Bos Somplak

Bos Somplak
Part 45 : Kena Prank Sahabat Lama


__ADS_3

"Kami diserang oleh sekelompok orang di Paris," ucap Dendy di seberang sana.


Erwin terdiam mendengarkan cerita dari mertuanya dengan seksama. Lelaki itu sedang duduk di kursi kebesarannya, di ruang CEO.


"Semua anggota intelejen tewas, hanya tersisa saya dan juga Briptu Aldo Flavio. Sementara Reserse Narkoba Bambang Wijayanto masih koma di rumah sakit akibat mobilnya meledak."


Erwin tercekat mendengar kabar duka tersebut. "Syukurlah, Bapak masih selamat."


"Alhamdulilah, Win, jangan kasih tau ke istri saya, ya?" ujar Dendy di seberang sana.


"Iya, Pak."


"Yaudah, saya tutup dulu."


Erwin mematikan panggilan setelah menjawab salam dari Dendy. Lelaki itu kemudian menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi sambil menghela napas kasar.


Hatinya terasa tidak tenang. Ia sudah menduga bahwa Rustam adalah sosok yang sangat berbahaya. Pertanyaannya apakah mungkin Viola dan Rena baik-baik saja setelah tidak ada kabar selama ikut Rustam ke Paris?


"Ya Allah, lindungilah anakku!" Erwin mengusap-ngusap wajahnya gusar.


Tok... Tok... Tok...


"Masuk!" ucap Erwin setelah ada bunyi ketukan pintu.


Refan memasuki ruangan Erwin sambil menunduk sopan. "Ada anggota kepolisian yang ingin bertemu dengan Bapak."


"Suruh masuk saja," ujar Erwin ramah, mencoba menyembunyikan kesedihannya.


Refan mengangguk kemudian mempersilahkan empat orang berpakaian polisi untuk memasuki ruangan Erwin. Kemudian Refan undur diri dari tempat itu.


"Siang, Pak!" ucap salah satu polisi dengan gagah.


Erwin mengangguk sopan, walaupun wajahnya terlihat tegang.


"Kami dari Badan Intelijen Nasional ingin mengorek informasi tentang seorang mafia yang kini menjadi target incaran kami kepada Bapak. Apakah Bapak bersedia membantu kami memberikan informasi dengan sejujur-jujurnya kepada pihak kepolisian?" ucap Polisi sembari menyodorkan surat izin sah dari kepolisian kepada Erwin.


Erwin membaca surat tersebut kemudian mengangguk. "Baik, Pak!"


"Apakah Rustam Effendy pernah menggantikan posisi Bapak sebagai CEO di perusahaan Indophone?"


"Benar, Pak!" Erwin mengangguk.


Salah satu dari polisi itu terlihat mencatat sesuatu. Sepertinya ia bertugas sebagai pengamat dan analisis.


"Apakah ada data-data tentang Rustam Effendy yang masih tertinggal? Semisal nomor telepone, rekening, tandatangan, fotokopi KTP, kartu keluarga, atau apapun?"


Erwin berpikir sejenak, kemudian membuka laci mejanya mengobrak-abrik beberapa berkas, tak hanya itu Erwin juga meneliti tumpukan berkas yang ada di mejanya. Berharap masih ada berkas-berkas peninggalan kepimpinan Rustam saat menduduki jabatan tertinggi di perusahaan Indophone. Ketiga polisi itu ikut membantu Erwin. Bahkan, mereka juga memeriksa seisi ruangan tersebut.

__ADS_1


Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya mereka menemukan data-data yang diinginkan tentang Rustam. Mulai dari kartu keluarga, nomor rekening, hingga fotokopi KTP. Itu adalah informasi berharga bagi mereka. Dengan adanya Kartu Keluarga bisa dipastikan bahwa pihak kepolisian bisa mengetahui siapa saja yang menjadi anggota keluarga Rustam untuk dimintai keterangan, dan juga nomor rekening yang akan mereka gunakan untuk melacak posisi Rustam saat ini dengan berkerja sama dengan pihak bank agar memberitahukan nomor telepon dan juga tempat-tempat di mana Rustam mengambil uang di rekeningnya.


