Bos Somplak

Bos Somplak
Part 56 : Titik Darah Penghabisan


__ADS_3

Rustam tersentak saat kedua anak buahnya menghempaskan tubuh Caramel yang sudah tak berdaya ke lantai.


"Dia adikmu, kan?" Mr. Jacob tertawa.


"Cepat bunuh mereka kalau ingin adikmu selamat."


Rustam menggertakkan giginya. Tangannya yang memegang pistol mulai gemetar. 


Ia mengarahkan pistolnya ke arah Aldo.


Dorrr!!!


Di luar dugaan, Rustam membelokkan pistolnya ke arah Mr. Jacob. Pria tua itu jatuh tersungkur sambil memegangi dadanya. Aldo dan ketiga anak buahnya terkejut, apalagi Lexus dan gerombolannya yang tak kalah kagetnya.


"Ba... bajingan kau Rustam!" lirih Mr. Jacob.


"Kau telah memperalatku," ucap Rustam dengan suara berat.


Dorrr!!!


Rustam kembali menembak Mr. Jacob hingga menghembuskan napas terakhirnya. Rustam kemudian mengarahkan pistolnya ke arah Lexus, anak buah kepercayaannya. "Lepaskan ikatan mereka!"


Lexus mengangkat kedua tangannya. Ia menuruti perintah Rustam melepaskan tali ikatan Aldo dan ketiga anak buahnya.


Belum selesai. Rustam mengarahkan pistolnya ke arah segerombolan anak buahnya yang memasang wajah ngeri. "Pergi kalian dari sini kalau ingin selamat. Organisasi ini sudah resmi di tutup!"


Satu-persatu anak buahnya pun buru-buru turun dari rooftop, daripada mati konyol ditembak Rustam.


Dorrr!!!


Rustam membunuh Lexus setelah anak buah kepercayaannya itu selesai melepaskan tali ikatan Aldo dan ketiga anggota team AR21. Karena Lexus termasuk orang berbahaya, jika dibiarkan hidup. Peran Lexus di dalam organisasi sama seperti Mr. Jacob, selalu mengompori Rustam berbuat yang tidak-tidak.


Rustam kemudian melangkah perlahan menghampiri Caramel yang terkulai lemas di lantai. Caramel tersentak saat Rustam tiba-tiba merengkuh tubuhnya lembut. "Caramel."


"Salamin sama Ibu kalau aku sayang sama dia. Semoga Keyla bisa membahagiakan Ibu. Semoga Keyla bisa menjadi wakilku membahagiakan ibu. Semoga kamu ju...juga."


Dorrr!!!


Semua orang di rooftop langsung terperangah dan menoleh ke arah asal tembakkan. Tampak Viola di sana memegang pistol dengan tangan gemetar.


Rustam tersenyum saat punggungnya ditembak oleh istrinya sendiri, orang yang paling ia cintai. Karena itulah yang dia inginkan. Beberapa waktu lalu, sebelum menuju ke rooftop, Rustam memang membebaskan Viola dan menyuruh untuk membunuhnya. Rasanya begitu beruntung dibunuh oleh orang yang ia cintai. Ini adalah sebuah kehormatan bagi Rustam.


"A... aku yang akan menemani ayah di sana, bukan kamu, Mel." Rustam menghembuskan napas terakhirnya dipelukkan sang adik.


"Kakak!" teriak Caramel mengguncang-guncang tubuh Rustam sambil menangis. Tau kalau Rustam sudah tak bernyawa, Caramel kembali memeluknya erat, melampiaskan rasa rindunya kepada sang kakak yang dulu selalu melindunginya dari bullyan teman-teman di sekolahnya.


Sementara Viola hanya terdiam dengan tatapan kosong. Aldo dan ketiga anak buahnya buru-buru menghampiri Viola. 

__ADS_1


"Anda tidak papa?" Aldo mencoba membangunkan Viola dari lamunannya, namun tak berhasil. Viola masih mematung di tempatnya setelah membunuh Rustam. Pistol yang ia pegang terjatuh dari genggamannya begitu saja.


Aldo menghela napas. "Semua sudah selesai."


"Belum," sahut pria berkacamata bernama Reno. "Tuan Erwin belum ditemukan."


Bruuuggg!!!


Aldo dengan sigap menangkap tubuh Viola yang pingsan.


***


"Kemana Erwin?" Dendy mulai membuka tumpukan berkas-berkas yang ia tanda tangani. Hilangnya Erwin selama tiga hari tanpa izin, membuat Dendy terpaksa menggantikan peran menantunya itu memimpin perusahaan. Ralat, mantan menantu.


