku berkaca-kaca. Serta lidahku terasa kelu untuk digerakkan.


"Kalau Pak Erwin sedih karena sudah bercerai dengan Bu Viola. Tenang saja ...."


"Bapak masih punya aku. Kita berdua berjuang sama-sama. Dan, jangan paksa aku untuk menjadi penerus Bu Viola, yang menyia-nyiakan pria berharga seperti kamu, Pak." 


Aku menelan ludah dengan susah payah. Dengan tubuh yang mematung.


"Aku besok akan ikut bekerja, apa kek. Biar nggak dikira istri pengangguran. Biar nggak nyusahin pak Erwin."


Aku kembali mendongak, membalas tatapan sendu dari iris mata hitamnya. "Jangan!"


"Kenapa?" Zahra menaikkan sebelah alis.


"Berat, kamu nggak akan kuat. Biar Dilan saja." 


Zahra terkekeh kemudian mencubit lenganku. "Dilan punya Milea, kalau Pak Erwin kan, punya aku." 


"Terus?" Aku tersenyum kikuk.


"Hmm ya, harusnya kita berkerjasama mengejar kebahagiaan kita, dong. Harus dapet, nggak boleh enggak. Nggak usah nglarang aku kerja, karena aku mau bantu, Bapak." Zahra melipat kedua tangannya di depan dada.


"Setulus itu kah?" tanyaku dengan suara berat. "Umur kita terpaut 11 tahun. Kenapa kamu memilih bertahan?"


"Tidak masalah Tuan Erwin, yang penting Syekh Puji sama Ulfa masih langgeng."


Aku menaikkan sebelah alis beberapa detik. "Dan, kamu berharap kehidupan kita bakalan harmonis kayak mereka?" 


"Enggak!" jawab Zahra lantang dengan tatapan tajam. 


"Kok, enggak?" tanyaku. 


Wanita itu masih menatapku dengan sorot tajam, meski rambut panjangnya yang tergerai menutupi sebelah mata. "Kita harus lebih bahagia dari mereka." 


Aku sedikit terkejut melihat perubahan ekspresi Zahra yang begitu cepat, gadis manis itu sekarang tersenyum. Menampilkan gigi gingsulnya.


"Sekarang saya jadi tau sifat asli kamu yang sebenarnya." 


"Gimana?"


"Penuh suprise tak terduga.


Aku menyambar gemas tubuh Zahra lalu menggendongnya ala bridal style. Zahra memekik kencang karena terkejut dengan tindakanku yang tiba-tiba. 


"Kamu mau bawa aku ke mana, Pak?" pekik Zahra digendongin aku.


Aku menyeringai lebar. "Gemes banget, pengen nyeburin kamu ke empang."


"What???"


"Hehe... bercanda." Aku menjatuhkan tubuh mungil Zahra ke kasur.


Wajah wanita itu terlihat kebingungan. "Kita mau ngapain."


Aku mendekatkan wajah. Menyelami iris matanya yang memabukkan. Pandangan kami saling beradu beberapa detik. "Nafkah batin, mau?" bisikku pelan.


Setelah membeku cukup lama, mata Zahra akhirnya mengerjap. "Nafkah batin?"


Aku mengangguk. Kemudian mencium bibir tipisnya.


Cup!


***


Bersama seorang sopir, kami berangkat ke mension keluarga Dendy Wijaya, tempat di mana pesta pernikahan Viola dan Rustam dilangsungkan.  

__ADS_1


Rena, aku juga begitu rindu dengan jagoan kecil itu.


"Ihh, kenapa sih Pak, bengong lagi?" Zahra memukul pundakku yang sedari tadi terdiam dengan tatapan kosong. 


"Ah? Enggak." Aku menggeleng kikuk. Setelah terbangun dari lamunan.


"Kamu sedih, ya?" 


Aku hanya terdiam, bingung mau menjawab apa.


"Ya udah, kita pulang aja, nggak usah ke sana." 


