Bos Somplak

Bos Somplak
Part 53 : Zahra Resah


__ADS_3

"Mas Erwin, kok, nggak diangkat-angkat, sih?"  Zahra *******-***** ponselnya resah. Berulang-ulang kali ia menelpon Erwin, tapi tak kunjung mendapat jawaban.


Perempuan itu terlihat begitu khawatir. Tidak tau apa yang harus ia lakukan untuk menenangkan diri. Ia takut terjadi sesuatu dengan suaminya. Kini Zahra sedang duduk di sebuah kursi kayu panjang yang berada di depan rumah makannya.


"Mbak Zahra kenapa, sih?" suara cempreng Vina membangunkan Zahra dari lamunannya.


"Enggak, aku tiba-tiba khawatir sama Mas Erwin." Zahra mengusap-ngusap wajahnya yang kusut.


"Ah, elah, Mbak, jangan dipikirin kenapa? Mas Erwin itu kuat dan pemberani, mana mungkin dia diapa-apain sama mereka? Jangan berperasangka buruk gitu, dong, Mbak." Vina mencoba menenangkan.


"Nomornya nggak aktif, Vin?"


"Hmm, siapa tau di sana nggak ada jaringan. Masuk akal, kan?"


"Ya, tapi, Mas Erwin sekarang bersama-sama orang jahat, Vin?" Zahra menghela napas gusar.


"Percaya sama saya, Mbak, kalau orang berduit itu pasti menang. Penjahat nggak bakalan bisa berkutik."


Towew, Zahra memutar bola matanya malas. Percuma membahas permasalahan ini dengan Vina. Tidak akan membuatnya tenang.


"Mbak Zahra mendingan istirahat dulu aja, deh, ya!" Vina mengusap-usap bahu Zahra. "Biar warung aku yang ngehandle."


Zahra manggut-manggut. "Mbak, minta maaf, ya, nggak bisa bantuin kalian."


Sungguh, Vina selalu terharu jika bosnya mulai seperti itu. Bos yang hanya ada satu di seantero bumi. Muda, cantik, syar'i, baik sama anak buah, istri pengusaha sukses yang soleh dan tampan, ah, sempurna, ucap Vina dalam hati.


Zahra sudah berjalan ke pinggir jalan raya, menunggu kedatangan Grab yang ia pesan untuk mengantarnya pulang.


"Emm, iya, Pak, saya ada di depan rumah makan Ayam Geprek Selingkuh. Saya pakai gamis warna navy," ujar Zahra setelah mendengar telepon dari rider Grabb.


Lima menit kemudian sebuah mobil Xenia berwarna putih berhenti di depannya. Kaca mobilnya terbuka, menampilkan senyuman ramah dari bapak-bapak berumur sekitar 40-an tahun di kursi kemudi. "Mbak Zahra, kan?" tanyanya.


Zahra manggut-manggut kemudian melangkah memasuki mobil.


"Tunggu!" teriak seseorang yang baru saja turun dari mobil BMW sport di belakang mobil tersebut.


Zahra menoleh ke arah sumber suara. Seketika itu juga tubuhnya langsung membeku, melihat laki-laki yang memanggilnya sedikit berlari menghampirinya. "Vi..., Vilan?"


"Pesanan di cancel aja, Pak," ucap Vilan ramah.


Driver Grab itu terdiam beberapa saat kemudian mengangguk. Vilan mengambil dompetnya kemudian mengeluarkan dua lembar uang kertas bergambar ploklamator untuk diserahkan kepada driver Grab tersebut. "Buat jajan anak, Bapak, ya!" Vilan tersenyum. "Mbak ini, biar saya yang ngojekin."


"Ya ampun, terimakasih, Mas." Sopir itu terlihat bahagia menerima uang pemberian Vilan, ia langsung mengegas mobilnya begitu semangat.


"Mau kemana?" tanya Vilan dengan senyuman manisnya. Gaya rambutnya terlihat begitu klimis dan maskulin, tidak seperti dulu yang urakan.


