Bos Somplak

Bos Somplak
Part 49 : OTW Beijeng


__ADS_3

Brugg...


Sebuah koper hitam berisi uang tunai sebesar 3 miliyar terhempas ke lantai. Pemiliknya menunduk, melihat istri tercintanya bertekuk lutut menghentikan langkahnya. Erwin menghela napas kasar, kemudian mendongak dengan mata yang  sudah berlinangan air mata. Ia tak kuasa melihat Zahra menangis terisak-isak di hadapannya.


"Jangan pergi, Mas, aku takut kamu kenapa-kenapa!" rengek Zahra sambil memegangi lutut Erwin.


Erwin berjongkok, kemudian memeluk Zahra erat. Lelaki itu bisa merasakan getaran kecil di tubuh Zahra. Ia memejamkan matanya pedih sambil mencium puncak kepala Zahra.


"Mas, aku mohon! Bagaimana dengan anak kita nanti, kalau kamu diapa-apakan sama mereka?" Zahra menenggelamkan kepalanya ke dada bidang Erwin semakin dalam, seolah tidak ingin berpisah.


"Mas, please, jangan pergi." Zahra tak henti-hentinya membujuk Erwin.


Erwin menggenggam tangan Zahra erat-erat dengan kedua tangan, tatapan sendu mereka saling beradu setelah Erwin melepas pelukannya. Lelaki itu menggigit bibir bawahnya kuat-kuat menahan segalanya.


Zahra sampai tersedak tangisnya sendiri yang cukup menyedihkan. Wajahnya sudah basah dibasahi oleh air mata. Tangan Erwin yang menggenggam tangan Zahra mulai bergetar hebat. Erwin memejamkan matanya pedih.


"Jangan ke sana Mas, mereka jahat," rengek Zahra sambil menyeka air mata di pipinya.


Erwin sempat terdiam beberapa saat sebelum akhirnya membuka suaranya. "Innallaha mangalladzinataqau walladzina hum mukhsinun."


Tangis Zahra langsung berhenti detik itu juga.


"Sesungguhnya Allah selalu bersama orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan." Erwin mengucapkan potongan surah An-nahl/16 : 128. Tangannya tergerak menyelipkan anak rambut Zahra ke belakang telinga.


Entah kenapa hati Zahra mendadak tenang. Erwin mencium tangan Zahra kemudian mengusap-usap perutnya yang masih rata.


"Doakan aku, aku harus menyelamatkan anakku, Ra." Erwin mengecup perut Zahra lembut.


Zahra masih terdiam dengan tatapan kosong saat Erwin mulai berdiri kembali. "Assalamualaikum," pamit Erwin sambil meraih koper berisi uang tadi kemudian melangkah meninggalkan Zahra yang masih terduduk di lantai.


Walaupun terasa berat, namun Erwin tetap melangkahkan kakinya. Rasanya sakit jika dia harus meninggalkan Zahra, tapi lebih sakit lagi kalau dia membiarkan Rena di sana. Pilihannya hanya dua, dua-duanya atau tidak sama sekali (Rena dan Zahra menjadi keluarganya yang utuh, atau tidak sama sekali).


Erwin memberhentikan taksi untuk mengantarkannya ke bandara.  Saat hendak membuka pintu tiba-tiba ada sesuatu yang meluncur mulus menghujam lengannya.


Erwin meringis kesakitan saat menerima tembakan dari seseorang memakai hodiee hitam di ujung sana yang langsung berlari setelah menembak Erwin. Anehnya tembakan itu tidak berbunyi dan tidak berefek sedikitpun di kulitnya, karena rasa sakitnya langsung sembuh seketika. Erwin masuk ke dalam taksi kemudian membuka lengan kemeja panjangnya. Berdarah sedikit tidak terlalu parah, padahal tembakan tadi tepat mengenai lengannya. Pelurunya bukan peluru yang berbahaya.


Entah, apa maksud orang tadi, yang bahkan membuat sang sopir taksi tidak sadar kalau ia baru saja terkena tembakan dari orang yang tidak di kenal.