"Eh, Jangan!" sergahku. "Aku ingin ketemu Rena."


"Tapi, kamu kelihatannya sedih banget, Pak?"


Aku menghela napas. "Nggak, kamu salah sangka."


"Dari gelagatmu udah keliatan."


"Ciee, makin sering memperhatikan diam-diam," godaku mencairkan suasana.


"Ih, aku serius, Pak!" Zahra melotot sambil mencekal lenganku.


***


Pesta pernikahan tampak begitu meriah, walaupun tamu undangan hanya dihadiri keluarga dan juga para karyawan-karyawan yang bekerja di perusahaan Dendy Wijaya, ayah Viola. 


Atensi seluruh tamu undangan yang sebagian besar adalah karyawan-karyawan perusahaan langsung berbondong-bondong menghampiriku dan Zahra, ketika kami melintas di hadapan mereka. 


"Gimana kabarnya, Pak?"


"Wah, saya kangen banget sama senyuman Bapak."


"Pak, kapan kita bekerja sama lagi?" 


Berondongan pertanyaan langsung ditujukan kepadaku, selaku mantan atasan mereka. Karena aku resmi berhenti menjabat sebagai pimpinan dibeberapa perusahaan mertua setelah cerai dengan Viola. Terhitung sejak satu bulan yang lalu, aku hanya fokus mengurusi bisnisku sendiri.


 


Aku hanya membalas pertanyaan mereka dengan seulas senyum. Kemudian kembali melanjutkan langkah. Baru beberapa langkah  tubuhku langsung membeku, melihat kedua mempelai di ujung sana. Dua sejoli yang menikah setelah menyelesaikan masa Iddah.


Ada sedikit rasa tidak iklash yang membelah dadaku. 


"Mas Erwin?" panggil Zahra yang langkahnya sudah meninggalkanku di belakang. 


Aku masih terdiam. Rasanya kakiku susah sekali digerakkan.


"Ayo, Mas!" Zahra yang gemas menarikku untuk melanjutkan langkah. 


"Papa!!!" teriak Rena yang tiba-tiba muncul dibalik kaki kakeknya. Gadis kecil itu berhambur memelukku. 


Aku menangkap tubuh mungil Rena dan mengangkatnya tinggi ke udara sebelum jatuh kepelukan. 


"Rena kangen," ucap Rena menangis sesegukkan digendonganku. 


"Papa lebih kangen."


"Terus kenapa Papa nggak pernah jengukin Rena satu tahun?" 


Aku terkekeh. "Rena, Papa cuma nggak ngliat kamu selama satu bulan." 


"Tapi, rasanya kayak satu tahun." Rena menggeliyat manja digendonganku.


"Ya udah Papa janji, bakalan sering-sering nengokin kamu." Aku mengecup pipinya dengan cepat lalu tersenyum. 


"Kenapa sih, Pa, sekarang kita nggak bisa satu rumah lagi?" tanya Rena dengan wajah polos. 


Aku menunduk, kemudian melirik ke arah Viola yang tampak bahagia bersanding dengan Rustam. 


"Pa!" 


"Eh iya," aku kembali menatap Rena. "Papa barumu keren," lanjutku mengacungkan jempol. 


Rena memutar bola matanya. "Sekeren-kerennya Papa baru Rena, masih hebatan Papa asli Rena," dengus Rena dengan suara cadelnya. 


"Kamu sekarang, kan, punya Papa dua sama Mama dua." 

__ADS_1


Rena akhirnya beralih menatap Zahra yang tersenyum ke arahnya. Wanita itu sedari tadi ada di sebelah kami.


"Mbak Zahra?" tanya Rena polos. 


Zahra terkikik. "Kok, masih manggil Mbak?" 


"Kan mbak Zahra pembantunya Papa."


Zahra mengerucutkan bibir. Karena Rena masih menganggapnya babysitter.


Aku terbahak sambil mencium puncak kepala Rena. "Dia sekarang juga mama kamu, Sayang." 


