
"Papa!!!"
Suara familiar itu membuat Erwin kebingungan. Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar, mencari di mana pemilik suara yang sudah begitu ia rindukan itu.
Namun, nihil. Erwin hanya melihat para pejalan kaki yang berlalu lalang di perempatan jalan, tepat di tengah gedung-gedung pencakar langit yang megah nan indah itu.
"Papa! Aku di sini!"
Erwin lagi-lagi dibuat bingung, karena berkali-kali memutar tubuhnya ke sana-kemari tanpa tau di mana posisi anak yang memanggil namanya itu.
"Isshh, Papa! Aku di sini!"
Dan, akhirnya. Erwin menyunggingkan seulas senyum ketika menemukan sang pemilik suara yang ia cari-cari itu.
Rena.
Ya, Rena dari kejauhan tampak melambai-lambaikan tangan ke arahnya. Tubuh mungil yang melompat-lompat kegirangan itu membuat Erwin ingin cepat-cepat menghampirinya.
Erwin langsung melesat, berlari menyusuri trotoar menyusul Rena untuk mengobati rasa rindunya. Namun, tubuhnya jatuh terjengkang, karena mendapat tendangan dari seseorang.
Erwin mengerjap-ngerjapkan matanya melihat sosok yang telah menendang perutnya hingga jatuh tersungkur itu. Ia menelan ludah. "Chanyeol?" Salah satu anggota group idol Korea? Kenapa bisa ada di sini?
Chanyeol tersenyum sinis. "Dia anakku!" ucapnya dingin.
Erwin menggeram, kemudian bangkit dari posisinya. Tatapannya kembali beralih ke arah Rena yang terus memanggil-manggil namanya dari kejauhan.
Erwin menerjang tubuh Chanyeol yang menghadang jalannya.
Mentang-mentang ganteng dan populer, seenaknya saja mengaku-ngaku jadi orangtua Rena. Erwin tak peduli lagi dengan ocehan Chanyeol yang meringis memegangi bokongnya di pinggir trotoar. Yang ada dipikirannya hanyalah Rena. Rena yang terus memanggilnya di depan sana.
Erwin mengerem secara mendadak, karena tubuh kecil Rena disahut oleh seseorang berambut merah kecoklatan dan dibawa lari begitu saja. "Xiumin!!! Kembalikan anakku!!!" teriak Erwin sok kenal. Sangking seringnya mendengar celotehan Zahra soal member EXO, membuat Erwin dapat menghafal wajah para personil K-Popers yang meracuni perempuan Indonesia itu.
"Papa, tolong aku!!!" Rena meronta-ronta digendongan Xiumin. Membuat Erwin tak tega melihatnya. Dengan tergesa-gesa, Erwin langung berlari mengejarnya.
Suho dan Sehun dengan sigap menghentikan langkah Erwin.
"Lepaskan!" bentak Erwin karena kedua tangannya dicekal oleh Sehun dan Suho.
"Lepaskan!!!"
Suho dan Sehun hanya tersenyum. Karena kelewat kesal, dengan sekuat tenaga Erwin menghempaskan tubuh mereka berdua hingga tercebur ke dalam selokan.
"Renaaaaaa!!!" pekik Erwin kembali berlari sekuat tenaga mengejar Rena.
Xiumin membawa Rena masuk ke dalam mobil. Sontak saja Erwin langsung memukul-mukul pintu kaca mobil dengan panik.
"KEMBALIKAN PUTRI KECILKU!!!"
"BUKA!!! HEY... OPPA, BUKA!!!"
"OY, BOYBAND CAMEROON!!!"
Mobil itu melaju tanpa memperdulikan teriakan Erwin.
"Rena!"
__ADS_1
"RENAAAA!!!"
Erwin terbangun dari tidurnya dengan napas terengah-engah. Hufftt, cuma mimpi.
"Kamu kenapa, sih, Mas?" tanya Zahra di sebelahnya. Ternyata Zahra belum tidur. Masih sibuk bermain dengan ponselnya. Tengah malam seperti ini memang waktu yang cocok untuk mengunduh video drama Korea dan juga album K-pop favoritnya, karena sinyalnya lancar jaya tanpa ada gangguan.