Zahra terlihat kikuk. "Aku mau pulang," lirihnya. Tubuhnya tersentak saat Vilan tiba mengusap-usap pipinya.


"Habis nangis?" tanya Vilan lembut, ya ampun suaranya begitu merdu.


"Eng..., enggak," gagap Zahra sambil menampik tangan Vilan.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Vilan menatap tangannya yang dihempaskan oleh Zahra.


"Bukan muhrim," lirih Zahra.


Vilan terdiam beberapa saat kemudian tersenyum kecil. "Owh, sorry!"


Zahra menunduk kikuk. Ia begitu canggung di depan mantan kekasihnya itu.


"Ayo aku anterin?" ucap Vilan memecah keheningan.


"Aku pulang sen...," mengingat taxi online yang sudah di cancel oleh Vilan barusan membuat Zahra sadar ia tidak bisa menolak. "Yaudah, yuk!"


Vilan tersenyum kemudian masuk ke dalam mobil diikuti Zahra di belakangnya.


"Kenapa kemarin di bandara menghilang?" tanya Vilan setelah melajukan mobilnya.


"Ah?" Zahra tersentak. "Owh, aku buru-buru waktu itu."


"Hmm, lagi ada masalah, ya?" tanya Vilan ramah.


"Enggak, kok," tampik Zahra.


"Terus kenapa matanya sembab?" Vilan terus memberondongi Zahra dengan berbagai pertanyaan.


"Nggak papa," jawab Zahra ketus.


Vilan tersenyum. Ia tau ada yang sedang Zahra sembunyikan. "Kamu masih marah, ya, karena dulu aku ngilang nggak ngasih kabar?"


Ya, Tahun cobaan macam apa lagi ini. Apakah Vilan belum tau kalau aku udah nikah sama Erwin.


"Kenapa mampir ke sini?" tanya Zahra bingung.


"Lagian dari tadi kamu diam aja, aku bingung mau nganterin kamu pulang ke mana."


Zahra menepuk jidatnya. Ya, ampun, kebanyakan ngelamun. "Yaudah aku tunjukkin rumahku."


"Udah terlanjur masuk ke sini," ucap Vilan santai. "Aku mau bayar hutang."


Zahra mengernyit. "Hutang?"


Vilan mengangguk. "Dulu aku pernah janji ke kamu mau ngajakin kamu main di timezone."


Zahra hanya bisa terdiam dengan mata berkaca-kaca. "Vi..., Vilan?"


"Ayo turun!" ajak Vilan. Keduanya pun turun dari mobil yang sudah berada di area parkir kemudian masuk ke dalam mall itu beriringan tanpa bergandengan tangan.


Zahra belum sama sekali membuka suaranya. Ia hanya mengikuti langkah kaki Vilan yang melewati keramaian.


"Hmm, owh ya, ngomong-ngomong kamu di Jakarta kuliah apa kerja?" tanya Vilan setelah mensejajarkan langkahnya.


Zahra terdiam. Bingung ingin menjawab apa. Ia belum siap membuat hati Vilan terluka kareni dia sudah menikah. Lagian Vilan kudet banget, nggak pernah lihat video YouTube yang lagi trending, warung makan ayam geprek selingkuh miliknya dan Erwin Zamzami. Kalau pernah lihat video itu pasti Vilan tau Zahra sudah bersuami. Karena banyak youtuber-youtuber kondang yang bikin konten di restoran Zahra.

__ADS_1


"Kenapa sering banget diem?" tanya Vilan membangunkan Zahra dari lamunannya.


"A... aku kerja," jawab Zahra pelan.


"Owh, nggak pernah balik ke Lampung?"


