Bos Somplak

Bos Somplak
Part 55 : Rustam dan Caramel


__ADS_3

Rustam mengelapi luka di lengan Caramel menggunakan tissue basah dengan tlaten. "Kenapa lo nekad banget nyerang tempat ini?"


"Gue pengen bunuh lo!" ringis Caramel sebal karena lukanya sedang dibersihkan oleh Rustam.


Rustam tersenyum tipis. "Lo udah menyeret diri lo sendiri ke dalam jurang kematian. Sebaiknya lo menyerah dan pulang sekarang. Cari misi lain yang lebih mudah. Jadi anggota intelijen itu juga harus mementingkan keselamatan."


"Eh, tiap hari gue cuma dengerin temen-temen gue yang pengen memenggal kepala lo!" Caramel mengeraskan nada suaranya. 


Rustam mendongak, kemudian tersenyum. "Sadis!" ucapnya sambil berdiri dan mengibas-ngibaskan tangannya.


"Kenapa, sih, lo menjalankan bisnis haram kayak gini?" Caramel kembali memakai seragam intelijennya yang sedikit robek-robek.


"Sama alasannya kenapa lo pakai seragam itu." Rustam menunjuk seragam yang dipakai Caramel. "Karena pangkat. Gue lebih dihargai di sini."


"Lo udah merusak generasi bangsa!" Caramel mendengus.


"Haha, gue nggak perduli." Rustam mencuci tangannya di kran yang berada di wastafel. "Mendingin sekarang lo mikirin bagimana caranya lo bisa keluar dari tempat ini."


Caramel menghela napas. "Gue harus selamatin temen-temen gue."


"Bagaimana kalau yang pengen lo selamatin itu udah mati?" 


"Gue akan bawa Viola pulang ke Indonesia."


Brakkk...


"Tidak usah ngelakuin hal konyol, Mel!" Rustam menggebrak wastafel dengan kasar.


Caramel menyunggingkan seulas senyum. "Bener, kan? Mungkin gara-gara itu cewek lo berubah jadi iblis kayak gini."


Rustam kembali menoleh ke arah Caramel. "Karena dengan menjadi penjahat kita bisa meraih sesuatu secara instan."


"Otak lo kosong!"


Bukannya tersinggung, Rustam malah tertawa terbahak-bahak. "Gue kayak gini karena benci dengan ketidak adilan, ketidak pedulian, kebodohan, dan kesoksucian orang-orang yang ada di negara lo!" Ekspresi Rustam berubah menjadi mengerikan.


"Termasuk Viola?" sindir Caramel sinis. "Yang dulu udah menyakiti perasaan lo? Lalu, kenapa sekarang lo balik lagi ke dia? Hmm, merebutnya yang sudah berstatus istrinya orang dengan cara busuk."


"Karena dari dulu hanya Viola, lah, yang menganggap gue ada. Tapi, sayangnya orangtuanya malah menjodohkan Viola dengan Erwin?" 


"Hanya Viola, ya? Terus mantan istri lo yang udah lo sakiti gimana?"


"Dia mata duitan. Sama kayak orang tuanya."


"Lalu, bagaimana dengan ibu?" sindiran Caramel kali ini mampu membuat Rustam tertohok.


Mendengar nama ibu terlontar dari bibir Caramel membuat suasana hati Rustam menjadi sendu. Pria itu meneguk ludahnya dengan susah payah, dengan air mata yang mulai bergerumul di pelupuk mata. "Gimana kabar ayah dan ibu?" lirih Rustam dengan suara serak.


"Sebentar lagi lo jadi yatim piatu." Caramel ikut meneteskan air mata, sambil mengalihkan pandangan ke arah lain.


Rustam melangkah perlahan menghampiri Caramel kemudian berjongkok di hadapan adiknya. "Ma..., maksudnya?" tanya Rustam dengan suara bergetar.