"Mau kemana, Pak?"

__ADS_1


Erwin tersentak, kemudian menoleh ke arah sang sopir.  "Bandara Soekarno-Hatta, Pak."


***


Rena langsung terbangun dari tidurnya setelah mendengar suara tembakan. Gadis kecil itu menjerit setelah ketiga temannya di tembak oleh seseorang. Mayat ketiga anak kecil yang sudah berlumuran darah itu langsung dibopong oleh mereka satu persatu keluar dari ruangan kumuh dipenuhi oleh kardus bekas itu.


Rena menyeret kakinya mundur menjauhi mereka. Ia begitu ketakutan, sangat amat mengerikan. Rena begitu shock, sampai tangisnya tidak berani bersuara.


Kini hanya tersisa Rena dan satu temannya yang berasal dari China. Mereka berdua masih terlihat shock, dan tidak bisa berkata apa-apa lagi, tatapannya kosong. Sungguh, mereka berdua sampai-sampai lupa caranya menangis sangking takutnya.


Pintu kembali terbuka, muncul sosok Rian yang baru saja datang diantar oleh kedua pria memakai tuxedo hitam. Rian baru saja merakit bom dan melakukan beberapa eksperimen yang ia kuasai. Bahkan, Rian juga disuruh untuk menghack ponsel Dendy, kakek Rena, karena Rustam ingin membunuh Dendy yang katanya selamat saat pembunuh bayarannya beraksi.


Rena benar-benar mematung di tempatnya sambil menggigit jarinya yang terkepal, seolah tidak sadar dengan kehadiran Rian.


Rian hanya bisa berucap dalam hati. "Sebentar lagi kalian akan menyusul mereka."


***


"Kami berada di sebelah kiri."


Erwin menurunkan ponselnya, kemudian menoleh ke arah kedua pesuruh Rustam yang menjemputnya di bandara. Erwin tak henti-hentinya melafalkan istighfar di dalam hati, meminta perlindungan dari Yang Maha Kuasa.


Sambil menunggu panggilan pesawat penerbangan menuju Beijeng, mereka duduk di ruang tunggu. Sebenarnya bisa saja Erwin terbang sendiri ke Beijeng menggunakan pesawat pribadi, namun demi memenuhi permintaan mereka Erwin harus mengalah dan merelakan dirinya dalam bahaya. Ya, masih merelakan dirinya dalam bahaya, tidak seperti Rena yang sudah dalam bahaya.


Keheningan menyelimuti mereka bertiga. Bahkan, suara riuh orang berlalu lalang di sekitar mereka seolah berubah menjadi senyap. Erwin yang memilih tempat duduk di depan mereka terus menatap mereka dengan tajam, ia harus selalu waspada, karena mereka bisa melakukan kejahatan kapan saja. Erwin tidak boleh lengah sama sekali selama 7 jam perjalanan menuju Beijeng.


Salah satu dari mereka berdua tiba-tiba terkekeh melihat tatapan tak sedap yang selalu ditampilkan Erwin. "Selagi anda membawa barang yang kami sukai, anda selalu menang."


Erwin masih mempertahankan wajah datarnya. "Apa rencana kalian?"


"Rencana? Rencana kami hanyalah barter uang dengan keselamatan anak anda, menarik bukan?" jawab lelaki itu enteng.


Erwin mengepalkan tangannya geram. "Kalian berani menjamin saya selamat sampai Beijeng dan membawa anak saya pulang ke Indonesia?"


Lelaki kekar memakai kemeja hitam itu menjentikkan tangannya. "Gampang, bisa diatur. Sudah kubilang selagi anda punya uang, anda akan selalu menang."


Erwin sedikit menghela napas lega. Pasalnya ia berpikir bahwa mereka bukan berniat untuk menjemput, tapi hanya untuk merampas uang di tangan Erwin, kemudian pergi tanpa memberikan Rena kepadanya.