Zahra menggeleng. Dulu memang Zahra sekolah di SMA yang berada di Lampung. Tapi setelah lulus, ayah angkat Zahra langsung pindah ke Jakarta. Zahra bersyukur karena Jakarta dekat dengan tempat asalnya dulu, yaitu di panti asuhan yang membesarkan dirinya. Tapi, ia juga sedih karena harus berpisah dengan Vilan yang berada di Lampung. Saat itu hubungan Zahra dan Vilan memang sedang merenggang karena Vilan hilang tiba-tiba. Awalnya Zahra sedih, tapi kesedihannya menjadi sebuah kemarahan yang tidak bisa dimaafkan karena Vilan menghilang gara-gara di penjara akibat positif mengkonsumsi narkoba. Dan, sekarang mereka bertemu lagi dengan keadaan yang berbeda, di tempat yang berbeda. 


"Capit boneka," seru Vilan setelah mereka berada tepat di depan arena timezone.


Senyum Zahra tiba-tiba merekah. Perempuan itu seperti kembali lagi ke masa remaja, bersama teman sebayanya. "Boleh coba?"


"Silahkan tuan puteri."


"Ihh, jangan pakai tuan puteri ah manggilnya." Zahra mengerucutkan bibirnya. Dulu panggilan itu terasa romantis. Tapi, sekarang panggilan itu membuat Zahra merasa menjadi orang asing.


Vilan terkekeh. "Ayo main!" ucapnya sambil menggesekan powercard ke swiper mesin permainan. Entah sejak kapan Vilan membeli kartu timezone itu. Atau mungkin ia sudah mempersiapkan momen ini jauh-jauh hari.


"Aduh, ih, nggak dapet," teriak Zahra memegang kepalanya dengan kedua tangan. Karena percobaan pertamanya gagal.


"Coba lagi, dong, sepuas kamu." Vilan kembali menggesekkan powercardnya ke swiper.


Zahra memencet tombol dengan hati-hati, namun mesin pencapit itu selalu gagal mencapit boneka yang Zahra incar. Vilan tersenyum melihat wajah Zahra yang begitu antusias.


"Aduh!"


"Ya, ampun!"


"Yah, gagal." Zahra menghela napas lelah setelah berulang-ulang kali ia gagal. "Capek, udahan, yuk?"


Bukan hanya tersenyum kecil. Kini dirinya yang mencoba bermain. "Pilih yang mana?"


"Boneka beruang yang pink," tunjuk Zahra.


Vilan mulai memencet tombol kemudian dengan cekatan menghentikan mesin pencapit tepat ke arah boneka yang di maksud Zahra.


"Yeee, berhasil!" Zahra terlonjak girang setelah Vilan menyerahkan boneka yang ia dapatkan.


"Lagi, ya?" tanya Vilan kembali bermain mengambil bonekanya.


Zahra begitu senang karena dia sudah mendapat tiga boneka di tangan.


Entah, kenapa kesedihannya sirna begitu saja karena Vilan seperti larutan penyegar cap kaki badak yang meredakan panas dalam. Sungguh, Zahra harus berterimakasih kepada Vilan.


Setelah makan di restoran yang berada di dalam mall Gandaria City mereka berduapun kembali melanjutkan perjalanan menuju ke rumah Zahra. Zahra tampak begitu leluasa mengobrol dengan Vilan, sesekali mereka tertawa karena guyonan yang mereka lontarkan.


"Itu rumah aku!" tunjuk Zahra menunjuk rumah kontrakan yang ia tinggali bersama Erwin. Ia menatap Vilan sekilas, rasanya tidak tega untuk berterus terang kepada Vilan kalau dia sudah menikah. "Nggak usah mampir, ya?" lirih Zahra dengan wajah memelas.


Vilan tersenyum kecil. "Oke," jawabnya singkat. "Aku boleh minta nomor telepon kamu?" lanjutnya sambil menyodorkan ponsel ke arah Vilan.


Zahra terdiam ragu. Melihat merk ponsel yang tertera di ponsel Vilan. Indophone, andaikan kamu tau ponsel yang kamu pegang adalah produk dari perusahaan suamiku?

__ADS_1


Apakah ini bisa dikatakan selingkuh? Demi Tuhan, aku sama sekali tidak ingin selingkuh, walaupun aku masih punya rasa kepada Vilan.


Bersambung...


__ADS_2