
Cklek, bunyi punti yang terbuka. Tampak Refan masuk ke ruangan Dendy.
"Apakah Erwin sudah kembali ke kantor?" tanya Dendy mendongak.
Refan menghela napas, memberikan selembar kertas berisi foto yang ia bawa.
Rahang Dendy mengeras. Pria paruh bayah itu *******-***** kertas yang disodorkan oleh Refan.
"Di mana Erwin sekarang?"
"Pak Erwin akan pergi ke Paris." Refan menunduk.
Dendy memijat-mijat pangkal hidungnya pusing, kemudian menggebrak meja dengan kasar. "Persiapkan semuanya, saya akan pergi ke Paris sekarang juga."
"Baik, Pak!" Refan mengangguk, kemudian melenggang pergi dari tempat itu.
Dendy benar-benar gusar, air matanya mulai jatuh membasahi pipi.
Ia kembali menatap kertas lusuh yang baru saja ia remas-remas. Rasanya seperti mimpi, melihat foto sang menantu menjadi seorang buronan karena kedoknya sebagai mafia kelas kakap jaringan perdagangan manusia, dan juga penyelundupan narkoba di Indonesia terbongkar. Anak dan cucunya benar-benar dalam bahaya besar. Apalagi mereka tidak pernah memberi kabar selama pindah ke Paris, membuat Dendy mulai berpikir yang tidak-tidak.
"Ya ampun! Anakku..." Dendy menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.
"Ini semua salahku! Ini semua salahku!!!" Dendy memukul-mukul kepalanya sendiri berulang-ulang kali.
***
"Mas, aku pengen ikut?" Zahra mencekal lengan Erwin yang hendak beranjak, karena pesawat yang akan ia tumpangi sebentar lagi akan lepas landas.
Erwin tersenyum. Di saat hatinya digelayuti rasa khawatir, Erwin tetap melemparkan seulas senyum untuk istrinya. "Kamu jaga rumah aja." Erwin memegang kedua pundak Zahra.
"Aku ingin ikut untuk memastikan bahwa Mbak Viola dan Rena baik-baik aja, Mas." Zahra menyeka air mata yang membasahi pipinya. Air mata yang masih belum surut sejak di kantor polisi tadi.
"Enggak, ini tanggung jawabku. Cukup doamu saja yang ikut." Erwin mengusap-ngusap pipi Zahra lembut.
"Aku tidak tenang, Mas. Hmm, bukan karena aku cemburu sama Mbak Viola. Tapi, aku hanya tidak ingin Mas merasakan pedihnya kehilangan seseorang seperti aku kehilangan anak-anak panti yang sudah aku urus sejak bayi." Zahra memohon.
"Aku mengerti. Tapi, ini semua tanggung jawabku. Doakan aku supaya Allah selalu melindungiku, ya!" Erwin mengecup kening Zahra.
"Tidak! Ini semua tanggung jawabku."
Suara itu mengagetkan Erwin dan juga Zahra. Mereka berdua langsung menengok ke sang empunya suara.
"Biar kami yang terbang ke Paris."
Erwin mengernyitkan dahi, melihat Dendy sudah berdiri di hadapannya bersama Refan dan beberapa bodyguard pribadi juga beberapa anggota polisi.
"Kamu nggak perlu repot-repot pergi ke sana, Win." Dendy mengelapi wajahnya dengan sapu tangan.
__ADS_1
"Ta..., tapi, Pak." Erwin terlihat kikuk.
"Paris luas, Win. Nggak mungkin kamu bisa menemukan mereka hanya dengan melangkahkan kakimu ke menara eifell," lanjut Dendy lagi dengan suara serak.
Erwin terdiam. Sementara Zahra mulai berpikir yang tidak-tidak. Iya kalau Mbak Viola dan Rena masih hidup, kalau mereka juga jadi korban Rustam? Rasanya tangan Zahra sudah gatal ingin membunuh Rustam di tempat itu juga tanpa ampun.
"Ta..., tapi biarkan saya juga ikut ke sana, Pak." Erwin menunduk.
"Biarkan saya yang menanggung semuanya, Win. Oh, ya, kamu harus profesional dengan pekerjaanmu yang bahkan belum kamu sentuh itu."
"Tapi, Viola dan Rena berada dalam bahaya, Pak." Erwin langsung menyela.
Dendy tersenyum getir, dengan air mata yang senantiasa menetes deras. "Su..., sudah lama, kan?"