"Rena diculik sama para personil Exo."
Seketika itu juga, Zahra langsung menjatuhkan ponselnya. "Yang bener, Mas?"
"Iya, di mimpi." Erwin mengusap-ngusap wajahnya.
"Hadeh, itu cuma mimpi, Mas." Zahra memutar bolamatanya. "Mungkin, kamu terlalu cemas dengan keadaan Rena. Sampai-sampai terbawa ke alam mimpi."
"Bukan! Itu pertanda bahwa kamu nggak boleh sering-sering nonton draKor, sama K-pop. Mereka itu jahat."
Zahra terkikik. "Kamu itu terlalu mendramatisir keadaan, Mas."
Erwin melirik ke arah jam di dinding kamarnya. Pukul 02.23 pagi. "Solat tahajud berjamaah, yuk?" ajak Erwin.
Zahra langsung terlonjak. Solat tahajud? Bagaimana mungkin? Ia sama sekali belum tidur. Zahra rela menahan kantuk hanya demi menanti sinyal terbaik dini hari untuk mendownload film Korea. Sedangkan, syarat untuk melaksanakan solat tahajud saja harus tidur dulu.
***
Seperti biasa, setelah pulang dari kantor. Erwin langsung mampir dulu ke rumah makan yang dikelola istrinya. Entah kenapa Zahra seperti magnet yang membuat dirinya tidak ingin jauh-jauh dari wanita itu. Ia tidak ingin di rumah sendirian karena hal itu hanya akan membuatnya ingat pada Rena.
Pria itu langsung mematung di tempatnya. Ketika melihat dua sosok pelanggan yang sedang asyik melahap makanan di sudut ruangan.
Refan terkekeh melihat ekspresi terkejut dari mantan atasannya itu. Sesaat kemudian Erwin langsung tersadar dari keterdiamannya. Di sebelah pria bersetelan rapi itu ada wanita paruh bayah yang mengenakan busana berwarna navy.
"Bagaimana kabarnya, Bu?" tanya Erwin mencium tangan, Santi, Ibu Viola dengan takdzim.
"Ya, seperti inilah." Santi memaksakan seulas senyum.
Erwin masih terlihat kikuk. "Vina!" panggilnya. Dengan cepat Vina langsung menghampiri Erwin.
"Bawakan satu porsi ke meja ini, ya." Ujar Erwin yang dijawab Vina dengan anggukan. Gadis itu langsung melesat ke dalam dapur. Kebetulan Erwin juga merasa lapar, sekalian menemani mereka menyantap makanan.
"Usahanya lancar, Bos?" Refan kembali membuka suaranya.
"Alhamdulilah." Erwin mengangguk sambil menatap heran kepada Santi yang terlihat sendu.
"Ibu boleh tanya-tanya ke kamu?" tanya Santi, itulah tujuannya kemari.
"Tentu, Bu. Dengan senang hati."
"Kamu masih berkomunikasi dengan Viola?"
Deg.
Erwin terdiam. Pertanyaan itu sungguh membuat hati Erwin terasa ngilu. Erwin menggeleng lemah. "Saya sudah menelpon Viola berkali-kali tapi nomornya tidak pernah bisa dihubungi. Padahal saya hanya ingin berbicara dengan Rena, untuk menyembuhkan rindu."
Bulir bening tiba-tiba menetesi pipi Santi. Santi sudah tidak bisa lagi membendung tangisnya yang sedari tadi ia tahan. "Semenjak pindah ke Paris, Viola juga tidak pernah memberi kabar kepada Ibu. Nomornya juga tidak pernah bisa dihubungi," ucapnya dengan nada bergetar.
Membuat Erwin semakin gusar.
__ADS_1
"Ibu khawatir sama Viola dan Rena, Win. Kenapa kalian harus berpisah. Kenapa Viola lebih memilih hidup bersama Rustam daripada dengan kamu?"
Perasaan manusia memang sulit untuk dikendalikan. Andaikan Erwin bisa merubah ini semua, pasti ia tetap ingin hidup bersama Viola.
