
Sudah berhari-hari Zahra mengurung diri di dalam kamar. Malas melakukan aktivitas apa-apa, hidupnya terasa tidak tenang memikirkan nasib ketiga anak panti yang diculik, yang hingga saat ini masih belum mendapat kabar apapun dari kepolisian.
Hal itu membuat Erwin kerepotan. Karena selain harus mengurusi pekerjaannya, Erwin juga harus bolak-balik ke rumah untuk menjenguk Zahra.
"Kamu udah makan?" tanya Erwin sembari duduk di tepi ranjang. Menatap Zahra yang terdiam dengan tatapan kosong.
Perempuan itu menjawab pertanyaannya dengan gelengan.
"Aku ambilin makan, ya?" lirih Erwin mengelus-ngelus kaki Zahra.
Namun Zahra tetap menggeleng.
"Nanti sakit, lho, perut kamu belum diisi sejak pagi?"
Masih menggeleng.
Erwin menghela napas, bingung bagaimana cara menghibur sang istri. "Mau sampai kapan kayak gini?"
"Sampai anak-anak ketemu, Mas," jawab Zahra dengan suara serak. Pandangan matanya masih lurus ke depan.
"Banyak-banyak berdoa, biar anak-anak diberi keselamatan."
"Nggak mungkin, Mas. Mereka sudah dibawa keluar negeri. Nggak ada harapan lagi buat mereka untuk selamat." Zahra kembali terisak.
"Mana telapak tangan kamu." Erwin menarik tangan Zahra dan mengusap-usap telapak tangan perempuan mungil bertubuh langsing itu.
"Siapa kita? Kita bisa apa?" Erwin berucap getir. "Semua kendali penuh ada di tangan Tuhan," lanjutnya dengan penuh penekanan.
"Kita nggak bisa apa-apa, Ra. Jangan menganggap semua sudah berakhir. Itu sama saja kamu menghina Tuhan karena tidak bisa menyelamatkan mereka. Kalau kita tidak bisa bergerak menyelematkan mereka, kita masih bisa berdoa, dan selebihnya biarkan Tuhan yang mengambil keputusan. Semua yang terjadi sudah menjadi garis takdir dari Tuhan."
"Kita ini lemah, Ra. Jangan kan, menyelamatkan orang lain. Menyelamatkan diri sendiri saja kita tidak mampu. Makanya kita selalu butuh Tuhan, Ra."
"Kita tidak bisa melawan takdir. Yang bisa kita lakukan hanyalah pasrah dan berdoa yang terbaik." Erwin tiba-tiba ikut meneteskan air mata, karena teringat dengan takdir perpisahannya dengan Viola dan Rena.
Setelah menenangkan Zahra nanti, Erwin jadi ingin menyembuhkan rasa rindunya kepada Rena dan Viola.
"Sekarang kita solat, yuk! Tenangkan dirimu, dan yakinlah Tuhan akan menolong kita." Erwin mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Zahra akhirnya mengangguk. Erwin membantu Zahra untuk beranjak dari ranjangnya.
Mereka berwudhu lalu melakukan solat dzuhur berjamaah. Kemudian Erwin memanjatkan doa untuk anak-anak panti yang diculik. Zahra mengamini sambil menangis tersedu-sedu.
Setelah selesai berdoa, Zahra mencium tangan Erwin. "Sehabis ini, kamu makan, ya!"
Zahra mengangguk. "Aku mau berdoa lagi, Mas."
Erwin tersenyum. "Berdoalah, luapkan seluruh kekhawatiranmu kepada Tuhan."
Zahra mengangguk.
"Dzikir dulu, minta ampunan dan bertaubat. Karena penghambat terkabulnya doa-doa kita adalah menumpuknya dosa."
Zahra menyipitkan matanya. "Dosaku banyak, Mas."
"Allah maha pengampun."
Zahra terdiam.
"Allah itu ramah dan penuh rahmah."
__ADS_1
"Dosamu banyak? Coba liat rahmat-Nya jauh lebih banyak."
"Dosamu besar? Coba liat ampunan-Nya jauh lebih besar."
"Kita nangis dihadapan-Nya, Allah senyum melihat kita. Kita berjalan ke arah-Nya. Allah lari menyambut kati."
"Itu yang membuat kita optimis."
"Percayalah kalau semua ada di tangan Tuhan. Semua cobaan itu datang untuk membuktikan kalau kita sangat membutuhkan Tuhan."
Zahra memeluk Erwin sambil menangis terisak-isak. Mukenah yang ia kenakan sampai basah oleh air mata. Zahra bersyukur memiliki suami seperti Erwin. Ia bersyukur Erwin pernah menemukannya.
Pria itu memang adalah laki-laki cerdas yang tidak mudah ditebak.
***
Erwin kini sudah berada di sebuah toko boneka. Mencari hadiah kecil-kecilan untuk diberikan kepada Rena. Rencananya Erwin ingin membeli boneka sapi, karena koleksi boneka di kamar Rena sebagian besar adalah boneka tokoh karakter disney, teddy bear, winie the pooh, doraemon dan tidak ada yang berbentuk sapi.
"Rena pasti senang." Erwin tersenyum melihat boneka yang ia beli sudah dibungkus rapi di sebuah kardus.
Erwin keluar dari toko untuk mencari taksi. Rasanya sudah tidak sabar ingin cepat-cepat bertemu dengan Rena.
Namun tiba-tiba saja ada seorang anak yang berlari menyambar dompet Erwin di kantong celana belakangnya. Erwin langsung berteriak. "Copet!!! Copet!!!"
Sambil menenteng kardus berisi boneka, Erwin berlari mengejar copet tersebut.
