
"Brengseeek!!!" Rustam menggebrak meja dengan keras. Hingga membuat seluruh orang di dalam ruangan itu tersentak kaget.
"Bodoh!!! Udah enak-enak kabur ke luar negeri kenapa mereka berdua malah balik lagi ke Indonesia, sih?!" umpatnya mencengkram salah seorang laki-laki berjas hitam dengan kasar. "Sialan, gue jadi buronan, kan!!!"
"Arrggghhhh, bego itu tua bangka!!!" Rustam menghempaskan tubuh laki-laki dihadapannya sampai tersungkur ke lantai.
"Beresi semuanya! Kosongkan tempat ini segera!!!" pekik Rustam marah, membuat semua orang menunduk takut. Rustam keluar dari ruangan itu dengan tergesa-gesa kemudian melenggang pergi bersama mobil mewahnya menuju ke apartemen yang ia tinggali.
Sesampainya di apartement Rustam langsung menaiki lift dengan panik. Mengetuk-ngetukkan sepatunya sambil memijat pangkal hidungnya pening. Lift berjalan begitu lambat, terasa lama sekali Rustam menantinya.
Lift terbuka, Rustam langsung mencari kamar Nomor 134 yang ia huni dan membukanya. Nampak Viola sedang bermain lego dengan Rena.
"Udah pulang, Mas?" tanya Viola setelah melihat kehadiran Rustam yang begitu berantakan.
Rustam menghela napas kasar. "Kemasi barang-barang kalian sekarang."
"Kita mau ke mana?" tanya Viola bingung.
"Cepat kemasi!" Rustam meninggikan nada suaranya lalu melangkah menuju ke kamar, mengambil koper dan memasukkan baju-bajunya yang ada di lemari dengan gusar.
Viola masih melongo, kemudian menatap ke arah Rena. "Kita mau pulang, Ma?" tanya Rena sambil menaikkan sebelah alisnya.
Viola beranjak dari duduknya kemudian membantu Rustam mengemasi barang-barang mereka.
"Bawa baju-baju kesayangannya aja, yang lain nanti kita beli lagi."
"Kita mau pulang, Mas?" tanya Viola.
Rustam menatap sendu ke arah Viola. "Kita mau ke Tiongkok, ada pekerjaan yang harus di selesaikan di sana."
"Kamu kerja apa, sih, Mas, sampai harus pindah-pindah kayak gini?" Viola curiga.
"Sayang, kita ke sana dulu sambil liburan. Nanti kembali ke sini lagi daftarin Rena sekolah." Rustam memegang pundak Viola.
"Ya, kamu sendiri aja yang ke sana. Aku sama Rena di sini. Tapi, beliin handpone biar bisa komunikasi."
"Enggak, kamu harus ikut. Aku nggak tega ninggalin kamu sendiri di sini." Rustam masih meyakinkan.
"Tapi…"
Rustam sudah hilang kesabaran, ia menutup kopernya dengan kasar. "Udah ini aja yang dibawa. Kamu sama Rena nggak usah mandi, kita harus bergegas sebelum ketinggalan pesawat." Rustam menarik kopernya keluar dari kamar.
"Rena, ganti baju!" ujar Rustam melihat Rena duduk sambil bermain lego.
"Kita mau pulang, Pa?" tanya Rena dengan mata berbinar.
"Cepat!" Rustam membentak.
Rena memberengut. Karena bentakkan itu, ia tiba-tiba rindu dengan kelembutan Erwin, papanya yang murah senyum. Aihhhhh, Rena gemas ingin memeluk Erwin. Bukan memeluk papa tirinya yang semakin lama semakin terlihat galak. Mungkin, sudah lelah berakting sehingga sifat aslinya mulai muncul ke permukaan.
***
Setelah berkunjung ke rumah orangtuanya, hati Erwin terasa plong, walaupun tidak seutuhnya. Masih ada yang sedikit mengganjal, tentu saja karena putri kesayangannya yang masih belum memberi kabar.
"Udah nggak usah nglamun!" Zahra membangunkan Erwin dari lamunan. Membenarkan letak dasi kupu-kupu lelaki tersebut. "Dah, rapi."
"Aku berangkat dulu, ya?"
"Iya," angguk Zahra mencium tangan Erwin.
Erwin mengecup dahi Zahra.
"Semangat!" ujar Zahra menyemangati.
Erwin tersenyum kemudian berbalik badan menyapa Refan yang sudah menunggunya di depan mobil.