"Ayah meninggal karena serangan jantung gara-gara tau kalau nama lo jadi buronan, dan sementara ibu...," Caramel mencoba menetralkan pernapasannya yang mendadak sesak. "Sekarang lagi sakit-sakitan di rumah."

__ADS_1


Rustam tertegun, seluruh tubuhnya tampak gemetar. "I... Ibu...."


"Mana janji lo ke Ayah buat jadi anak yang membanggakan?" bentak Caramel sambil menyeka air mata di pipinya. "Nyatanya lo malah menghilang bertahun-tahun dan muncul dengan status buronan. Lo udah sukses bikin Ayah menjadi manusia paling sial hidup di bumi."


Rustam tidak bisa berkata apa-apa lagi. 


"Mana janji lo buat naikin haji Ayah? Mana janji lo buat mengangkat derajat keluarga kita? Lo cuma berhasil bungkam mulut orang-orang yang udah nginjek-nginjek keluarga kita yang miskin pakai pisau tajam."


Caramel beranjak dari duduknya. "Gue pengen nyusul Ayah, gue pengen bilang ke ayah kalau gue sudah berhasil menjadi anak kebanggaannya. Gue pengen meluk Ayah setiap hari, gue pengen nemenin ayah di sana, gue gak akan biarin ayah menderita lagi."


Tenggorokan Rustam terasa kering. Ia hanya bisa menggigit bibir bawahnya menahan tangis.


"Ini akan jadi pengorbanan terakhir gue untuk tanah air gue. Semoga Keyla bisa jagain ibu dengan baik, tanpa meniru gaya hidup kakak-kakaknya yang berbahaya."


Caramel berbalik badan, untuk keluar dari ruangan itu. Saat sampai di depan pintu ia terhenti, kemudian kembali menoleh ke arah Rustam. "Terimakasih, Kak, sudah mempermudah jalan gue ketemu ayah sebagai pahlawan tanpa tanda jasa," ucapnya kemudian melanjutkan langkahnya pergi dari hadapan Rustam.


Rustam meneguk ludahnya dengan susah payah dengan tangan yang terkepal dingin.


***


Aldo meneguk ludahnya dengan susah payah saat bersembunyi di samping lemari besar di sebuah kamar. Walaupun ia berhasil membunuh semua musuhnya di lantai empat, tetapi banyak anak buahnya yang sudah mati tertembak. Kini tinggal ia sendirian, dikejar oleh dua pria memakai jubah kungfu berwarna abu-abu.


Terdengar suara ketukan sepatu memasuki kamar itu. Aldo terkesiap saat kedua pendekar kungfu itu mengobrak-abrik seisi kamar dengan tombaknya, mencari tempat persembunyian Aldo.


Aldo menggeser kakinya agar tidak terlihat. Jantungnya berdetak begitu kencang sangking was-wasnya. Bukan hanya bunyi sepatu yang melangkah, kini ia juga mendengar suara tombak yang diseret ke lantai.


Dorrr!!!


Dorrr!!!


Di ambang pintu sudah ada tiga anggota team AR21 dengan senapan laras panjangnya.


"Syukurlah, kalian selamat." 


Ketiga orang itu tersenyum.


"Bagaimana keadaan Caramel?"


Pria yang memakai kacamata menggindikkan bahunya. "Entahlah."


Aldo memijat-mijat pangkal hidungnya pusing. "Lebih baik kita hentikan misi. Pertahanan mereka terlalu kuat."


"Bagaimana dengan mayat-mayat teman kita?"


Aldo menghela napas panjang, kemudian menendang lemari sekuat tenaga. "Brengsekkkk!!!" umpatnya kesal.


"Dasar, mereka tidak punya hati!" Aldo memukul-mukul lemari itu dengan kesal.


"Siapa yang tidak punya hati?"


Sahut suara yang membuat mereka berempat menoleh.


"Udah tau kita nggak punya hati, kenapa masih diserang?" ucap Lexus tenang bersama sepuluh pria bertuxedo hitam yang menodongkan pistol ke arah mereka.