"Sudah lama mereka tidak ada kabar? Selama itu pula mereka dalam bahaya."
"Ini semua salah saya, Win. Biarkan saya menebus kesalahan-kesalahan saya."
Mata Erwin semakin memerah. "Saya rindu dengan anak saya, Pak."
"Dengan adanya tim gabungan Kasat Reskrim, dan Tim intelejen, kami pasti akan menemukan mereka, hanya saja...," Dendy terdiam, meneguk ludahnya dengan susah payah. "Jika terjadi sesuatu dengan mereka. Kamu harus bunuh saya secepatnya, Win."
"Saya ingin mati di tanganmu, jika ternyata Viola dan Rena tidak terselamatkan."
Lidah Erwin terasa kelu. Ia bingung harus berkata apa. Pandangannya kosong, melayang jauh, hingga ketenangan sudah tak sanggup lagi singgah di hatinya.
"Pak."
"Erwin, tugas kamu adalah membunuhku, jika Viola dan Rena tidak selamat." Dendy menghela napas.
"Saya..."
Dendy kembali memotong ucapan Erwin. "Ada ribuan karyawan yang butuh uang untung menghidupi anak-anaknya. Kamu harus menyelamatkan nasib mereka, Win. Selesaikan pekerjaanmu dulu."
"Anak saya, Pak?"
"Erwin, kami akan menemukan keberadaan mereka." Dendy memegang pundak Erwin.
Refan melirik jam tangannya. "Sepuluh menit lagi, Pak."
Dendy melayangkan tangannya kepada Refan. "Biarkan saya meyakinka Erwin dulu." Dendy menatap Erwin meyakinkan. "Pak polisi, jelaskan metode yang kalian gunakan untuk menangkap buronan kepada anak ini!" perintah Dendy.
Salah satu anggota intel berdehem singkat. "Kami dari badan intelejen negara. Jenis polisi yang berani mati, berhasil tidak dipuji, dan jika gagal mendapatkan hujatan rasa benci."
"Kami bertugas untuk memberantas segala hal apapun yang mengganggu kenyamanan negara ini, termasuk menangkap buronan dan *******. Dan, untuk melacak di mana posisi buronan, kami punya beberapa cara."
"Pertama, menjalin kerja sama intelijen dengan beberapa pihak. Kerja sama bisa dilakukan dengan pihak bank, penyedia layanan internet, operator seluler, kantor imigrasi dan lainnya, guna mempermudah polisi dalam melakukan pelacakan. Biasanya polisi akan membawa surat tugas resmi sehingga pihak intelijen kepolisian berhak meminta beragam informasi terkait target dari pihak-pihak yang diajak bekerja sama. Dengan berbekal surat tugas resmi itu, beragam informasi yang bersifat privasi milik target pun bisa terhimpun."
__ADS_1
"Kedua, pelacakan transaksi. Dalam beberapa kasus, salah satu langkah polisi dalam melacak keberadaan seorang buronan adalah dengan melakukan pelacakan ip address milik target. Pelacakan ini bisa dilakukan dengan bekerja sama dengan pihak website yang digunakan target, misalnya website jual-beli online, lalu meminta ip address target yang tercatat oleh server website. Namun, banyak pelaku kejahatan yang sudah mampu menyamarkan lokasi ip address menggunakan aplikasi khusus. Hal itu bisa menyamarkan lokasi yang sebenarnya di Indonesia namun IP address yang tercatat berlokasi di Malaysia, Belanda, dan di mana pun. Hanya saja, biasanya hal ini hanya mampu menyamarkan eksternal ip address milik target."
"Ketiga, pelacakan handpone, Polisi juga bisa melakukan pelacakan lokasi melalui rekening bank milik target. Polisi akan mencatat rekening bank yang digunakan oleh pelaku, lalu mendatangi bank untuk menghimpun informasi terkait target. Dari pihak bank, polisi bisa mendapatkan beberapa informasi penting milik target, seperti alamat, nama lengkap, tanggal lahir, hingga nomer handphone. Selain itu, polisi juga bisa mendapatkan informasi lokasi-lokasi mesin ATM mana saja yang biasa digunakan target untuk melakukan transaksi. Kemudian GPS, kami bisa menyadap handphone yang digunakan pelaku jika GPS di ponselnya aktif."
Erwin terdiam mencermati penjelasan anggota intel.
"Semoga dengan penjelasan itu, kamu bisa percaya dengan kami. Doakan saja mereka baik-baik saja." Dendy menepuk-nepuk pundak Erwin diikuti para rombongannya menuju ke pesawat yang akan segera take-off.