Refan masih berdiri di hadapan Dendy dengan wajah datar. "Ponselnya juga tidak bisa dihubungi."


Dendy  mendongak. "Kenapa tidak datang ke rumahnya?" 


Refan menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal. "Saya akan ke sana, Pak."


"Tunggu! Saya ikut!" Dendy beranjak dari duduknya, membuat Refan menghentikkan langkahnya sambil mengernyit. 


***


Kini mereka berdua sudah sampai di depan kontrakan Erwin. Dendy terlihat bingung, melihat seorang laki-laki memakai kemeja biru dongker baru saja keluar dari rumah Erwin. Mobil mewahnya terparkir di pinggir jalan. 


Pria itu menyapa Dendy dengan sopan, kemudian masuk ke dalam mobilnya.


Refan menggindikkan bahu. "Entahlah, Pak."


Dendy menghela napas. "Ayo kita masuk!" ucap Dendy yang melangkah lebih dulu diikuti Refan di belakangnya.


Tok... Tok... Tok...


Dendy mengetuk pintu dengan pelan. Tak lama kemudian Zahra datang membukakan pintu.


"Kemana suamimu?" tanya Dendy tanpa basa-basi.


Zahra terdiam dengan wajah sembab. 


"Apa dia tidak di rumah?" Dendy menatap Zahra sinis. Ia mencium bau-bau tidak mengenakan perihal kehadiran laki-laki tadi di rumah Erwin.


Zahra menggeleng pelan. "Masuk dulu, Pak."


"Tidak perlu, saya buru-buru," jawab Dendy ketus. "Kemana Erwin?"


Zahra kembali memejamkan matanya, wajahnya yang imut itu terlihat sangat pucat. "Mas Erwin pergi ke Beijeng buat nyusul Rena dan Viola."

__ADS_1


Deg.


Dendy langsung tersentak. "Dengan siapa dia ke sana?" 


"Sendiri, Pak. Mas Erwin datang ke sana sendiri karena Rustam mengancam akan membunuh Rena kalau Mas Erwin tidak membawa uang tebusan tiga miliyar."


Dendy dan Refan masih terperangah di depan Zahra. "Ya, ampun Erwin." Dendy mengepalkan tangannya geram. 


"Tolong selidiki di mana Mas Erwin berada, Pak. Saya mohon cari Mas Erwin sekarang, Pak!" Zahra menggoyang-goyangkan tangan Dendy. Sementara Dendy hanya terdiam dengan pikiran yang berkecamuk di pikirannya. 


Drrrtttttt... Drrrtttttt... Drrrtttttt...


Ponsel yang ada di saku celana Dendy berdering. Pria paruh baya itu buru-buru meraihnya. "Hallo?"


"Hallo, apakah ini dengan Bapak Dendy?" ucap seseorang di seberang sana.


"Iya, betul. Ini siapa, ya?" tanya Dendy.


"Saya Aldo, Pak. Saya sekarang sudah bersama Viola." 


Kedua sudut bibir Dendy langsung merekah. Pria paruh bayah itu begitu senang. "Apakah ini mimpi?" tanya Dendy sumringah.


"Tentu tidak, Pak. Hanya saja..." Aldo menjeda ucapannya cukup lama.


"Kenapa?" tanya Dendy dengan senyuman yang tak henti-hentinya menghiasi bibir. Refan dan Zahra yang mendengar perbincangan mereka juga ikut senang.


"Hanya saja mayat Erwin dan Rena belum ditemukan."


Deg.


Seketika itu juga senyuman Dendy langsung lenyap, kebahagiaan yang ia rasakan langsung musnah detik itu juga. "Apa maksudmu?"


Refan meneguk ludahnya dengan susah payah. Sementara Zahra menutup mulutnya yang akan menangis.


"Kenapa Erwin?!" bentak Dendy karena Aldo masih belum memberi jawaban.


Tut!


"Halo?"


"HALO?"


"HALO!!!"


Dendy *******-***** ponselnya resah, lalu memijat-mijat pangkal hidungnya. Sementara tubuh Zahra melemas, bahkan ia harus memegangi kusen pintu agar tidak terjatuh. Rasanya ia ingin sekali menumpahkan tangisnya, namun masih ia tahan.


"Bagaimana dengan keadaan tuan Erwin, Pak?" tanya Refan ragu-ragu.

__ADS_1


Dendy hanya menghela napas kasar. 


TBC


__ADS_2