
"Saya minta, mulai hari ini kamu manggil saya Mas, ya?" pinta Erwin sembari fokus mengemudi mobil.
"Sebenarnya sih pengen, tapi mau gimana lagi, udah jadi kebiasaan kok."
"Yaudah kalau nggak mau manggil Mas." Erwin merajuk. "Aku minta jatah 7 kali sehari."
"Ha?" Zahra melongo. "Jatah apaan?"
"Nafkah batin." Erwin tersenyum miring.
"Gila! Itu namanya nyiksa orang."
"Kan nikmat sayang." Erwin terkekeh.
"Dih, stres!" Zahra mengalihkan pandangannya ke arah lain. Sambil melipat kedua tangan.
Kemudian hening. Tidak ada percakapan lagi di antara keduanya. Zahra masih menimang-nimang permintaan Erwin. Rasanya canggung sekali harus memanggil Erwin seperti biasa.
"Kalau kamu manggil aku Pak. Berarti aku bapak kamu. Jadi, pernikahan kita jadi haram." Erwin mengeluh.
Zahra menoleh. "Aku manggil Pak karena kebiasaan Mas?"
"Nah itu bisa manggil aku, Mas." Erwin menunjuk dengan jari telunjuknya dengan wajah berbinar.
"Keceplosan, Pak!" Zahra menutup mulutnya dengan wajah sebal.
"Jangan manggil bapak, aku bukan bapak kamu."
"Hey, aku manggil bapak dengan arti kata lain, Pak. Bukan bapak yang sesungguhnya."
Erwin berdecak sebal. "Coba latihan Zahra, jangan keterusan."
"Canggung, Pak!" keluh Zahra.
Erwin memutar bola matanya malas.
Setelah beberapa menit kemudian, keduanya sampai di depan kediaman rumah Viola dan Rustam.
"Tuan?" ucap Bi Ijah langsung mencium tangan Erwin dengan sopan setelah membukakan pintu.
Erwin tersenyum tipis. "Gimana kabarnya, Bi?"
"Alhamdulilah, baik Tuan." Bi Ijah tersenyum sembari mempersilahkan mereka masuk.
Langkah Erwin terhenti setelah mendengar suara tangisan yang menggema di dalam rumah berinterior modern itu.
"Rena nangis, Mas?" tanya Zahra memegang pundak Erwin yang berhenti di depannya.
Perempuan itu terlihat anggun dengan gamis hitam bergaris pink yang digunakannya.
Erwin menghela napas, rasanya semakin sakit jika kembali mengingat keluarga kecilnya yang sudah tidak utuh lagi.
"Cup … cup… Rena jangan nakal." Rustam mencoba menenangkan Rena yang meronta-ronta digendongannya.
"Rena pengen ketemu, Papa!" dengus Rena menangis sesegukan sambil memukuli kepala Rustam.
"Nanti bentar lagi Papa ke sini, Sayang." Viola mengusap-usap rambut Rena. Mereka bertiga sedang berada di ruang keluarga dan tampak kuwalahan menenangkan Rena.
"Rena!" panggil Erwin yang menampakkan diri bersama Zahra di belakangnya.
Rena langsung berlari menghampiri Erwin dan memeluknya begitu erat.
"Rena, kangen, Pa!" lirih Rena manja.
"Papa juga kangen." Erwin mengusap-usap pipi Rena yang sudah digenangi air mata.
Entah kenapa Erwin ingin sekali meneteskan air mata. Mungkin karena tidak tega melihat Rena menjadi korban atas perpisahannya dengan Viola.
"Papa, jarang banget, sih, ke sininya?" dengus Rena kini sudah sedikit lebih tenang.
Erwin hanya bisa memaksakan seulas senyum, walaupun tubuhnya bergetar karena tidak bisa menjawab pertanyaan Rena.
__ADS_1
"Gimana kalau kita makan di luar, Mas?" tanya Viola yang kini sudah beranjak dari duduknya menyalami Zahra.
