
Follow ig : Nurudin_fereira
***
"Pak Rustam diduga telah menjual salah satu properti rahasia produsen milik kita kepada pesaing dengan harga yang cukup fantastis," ucap Presiden Indophone yang merupakan pria keturunan China, bernama Khong Fu, menunjuk gambar pada sorot layar proyektor. Seluruh staff-staff penting perusahaan smartphone Indophone mengamati dengan seksama penjelasan dari Khong Fu. Tak terkecuali CEO mereka, Erwin Zamzami.
"Sehingga peluncuran smartphone versi terbaru kita mengalami kerugian yang cukup besar. Karena selain membocorkan rahasia desain Indophone versi 0.6 kepada salah satu pesaing kita. Situs resmi penjualan kita juga diserang hacker dengan mudah karena dimotori oleh Pak Rustam. Hal itu membuat seluruh pendapatan penjualan yang ditransfer para konsumen via online yang seharusnya masuk ke dalam rekening kita, malah masuk ke rekening Pak Rustam. Tanpa sadar Pak Rustam sudah merubah rekening pembayaran konsumen pada situs resmi kita ke dalam rekeningnya sendiri."
"Tak hanya itu, Pak Rustam juga mampu menghack ponsel produk kita yang sudah dibeli oleh konsumen, karena dia telah menanamkan sebuah system operasi mencurigakan pada produk kita. Sehingga apabila konsumen menginstal aplikasi Banking pada ponsel, Pak Rustam akan dengan mudah meretasnya dan menguras isi rekeningnya. Itu akan berefek buruk pada produk Indophone versi 0.7 yang akan kita luncurkan. Karena bukan tidak mungkin banyak pelanggan yang berpindah ke produk lain karena kecewa dengan ketidak efektifan ponsel pintar yang kita edarkan."
"Sesuai arahan dari CEO kita, Erwin Zamzami. Saya ingin Wakil Presiden Desain Produk Thomas Arial, Direktur penelitian dan pengembangan Wu Chien Hung dan Sekertaris Manager Refan Alvino, fokus membenahi produk baru yang akan kita luncurkan. Dan, menghentikan produksi versi 0.6."
"Sementara, staff-staff yang lain fokus melayani keluhan-keluhan pelanggan, dan menghandle kesalahan-kesalahan yang terjadi pada produk versi 0.6 yang sudah dikonsumsi pelanggan dengan mengomandoi customer service kita. Kalau bisa, himbau mereka supaya jangan menyimpan data-data penting bisnis mereka ke dalam ponsel, apapun itu bentuknya. Mari kita bekerja sama untuk kejayaan perusahaan ini." Kong Fu selaku Presiden Indphone mencoba memberi semangat orang-orang penting di dalam ruangan.
"Dan, untuk produk Indophone versi 0.7, kita akan membuat banyak perubahan. Kita akan merombak ulang fitur-fitur di dalam ponsel ciptaan kita agar lebih menarik dan berguna. Untuk itu kita membutuhkan karyawan yang berpengalaman untuk mengolah produk kita agar lebih berkualitas lagi. Saya akan mengambil ratusan tenaga kerja asal Thiongkok untuk menyempurnakan produk baru kita," ucap Khong Fu penuh ambisi.
Erwin menginterupsi dengan mengangkat tangannya. "Lalu, mau dikemanakan karyawan-karyawan yang sudah bekerja. Jika, datang ratusan tenaga kerja dari Thiongkok?"
Khong Fu tersenyum. "Kita akan mem-PHK mereka dan memberikan pesangon yang sepadan. Dan, untuk memberi semangat kepada karyawan-karyawan baru, kita akan mengiming-imingi mereka dengan gaji yang tinggi."
Erwin tersenyum tipis, kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak habis pikir dengan pemikiran pria bermata sipit keturunan China itu. "Perusahaan ini didirikan bukan untuk menebalkan kantong para pendirinya. Tapi, untuk membuka lapangan kerja bagi rakyat Indonesia. Kenapa mereka malah di PHK dan diganti dengan pekerja luar negeri?"
"Karyawan-karyawan Indonesia tidak ada yang punya skill, Pak. Mereka sering malas-malasan dan tidak bergerak cepat,"
protes Khong Fu.
