
"Sorry, Vi, sepertinya aku harus melakukan ini." Rustam menatap nanar ke arah istrinya yang sudah terlilit tambang di kursi dengan mulut yang dibungkam dengan lakban.
Rustam terpaksa melumpuhkan Viola dengan mengikatnya di kursi, karena Viola mengamuk dan merusak fasilitas-fasilas yang ada di ruangan monitor cctv. Siapa yang nggak sedih, sih, anak dan suaminya dibunuh? Eh, Ralat, mantan suami.
Rustam hendak keluar dari ruangan itu menuju ke tempat mayat Erwin berada. Namun, langkahnya terhenti karena ponselnya berdering.
"Hay, sir, how are you?" ucap seseorang di seberang sana.
Rustam memencet lift menuju ke lantai bawah sambil terdiam. "Who is this?" tanyanya dengan suara berat.
"We will meet soon," ucap suara perempuan di ponsel itu santai.
Tut!
Rustam *******-***** ponselnya geram. Siapa gerangan yang berani bermain-main dengannya. Bersamaan dengan itu liftnya terbuka. Rustam berbelok ke arah ruangan tempat seluruh petinggi anggota organisasi berkumpul. Ada sekitar 12 orang termasuk bodyguard pribadi di sana.
"Selidiki nomor ponsel ini." Rustam melemparkan ponselnya ke arah anak muda yang bertugas sebagai seorang hacker. "Dia sudah berani membuat lelucon di depanku."
"Ada kabar buruk," sahut Mr. Jacob yang merebahkan tubuhnya di sofabed sambil menghisap rokok.
Rustam memasukan kedua tangannya di saku celana sambil menoleh ke arah Mr. Jacob.
"Anak si perakit bom itu kabur." Mr. Jacob menjentikkan putung rokoknya ke asbak.
"Sudah kuduga, kalau tujuan anak itu memang untuk kabur. Bodoh sekali menerima kerjasama dari anak ingusan seperti dia." Rustam tersenyum remeh.
"Aku pikir anak itu bisa menjadi senjata andalan kita. Huffttt! Lagi pula sejak dulu organisasi kita tidak memiliki perakit bom sendiri."
"Lexus, cepat buru anak itu dan bunuh dia. Bisa saja dia memberitahu markas persembunyian kita kepada siapapun."
"Baik, Pak." Pria yang dipanggil Lexus itu mengangguk kemudian melangkah meninggalkan ruangan.
Rustam meraih segelas kecil yang sudah dituangkan wine. Kemudian meneguknya sampai tak tersisa. "Bagaimana?" tanyanya kepada pemuda hacker yang masih sibuk melacak nomor telepon yang menelpon Rustam barusan dengan komputernya.
"Angka +62 nomor Indonesia. GPS yang saya temukan posisinya berada tak jauh dari kota ini. Menurut data yang saya dapatkan dia sering menghubungi nomor resmi Densus 88, bisa dipastikan si pemilik nomor ini adalah anggota intelijen."
"Rupanya kita benar-benar kedatangan tamu." Rustam menjatuhkan gelas kecil yang ia pegang pelan.
"Mereka pasti sudah tau keberadaan markas kita," sahut Mr. Jacob.
"Erwin pasti sudah memberi informasi sebelum mati." Rustam mengumpat kesal.
"Tidak, Erwin sama sekali tidak bisa menggunakan ponselnya saat ke sini. Kedua orang yang kita utus benar-benar mengawasi setiap gerak-gerik Erwin dengan ketat."
"LALU SIAPA?" bentak Rustam murka.
__ADS_1
"Entahlah!" Mr. Jacob menggindikkan bahu. "Sekarang kita harus mempersiapkan senjata untuk meladeni tikus-tikus kecil yang akan datang."
Pria bernama Lexus yang disuruh Rustam tadi, kembali datang dengan tergesa-gesa. Raut wajah pria itu sudah jelas menggambarkan bahwa sebentar lagi akan ada kabar buruk. "Mayat Erwin dan anaknya tidak ada!" ucap Lexus dengan napas terengah-engah.
Rustam menggertakkan giginya dengan rahang yang mengeras. "Brengsekkkk!!!"
***
"Untuk organisasi yang hanya beroperasi di satu negara. Tempat persembunyian mereka terbilang cukup aman." Kapten Aldo Flavio yang sudah sembuh dari lukanya tempo lalu tersenyum manis. Ia dan timnya sudah sampai di depan gedung tua yang terdapat banyak mobil di sana. "Tugas bagus agen Caramel."
Caramel tersenyum lalu mengangguk kepada seniornya di BIN itu. Ia yakin sebentar lagi pasti ia akan naik pangkat.