"Erwin yakin, mereka baik-baik saja di sana. Rustam pasti melindungi mereka."
"Ibu rasa Rustam bukan orang baik-baik." Santi mengelapi air mata di pipinya dengan tissue.
Erwin terdiam.
"Kalau Rustam orang baik-baik. Pasti dia tidak akan mengambil hak orang lain. Viola itu anak saya, Win, dan saya menginginkan kamu yang menjaganya, tapi kenapa Rustam merusak itu semua?"
"Terkadang, kita sebagai manusia sulit untuk mengendalikan perasaan, Bu. Rasa cinta, lah, yang berkuasa. Ketika ego selalu menang dari logika. Saya yang patut disalahkan karena saya sudah gagal menjadi seorang suami."
Santi menarik napas panjang. "Saya kangen sama Viola, Win. Apa yang bisa Ibu lakukan, kalau Rustam mengambil satu-satunya harta berharga yang Ibu punya?"
"Gara-gara Rustam, Viola melakukan keputusan-keputasan yang kontroversial." Santi mengelapi air matanya dengan tissue. "Rustam itu racun. Viola berubah gara-gara dia. Erwin, saya mohon!"
Lidah Erwin terasa kelu menatap mantan mertuanya itu.
"Tolong! Kembalikan Viola pada Ibu!" Santi menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.
Erwin melirik ke arah Refan yang menunduk. "Apa yang harus saya lakukan, Bu?"
"Viola sudah bukan hak saya."
Santi menggeleng lemah. "Huftt... kamu benar. Yang jelas... ibu menyesali keputusan Viola meninggalkanmu yang sudah memberikan perubahan baik bagi hidupnya."
"Ketika cinta merubah kehormatan menjadi sebuah penghinaan." Refan menyahuti.
"Itulah, hawa nafsu!" timpal Santi penuh penekenan.
"Cinta tidak meminta bayaran apapun, selain setumpuk air mata, hati yang hancur, dan waktu yang terbuang secara sia-sia." Ucap Refan rasional. Santi bergeming penuh penyesalan.
"Ini keselahan fatal yang pernah dilakukan Viola. Dulu, kenapa kamu tidak pernah bilang ke Ibu kalau Viola suka main selingkuh. Kenapa kamu malah menutupi semuanya?"
Erwin seperti terdesak dengan ucapan Santi.
"Andai saja waktu itu kamu bilang. Saya pasti akan mati-matian melindungi Viola." Santi tidak menemukan solusi atas masalah Viola yang menetap di Paris. Jadi, biarlah dirinya sebentar saja mengoreksi kesalahan masalalu rumah tangga anaknya itu. Terkadang, berandai-andai itu lebih menenangkan daripada mengatur strategi untuk masa depan.
Meski sebenarnya Erwin tidak mau lagi membahasnya, yang Erwin pikirkan hanyalah nasib Rena.
"Karena..." Erwin menyeritakan seluruh kronologis kejadian rumah tangga Erwin dan Viola kala itu. Saat pikirannya sudah buntu. Lomba Selingkuh, lah, satu-satunya cara paling bodoh yang ia tempuh. Sehingga hubungan mereka retak, dan Viola semakin menggila melakukan hal yang tidak-tidak. Awalnya, Erwin melakukan itu hanya untuk membuktikan bahwa ia juga bisa selingkuh, bahwa dia juga bisa melakukan apa yang dilakukan Viola, dan pada endingnya dia akan bilang pada Viola itulah tantangan rumah tangga yang harus dijalani, bukan perpisahan yang mengakhiri, melainkan kesetiaan. Namun, Viola malah merencanakan pembunuhan hanya untuk memuluskan rencananya hidup dengan Rustam. Dan... Santi tak henti-hentinya menangis. saat cerita Erwin sampai pada kata. "AKHIRNYA KITA BERCERAI."
Bersambung...
Semoga feelnya dapet.
Silent rider please comment dong, biar cepet update hehe...
Follow ig : nurudin_fereira
fb : nurudin fereira
Salam literasi
__ADS_1