Erwin menghela napas. Semua orang menatap ke arah Erwin, menunggu jawaban dari Erwin. "Lebih baik kita untung sedikit, tapi semua orang bisa makan. Daripada untung banyak, tapi membuat orang yang membutuhkan merasa tidak dibutuhkan. Untuk siapa kita bekerja? Untuk keluarga kita bukan? Keluarga kita belum tentu rukun, belum tentu bangga dengan pendapatan kita mau sesukses apapun reputasi kita. Tapi, gaji kecil yang didapat para karyawan yang sebagaian besar berasal dari keluarga kurang mampu sangat amat berarti bagi keluarga kecil mereka. Istri mereka yang hidupnya tidak seenak kehidupan sehari-hari istri kita, tersenyum bangga dan bersyukur melihat sang suami membawa upah yang tak seberapa untuk anak-anaknya. Istri kita yang sudah hidup mewah, karena kita mendapat gaji besar kadang masih membangkang dan tidak pernah bersyukur. Jadi, untuk apa memperkaya harta kita? Nggak guna!"
Semua orang ternganga mendengar penjelasan Erwin.
"Selagi kita hidup, setidaknya kita berguna untuk orang lain yang membutuhkan. Tidak usah serakah-serakah yang penting cukup."
Khong Fu yang berada di depan hanya terdiam.
"Kita sekarang fokus menyelamatkan perusahaan ini dari kebangkrutan. Untuk masalah karyawan, biarkan karyawan yang ada bekerja seperti biasa. Dan, apa bila memerlukan karyawan baru. Cari karyawan asli dari Indonesia, kalau perlu kita buat sekolah kejuruhan khusus bagi anak-anak yang kurang mampu, agar setelah lulus nanti bisa bekerja di pabrik kita."
Erwin beranjak dari duduknya. Ucapan Khong Fu beberapa waktu lalu benar-benar membuat pikiran Erwin yang sudah semrawut semakin bertambah kisruh. "Bukan saya melarang para pekerja China untuk bekerja di sini. Tapi di negara mereka sudah banyak pabrik-pabrik smartphone yang siap menampung mereka. Sementara banyak pengangguran Indonesia yang bingung menafkahi keluarganya di sini. Selagi kita sebagai produk lokal yang dibangga-banggakan masyarakat. Kalau bisa membantu kenapa tidak?" Erwin berjalan menghampiri Presiden Khong Fu dan menepuk-nepuk pundaknya.
Erwin adalah orang tertinggi yang berada di perusahaan. Sehingga keputusannya tidak bisa diganggu gugat.
"Oke, rapat hari ini selesai, terimakasih, semoga kalian bisa bekerja dengan baik." Khong Fu mengakhiri rapat.
***
"Ma, beli bakso!" rengek Rena menyenggol-nyenggol Viola yang melamun.
"Sayang, di sini nggak ada bakso." Viola mendesis.
"Yah... aku pengen bakso, Ma." Rena mencebikkan bibirnya.
Viola bergeming, malas meladeni Rena yang rewel.
"Mendingan kita pulang aja, yuk, Ma. Daripada hidup di sini nggak jelas dan nggak punya tujuan," ajak Rena.
Viola menatap Rena sambil menaikkan sebelah alisnya, seolah setuju. Apa aku kabur saja, ya? tanya Viola dalam hati. Namun, lamunannya langsung terhenti setelah pintu apartement mereka terbuka.
"Kenapa kalian cemberut kayak gitu?" tanya Rustam bingung.
__ADS_1
"Aku pengen bakso," celetuk Rena sambil memasang wajah puppy eyes-nya.
Rustam menghela napas. "Yuk, keluar kita cari bakso."
"Horeeee, asyiiiikkkk!!!" Rena begitu semangat.
"Kalian berdua pakai jaket tebal, ya, di luar dingin soalnya," ujar Rustam sambil tersenyum.
Setelah beberapa saat, akhirnya mereka keluar dari apartement untuk memulai jalan-jalan mereka mengelilingi kota Beijeng. Rena tampak kebingungan mengamati tulisan-tulisan aneh yang ada di gedung-gedung dan pinggir jalan. "Kok, bentuk apaan, sih, ini jelek banget kayak Papa Rustam."
