
"Cepat mandi, aku akan mengajakmu bertemu dengan Erwin dan Rena." Rustam menghisap batang rokoknya dalam-dalam, kemudian menghembuskan asapnya ke udara.
"Kamu serius?" Viola langsung terlonjak.
Rustam mengangguk dengan wajah datarnya.
"Demi apa?" tanya Viola dengan suara serak.
"Apapun." Rustam memutar bolamatanya malas.
Viola beranjak sambil menutupi tubuh polosnya dengan selimut menuju ke kamar mandi.
***
Beijing adalah salah satu kota yang benar-benar mengesankan di dunia. Beijing adalah ibukota menggembirakan dengan gedung pencakar langit ekstrem yang berkilauan, hutong simpang siur, dan penuh teka-teki. Menggabungkan kedua arsitektur modern dan tradisional, Beijing adalah kota besar yang selalu berubah, kaya dalam sejarah tetapi juga benar-benar modern dalam global yang luar biasa pada politik, bisnis dan pendidikan, ekonomi, sejarah, budaya, bahasa, arsitektur, olahraga, fashion, seni, hiburan, inovasi, dan teknologi.
Dari jendela kaca airport bus, Erwin bisa melihat kemegahan kota Terlarang, istana terbesar di dunia, berarsitektur megah bernuansa tradisional yang begitu menakjubkan.
Kemudian Erwin juga melihat kuil Tian Tan, yang juga sering disebut sebagai Kuil surga, sebuah kompleks kekaisaran bangunan keagamaan yang terletak di kota Zhangjiajie provinsi Hunan. Bahkan Erwin juga melihat hamparan pegunungan yang menjadi setting tempat film Avatar karya James Cameron yang menjadi box office laris di dunia beberapa tahun lalu. Film yang menceritakan mengenai kehidupan di planet lain ini sangat memukau para penonton karena penggambaran latar belakang ceritanya yang sangat unik. Sehingga ada banyak spekulasi-spekulasi dimana sajakah lokasi yang menginspirasi film ini.
Salah satu lokasi terkenal yang digunakan di dalam film kartun 'Avatar' ini, salah satunya ternyata berada di China, tepatnya di Taman Nasional Zhangjiajie yang dilalui Erwin sekarang ini.
Hingga beberapa menit kemudian sampailah Erwin dan kedua orang yang mengawalnya di sebuah gedung tua di wilayah terpencil kota Zhangjiajie. Erwin dan kedua orang itu turun kemudian memasuki apartemen yang dijadikan markas organisasi berbahaya yang dipimpin oleh Rustam tersebut. Tidak ada yang mencurigakan di apartemen ini, selain penghuninya yang sebagian besar adalah orang berkewarganegaraan Indonesia.
Erwin di antar ke lantai paling atas, jantungnya seperti ingin loncat melihat semua orang yang berpapasan dengannya memasang wajah sinis. Mereka bisa saja membunuh Erwin kapan saja, karena sepertinya mereka semua adalah seorang penjahat kelas kakap yang masing-masing individu memiliki profesi kriminal yang berbeda-beda.
"Silahkan masuk, Tuan. Tugas kami sudah selesai," ucap lelaki berambut gonderong yang bersamanya sejak dari Jakarta.
Erwin sempat terdiam beberapa saat, kemudian membuka pintu dengan ragu. Apakah dia akan kembali melihat wajah Rustam di sini?
Cklekk...
Pintu terbuka, tampak seorang pria yang duduk membelakanginya sambil menghisap rokok.
"Akhirnya kau datang juga." Pria itu memutar kursinya hingga menghadap ke arah Erwin. Sementara Erwin sedikit terkejut, karena yang duduk di kursi itu bukanlah Rustam.
"Panggil saya Mr. Jacob, asisten pribadi sekaligus otak dibalik kebejatan Rustam Effendi." Pria itu memberi kode agar Erwin segera duduk di bangku yang sudah dipersiapkan.
"Kemana Rustam?" tanya Erwin setelah melangkah ragu duduk di depan meja Mr. jacob.
Mr. Jacob tersenyum miring. "Bukankah yang kau cari adalah anakmu?"
__ADS_1
"Rustam dalang dibalik semua ini."
Mr. Jacob menuangkan sebotol bocardi ke dalam gelas kecil kemudian meneguknya dalam sekali tegukan. "Minumlah, sepertinya kau haus," ucap pria itu sembari mendorong botol itu ke arah Erwin.
"Saya ingin bicara dengan Rustam sebelum menebus anak saya."
Mr. Jacob malah tertawa keras mendengar ucapan Erwin. "Rustam tidak perlu bicara denganmu."
Erwin terdiam.
"Rustam memang pimpinan organisasi ini. Tapi sebenarnya dia hanyalah orang biasa yang tidak memiliki darah psikopat seperti ciri khas seorang gangster."
"Lalu kenapa dia bisa menjadi ketua gengster?"
Mr. Jacob menaikkan kedua sudut bibirnya. "Sudah kubilang bahwa aku adalah otak dibalik kebejatan Rustam."
"Rustam adalah mahasiswa cerdas jebolan dari universitas Paris. Kejeniusannya sudah teruji kemampuannya. Tapi, sakit hati yang ia rasakan membuat otaknya yang cerdas menjadi bodoh. Dan, aku mencoba memanfaatkan otak jeniusnya untuk mendirikan sebuah organisasi. Aku juga menanamkan kebencian kepada Rustam, sehingga Rustam menjadi seorang penjahat profesional untuk memenuhi nafsunya. Terbukti, strategiku berhasil membuat organisasi ini berkembang cukup signifikan. Seperti racun yang menyebar ke seluruh tubuh dengan cepat."