Erwin menggesek-gesekkan hidung mancungnya ke hidung mungil Rena. "Hmm, anak Papa mau nggak makan di luar?" tanyanya.
Rena mengangguk polos.
"Mau makan apa?"
"Chicken aja di Mall, nanti bisa sekalian main di timezone."
Viola tersenyum. "Ya udah Rena sekarang ganti baju dulu."
"Maunya sama Papa." Rena melotot ke arah Viola. Ia memang sangat manja jika sudah bersama Erwin.
"Yaudah yuk, sama Papa." Erwin menggendong Rena menuju ke kamarnya. "Bayi gede Papa manja banget," ucapnya sambil mencubit pipi Rena.
"Papa nggak bisa, ya, tinggal bareng di sini? Sama mbak Zahra?" tanya Rena.
"Papa sudah nggak sama Mama Viola lagi, Sayang. Mama itu sekarang punya Papa Rustam." Erwin meletakkan Rena di ranjang kemudian mencari baju untuk Rena di lemari.
"Terus kalau kayak gitu sekarang Rena punya siapa? Punya tukang cilok di sekolahnya Rena?"
Erwin terkekeh. "Kamu punya Papa Rustam, Papa Erwin, Mama Viola, sama Mama Zahra. Semuanya sayang sama Rena."
Rena terdiam.
"Mau pakai baju ini?" tanya Erwin membentangkan gamis kecil bercorak batik.
Rena menggeleng.
"Ini?" lanjut Erwin mencarikan baju yang lain. Tapi Rena tetap menggeleng.
"Kok, yang Papa pilihin baju buat lebaran doang?" Rena mendengus.
"Rena, ini baju muslimah. Sebenarnya kamu sekarang udah wajib pakai baju kayak gini. Jangan pakai baju yang terlalu terbuka."
"Kamu itu perempuan, kamu harus jaga aurat kamu, Sayang," sahut suara di ambang pintu. Seketika mereka berdua langsung menoleh dan mendapati Zahra sudah berdiri anggun sambil tersenyum menghampiri mereka.
"Kamu nyusul ke sini?" tanya Erwin kemudian kembali fokus pada kegiatannya.
"Aku canggung Mas, haha ... malu sama Mbak Viola." Zahra terkikik.
"Katanya kamu pengen cantik kayak Nissa Sabyan?" lanjut Zahra kini berbicara kepada Rena.
Rena tampak berpikir. "Yaudah Rena mau pakai yang tadi aja."
"Pinter."
***
Setelah selesai menyantap makanan yang mereka pesan, mereka berlima langsung meluncur ke timezone. Menemani Rena bermain berbagai wahana permainan yang tersedia di sana.
Viola dan Zahra ikut hanyut dalam permainan ketika Rena mengajak mereka bermain tembak-tembakkan pada layar digital.
Sementara Erwin dan Rustam hanya tersenyum mengamati aktivitas mereka.
"Bagaimana keadaan kantor?" tanya Erwin mencoba mengakrabkan diri dengan Rustam.
Meski kebenciannya kepada pria itu belum pudar sepenuhnya. Teringat kekejaman Rustam di masa lalu.
"Aman terkendali, Bos."
Erwin menghela napas lega. "Alhamdulilah, butik masih lancar?"
"Hmm, tentu." Rustam mengangguk. "Bisnismu lancar?"
Erwin tersenyum tipis. "Ya."
"Balik ke kantor lagi aja, Bro, jadi pemimpin perusahaan Wijaya Group lagi." Rustam menawari.
Erwin sedikit terperengah, kemudian menggeleng pelan. "Rasanya nggak pantas."
__ADS_1
"Hanya karena lo bukan suaminya Viola lagi?"
Erwin mengangguk.
"Lo jadi asisten gue." Rustam menyeringai. "Pimpinan boleh, kan, mencari karyawan baru?"