"Apakah Bapak tau jika Tim gabungan yang memburu Rustam di Paris mendapat musibah?" tanya Erwin penasaran sambil membenarkan dasi kupu-kupunya yang berantakkan karena membongkar berkas-berkas tadi.


Salah satu polisi itu mengangguk. "Mereka adalah senior kami di BIN. Dengan adanya kejadian itu apakah Bapak berpikir kami akan takut dengan Rustam?"


Erwin terdiam.


"Sudah banyak anggota BIN yang gugur saat menjalankan tugas. Tidak masalah, demi negara ini apapun akan kami lakukan. Walaupun nyawa taruhannya," ucap polisi itu mantap.


"Walaupun jika nanti Tim kami gugur, masih ada junior-junior kami di BIN yang siap melanjutkan perjuangan kami sampai mafia itu tertangkap."


"Organisasi yang di pimpin Rustam telah sukses meracuni generasi muda dengan narkoba. Mereka juga berhasil menggerakkan jaringan perdagangan manusia. Mereka sudah sangat meresahkan negara ini. Untuk itu mereka harus segara tertangkap. Walaupun nyawa kami taruhannya, asalkan seluruh rakyat Indonesia bisa hidup dengan tentram."


Erwin termenung. Matanya mulai berkaca-kaca. "Tolong selamatkan anak saya dan mantan istri saya yang dibawa oleh Rustam, Pak!"


Polisi itu mengangguk. "Kami akan menganalisis data-data ini untuk membuat langkah-langkah terjitu menangkap mereka secara perlahan. Kita tidak boleh terburu-buru untuk langsung menyerbu markas mereka, agar tidak banyak korban jiwa yang berjatuhan."


"Untuk itu kami membutuhkan data-data penting guna melacak keberadaan Rustam di Beijeng, mencari cara untuk melumpuhkan organisasi itu dengan hati-hati. Kami akan mengutus salah satu anggota tim AR21, Caramel Alisyia Pratama." Polisi bertubuh gempal itu menunjuk salah satu anggota perempuan di antara mereka. Perempuan berambut sebahu yang dimaksud itu memberi hormat kepada Erwin. "Untuk menyamar sabagai konsumen, mengakrabi kaki tangan Rustam, menawarkan bantuan, maupun kerjasama kepada organisasi mereka, atau apapun! Yang penting Rustam bisa tertangkap."


Erwin mengangguk-angguk paham mendengar penjelasan dari kapten anggota mereka. Kemudian keempat polisi itu berpamitan kepada Erwin, namun, polisi wanita bernama Caramel tadi masih belum beranjak.


"Apakah benar, anda adalah suami Zahra?"


Erwin sempat terperangah mendengar ucapan wanita itu. Tak lama kemudian ia mengangguk kikuk.


"Saya ingin temu kangen dengan Zahra dulu sebelum menjalankan misi ke Beijeng. Siapa tau itu akan menjadi momen terakhir kita ketemu, apabila saya gugur dalam menjalankan misi." Caramel tersenyum santai.


Erwin masih terlihat canggung. "Saya akan menyuruh asisten saya untuk mengantar anda. Karena saya masih banyak pekerjaan."


Caramel mengangguk. Erwin menelpon Refan untuk mengantar Caramel ke rumah makan Zahra.


***


Seluruh pelanggan di dalam ruangan itu terlihat kebingungan saat ada anggota kepolisian memasuki rumah makan Selingkuh. Tak terkecuali Vina, Fitri, dan juga karyawan lainnya yang berasal dari panti asuhan. Refan yang mengantarkan Caramel mengambil tempat duduk di salah satu meja yang kosong, memesan satu porsi makanan, karena kebetulan ia juga sangat lapar.


"Di mana pemilik rumah makan ini?" tanya Caramel dengan tatapan mengintimidasi. Salah satu karyawan yang ditanya tersebut terlihat gugup. Tangannya terlihat gemetar saat menunjuk dapur tempat di mana Zahra berada.