__ADS_1


Aldo dan ketiga anggota team AR21 memundurkan langkahnya.


"Taruh senjata kalian!" ujar Lexus berjalan mendekati mereka. 


Mau tidak mau mereka berempat menjatuhkan senjatanya. Anak buah Lexus langsung memeriksa tubuh mereka, takut jika mereka masih menyembunyikan senjata tajam dibalik seragam.


"Bawa mereka ke rooftop," titah Lexus menggiring mereka ke atas gedung.


***


Kini mereka berempat sudah berada dihadapan Mr. Jacob, Rustam, Lexus, dan juga anak buahnya. Mungkin tinggal menunggu ajal yang akan menjemput mereka satu-persatu.


Mr. Jacob tersenyum puas, sementara Rustam bersedekap santai dengan wajah datar di belakangnya. 


"Kalian terlalu berani mengusik kerajaan kami." Mr. Jacob berjalan mondar-mandir di depan meraka. 


"Aldo Flavio, setelah kau berhasil membongkar kedok yang dimainkan Brigjen Sukarja, kau juga telah berani mengusikku." Mr. Jacob menjambak rambut Aldo. "Apa yang sebenarnya kau cari-cari di dunia ini?"


"Aku akan melenyapkan siapapun yang mengganggu teritorial kedaulatan negara Indonesia." Aldo mengeraskan rahangnya.


Mr. Jacob tertawa kencang. "Hay-hay Aldo, negaramu itu sudah hampir hancur digerogoti rayap. Kebhinekaan tunggal Ika sudah tidak dipakai lagi. Orang-orangnya saling bunuh, saling mencaci, menghina, pimpinannya otaknya kotor, segala kelicikan selalu berjalan dengan lancar asalkan ada uang. Untuk apa kau menyelamatkan negara yang sudah hampir hancur itu?" 


"Justru bedebah sepertimu yang perlu dihancurkan!" Aldo berdecih.


"Karena aku jahat?" jawab Mr. Jacob tenang. "Ya, ya, ya, ciri khas orang Indonesia selalu menganggap orang-orang di dekatnya itu jahat, padahal tidak ada orang jahat di dunia ini. Mereka saja yang tidak pernah mau mengerti keadaan seseorang. Hanya memikirkan dirinya sendiri, makanya mereka selalu sinis kepada sesamanya tanpa memikirkan keadaan orang lain."


Mr. Jacob kembali menjambak rambut Aldo, hingga Aldo meringis kesakitan. "Kalau kau bisa melenyapkan uang, negerimu itu akan aman dan tentram."


Mr. Jacob menghempaskan kepala Aldo kemudian berjalan menghampiri Rustam. "Bunuh mereka dengan tembakmu," titah Mr. Jacob memberikan pistol kepada Rustam.


Rustam terdiam, menatap Aldo dan ketiga anak buahnya dengan tatapan tajam.


"Rustam, cepat bunuh mereka! Aku muak melihat wajah mereka!!"


Rustam hanya bergeming, tatapannya lurus menatap ke depan.


"Apakah kau tidak ingin membunuh mereka?" tanya Mr. Jacob dengan tidak sabarannya.


"Ayo, lakukanlah!"


Rustam melirik ke arah pistol yang ia genggam kemudian beralih menatap Aldo dan ketiga anak buahnya yang diikat di sebuah kursi.


"Hmm, apakah kau ingin dia juga ikut mati?" Mr. Jacob tersenyum remeh.


Datang dua anak buahnya sambil membawa Caramel yang wajahnya babak belur tak keruan. 


Rustam tersentak saat kedua anak buahnya menghempaskan tubuh Caramel yang sudah tak berdaya ke lantai.


"Dia adikmu, kan?" Mr. Jacob tertawa.


"Cepat bunuh mereka kalau ingin adikmu selamat."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2