Rustam mengumpat dalam hati, namun, sedetik kemudian ia tersenyum. "Ini huruf China, bentuknya kayak gini memang, berbeda dengan huruf abjad yang digunakan di Indonesia dan Paris yang menggunakan abjad ABCD." Rustam menjelaskan kepada Rena. Mulut Rena membentuk huruf O sambil mengangguk-angguk.
Rustam melirik Viola yang terdiam. Tidak seperti biasanya sebelum Rustam mengaku kalau dirinya adalah seorang mafia. Kasih sayang Viola kepada Rustam seolah luntur. "Kamu kenapa, sih, cemberut terus? Rena aja ceria, kok."
Viola melirik ke arah Rustam dan Rena yang berada di gendongannya, kemudian kembali melanjutkan langkahnya dengan malas.
"Papa bisa baca huruf-huruf yang ada di toko itu nggak?" tanya Rena sambil menunjuk plakat berhuruf China yang berada di atas gedung.
"Nggak, lah, Papa nggak sekolah di sini."
"Rena, bisa baca."
"Apa?" tanya Rustam pura-pura penasaran.
"Seng so, saiso sesoo..." ucap Rena tidak jelas, meniru bahasa orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya.
Rustam dan Viola menahan tawa. "Kalau diartikan jadi bahasa Indonesia?"
"Hmm, kami pengen pulang ke Indonesia." Rena nyengir kuda.
"Iya, pulangkan kami. Kami kangen sama orang-orang rumah." Viola akhirnya membuka suaranya dengan nada ketus.
Rustam tersenyum kikuk. Kemudian mencubit hidung mancung Viola. "Jangan sekarang, ya, situasinya sedang genting."
"Sampai kapan?"
Rustam terdiam. "Nggak akan pernah," jawabnya dalam hati.
"Nggak ada toko penjual bakso," ucap Rustam mengalihkan pembicaraan.
"Yah... adanya di pojok rumah nenek, kita pulang aja, yuk, ah, ribet." Rena mendesis.
"Kita makan ayam bakar aja, ya," ajak Rustam menunjuk pedagang yang menjual ayam panggang yang utuh berbentuk ayam kecil.
"Bakso..."
"Rena!" tegur Rustam.
"Bakso, aku pengen bakso... pokoknya bakso..."
***
Setelah pulang dari kantor Erwin memutuskan untuk mampir ke warung ayam gepreknya. Seperti biasa dagangan yang mereka jual diserbu para pelanggan. Bahkan, Zahra, Fitri, dan juga Vina sampai harus menggelar tikar di depan teras, sangking padatnya pelanggan yang ingin makan.
Erwin tersenyum melihat para pelanggannya memakan ayam geprek dengan lahap. Bukan karena nasib Erwin yang mujur karena tiba-tiba warungnya ramai, tapi karena kecerdasan Erwin memberikan nama yang unik untuk warungnya, sehingga membuat para pelanggan penasaran dan ingin makan di warung makan yang didirikan Erwin. Sampai-sampai warungnya didatangi oleh beberapa YouTuber, dan membuat Rumah Makan Selingkuh' semakin melejit dan dikenal banyak orang, membuat Nissa Sabyan pun tertarik mencicipi menu yang dimasak oleh Zahra.
Seluruh anak-anak panti asuhan yang bekerja di warung makan, berbondong-bondong menyalami Erwin. Erwin tersenyum ramah. Pria itu melipat lengan panjangnya sampai ke siku. "Saya boleh bantu-bantu?" tanyanya.
__ADS_1
"Nggak usah, Kak."
"Nggak papa, saya senang meracik makanan di atas piring." Erwin membantu beberapa anak panti yang sibuk meracik makanan dan bumbu-bumbu di atas piring.
Bahkan, Erwin tetap membantu sampai warung makan itu tutup jam 9 malam. Padahal rasa lelahnya mengurusi perusahaan belum sempat pulih. Tapi, Erwin seakan ingin menyibukkan diri, daripada rasa khawatirnya kepada Rena menyerang ketenangannya kembali.