"Kami hanya ditugaskan untuk memastikan bahwa anda tidak membawa aparat keamanan menuju ke sana." Lelaki itu menjelaskan. "Kurang baik bagaimana kami? Selalu berpikirlah positif, Tuan."

__ADS_1


Erwin terdiam. Terdengar suara panggilan yang menjelaskan bahwa maskapai penerbangan menuju Beijeng akan segera take of, ketiganya berkemas-kemas untuk bersiap-siap memasuki kabin pesawat.


Erwin langsung memilih tempat duduk kosong yang berada di sebelah gadis yang mengenakan hoodie merah, sementara kedua pria tadi duduk di bangku yang bersebrangan dengannya.


Erwin kembali membuka luka di balik kemeja biru tuanya. Tembakan aneh tadi apa maksudnya? Apa berhubungan dengan kedua orang itu? Erwin melirik ke arah dua laki-laki koplak yang diutus Rustam yang sudah tertidur di sebelahnya.


"Tidur, Kak, perjalanan masih panjang." Gadis memakai hoodie di sebelah Erwin tiba-tiba memukul jam tangan Erwin.


Erwin sempat terkejut. "Ah, iya," jawab Erwin kikuk, padahal ia hanya berhadapan dengan gadis seumuran dengan Zahra.


Dalam hati Erwin tak henti-hentinya melafalkan istighfar. Ia harus selalu waspada dan berhati-hati kepada setiap orang yang ia temui. Tapi..., ngomong-ngomong benar kata-kata laki-laki tadi. "Selalu berperasangka baiklah kepada orang."


"Kakak ke Beijeng untuk liburan atau kerja?" tanya gadis di sebelahnya.


"Hmm, saya...," Erwin tampak berpikir. "Ah, iya, liburan."


"Owh, kalau saya mau kuliah di sana, Kak," gadis itu tersenyum, sepertinya ia tertarik dengan Erwin. Padahal ia tak tau kalau Erwin sudah menikah dua kali. Tapi siapa yang mampu menyadari, kalau wajah Erwin nyatanya selalu manis dan tampan seperti anak muda yang tidak terlalu tua, tapi tak juga terlalu muda, pas-pasan.


Erwin menunduk, menatap foto Rena yang terpampang di layar ponselnya lekat-lekat. Ia meneguk ludahnya dengan susah payah sambil memejamkan mata pedih. "Rena Papa akan bertemu denganmu."


"Zahra, kamu harus kuat. Aku akan kembali."


Jari Erwin gemetar saat hendak menscroll foto Rena ke samping. Kini foto Rena berganti dengan foto Viola. Erwin dengan canggung menyodorkannya ke arah gadis di sebelahnya. "Kapan-kapan kalau kamu ketemu sama wanita ini di sana, telpon saya, ya?" ucap Erwin sambil memberikan kartu namanya.


Perempuan itu mengangguk mengamati foto Viola. Ia sama sekali tidak terkejut melihat nama Erwin Zamzami dengan pangkat seorang CEO di salah satu vendor perusahaan smartphone berspec tinggi dan berkualitas asal Indonesia yang tertera di dalam kartu nama Erwin.


"Boleh saya ambil handphone Bapak?" gadis itu tersenyum. Gadis berhoodie merah itu mengganti kata 'Kakak', menjadi 'Bapak' setelah melihat pangkat Erwin. "Pasti hp Bapak segudang di rumah."


"Ah, handphone itu banyak kenangannya." Erwin tersenyum. "Nanti kapan-kapan, kalau kamu ketemu perempuan ini dan langsung menghubungi saya, saya akan kasih hadiah."


"Indophone keluaran terbaru RAM 12 GB, Pak?" perempuan itu begitu antuasias dan sangat senang.


Erwin mengangguk.


"Wah, semoga aku berhasil menemukan istri Bapak." Perempuan itu mencium tangan Erwin.


Istri?  Bahkan istriku sekarang seumuran denganmu. Tapi kamu malah menghormatiku selayaknya aku adalah orang yang jauh lebih tua darimu.


TBC

__ADS_1


__ADS_2