"Hati-hati!" Zahra berkata lagi.
__ADS_1
"Owh, iya. Kalau Vina dan Fitri kerepotan. Suruh anak-anak panti untuk membantu. Bilang sama mereka. Kalau seluruh penghasilan dari warung makan ayam geprek itu untuk mereka semua." Erwin melirik Zahra sekilas kemudian berjalan menuju mobil Refan.
"Ya, ampun. Terimakasih, Mas." Zahra terlihat begitu senang bukan kepalang.
Erwin tersenyum tanpa menoleh ke arah Zahra. Lelaki itu masuk ke dalam mobil yang sudah dibuka pintunya oleh Refan.
"Terimakasih, Pak, sudah mau kembali bekerja di perusahaan."
***
Bunyi mesin tik, ponsel yang berdering, orang berlalu lalang, serta perdebatan-perdebatan menegangkan langsung terhenti seketika. Seluruh karyawan yang sedang sibuk dengan pekerjaannya langsung terperangah ketika melihat seseorang yang baru datang bersama Refan. Sesaat kemudian mereka menyunggingkan seulas senyum secara serempak, meninggalkan kegiatannya kemudian berbondong-bondong menghampiri Erwin.
"Ya, ampun. Aku kangen sama Bapak."
"Rasanya seneng banget, deh, Bapak kembali lagi ke sini."
"Pengen nangis, Pak."
Erwin tersenyum saat berjabat tangan dengan mereka.
"Moodbosterku kerja di sini."
"Astajim, senyuman Bapak kayak petir. Saya jadi deg-degan."
"Suasana hatiku mendadak tenang."
"Hari ini kelihatan cerah banget. Berasa kayak orang baru jatuh cinta."
"Terus langsung kalap, setelah tau kalau doi yang dicinta, udah ada yang punya?" sahut seseorang di sebelahnya yang disambut gelak tawa dari para karyawan.
"Udah-udah, yuk, kembali bekerja," ucap Refan mengkordinirir rekan-rekannya agar kembali melanjutkan tugasnya masing-masing. Kemudian memberi kode untuk Erwin agar mengikutinya.
Refan mengetuk pintu yang tidak terkunci. Erwin menatap plakat kecil yang tertempel di atas pintu, ruangan CEO.
"Masuk!"
Seseorang yang membelakanginya memutar kursi yang ia duduki sampai menghadap ke arah Erwin. "Saya senang kamu mau memimpin kembali perusahaan ini."
Erwin masih berdiri dihadapan Dendy sambil menunduk penuh sopan.
"Buat system baru, ganti email, dan juga seluruh bagian-bagian penting pada produk kita. Kita mulai dari awal lagi produk ini."
"Tapi, hal itu akan mempengaruhi kualitas produknya, Pak. Keidentikan produk ini begitu khas, jika ada yang dirubah tentu saja akan ada banyak orang yang beralih pada produk lain, karena produk ini kinerjanya sudah tidak seperti dulu."
"Erwin… Rustam sudah meretas produk kita. Tidak ada cara lain." Dendy menghela napas. "Kamu duduk dulu!"
Erwin mengangguk, kemudian duduk dihadapan Dendy.
"Pinter-pinternya kamu merubah system-system produk. Tak perlu dirombak semua, hanya system-system inti saja yang sudah diretas, yang penting fitur-fitur yang tersedia masih tetap menarik perhatian."
Erwin mengangguk paham. "Siap, Pak."
Dendy merasa lega.
"Bapak jangan membenci Rustam," ucap Erwin tiba-tiba.
Dendy mengernyitkan dahinya. "Kenapa?"
"Mungkin dia melakukan itu untuk menghidupi Viola." Erwin menunduk.
"Bahkan, saya sudah menganggap Rustam telah menculik Rena dan Viola. Setelah pulang dari sini, saya akan menyuruh beberapa orang untuk terbang ke Paris, menengok keadaan Viola."
Itulah kalimat yang ditunggu-tunggu Erwin. "Saya boleh ikut, Pak?"
"Saya mengerti kekhawatiran kamu. Tapi kamu baru saja kembali bekerja di sini, Win. Profesional, lah, dan berdoa supaya Viola dan Rena baik-baik saja." Dendy tersenyum, walaupun setiap hari hidupnya dipenuhi kegelisahan. Apalagi istrinya di rumah yang selalu menangis ketika mengingat Viola.
"Baik, Pak," lirih Erwin.