Zahra menatap punggung rombongan itu yang mulai menjauh. Sementara Erwin masih membeku di tempatnya. Lelaki itu memejamkan matanya pasrah.
"Selesaikan tanggung jawabmu sebagai CEO Indophone." Zahra mengusap-usap bahu Erwin. "Setelah itu, aku akan temani, Mas, menyusul mereka ke Paris."
Erwin mengepalkan tangannya kuat-kuat.
***
Viola menghempaskan tubuhnya pada sofa empuk di apartemen elite milik Rustam di Beijeng. Menonton televisi yang sepertinya tidak pernah mati diruangan itu.
Pikirannya begitu kalut. Entah kenapa hatinya menjadi tidak tenang, setelah Rustam menjelaskan tentang siapa sebenarnya dirinya. Rasanya dia ingin kabur dari Rustam. Untuk apa hidup dengan mafia yang selalu melakukan tindak kejahatan, dan selalu diburu oleh aparat keamanan.
Tak lama kemudian, perhatian Viola teralihkan pada sosok familiar yang tampil pada layar kaca televisi. Acara tv, berita news Thiongkok yang entah berbicara tentang apa, karena Viola tidak terlalu paham bahasa China. Namun, Viola mengerti bahwa berita news itu sedang membahas soal tiga CEO smartfone tersukses di dunia. Mata Viola mulai berkaca-kaca, melihat sosok kharismatik yang sudah begitu ia rindukan. Air mata Viola luruh, mebasahi pipinya. "Rena!!" panggilnya.
Rena yang baru saja ke kamar mandi langsung datang menghampiri Viola.
"Sini Mama pangku," ucapnya. Viola kemudian memeluk Rena yang berada di pangkuannya.
Rena langsung menangis haru. "Ma! Papa, Ma?"
Viola mencium puncak kepala Rena sambil menangis. Melihat sosok Erwin di layar kaca televisi.
Berita news di televisi itu sedang memperlihatkan tiga sosok CEO Smartfone tersukses di dunia. Yang pertama adalah Tim Cook, pengelola perusahaan Apple's. Lalu Lei Jun, pemimpin perusahaan Xiaomi asal Thiongkok sendiri. Dan kemudian Erwin Zamzami, direktur utama perusahaan Indophone yang mendunia.
Meski Viola tidak mengerti bahasa yang disampaikan oleh prasenter berita, tapi Viola cukup cerdas untuk menalaisis topik yang dibahas.
Berdasarkan catatan pada laporan tersebut, gaji Lei Jun mencapai angka yang fantastis, yakni sebesar 1,5 miliar dollar AS selama tahun 2018. Jika dikonversi ke dalam rupiah, gaji pimpinan tertinggi Xiaomi ini mencapai angka sekitar Rp 21 triliun.
Lalu, ketika Tim Cook didaulat sebagai CEO Apple, ia mendapatkan vested stock sebanyak 1,2 juta lembar yang nilainya 136 juta dollar AS atau Rp 1,8 triliun. Selama tiga bulan berturut-turut, Apple meraup pendapatan 62,9 miliar dollar AS (Rp 940 triliun). Angka itu mencatat peningkatan 20 persen dari tahun sebelumnya.
Kemudian, Erwin Zamzami yang merupakan penerus perusahaan mertuanya bisa meraih omset ke berbagai mancan negara setiap bulannya. Erwin mendapatkan penghasilan sebesar 120 juta euro atau Rp 2 triliun selama empat tahun kepemimpinannya.
Jika dihitung per tahun, gaji pria 25 tahun itu selama menggantikan Dendy Januar Pratama mencapai Rp 500 milliar per tahun atau sekitar Rp 42 miliar setiap bulannya. Secara rinci, penghasilan yang ia dapat mencapai Rp 9,8 milliar per minggu atau Rp 1,3 milliar per hari. Tiga kali lipat lebih tinggi dari CEO smartfone Indophone sebelemnya. Berkat kejelian dan kecerdasaan Erwin, Indophone menjadi ponsel cerdas favorit masyarakat Asia bahkan dunia menyaingi Xiaomi dan Apple's.
"Papa ganteng banget, Ma. Aku pengen meluk Papa." Rena benar-benar tidak bisa mengontrol kerinduannya.
Viola menangis terisak-isak. Menyesali perbuatannya, karena telah menyakiti pria paling hebat di hidupnya.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa follow Instagram nurudin_fereira