Kini Erwin dan Zahra sudah berada di dalam mobil hendak pulang menuju ke kontrakan.
"Pak Dendy udah ngasih kabar, Mas?" tanya Zahra sambil menyenderkan tubuhnya pada kursi penumpang.
Erwin yang sedang sibuk menyetir hanya menggeleng pelan. "Belum." Pria itu tampak kusut sehabis membantu Zahra.
"Aku tunggu kabar baiknya." Zahra mengusap-ngusap bahu Erwin.
"Tiga hari lagi, mungkin aku sudah selesai mengurusi pekerjaan kantor. Setelah itu akan pergi ke Paris."
"Aku ikut, Mas."
"Nggak usah, kamu tunggu rumah aja." Erwin melirik Zahra sekilas.
Mereka berdua sudah sampai di kontrakan. Mobil Erwin setiap hari hanya terparkir di depan jalan. Karena halaman rumah mereka tidak cukup.
Erwin langsung menjatuhkan tubuhnya ke ranjang. Terlihat sangat kelelahan. Zahra sampai kasihan melihat Erwin.
"Udah solat Isya, Mas?" tanya Zahra lembut.
"Oh, iya, aku mandi dulu." Erwin langsung beranjak dari posisinya mengambil handuk untuk cepat-cepat mandi dan menunaikan salat. Baru kemudian ia akan lega beristirahat karena tidak punya tanggungan lagi.
Sementara Zahra merasa malas mandi dan hanya mencuci muka di wastafel dapur. Perempuan itu mengganti gamisnya dengan baju tidur doraemon. Jika, bercermin Zahra merasa masih pantas disebut anak SMA, imut sekali.
Zahra melamun memikirkan sesuatu. Memikirkan nasib Viola dan Rena yang berada di Paris bersama mafia keji itu. Apakah mereka baik-baik saja? Mungkinkah Rustam tega menjadikan mereka sebagai korban? Dan, apa mungkin Rustam membahagiakan Viola dan Rena di luar negeri. Ada beberapa kemungkinan-kemungkinan yang memenuhi pikiran Zahra.
Kemungkinan pertama adalah Viola dan Rena kembali, namun dengan penuh perjuangan dan pengorbanan untuk merebutnya dari Rustam. Akan ada baku hantam dan baku tembak antara polisi dan para mafia yang dipimpin oleh Rustam. Pasti, akan ada salah satu pihak yang luka-luka maupun korban jiwa, karena tidak mungkin jika Rustam diam saja melihat polisi hendak menangkapnya dan merebut Viola darinya. Mengingat reputasinya adalah seorang mafia keji dan bengis.
Kemungkinan kedua, bahwa mungkin sebentar lagi akan ada kabar duka, karena ternyata Rustam telah memberikan Rena dan Viola kepada teman-temannya untuk dimutilasi. Rustam tertangkap, namun Viola dan Rena tidak kembali karena sudah disetorkan oleh Rustam.
Cklekk...
Pintu kamar terbuka. Muncul sosok Erwin memakai sarung dan kopiah. Matanya tampak bengkak, sepertinya Erwin habis menangis.
Erwin melepas kopiahnya kemudian membaringkan tubuhnya ke ranjang. Sementara Zahra masih berada di depan cermin.
"Habis nangis, Mas?" tanya Zahra. Perempuan yang masih berumur 18 tahun itu memang ngeselin.
"Iya, aku tadi habis doa," jawab. Erwin lesu.
"Kamu pasti capek, aku pijitin, ya?" Zahra menawarkan diri menjadi tukang pijit.
"Enggak usah," jawab Erwin menata bantal agar Zahra segera berbaring di sebelahnya.
"Kenapa?" tanya Zahra bingung sembari berbaring menghadap ke Erwin dan mengamati wajah tampan suaminya itu.
"Kamu, kan, juga capek." Erwin mengusap-ngusap lembut puncak rambut Zahra. "Kamu nanti bangunin aku aja kalau udah jam dua."
"Mau solat tahajud?" Zahra merapatkan tidurnya dengan Erwin.
Bersambung
__ADS_1