Bos Somplak

Bos Somplak
Part 15 : Suprise


__ADS_3

Bantu vote cerita ini, ya 🙏


"Aku pengen dianter sama Mama, sama Papa," ucap Rena ditengah-tengah kunyahannya.


Gadis kecil itu sedang melahap roti tawar yang diolesi selai strowberry bersama kami.


"Sa ...," Aku melirik ke arah Viola yang masih fokus menyantap makanannya.


"Pilhannya hanya dua, kamu mau dianterin sama Mama aja, apa sama Papa?" tanya Viola ketus.


Aku tak jadi melanjutkan ucapan, memilih meneguk air putih di atas meja.


"Papa sama Mama udah putus, ya, kok nggak pernah akur, sih?" Rena mengerucutkan bibirnya hingga beberapa senti.


"Kita udah nggak temenan lagi, Sayang." Viola menyunggingkan seulas senyum kecut ke arahku.


"Papa, tembak Mama lagi, dong, biar balikkan." Gadis berumur 6 tahun itu, yang hanya bisa aku balas dengan senyuman getir.


"Mama, udah bisa move on," sela Viola ketus. "Kamu mau diantar Mama apa Papa?"


"Dua-duanya." Rena melipat kedua tangannya di depan dada. Sifat keras kepalanya begitu mirip dengan Viola.


"Rena!"


"Kalau nggak mau, Rena beliin Papa baru lagi gimana?"


Viola menyeringai. "Itu, Mama punya banyak stok Papa baru."


"Beneran, Ma?" Rena antusias, kemudian melirik ke arahku. "Papa juga nyari Mama baru dong, biar seru."


"Rena..." tegurku pelan. "Nggak boleh bilang kayak gitu."


"Ya udah, cepetan Mama anterin sini, Mama juga ada urusan." Viola menarik tangan Rena.


"Nggak cium tangan sama Papa, kayak di film-film?" Rena terhenti lalu tangan mungilnya menunjuk ke arahku.


"Nggak usah!" Viola membuang pandangannya ke arah lain.


Aku menghela napas, membiarkan mereka berdua pergi dari hadapanku. Kemudian memijat-mijat pangkal hidung, pening.


Kenapa hidupku menjadi semengerikan ini, diinjak-injak oleh sang istri. Andai saja jika Viola tidak kembali bertemu dengan mantan kekasihnya. Mungkin, semuanya akan baik-baik saja.


Viola tidak akan membangkang, dan tidak akan juga terang-terangan selingkuh seperti ini. Aku mendadak menjadi lelaki yang rapuh.


Padahal dulu hubungan rumah tangga kami bisa dikatakan harmonis. Viola benar-benar memperlakukanku sebagai seorang suami. Pelanggaran-pelanggaran terhadap akidah juga bisa ditanggulangi.


Walaupun Viola awalnya tidak mencintaiku. Kami berdua hidup dengan rukun, dan sama-sama membesarkan Rena penuh kasih sayang. Sampai pada akhirnya datang sebuah bencana berwujud mantan yang menghancurkan segalanya.


Bahkan, aku merasa gagal menjadi seorang suami. Aku juga merasa gagal menjadi seorang manusia yang harusnya mampu menjalankan perintah-perintah Tuhan. Seperti menjaga istri dari perbuatan dosa, misal.


Dan kini, alih-alih mencegah dan menghentikan perbuatan maksiat yang dilakukan istriku. Aku malah menyaingi Viola selingkuh dengan menikahi Zahra diam-diam.


Drrrttt... Drrrttt...


Ponsel yang ada di saku celana berdering, buru-buru aku meraihnya. Dahiku mengerut setelah mengetahui siapa yang menelpon.


"Hallo?" ucapku setelah mengangkat ponsel tersebut.


"Bapak, aku masak telur tapi telurnya gosong. Udah gitu tangan aku kena minyak panas lagi," ucap Zahra di seberang sana.


"Jangan panggil aku bapak. Aku suamimu. Apa kamu nggak bisa masak?"


"Enggak, ini gimana ngangkatnya dari wajan? Aku takut pakai spatula ntar kecipratan minyak lagi."


Aku menghela napas. "Pelan-pelan ..., ya, udah nanti aku mampir ke situ."


"Bukannya kerja ke kantor?"