"Mau Mama gendong?" tawar Zahra kepada Rena. 


Rena menggeleng.


"Kenapa?"


"Mbak Zahra nyuruh Rena panggil mama."


Zahra menoleh ke arahku yang terkikik. Kemudian menghela napas. "Yaudah mbak adalah babysitter, kamu."


Senyum di bibir Rena merekah, menampilkan deretan gigi putihnya. "Nah kalau begitu Rena mau."


"Tambah nakal ya, Rena." Zahra meraih tubuh Rena dari gendonganku. 


"Aku suka mbak Zahra pakai baju muslimah kayak gini. Hmm, mirip Nissa Sabyan." Rena mengacungkan jempolnya. 


"Nanti kalau kamu udah lulus Sekolah Dasar. Kamu harus pakai hijab." Aku mengacak-ngacak rambut Rena. Gemas.


"Erwin Zamzami."


Aku menoleh ketika mendengar sebuah suara yang memanggil namaku. Sedetik kemudian senyumku merekah menyambut Papa mertua, Dendy Wijaya. 


"Apa kabar kamu?" 


"Baik, Pak." Aku mencium tangan pak Dendy. 


"Kakek, aku digendong sama Nissa Sabyan." Rena tersenyum digendongan Zahra. 


Dendy membalas senyuman Zahra, kemudian kembali menatapku. "Sebelum acara dimulai, saya ingin bicara denganmu, Win." 


Aku dan pak Dendy pun berjalan menuju ke salah satu tempat duduk kosong paling ujung. 


"Bagaimana jika kamu kembali menjadi CEO di perusahaan saya." Pak Dendy langsung memulai pembicaraan. 


Aku langsung tersenyum kecut. "Sepertinya Rustam lebih pantas daripada saya." 


"Apa kamu merasa tidak pantas menjadi pengelola perusahaan saya karena kamu bukan lagi menjadi suami Viola?" Dendy menaikkan sebelah alisnya. "Erwin, kamu sudah saya anggap sebagai anak sendiri."


Aku menghela napas. "Rasanya saya tidak pantas, Pak." 


"Saya ragu menjadikan Rustam sebagai penerus perusahaan keluarga saya." Pandangan pak Dendy beralih ke arah Rustam di tempat resepsi.


"Saya yakin jika Rustam akan bertanggung jawab, demi keluarga kecilnya." 


Dendy termenung sejenak kemudian menghela napas lalu mengusap-ngusap pundak Erwin. "Saya akan merindukan orang seperti kamu, Erwin." 


"Seperti kata Bapak. Saya akan selalu menjadi anak Bapak." Aku merasa tidak enak hati karena wajah pak Dendy berubah menjadi murung.


Sebenarnya, aku sendiri juga sedikit khawatir. Karena aku sudah tahu tabiat Rustam yang sebenarnya. Semoga saja pria itu tidak berniat menguras harta ayah Viola.


Di sisi lain, aku tidak mau dianggap serakah karena masih ingin mengelola perusahaan keluarga mantan istri.


Sesaat kemudian pesta pun di mulai. Para tamu undangan mengantri menyalami kedua mempelai. 


Ibu mertua menitikan air mata saat menatapku yang terlihat canggung saat bersalaman dengan Viola. 


Acara dilanjutkan dengan pengumuman serah jabatan untuk Rustam yang akan menjadi pengelola separuh bisnis yang dijalankan oleh pak Dendy. 


Itulah akhir dari perselingkuhan, dan penghianatan, yakni merelakan. 


Merelakan hidup berubah hancur, juga merelakan orang yang dicintai bersama orang lain. Pada detik ini aku harus siap merelakan Viola. Demi kebahagiaan Viola. Aku merasa bersalah karena pernah menjadi tembok penghalang kebahagiaan Viola. Hingga Viola harus terjerumus pada lumbung dosa perzinahan atas nama selingkuh. 


Lalu siapa yang pantas disebut korban? 


Tentu saja Rena.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2