"Jadi, intinya Rustam adalah alatku untuk menjalankan bisnis gelap ini. Karena tidak ada orang yang curiga kalau Rustam adalah pemimpin gengster. Dia juga pernah menikah dengan seorang perempuan biasa, tidak ada yang curiga. Sementara aku yang sudah lama menjadi buronon, bisa duduk santai sambil menikmati hasil dari Rustam. Kau tau betapa indahnya hidup ini jika kita berbuat semena-mena."
Erwin termenung.
"Sekarang Rustam sudah mendapatkan segala yang ia inginkan. Menyembuhkan sakit hatinya, dengan merebut istrimu. Dan, menceraikan istri lamanya."
Erwin menaruh koper kecil berisi uang tebusan ke atas meja. "Aku ingin membawa Rustam dan Viola ikut pulang ke Indonesia."
Mr. Jacob malah tertawa terpingkal-pingkal. Sangat lama. Sampai-sampai Erwin jijik mendengar suara tawanya. "Kau gila. Kenapa Rustam dan Viola harus ikut pulang? Itu adalah ide yang sangat konyol."
Erwin terlihat kikuk. "Maksudku..."
"Rustam sudah jadi buronan. Maksudmu kau ingin menghancurkan organisasi ini?"
Erwin sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sebenarnya niatnya hanya untuk membuat Viola ikut pulang bersamanya. Tapi sepertinya niatnya itu mustahil untuk terealisasi dengan sebuah bujukan.
"Sudahlah, masih untung kau dan anakmu nanti selamat. Tidak usah memperdulikan hidup orang lain." Mr. Jacob mulai membuka koper kecil berisi jutaan lembar uang tebusan bernominal rupiah. "Lagipula mengetahui sejarah organisasi ini adalah beban yang sangat berbahaya," lebih tepatnya kau akan mati sebentar lagi, lanjut Mr. Jacob dalam hati.
Keringat dingin menetes begitu saja di pelipis Erwin. Entah kenapa perasaannya mendadak tidak enak.
"Hmm, tidak perlu dihitung. Segeralah pergi menjemput anakmu." Mr. Jacob menepuk tangannya dua kali. Tak lama kemudian masuk dua pria bertuxedo hitam ke dalam ruangan itu.
"Antarkan calon ini ke tempat anaknya berada," perintah Mr. Jacob.
__ADS_1
Calon? Erwin mengernyit bingung.
Ya, calon jenazah, jawab Mr. Jacob dalam hati sambil menyeringai lebar.
Erwin kemudian beranjak dari duduknya mengikuti dua pria bertuxedo hitam itu keluar dari gedung. Tepatnya menuju ke sebuah bangunan tua berbentuk kuil di halaman belakang. Erwin harus melewati rumput ilalang yang panjang-panjang seperti hutan belantara yang tidak pernah terurus. Mungkin kalau di Indonesia, kuil ini bisa di sebut dengan gubuk tua, ataupun gudang belakang tempat mesin diesel sumber cadangan listrik berada, karena letaknya berada di belakang gedung.
Erwin masih diselimuti perasaan resah. Benarkah Rena dikurung di sini?
***
Rustam mendudukkan Viola di depan monitor cctv yang menampilkan sebuah ruangan berisi tumpukkan kardus bekas, beserta satu anak perempuan yang menekuk lututnya di... Rena?
"Itu Rena, Mas, antarkan aku ke sana, Mas?" Viola meneteskan air matanya saat melihat keadaan Rena yang memprihatinkan pada layar cctv. "Kenapa kamu malah bawa aku ke sini?"
Rustam yang berdiri di belakang Viola langsung memegang kedua pundaknya. "Karena ini hanya satu-satunya cara kamu bisa bertemu dengan Rena."
"Ini namanya bukan bertemu, Mas, tapi hanya mengintai." Viola menangis terisak-isak, tak tega melihat anak kesayangannya terkulai lemas di sana. "Bawa aku ke sana!" teriaknya.
"Hmm, sebentar lagi kamu akan melihat wajah Erwin Zamzami." Rustam terkekeh.
Benar saja, tak lama kemudian sosok Erwin Zamzami masuk ke dalam ruangan itu menghampiri Rena dan langsung memeluknya. Viola menutup mulutnya menahan tangis, ia rindu kepada dua orang itu. Namun, tiba-tiba gambar pengintai yang dihasilkan dari kamera cctv tersembunyi itu dipenuhi dengan asap, kemudian gambarnya hilang, berubah menjadi gelap.
"IBLIS!" Jerit Viola shock.
"KENAPA CCTV-NYA MATI!" wajah Viola begitu murka.
"Upss, bomnya meledak." Rustam menganga sambil mengangkat kedua alisnya, meledek.
"Brengsek!!! Penjahat!!!" Viola mengobrak-abrik monitor cctv yang ada di hadapannya dengan membabi buta. "Antarkan aku kepada mereka!"
"Penjahat!!!"
***
Priaakkkk....
Piring yang dipegang Zahra tiba-tiba terjatuh ke lantai. Perasaannya mendadak tidak enak. "Mas Erwin?" gumamnya.
"Kenapa, Mbak?" Vina dan Fitri buru-buru membantu Zahra memunguti pecahan piring yang berserakan di atas lantai.
Zahra masih berdiri mematung sambil menutup mulutnya. Tatapannya kosong, perempuan iti memundurkan langkahnya, kemudian keluar dari warung makannya.
__ADS_1
Bersambung...