"Nanti mampir ke situ dulu bentar." Aku mematikkan ponsel setelah sebelumnya mengucapkan salam kepada Zahra. Kemudian bergegas menuju ke mobil.


Saat diperjalanan. Aku memutuskan berhenti di sebuah restoran untuk memesan makanan siap santap untuk Zahra.


Namun, kaki ini mendadak beku setelah melihat Viola duduk bersama seorang pria familiar yang tidak asing lagi di mataku.

__ADS_1


Lagi, lagi, dan lagi Viola bersama mantan kekasihnya, Rustam.


Sial! Aku sudah jengah dengan semua drama yang telah terjadi. Setelah mengumpulkan segenap keberanian, aku melangkah menghampiri mereka.


"Mas Erwin?" Viola tampak terkejut setelah tatapannya tertuju ke arahku yang melangkah kian mendekat.


Aku tersenyum getir. "Nanti biar aku yang bayarin."


Tentu saja Viola dan selingkuhannya terkejut. Mereka mungkin berpikir aku akan marah besar, tapi ternyata tidak.


Aku hanya ingin membalas perbuatan mereka dengan cara elegan.


"K ... kalian, c ... cocok" pujiku sambil meneguk ludahnya dengan susah payah. Kemudian kembali tersenyum. Walaupun hati ini terasa seperti diiris-iris pisau belati.


Aku berlalu dari hadapan mereka, membeli makanan untuk Zahra sekaligus membayarkan makanan yang mereka pesan.


Setelah itu aku kembali sambil membawa seporsi makanan, sambil tersenyum ke arah Viola.


"Lanjutkan, semoga hari-hari kalian selalu menyenangkan." Aku pergi meninggalkan mereka yang masih membeku di tempatnya.


***


PoV Author's!


"Kapan kamu sama dia cerai?" tanya Rustam yang membuat Viola langsung terbangun dari lamunan.


"Nggak gampang." Viola menghela napas lalu menggeleng pelan.


"Harusnya dia marah liat kamu selingkuh sama aku."


"Tapi kamu lihat sendiri, kan, dia malah seperti itu. Dulu pertama kali dia memergoki kita selingkuh, dia ngamuk-ngamuk. Aku langsung nantang dia cerai. Terus dia diem sampai sekarang nggak mau ngungkit-ngungkit hal itu lagi. Aku juga nggak bisa bilang sama Mama Papa aku buat minta ceria sama dia. Karena Erwin terlalu baik untuk ditinggalkan." Viola mimijat-mijat keningnya pusing.


Rustam, menaikkan sebelah alisnya. "Berarti dia ngincer harta kamu?" tebaknya.


"Enggak, dia cuma tidak mau ingkar janji sama Mama-Papaku untuk jagain aku, dan meluruskan hidupku. Jalan satu-satunya hanya satu. Buat dia marah lalu menggugat cerai aku. Dengan begitu kedua orangtuaku pasti setuju. Tapi, masalahnya dia nggak pernah marah." Viola menggebrak meja geregetan. Membuat beberapa orang di restoran itu menoleh.


                                ***


Aku sudah sampai di sebuah apartement megah di kawasan Jakarta Pusat. Saat memasuki ruangan itu tubuh ini langsung membeku setelah melihat Zahra sudah duduk di meja makan dengan beraneka ragam makanan lezat yang sudah dihidangkan di atas meja.


"Pak Erwin?"


Aku langsung terbangun dari lamunan. Kantong plastik yang berisi makanan yang akan diberikan kepada Zahra terjatuh ke lantai.


Mungkin, makanan ini tidak pede karena merasa kalah lezat dengan makanan yang dihidangkan Zahra di atas meja.


Aku berjalan dengan kaki gemetar menghampiri Zahra. Mataku mulai mengeluarkan air. Andai saja Viola yang melakukan ini pasti semuanya akan terasa sempurna.


"Kenapa nangis, Pak?" panggil Zahra lagi.


Aku buru-buru menyeka air mata yang menetes di pipi, lalu tersenyum ke arah Zahra. "Saya suamimu, jangan panggil saya bapak," ucapku kemudian duduk berhadapan dengan Zahra.


"I... iya Pak," gagap Zahra sambil menunduk malu-malu.


