Bos Somplak

Bos Somplak
Part 43 : Adu Cerdik Rustam VS Polisi


__ADS_3

"Mas, Aku pengen pulang!" ucap Viola yang duduk di tepi ranjang sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


Rustam yang baru saja memasuki kamar menghela napas lelah. "Tidak, Sayang, tidak untuk sekarang."


"Mau sampai kapan?!" Viola mengeraskan nada suaranya. "Mau sampai kapanpun juga kamu tetap akan jadi buronan," lanjutnya sambil membuang pandangannya ke arah lain.


Rahang Rustam langsung mengeras. Bola matanya menyorot Viola tajam. "Kamu bilang cinta sama aku? Kamu juga sudah berjanji akan selalu bersamaku. Tapi sekarang apa?!"


Viola kembali menatap Rustam yang berdiri di hadapannya dengan wajah geram. "Cintaku sudah pudar setelah aku tau kalau kamu itu seorang mafia! Kamu itu penjahat!!"


"Kamu mau menyakitiku untuk yang kedua kalinya?!" Rustam tidak kalah sengit. "Dulu kamu ninggalin aku tanpa penjelasan, lalu tiba-tiba menikah dengan Erwin. Sekarang...."


"Kamu telah menghancurkan keluargaku!" potong Viola tidak mau kalah. "Semua apa yang aku lakukan kepadamu tidak sebanding dengan apa yang kamu perbuat saat menghancurkan keluargaku."


"Aku jadi begini hanya demi kamu!" Rustam menggeram, matanya seolah menyimpan lahar panas yang siap membakar Viola kapan saja. "Aku bergabung dengan gengster, mencari uang dengan cara apapun, melakukan kejahatan agar dapat harta yang melimpah. Hanya demi memantaskan diri untuk kamu! Tapi, apa?! Ayahmu malah menjodohkanmu dengan laki-laki miskin seperti Erwin!"


Viola terdiam beberapa saat menatap Rustam dengan napas tak beraturan. "Tapi caramu salah!"


"Dan, kamu yang harus bertanggung jawab!"


Viola mengernyit. "Kenapa harus aku?" tanyanya.


"Karena kamu yang membuat aku jadi begini!"


"Aku nggak perduli! Pokoknya aku pengen pulang sekarang ju...."


Plakkk...


Rustam menampar wajah Viola dengan keras. "Cukup!"


Viola memegangi bekas tamparan di pipinya yang teramat perih, seperti hatinya sekarang.


"Kamu tidak akan pernah pulang!" desis Rustam, aura jahat begitu mendominasi suaranya. Rustam sudah mirip iblis yang menampakkan diri setelah lama melakukan penyamaran.


Viola hanya bisa menangis. Rasa takut dan sesal tercampur aduk menjadi satu. Ia sudah berada di dalam neraka sebelum ajal menjemputnya. Ini semua karena kebodohannya yang memilih menghancurkan syurganya sendiri demi kebahagiaan palsu yang dipamerkan oleh Rustam. Sekarang, hanya penyesalanlah yang bisa ia terima.


"Kamu tetap di sini, atau pulang dengan keadaan mati!" bisik Rustam dengan nada mengerikan, Viola hanya bisa menyipitkan mata. "Karena membiarkanmu pulang sama saja menyeretku ke penjara."


"Penjahat!" pekik Viola dengan suara serak.


Plakkk...


Rustam kembali menampar Viola untuk yang kedua kalinya. Laki-laki itu terkekeh. "Aku tidak perduli, yang penting kamu tetap milikku!"


Rustam berbalik badan untuk pergi dari apartemen yang mereka tinggali. Tak lupa ia membawa semua kartu akses masuk apartement agar Viola dan Rena tidak bisa keluar dari apartemen yang mereka tinggali.


Viola menangis terisak-isak di atas ranjang. Ia merasa bersalah kepada Rena, yang harus ikut menderita karena dirinya. Menyesalpun sudah tidak ada gunanya lagi.


***

__ADS_1


Salah seorang pria yang memakai jas hitam rapi menyerahkan pistol ke arah Rustam saat ia baru saja memasuki ruangan khusus yang berada di gedung tua tempat Rustam dan geng-gengnya bersembunyi.


Rustam tersenyum licik melihat empat orang yang duduk terikat tambang di kursi.


