
PoV Erwin.
"Bu ambilin formulir pendaftaran menantu!" teriak paman Aji kepada istrinya.
Aku terbelalak, kemudian melirik ke arah Zahra yang tertunduk malu.
Formulir pendaftaran menantu?
Ulangku dalam hati.
Kami berdua dipersilahkan masuk, meninggalkan Rustam yang terkapar di teras rumah.
Zahra mengambil tempat duduk di sebelahku.
"Kenapa harus ada formulir?" tanyaku sinis.
"Kami ingin menyeleksi seperti apa calon suami Zahra. Kami ingin memilih calon yang terbaik untuk dia." Paman Aji menyalakan seputung rokok dengan pematik. Kemudian menghembuskan segumpal asap ke udara.
Zahra tampak mendengkus pelan.
Seorang perempuan berumur sekitar 40-an tahun keluar dengan wajah bingung saat menatap ke arahku dan Zahra. "Ada apa, Pak?" tanyanya kepada sang suami.
"Kamu tidak dengar bodoh! Ambilin formulir pendaftaran menantu!" teriak paman Aji kesal. Istrinya mengangguk, kemudian kembali ke belakang dengan tergesa-gesa.
Aku hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan mereka berdua.
"Semenjak kedua orang tua Zahra meninggal, saya lah yang bertanggung jawab penuh atas kelangsungan hidup Zahra. Saya juga yang mengurusinya dari kecil hingga dewasa. Dia anak yang keras kepala, kami sampai kehabisan cara untuk menjinakkan hati Zahra."
Aku langsung menepuk lengan Zahra ketika gadis itu ingin membuka suara. Melakukan pembelaan.
"Dia sering kabur dari rumah karena tidak suka dengan peraturan yang kami buat. Kami sampai harus membayar banyak orang untuk mencari keberadaan Zahra. Biar bagaimanapun Zahra adalah putri dari almarhum adikku. Dia sangat berharga bagi kami."
Aku kembali menahan tangan Zahra yang terkepal penuh emosi.
"Tugas kami merawat Zahra akan selesai ketika dia sudah menikah. Tanggung jawab penuh atas Zahra akan berada di pundakmu. Kami harap, kamu bisa menjaga Zahra baik-baik."
Aku mengangguk pelan.
"Untuk melihat sebesar apa ketulusanmu. Maukah kamu membayar pajak balas budi kepada kami karena telah membesarkan istrimu dengan susah payah?" tanya paman Aji sambil menghisap putung rokoknya.
"Maksudnya?"
Pria paruh bayah itu menjentikkan ****** rokoknya ke asbak. "Kamu harus bayar pajak balas Budi kepada saya, sepuluh juta perbulan."
"Paman!" teriak Zahra kesal.
"Sstttt!!" Erwin memberi kode agar Zahra diam.
"Bagaimana, apakah kamu bersedia?" tanya paman Aji dengan kedua alis yang menukik.
Sudut bibir pria tua itu tersenyum miring.
Pandanganku beralih ke arah istri paman Aji yang sudah kembali sambil membawa beberapa lembar kertas.
"Kenapa diam?"
Aku menghela napas kasar. "Baik, Pak. Saya siap."
__ADS_1
Paman Aji tersenyum puas, lalu menyesap kopi susu yang berada di atas meja.
"Ma, buatkan dia minum," ujarnya setelah istrinya datang membawa beberapa lembar kertas.
"Emang dia orang kaya, Pa?" tanya istrinya.
"Entahlah, tapi dia tidak keberatan setor uang sepuluh juta perbulan ketika sudah menjadi suami Zahra."
"Owh, nggak masalah berarti kalau dibuatin minum," ucap istrinya kemudian bergegas ke dapur.
"Teh anget kasih gula dikit. Jangan kopi apalagi susu. Kita nanti rugi," sahut paman Aji dengan nada sinis.
Aku hanya mengumpat dalam hati. Orang tua macam apa ini?
Sungguh, kasihan sekali Zahra, untung saja takdir menemukannya dengan diriku. Perlahan rasa ingin melindungi gadis itu menyeruak ke relung dada.
Paman Aji mulai memakai kaca mata minusnya, untuk membaca tulisan-tulisan yang ada di kertas formulir.
"Masih ada persyaratan-persyaratan yang harus kamu penuhi untuk menjadi suami Zahra."
Hufft!! Kepalaku sudah berasap, tinggal siap-siap menunggu untuk meledak. Parah!
"Apa orang tuamu adalah orang kaya?" Paman Aji mulai mengintrogasi.
Aku menatapnya datar. "Ya!"
Paman Aji menyilang persyaratan nomor satu yang tertera pada formulir pendaftaran menantu.
"Hartamu sekarang jika dinominalkan berapa?"
"Tak terhingga," jawabku sambil bersedekap santai.