"Kayaknya semua karyawan di sana rindu sama lo," lanjut Rustam sambil menghela napas. "Masalahnya gue juga harus mengurusi bisnis gue di Paris, Win."
"Mungkin nggak bisa. Aku ingin nenangin pikiran dulu." Erwin tersenyum.
"Yaudah kalau itu pilihan lo."
Erwin mengangguk. Mungkin, selama ini ia hanyalah sebuah tembok penderitaan bagi Viola. Erwin harus benar-benar mengiklashkan hubungannya dengan Viola yang memang sudah hancur.
"Rena, hanya belum terbiasa dengan keadaan ini. Gue yakin cepat atau lambat dia akan terbiasa." Rustam mengalihkan topik obrolan mereka.
Erwin tersenyum getir. "Tolong jaga Rena."
"Siap!"
***
Dendy Wijaya, Ayah Viola memijat-mijat pangkal hidungnya pening, melihat laporan keungan beberapa bisnis dan perusahaan yang ia miliki.
Rasio keuangan sangat tidak sesuai dengan ekspetasi. Pengeluaran lebih besar daripada pendapatan. Profit yang diterima pun sangat sedikit. Rustam memang benar-benar tidak bisa dipercaya untuk mengelola bisnisnya. Belum lagi hutang-hutang yang tidak bisa dikendalikan dan masih belum mampu dilunasi sesuai jadwal, membuat financial perusahaannya menurun.
"Bagaimana kinerja Rustam ini?" Dendy menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kenapa, sih, Pa?" tanya istrinya saat masuk ke ruangan sambil membawa secangkir teh.
"Papa rindu sama Erwin."
Istri Dendy menghela napas. "Hubungan mereka sudah tidak bisa diselamatkan."
"Gara-gara Rustam!"
"Papa, dia menantu kita." Wanita paruh bayah itu memegang pundak suaminya.
"Papa tetap menganggap Erwin sebagai menantuku."
"Huh! Tapi kenyataan berbanding terbalik dengan harapan kita."
"Erwin adalah laki-laki terbaik yang pernah Papa temui. Dia anak cerdas yang masih peduli dengan agamanya. Padahal Papa ingin membuat Viola bahagia dunia-akhirat karena jadi pendamping Erwin."
"Takdir tidak bisa dirubah, Pa."
"Ini semua gara-gara Rustam!"
"Papa!" bentak ibu Viola menegur.
"Padahal Papa sudah mengizinkan Erwin untuk nikah lagi. Tidak masalah, asalkan dia tidak meninggalkan Viola. Tapi, malah Viola yang bermasalah."
"Daripada dibiarkan, Viola akan terus terjebak dalam dosa perselingkuhan, Pa. Erwin melakukan semua ini juga untuk kebaikan Viola."
Dendy mengusap-usap wajahnya lelah. "Erwin benar-benar laki-laki sempurna untuk dijadikan menantu."
"Papa sudah gagal membuat hidup Viola lebih baik," lanjutnya.
"Rustam yang akan membuat hidup Viola lebih baik, Pa."
"Tidak dengan agamanya, Ma. Bisa apa Rustam? Dia bukan imam yang baik, yang bisa meununtun Viola lebih dekat dengan Sang Pencipta. Tidak seperti Erwin."
Ibu Viola terdiam beberapa saat. Ia memilih pergi dari ruangan itu daripada melanjutkan perdebatan.
"Asstagfirullah." Dendy beristigfar kemudian menyruput teh hangat yang dibuatkan istrinya. Ia tidak pernah tau bagaimana cara menyelamatkan kehidupan putri kesayangannya selain menjadikan Erwin sebagai solusi. Dan, kini? Erwin malah tertendang dari area yang ia atur sendiri.
Perjodohan mereka berakhir tragis. Perpisahan menjadi ujung dari rasa sakit.
Bersambung...
Hargai penulis dengan follow Instagram nurudin_fereira
__ADS_1