"Mereka adalah agen rahasia yang menyamar sebagai pembeli dan berusaha menangkap kita." Salah seorang yang menjaga mereka menuturkan penjelasan kepada Rustam.


Duooorrrrrr....


Satu peluru langsung meluncur mulus ke kepala salah satu tawanan mereka. Ketiga orang yang masih hidup hanya meneguk ludahnya dengan susah payah, menatap Rustam yang mulai berjalan mendekat.


"Ditangkap di mana mereka?" tanya Rustam meniup ujung pistol yang telah berhasil melenyapkan nyawa satu orang.


"Di Bandung, Pak. Kami berhasil menangkap mereka sebelum kedok mereka terbongkar. Untuk menghilangkan jejak, saya menyuruh kawan-kawan yang berada di sana untuk mendaratkan mereka ke Beijeng."


Duooorrr....


Rustam menyeringai. "Berani sekali," ucapnya setelah menembak satu orang lagi.


"Lalu, apakah masih ada orang yang masih hidup dengan tenang, setelah tau informasi dari mereka tentang kita?" tanya Rustam dingin namun menusuk.


"Sepertinya tidak, Pak. Mereka belum sempat memberi informasi kepada tim mereka."


Duooorrrr...


Duooorrrr....


Habis sudah, keempat agen rahasia itu tewas sebagai pahlawan yang mencoba melindungi negara tercinta dari komplotan perusak generasi penerus bangsa.


Rustam menuju ke lantai 7, menuju ke ruangan khusus yang cukup luas dan megah. Terdapat beberapa orang yang sedang sibuk memainkan laptop dan beberapa orang lainnya yang sibuk menelpon.


"Bagaimana kabar tim intelijen yang berusaha menangkap kita di Paris?" tanya Rustam setelah duduk di sofabed sambil meneguk beer pada gelas berukuran mini yang dituangkan oleh anak buahnya.


"Sempat mengkhawatirkan, karena mereka menangkap penadah perdagangan manusia. Dan, membawanya ke Paris untuk melacak keberadaan kita," jelas salah satu pria berkepala plontos.


Rustam menyalakan seputung rokok, kemudian menyemburkan asapnya ke udara. Mengamati penjelasan dari salah satu anak buahnya.


"Untung saja kita berhasil bekerja sama dengan pimpinan BIN, Brigadir Sukarja untuk membuat tim mereka gagal menjalankan aksi penelusuran. Memanipulasi beberapa data, agar kita tidak terdeteksi oleh mereka." Pria berkepala plontos itu tersenyum.


Rustam menyeringai. "Kerja bagus, beri dia upah yang sepadan."


"Baik, Pak."


Rustam beralih ke arah pria yang sedang fokus dengan laptopnya. "Bagaimana dengan hasil peretasan perusahaan Indophone?"


Pria berkaca mata itu menghela napas kasar. "Mereka merubah system keamanan yang sulit sekali ditembus. Bahkan kita tidak bisa lagi menyadap situs mereka karena mereka sudah mengganti situs mereka dengan keamanan yang hampir mustahil untuk diretas."


Rustam mengepalkan tangannya geram. "Erwin benar-benar jenius."


***

__ADS_1


Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya Komisaris Besar Bambang Wijayanto berujar. "Tidak mudah menyelediki jaringan narkoba. Apalagi menangkap mafia yang mengontrol seluruh jaringan perdagangan, kita harus selidiki pelan-pelan dari mulai pengedar, kurir, kemudian mobil pengangkut yang mungkin sudah menyuap aparat keamanan untuk tutup mulut dan mempersilahkan mereka masuk."


Dendy menangis, meratapi nasib anak dan cucunya yang entah masih hidup atau tidak bersama seorang mafia.


"Lebih baik anda pulang saja, Pak. Kami akan urus semuanya." Brigradir Sukarja, pimpinan BIN, memegang pundak Dendy berusaha menguatkan. "Doakan yang terbaik agar mereka baik-baik saja."


"Saya tidak tenang jika kembali ke Indonesia tanpa membawa anak saya." Dendy menatap nanar ke arah Brigadir Sukarja. Sudah satu minggu ia berada di Paris. Namun, belum juga menemukan keberadaan Viola.


"Kami harus mencari markas persembunyian mafia secara pelan-pelan, Pak. Mereka sangat licik," ucap Brigadir Sukarja.