__ADS_1
***
Zahra membawa beberapa anak panti untuk membantu Vina dan Fitri melayani pelanggan. Alhamdulilah, sekarang Vina bisa duduk di kursi sambil facebookan karena tugasnya sudah ada yang memegang.
Fitri menjewer telinga Vina. "Isshh, malah nyantai-nyantai!"
"Apaan, sih, orang dikerjain mereka aja kelar, kok." Vina menunjuk anak-anak panti dengan dagunya.
"Ya, kan, lo di sini juga kerja. Ngerjain apa kek. Enak banget lo cuma tidur, bangun-bangun gajian." Fitri melotot.
"Gue tidur beneran baru tau rasa lo." Vina memutar bola matanya malas, memasukan ponselnya pada kantong sakunya. Kemudian pergi ke dapur membantu Zahra menggoreng ayam. "Sini gantian aku aja yang masak, Mbak. Mbak istirahat dulu aja."
Zahra menyeka keringat di dahinya dengan lengannya. "Bentar, Vin, nanggung."
Tiba-tiba ada satu anak panti yang masuk ke dapur dengan tergesa-gesa. "Kak Zahra dicari Bu Anti."
"Ah?" Zahra meletakkan spatulanya. "Kamu gantiin aku, ya, Vin."
"Asiaapp!!!" jawab Vina semangat.
Zahra melepas apronnya kemudian keluar menghampiri Bu Anti yang duduk di salah satu meja di warungnya.
"Kamu harus ikut saya sekarang," ucap Bu Anti begitu Zahra tiba dihadapannya.
"Ada apa, Bu?"
"Orang yang nyulik anak-anak panti berhasil ditangkap." Bu Anti beranjak dari duduknya dan mengajak Zahra keluar dari warung menaikki taksi yang sudah ia pesan.
"Berarti anak-anak udah ketemu, Bu?" tanya Zahra tidak bisa menyembunyikan air mata bahagianya.
Bu Anti dan Zahra sudah masuk ke dalam taksi. Tapi, Bu Anti tetap terdiam, masih belum memberi jawaban. Terpaksa Zahra harus mengguncang-guncang tubuh Bu Anti untuk memuaskan rasa penasarannya.
"Mereka sudah dijual, Ra."
Zahra menutup mulutnya dengan telapak tangan. Tak kuat menahan tangis. Pilu sekali memikirkan nasib mereka. Zahra menggeram. "Siapa pelakunya, Bu?"
Bu Anti mengusap air matanya. "Keluarga paman Aji."
Zahra menghempaskan tubuhnya pada sandaran kursi lalu menghela napas kasar.
Setelah beberapa menit berlalu mereka sampai di depan toko tempat di mana pelaku penculikan itu ditangkap. Zahra langsung buru-buru keluar dari taksi dan berlari menghampiri kerumunan itu. "Zahra, tenang!" teriak Bu Anti.
Zahra menerobos masuk, menerjang kerumunan orang-orang, lalu melayangkan sebuah tendangan kepada paman dan tantenya itu. Namun, tubuhnya langsung dipegangi oleh beberapa anak-anak panti yang kebetulan ada di situ.
"Zahra, sabar, Ra!"
Zahra tampak kesetanan. "Minggir! Aku mau bunuh mereka!!!"
"Benalu kurang ajar!"
"Istigfar, Ra!" Bu Anti terus mencoba menenangkan Zahra. Bahkan butuh tiga orang lebih untuk menghentikan aksi Zahra yang dadanya sudah naik turun menahan amarah.
"Mereka penjahat!! Mereka nggak pantes hidup di dunia!!!" Zahra meronta-ronta dengan suara serak.
"Istigfar, Ra, udah!" Bu Anti memeluk Zahra untuk menenangkannya.
Paman Aji dan istrinya tampak babak belur dihakimi massa. Untung saja ada beberapa polisi yang sigap mengamankan pelaku agar aman dari amukan warga.
Mereka berdua kembali beraksi, tapi, kali ini rencana mereka tidak berjalan dengan mulus. Karena aksi mereka kepergok oleh salah satu warga, dan akhirnya dihajar di tempat itu juga.
"Kita ikuti mereka ke kantor polisi," ujar Bu Anti mengajak Zahra dan anak-anak panti lainnya. "Kita harus mengusut kembali anak-anak panti yang belum ketemu."
"Aji harus dibunuh! Kau menjual harta warisanku, kau menculik anak-anak yang tidak pernah melakukan kesalahan sedikitpun!"
"Zahra, tenang!"
***
__ADS_1