Aku menghela napas. "Panggil aku Mas, kalau sampai manggil aku bapak lagi. Bakalan aku hukum."


"I... iya."


"Kamu sudah menipu saya!"


Zahra nyengir kuda. "B... biar suprise Pak. Eh maaf, Mas, iya Mas."


Aku terkekeh. "Karena kamu sudah membohongi suami, kamu harus dapet hukuman."


Zahra melongo. "Hu... hukuman?"


"Iya, scoth jump 10 kali," titahku tegas.


Sungguh, Zahra keliatan sangat polos dan belum pantas untuk menjadi Ibu rumah tangga. Umurnya saja masih 19 tahun. Hmm, mungkin baru lulus SMA.


"Ta... tapi..."


"Saya tidak menerima penolakan!"

__ADS_1


"Bapak, suami model apa sih?" Zahra mendengkus.


Aku tergelak. "Kata kamu saya bos somplak?"


"Emang."


"Salah sendiri mau nikah sama bos somplak!" tawaku semakin kencang. "Cepetan scot jump!"


"Nyesel aku udah masakin bapak!" Zahra mendengkus sambil menuruti perintahku.


"Dua puluh kali!" tambahku.


"Ha?" Zahra yang bersiap-siap akan scot jump melongo.


"Sudah saya bilang, kan, kalau manggil bapak lagi dapat hukuman."


Zahra menyipitkan mata lalu mulai melakukan skot jump. Gadis itu masih mengenakan piama tidur berwarna putih dengan corak biru tua dengan rambut yang dikuncir ekor kuda yang terombang-ambing tak tentu arah saat melakukan lompatan. Namun, baru lima kali ia melompat katak aku melangkah mendekatinya.


"Cukup!"


Zahra berdiri sambil menyeka peluh di dahinya sambil melotot. "Apa lagi?!"


Aku menatapnya dengan intens. Zahra menunduk, tidak berani menatap wajah tampanku.


"Pakai kerudung, ya."


Aku menyampirkan sebuah keredung ke puncak kepala Zahra. Tapi, Zahra segera menghentikkan tanganku.


"Kenapa sih aku disuruh pakai kerudung terus, Pak. Aku belum siap." Zahra menggeleng pelan.


"Emangnya kematian akan tanya kamu sudah siap apa belum?"


Zahra terdiam.


"Pernah diputusin sama cowok?" tanyaku lembut.


"Pe... pernah," angguk Zahra kemudian menunduk. Membuatku tidak dapat menatap iris mata indah yang menenangkan itu.


"Kenapa dia mutusin kamu?"


"Mungkin, karena udah nggak suka."


Aku tersenyum tipis. "Ketika seorang laki-laki disuguhi dua permen, yang satu dibungkus dan yang satu tidak bungkus. Kira-kira dia pilih yang mana?"


"Ya ... yang dibungkus."


"Nah itu, pasti yang tidak dibungkus dibiarin aja dikerubungi semut."


Zahra terdiam.


"Kerudung melindungi kehormatanmu. Kamu itu perempuan, kamu indah, kamu kuat, kamu mahal."


"Tapi ... aku sudah tidak suci lagi." Mata Zahra sudah mulai berair.


"Sssttttt..." Erwin menyentuhkan jari telunjuknya ke bibir Zahra. "Kenapa harus mengungkit-ungkit masa lalu, kalau kamu masih bisa merubah masa depanmu."


"Tuhan itu maha pengampun. Kita berjalan ke arah Tuhan. Tuhan langsung lari menyambut kita."


Zahra menelan ludahnya dengan susah payah. Saat aku melanjutkan memakaiakan kerudung ke kepalanya. Kerudung itu aku temukan di atas ranjang. Kerudung bekas pakai kemarin yang belum dicuci lagi oleh Zahra.


Aku tersenyum melihat Zahra terlihat begitu cantik dengan kerudung merah yang ia gunakan. Hal yang ingin aku lakukan juga kepada Viola. Kalau Viola mau berkerudung pasti juga lebih cantik.


"Boleh aku cium kamu?"


Zahra mendongak malu-malu. Kedua tatapan kami saling menyorot, menyelami iris mata masing-masing.


"I... iya."


Cup!


"Manis, pipimu rasa strawberry."


Jangan lupa vote cerita ini ya.

__ADS_1


__ADS_2