Bos Somplak

Bos Somplak
Part 61 : Acara Hitam Putih Trans7


__ADS_3

Hari ini Zahra tidak menyangka akan diundang di acara talk show yang dipandu langsung oleh host ternama sekelas Deddy Corbuzier pada acara yang rutin ditayangkan oleh salah satu televisi swasta di Indonesia.


Tepuk tangan bergemuruh langsung menyambut langkah kaki Zahra saat memasuki studio. Cahaya dari lensa kamera mengikuti langkah kakinya, disambut dengan senyuman pria fenomenal berkepala pelontos yang membuat jantung Zahra berdebar-debar kencang. Apakah dia naksir sama Om Deddy? Atau sama Rico Ceper?


"Oke, inilah dia istri muda dari Erwin Zamzami CEO perusahaan smartphone terkenal di Indonesia yang dikabarkan hilang belum ditemukan," sambut om Deddy mempersilahkan Zahra untuk duduk di sofabed yang telah disediakan. Sudah ada Pak Dendy, Briptu Aldo Flavio, dan juga Caramel di sana.


"Baik, sebelum kita bertanya kepada Zahra. Kita akan mendengarkan penjelasan dari Briptu Aldo Flavio, ketua yang memimpin penyergapan pelaku kriminal di provinsi Hanan. Hmm, bagaimana perasaan anda ketika sudah banyak anggota yang gugur di TKP pada waktu itu?" tanya Deddy Corbuzier kepada Briptu Aldo.


Aldo tersenyum. "Ya, pada waktu itu sebenarnya masih ada team intelijen yang dipimpin oleh Caramel Alisyia Pratama di luar." Aldo menunjuk Caramel yang duduk di sebelahnya. "Mereka masuk ke gedung itu paling akhir. Karena mencari keberadaan Erwin dan anak perempuannya. Nah, saat saya sudah sangat tertekan karena banyak anggota kepolisian yang sudah mati. Saya sudah memantapkan hati kalau saya akan mati pada waktu itu. Saya sudah pasrah dan iklash. Namun, siapa sangka Caramel dan ketiga anggotanya menyelamatkan saya dari maut."


Deddy Corbuzier mendengarkan penjelasan Aldo dengan antusias. "Anda sempat berpikir untuk kabur dan menyelamatkan diri anda sendiri waktu itu?" tanya Deddy sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Yaps," angguk Aldo. "Waktu itu masih tersisa saya dan beberapa teman saya yang bersembunyi di sebuah kamar. Saya berniat mencari jalan keluar untuk kabur, karena pasukan mereka cukup banyak. Tau sendiri, ya, kita, kan masuk ke sarang mereka. Nah, pada waktu itu ada kedua teman saya yang sempet cek-cok. Sehingga saya berpikir, lebih baik saya ikut mati daripada kabur seperti pecundang yang tidak bertanggung jawab. Saya berpikir kalau saya harus meneruskan perjuangan teman-teman saya yang sudah gugur waktu itu."


Tepuk tangan pun menggema dari seluruh ruangan. Deddy kembali melontarkan pertanyaannya. "Ya, saya mendapat informasi di berita-berita yang tersebar di sosial media, entah benar apa tidaknya, pada waktu itu sebelum anda menyerang markas mereka di Tiongkok anda sempat mencari keberadaan gembong narkoba ini di Paris?"

__ADS_1


"Iya, benar. Dan ternyata mereka sudah kabur ke Tiongkok. Mereka cerdik karena Beijeng merupakan kota inti di negara Tiongkok, jadi team investigasi yang mengusut kasus ini selalu mendapat informasi dari beberapa pelaku bawahan mereka yang tertangkap, kalau pimpinan mereka berada di Beijeng, sehingga kami sangat sulit menemukan markas mereka di Beijeng. Kan, ada nih orang awam yang taunya kalau di Tiongkok yang paling familiar adalah kota Beijeng, dan kota Zhangjiajie masih terdengar sangat asing. Sehingga setiap pelaku yang ditanya pasti memberi informasi bahwa pemasok barang mereka itu dari Beijeng, padahal seperti yang kita ketahui bahwa posisi mereka sebenarnya ada di kota Zhangjiajie di Provinsi Hanan."


"Lalu, bagaimana anda tau jika gengster itu berada di provinsi Hanan?"


"Maka sebab itu, saya bekerja sama dengan beberapa team agen rahasia BIN untuk menyelidiki di manakah tempat para mafia-mafia itu bersembunyi," jelas Aldo Flavio.