"Rustam cukup cerdik, kota Zhangjiajie yang terletak di Provinsi Hunan ini memang meleset jauh dari kota Beijeng. Sehingga tim ekspedisi tidak mungkin menemukan markas ini di kota Beijeng."
"Gawat! Radar kecil yang aku tembakkan ke lengan tuan Erwin menghilang. Sekarang posisi tuan Erwin tidak bisa dilacak. Ada yang mencopotnya." Caramel tiba-tiba terlihat panik saat mengecek ponselnya.
"Apakah radar yang kau tanamkan itu masih berfungsi jika sang pemiliknya mati?" tanya Aldo.
"Tidak, Pak, seharusnya radarnya masih berfungsi." Caramel masih mengutak-atik ponselnya.
"Oke semua, mari kita turun!" Aldo selaku pimpinan sementara BIN, pengganti ketua Brigjen Sukarja yang berkhianat, menginterupsi rekan-rekannya. Seluruh anggota intelijen dan satuan gabungan Densus 88 mulai turun dari mobil kemudian berbaris. Ada tujuh mobil dan terdapat 56 personil bersenjata Laras panjang di sana.
"Sebelum memulai penyergapan, marilah berdoa dengan keyakinan masing-masing. Berdoa mulai!"
Semua menunduk, memanjatkan doa untuk meminta keselamatan kepada Tuhan.
"Team AR21 yang dipimpin oleh Caramel, fokus mencari tempat terakhir di mana tuan Erwin berada. Team Minor, menyelusup masuk lewat tangga darurat menuju ke atas, Team abjad, sergap mereka lewat pintu belakang. Sementara saya dan team Densus 88 akan menyerang mereka lewat pintu depan."
"SIAP, PAK!" jawab mereka serempak. Kemudian mulai bergegas menjalankan tugas mereka.
Caramel memejamkan matanya pedih, Zahra, aku akan menyelamatkan suamimu, batinnya.
Sementara kapten Aldo Flavio mengikuti team Densus 88 yang menyerang mereka dari depan. Tidak ada penjagaan ketat di depan loby. Tapi mereka semua masih sangat berhati-hati untuk mengantisipasi adanya jebakan.
Aldo Flavio begitu tanggap memimpin pasukannya. Hingga sampai ke lantai dua bertemu dengan Team minor yang tadi menyelinap masuk ke tangga darurat.
"Situasi aman," bisik kapten team Minor.
***
Rustam besedekap santai menatap monitor cctv yang menampilkan team Densus 88 yang menyergap markasnya.
Sementara Mr. Jacob tampak asyik menyantap mie instan di dalam mangkok kecil yang ia pegang.
"Apakah pembunuh bayaran itu masih menginap di sini?" tanya Rustam.
__ADS_1
Mr. Jacob menyeruput mie instannya, kemudian menoleh ke arah Rustam. "Tentu."
"Lexus, perintahkan mereka untuk menerima tamu di lantai 5," ujar Rustam.
Lexus mengangguk, kemudian menelpon seseorang.
Sementara Viola yang terikat dengan mulut ditutup lakban, terus mencoba meronta-ronta, walaupun apa yang ia lakukan hanyalah hal yang sia-sia.
***
Dorrr... Dorrr... Dorrr...
"Sial!" Aldo mendengus karena tiga anak buahnya tertembak. "Semuanya hati-hati!" titahnya.
Pasukan yang berada di belakangnya langsung tiarap untuk menghindari tembakan susulan.
Aldo celingak-celinguk mencari persembunyian musuh yang menembak pasukannya. Di atas tangga!
Aldo langsung membidikkan senapan laras panjangnya ke arah mereka.
Dorrr... Dorrr... Dorrr...
Tiga orang musuh tergeletak tak berdaya menerima tembakan jitu dari Aldo. "Semua naik ke atas!"
Mereka semua merayap berurutan naik ke lantai berikutnya melewati tangga.
Dorrr...
Baru saja melangkahkan kakinya ke lantai 5, Aldo sudah disambut dengan sebuah tembakan.
Aldo menghela napas gusar menatap deretan kamar di lantai lima. "Hati-hati, setiap kamar terdapat musuh bersenjata yang bersembunyi."
"Ini sulit!" umpat salah satu anggota Densus 88.
***
Caramel bersama tiga orang anggota teamnya. Berlari menuju kuil usang yang berada di belakang gedung. Kuil itu terlihat porak poranda dengan keadaan ruangan yang hangus terbakar bekas ledakkan.
"Benar di sini tempat terakhir tuan Erwin berada?" tanya teman Caramel.
Tubuh Caramel merosot terduduk di lantai dengan tangan yang terkepal dingin. "Zahra, maafkan aku!" ucapnya dalam hati.
"Mungkin dia terbunuh dan mayatnya sudah diamankan oleh mereka."
"Sial!" Caramel memukul-mukul lantai dengan geram.
__ADS_1
TBC