"Saya adalah CEO di perusahaan smartphone Indophone, saya juga punya pertambangan batu-bara, saya punya sepuluh toko butik yang tersebar di beberapa kota besar di Indonesia. Kemudian, saya juga memegang saham salah satu klub bola yang berada di Inggris."
Klontang!
Secangkir teh hangat yang dibawa istri paman Aji terjatuh.
"Waduh ya ampun, aku buatin kopi susu aja, ya, Pak," pekiknya shock mendengar reputasiku. Wanita paruh baya itu langsung buru-buru kembali ke dapur.
Paman Aji tersenyum semringah. "Luar biasa. Berapa pendapatanmu sebulan?"
"Hmm, sekitar satu milyar," jawabku tenang, penuh kewibawaan.
"Wah, kalau gitu dia harus setor ke kita limapuluh juta, Pak," sahut istri paman Aji yang dengan semangatnya menyuguhkan kopi susu kepadaku.
"Tante!" tegur Zahra.
"Kamu mau masuk syurga, nggak, Zahra? Itu untuk balas budimu kepada kami yang telah membesarkanmu," potong wanita itu dengan entengnya.
Aku meneguk ludah dengan susah payah. Asstaghfirullah.
"Bagaimana? Apa kamu setuju limapuluh juta perbulan?" tanya paman Aji.
"Itu belum cukup, lho, nebus semua jasa-jasa kami," tambah istrinya.
"Saya bersedia, Pak," jawabku ragu-ragu.
__ADS_1
"Oke, persyaratan selanjutnya nggak usah dilanjutkan. Kapan kamu akan menikahi Zahra?" tanya paman Aji melepas kaca mata minusnya kemudian menatapku dengan sorot serius.
"Sekarang juga, Pak," jawabku cepat.
"Enggak diadakan pesta?"
"Enam puluh juta perbulan!" Aku menambah bandrol harga agar manusia mata duitan itu setuju.
"Oke Ma, tolong telepon Pak penghulu!" Paman Aji terkekeh senang.
"Ya ampun kenapa ini suamiku!"
Kami semua langsung menoleh mendengar seorang perempuan berteriak dari luar.
Paman Aji dan istrinya langsung bergegas keluar. Aku dan Zahra saling tatap, kemudian menyusul mereka.
"Siapa yang melakukan ini Pa, kenapa suamiku pingsan?" Sari, istri Rustam berjongkok dan menggoyang-goyangkan lengan pria itu.
"Siapa yang menonjok pipinya sampai memar kayak gini?" tanya Sari sambil menyela rambut panjangnya yang menutupi wajah.
"Aku kak!" Zahra langsung menyahut. "Suamimu itu bajingan! Dia telah menjualku ke maklar PSK!!"
Sari langsung menatap Zahra penuh amarah. "Kamu memang pantas menjadi jal*ng Zahra!"
"Dih, suami kayak gitu masih dibelain! Kamu nggak tahu ya kak tabiat suamimu yang sebenarnya? Kamu pasti akan menyesal kalau tahu bagaimana kelakuannya di belakangmu. Rustam seling ...."
Aku langsung membekap mulut Zahra sebelum gadis itu menjelaskan semuanya.
"Sudah-sudah!" Paman Aji menengahi. "Sari cepat bawa suamimu masuk kamar. Kita akan mengurus pernikahan Zahra."
"Ha? Zahra menikah?" tanya Sari sambil menunjukku dengan wajah kikuk.
Mungkin iri melihat ketampananku.
***
Setelah acara nikah siri yang berlangsung di rumah Zahra selesai. Aku langsung membawa Zahra kembali ke apartement. Lega rasanya sudah menuntaskan masalah ini.
Jika, Viola selingkuh secara illegal. Setidaknya aku menyelingkuhinya dengan cara yang halal. Yakni menikahi Zahra terlebih dahulu.
Hmm, walaupun seakan-akan aku merasa seperti menyewa Zahra 60 juta perbulan karena harus membayar pajak balas budi pamannya.
Anjiiirrrr, pajak macam apa itu?
"Aku tetap tinggal di sini?" tanya perempuan itu.
"Ya!" jawabku singkat. "Hanya sementara, nanti kamu akan tinggal di rumahku setelah aku mendaftarkan pernikahan kita ke KUA."
Iris mata Zahra tampak berkaca-kaca. "Aku masih nggak menyangka bapak benar-benar menikahi saya."
Aku terdiam.
"Bantu saya merebut kembali harta-harta saya dari paman saya, Pak," pintanya penuh harap.
"Tentu. Ini akan menjadi permainan yang sangat mengasyikkan, Zahra." Aku tersenyum tipis. "Kamu ikuti saja alurnya. Besok kita akan tinggal di rumahmu."
Zahra menggigit bibir bawah. Dengan tatapan menerawang.
__ADS_1
Besok hari Senin nih, siapkan vote kalian untuk vote cerita ini ya hehe...
Jangan lupa follow Instagram nurudin_fereira