"Dan, munculah sosok Caramel Alisyia Pratama ini?" Deddy Corbuzier menunjuk ke arah Caramel. "Oke, kita beralih kepada Mbak Caramel, strategi apakah yang anda lakukan sehingga bisa menemukan tempat persembunyian para pelaku itu?"


Caramel mengangguk kemudian menjawab pertanyaan dari om Deddy.  "Hmm, sebenarnya organisasi itu tidak hanya menjalankan bisnis narkoba, tapi juga menjadi penadah jaringan perdagangan manusia di Indonesia. Oleh sebab itu saya...," ucapan Caramel terhenti, matanya mulai berkaca-kaca. "Saya mengumpankan salah satu anak SMP untuk memancing dirinya sendiri agar diculik oleh penculik yang sering beroperasi di Bandung. Dan, pada akhirnya hal itu terjadi. Anak yang bernama Rian itu akhirnya diculik dan dibawa ke penadah yang berada di Tiongkok. Anak itu sudah saya bekali dengan berbagai peralatan canggih untuk memberi informasi penting kepada saya. Dari situlah saya tahu markas persembunyian mereka."


"Rian sempat menghubungi saya, memberi kabar bahwa Rena anak Pak Erwin akan dijual. Akhirnya saya langsung menyuruh Rian untuk membujuk pelaku agar Rena jangan dijual, dengan melakukan negosiasi yang membuat para pelaku tergiur. Pak Erwin kan seorang pengusaha sukses jadi saya memberi interupsi kepada Rian untuk mengatakan ke mereka bahwa lebih menguntungkan jika menyuruh Pak Erwin datang untuk menebus Rena. Berapapun uangnya pasti akan dibayar." Caramel melirik ke arah Zahra takut. Takut jika Zahra akan marah jika perempuan itu tau bahwa faktanya Caramelah yang mengumpankan Erwin. "Nah, sebelum Pak Erwin berangkat ke Tiongkok, saya menembakkan sebuah GPS kecil ke tubuhnya agar nanti saya bisa tau kondisi Pak Erwin di sana."


"Menurut kabar yang sedang viral ini katanya anda adalah adik kandung dari pimpinan gangster itu?"


Caramel mengangguk lemah.

__ADS_1


"Seperti di film-film, ya? Pada saat itu bagaimana perasaan anda harus menangkap pelaku yang tidak lain dan tidak bukan adalah kakak anda sendiri?"


"Ya, gimana, ya, yang namanya tugas negara mau tidak mau harus dilaksanakan. Saya berpikir bahwa kakak saya tetap akan mati, walaupun selamat dalam penyergapan. Karena kakak saya adalah gembong narkoba yang mengatur jaringan penyelundupan narkoba. Sementara hukum di Indonesia sendiri gembong narkoba harus dihukum mati."


"Apakah anda benci dengan Kakak anda?"


"Sangat benci," Caramel tersenyum getir. "Tapi rasa sayang saya sebagai adik masih tetap ada. Saya juga ingin meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia, karena Kakak saya menjadi banyak korban yang berjatuhan. Saya mewakili keluarga saya meminta maaf yang sebesar-besarnya."


"Selain itu, kabarnya anda mendapat banyak hujatan dari para netizen. Bagaimanakah anda merespon ketidaksukaan masyarakat terhadap anda selaku adik dari pelaku? Padahal tidak bisa dipungkiri bahwa andalah kunci keberhasilan team intelijen membekuk organisasi itu."


"Selama saya bisa berjuang demi negeri ini, kenapa harus peduli dengan omongan orang lain?" Caramel merespon santai. "Udah biasa, kan, respon masyarakat seperti itu. Sangat manusiawi, jika orang yang berniat baik saja masih dipandang negatif oleh masyarakat."


"Oke, tepuk tangan, dong, untuk Caramel." Deddy tersenyum mendengar penjelasan Caramel yang menginspirasi. Suara tepuk tangan riuh dari penonton kembali terdengar.


"Kali ini kita pindah ke Mbak Zahra, nih. Mbak, gimana perasaan anda saat tau kabar kalau Erwin masih belum ditemukan?"

__ADS_1


Suara bariton dari Deddy Corbuzier membuat Zahra merasa terdesak. Belum sempat Zahra berucap, air matanya sudah jatuh duluan. "Saya sangat shock..."


Bersambung...


__ADS_2