Warga yang mendengar teriakan Erwin mulai memberi reaksi. Mereka semua ikut mengejar anak yang menggondol dompet Erwin itu.
"Copet!!! Copet!!!"
Anak itu mulai panik karena semakin banyak orang yang mengejarnya. Ia berbelok ke arah gang kecil untuk bersembunyi. Sialnya, di situ sudah ada beberapa warga yang mengepung. Dan anak itu langsung terduduk di tanah sambil menangis karena takut dihajar massa.
"Minta dihajar ini anak."
Semua orang menendang, dan melempar tinjuan ke arah copet yang masih seumuran anak SMP itu. Wajahnya sudah babak belur dipenuhi dengan darah, namun warga masih belum puas memukulinya.
"Stop!!! Stop!!!" teriak Erwin berlari menenengahi warga yang menghajar anak itu untuk menghentikkan aksi mereka.
Bukannya benci dengan si pencopet, Erwin justru merasa kasihan dengannya.
"Kenapa, Pak? Biarin aja, biar kapok dia."
"Biar nggak ngresahin warga lagi."
Erwin menatap miris bocah laki-laki yang terkapar tak berdaya sambil menutupi wajahnya yang sudah berlumuran dengan darah. "Udah, biar diurus sama polisi."
Semua orang mendengus, karena masih belum puas memukuli anak itu.
"Ini dompet anda, Pak," ucap salah satu warga memberikan sebuah dompet yang dicuri barusan.
Erwin membuka dompetnya, mengecek apakah ada yang hilang. Setelah dirasa aman, Erwin menarik tiga lembar uang seratus ribuan untuk ia berikan kepada anak tadi.
"Ini buat kamu!"
Anak tadi menggeleng, masih menangis kesakitan karena kepalanya mungkin sudah bocor karena dihajar oleh warga. Warga yang melihat kebaikan Erwin hanya melongo.
Karena kasihan, Erwin membopong anak itu ke arah mobil polisi yang kebetulan sedang berpatroli dan berhenti karena melihat keributan.
"Tolong bawa kan, kotak kado saya, Bu," pinta Erwin kepada ibu-ibu yang kebetulan ikut melihat warga mengahajar copet.
__ADS_1
"Pelaku copet?" tanya polisi itu.
"Jangan salah kan, dia. Dia masih kecil. Cari tau siapa orang yang menyuruhnya," ucap Erwin kepada polisi. Polisi itu mengangguk.
"Tolong bawa dia ke rumah sakit, Pak." Erwin memohon karena anak yang ia bopong masih meringis kesakitan.
"Itu bisa sembuh sendiri. Biarkan dia sedikit lama merasakan sakitnya, agar dia tau kalau yang ia lakukan itu tidak benar." Kata Polisi itu.
Erwin mengambil dompetnya kembali dan meraih 5 lembar uang bergambar proklamator sekaligus. "Obati dia, Pak, saya mohon!"
"Mungkin jika saya tidak ada urusan. Saya akan membawanya sendiri ke rumah sakit."
Polisi itu akhirnya mengangguk. "Masukkan dia ke mobil."
Erwin langsung membuka pintu mobil kemudian membaringkan anak itu di kursi penumpang.
"Ini, Pak!" Erwin memberikan lima lembar uang tadi kepada polisi.
"Untuk apa? Jangan menghina polisi!" Polisi bertubuh gempal itu menggeram.
"Kasih ke anak ini nanti, jika keadaannya sudah membaik."
Polisi itu akhirnya menerima uang pemberian Erwin. Erwin tersenyum lega. Ia memundurkan langkahnya kemudian meraih bingkisan berisi boneka yang ia titipkan ke ibu-ibu tadi. "Terimakasih, ya, Bu."
Erwin menghela napas. Akhirnya ia bisa melanjutkan perjalanan menemui putri tercintanya.
Ia sudah tidak sabar ingin memeluk Rena. Rasa rindunya sudah tidak bisa terbendung lagi. Apalagi ketika mengingat anak yang dihajar massa tadi, membuat Erwin ingin sekali mendidik Rena dengan baik.
Setelah beberapa menit menaikki taksi akhirnya Erwin sampai di kediaman rumah Viola dan Rustam.
Mata Erwin membulat saat turun dari taksi. Ia meletakkan kardus yang ia bopong kemudian mengusap-usap matanya untuk memastikan jika plakat kecil yang tertulis di depan gerbang rumah itu adalah halusinasi.
RUMAH INI DI JUAL
Erwin kembali naik ke dalam taksi dan menuju ke rumah mertuanya.
***
Kaki Erwin melemas, kardus berisi boneka yang ia bopong terjatuh ke lantai. Lidahnya terasa kelu mendengar penuturan ibu mertuanya.
"Mereka pindah ke Paris."
"Ibu nggak tau kenapa mereka begitu mendadak berangkat ke sana."
"Rustam sudah mengundurkan diri dari jabatannya. Dia ingin mengurusi bisnisnya di Paris. Karena dia merasa tidak becus mengurusi perusahaan kami."
Erwin menghela napas kemudian duduk di kursi yang berada di depan teras. Ia mengacak-ngacak rambutnya frustasi. "Kenapa tidak pamit sama saya?"
"Ibu kira mereka sudah pamitan."
"Saya kangen sama Rena, Bu," lirih Erwin. "Juga Viola."
Ya! Walaupun mereka sudah berpisah, tapi Erwin masih sayang dengan mantan istriny.
"Ibu juga kaget, mendengar keputusan mereka."
Bersambung...
Jangan lupa follow Instagram : nurudin_fereira
__ADS_1