"Bisa dipastikan bahwa mereka juga bekerja sama dengan salah satu anggota kepolisian agar transaksi mereka berjalan dengan lancar. Semua orang bisa jadi penjahat, bahkan superhero yang terlihat baik sekalipun."


Dendy memejamkan matanya perih. "Izinkan saya tetap ikut menemani, apapun yang terjadi, Pak."


Komisaris besar Bambang Wijayanto menghela napas. "Sungguh, ini adalah kasus yang cukup sulit untuk dituntaskan, Pak."


"Ada baiknya kalau kita kembali ke Indonesia untuk beristirahat," ujar Brigadir Sukarja kontroversial.


Tiba-tiba tangan Brigadir Sukarja di borgol oleh salah satu anggota kepolisian.


"Apa-apaan ini?" Brigadir Sukarja tampak terkejut.


Salah satu anggota kepolisian menyeringai. "Bring him here!" ujarnya kepada anggota kepolisian Paris yang bekerjasama dengan mereka.


"Ready." Polisi yang berasal dari Paris itu mengangguk, kemudian keluar dari apartemen. Tak lama kemudian, ia masuk membawa seorang pemuda memakai jaket hitam yang tangannya sudah diborgol dan menghempaskannya ke lantai.


"Thank you, Sir." Polisi yang memborgol tangan Brigadir Sukarja tersenyum hormat kepada salah satu anggota kepolisian Paris. Dendy hanya terperangah bingung.


"Dia adalah penadah yang memiliki informasi banyak tentang jaringan narkoba dan jaringan perdagangan manusia yang digerakkan oleh mafia," jelas Polisi itu. "Apa Bapak pikir kami tidak curiga dengan gelagat Bapak yang terlihat berbelit-belit saat melakukan penelusuran, terkesan ingin menyerah dan berusaha membuat tim kita gagal mendapatkan informasi."


Brigadir Sukarja terbelalak dengan penuturan anak buahnya itu.


"Untuk itu saya dan Komisaris Besar Bambang Wijayanto mencoba bekerja sama dengan pihak kepolisian Paris untuk menyadap ponsel Bapak, dan menangkap salah satu pelaku yang masih berkeliaran di Paris yang berperan sebagai penadah dari Indonesia ke Paris. Kami diam-diam mencari pelaku tersebut." Polisi menunjuk pria berjaket hitam yang terduduk di lantai dengan tangan terborgol. "Yang entah kenapa Bapak terlihat enggan menyuruh tim untuk menangkapnya."


Brigadir Sukarja hanya terdiam pasrah.


"Kenapa Bapak bisa tergiur dengan iming-iming upah dari mereka? Bapak hancurkan generasi bangsa kita dengan membiarkan jaringan narkoba beroperasi secara lancar, hanya demi uang yang tidak menjanjikan kebahagiaan?" Polisi itu tersenyum miris. "Sungguh, Bapak, adalah penghianat bangsa!"


Dendy masih belum mengerti dengan drama yang dimainkan oleh kepolisian.


Komisaris Besar Bambang Wijayanto ikut berkata. "Maaf, Anda, harus dipulangkan ke jeruji besi yang sepertinya lebih nyaman, daripada keindahan alam Indonesia yang anda sia-siakan dan campakkan," ucapnya kepada Brigadir Sukarja.


"Dan, Beijeng adalah tempat persembunyian mereka saat ini. Sesuai keterangan pelaku, dan dari hasil penyadapan kami pada ponsel Bapak." Polisi jenius bernama Aldo tersebut tersenyum santai. "Bapak sudah tau dari awal, dan memilih tidak memberitahunya. Saya akui hebat, karena Bapak adalah penghianat bangsa sejati."


"Jadi, apapun pangkat kita, siapapun dia, semua bisa berkhianat. Kita harus waspada, meskipun kepada teman-teman kita sekalipun. Hanya satu hal yang kita harus pegang, keyakinan kepada Tuhan dan jiwa nasionalisme kita kepada negara tercinta." Aldo memberi wejangan kepada seluruh anggota kepolisian.


Beberapa anggota Kepolisian Paris terkekeh kecil. "Indonesian people are full of drama and plays."


Aldo merasa malu, karena negaranya disindir oleh Polisi Paris. Kemudian ia tersenyum. "In Indonesia facts and honesty can be bought with money."

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2