Caramel mengangguk kemudian berjalan menuju ke arah yang ditunjuk karyawan tersebut.


Zahra terlihat terkejut ketika seorang polisi wanita beratribut lengkap memakai topi datang menemuinya. Tubuhnya seketika itu juga langsung menegang, wajahnya berubah pucat.


"Anda kami tahan!" ucap polisi itu dengan suara tegas.


"Sa... saya salah apa?" Zahra meneguk ludahnya dengan susah payah. Ia melangkah mundur sampai menabrak tembok dapur sangking takutnya.


"Anda bisa menjelaskannya di kantor polisi!" Caramel menghampiri Zahra yang terlihat menggemaskan saat ketakutan.

__ADS_1


"Sa..., saya pengen nangis." Zahra menutupi wajahnya dengan telapak tangan kemudian menangis sejadi-jadinya. Seperti anak kecil yang baru saja dimarahi oleh ibunya. "Sa..., saya nggak salah apa-apa."


Zahra tersentak saat polisi itu tiba-tiba memeluknya. Mulutnya menganga lebar tak percaya. Polisi wanita itu terkikik saat memeluk Zahra.


"Zahra, Zahra, masih polos udah nekad nikah," cibir polisi itu saat melepas pelukannya.


Zahra mengelapi air mata yang menggenangi pipinya. Masih belum paham dengan tingkah laku polisi wanita itu.


Caramel melepas topinya. "Masih ingat dengan wajah ini?" tanyanya sambil menaik-turunkan alis.


Zahra sedikit familiar dengan wajah itu. Tak lama kemudian ia langsung memeluk polwan tersebut. "Caramel! Dasar nyebelin!" Zahra memeluk perempuan itu sambil mencubiti pinggangnya kesal.


Caramel terkekeh. "Lo kena prank!"


"Jantung aku udah mau loncat tau nggak?!" Zahra melepas pelukannya kemudian melotot sebal.


"Haha, dasar kentang goreng!" Caramel mencubit hidung Zahra gemas.


"Ayo duduk situ!" ajak Zahra menarik Caramel untuk duduk di sebuah kursi yang berada di dapur.


"Gue salut sama lo, bisa naklukin CEO muda tersukses sekelas Erwin Zamzami yang tampan dan berprestasi itu." Caramel mulai menggoda. "Bagi-bagi triknya, dong?"


"Kok, minta trik, sih? Namanya jodoh ya nggak pakai trik-trikan apalah kayak main bola aja." Zahra mendengus.


Caramel kembali tertawa. "Btw, sekarang penampilan lo religi banget. Gue kaget."


"Udah tua masa mau gaya-gayaan."


"Busyet, dah, lo masih 19 tahun, Zahra!" Caramel menggeplak dahi Zahra.


"Owh, iya lo denger kabar nggak, si Gavin sama Rijal yang main di timnas Indonesia U-19? Nggak nyangka kalau temen kita ada yang jadi pahlawan bangsa." Zahra mulai menceritakan teman-teman SMAnya.


"Gue nggak kudet kali, Ra. Si Rifki udah jadi jurnalis aja gue tau. Raffa jadi pengusaha muda tersukses. Vilan mantan lo yang udah sembuh dari ketergantungannya pada obat-obatan terlarang sekarang udah jadi pilot."


Zahra memejamkan matanya saat nama Vilan disebut oleh Caramel. Ia jadi rindu dengan sosok laki-laki tersebut.


"Kenapa bengong? Inget woy lo udah ada yang punya. Lo pasti inget sama Vilan, kan?" Caramel menyadarkan Zahra dari lamunan.


"Apaan, sih?!" Zahra mendengus. "Owh, iya btw kok, lo tau gue kerja di sini?"


"Gue nggak kudet kali, Ra." Caramel kembali mengulang ucapannya tadi. "Rumah makan lo, kan, lagi trending di youtube. Karena banyak youtuber-youtuber kondang yang buat konten di sini. Ya, pasti gue taulah lo sering diwawancarai sama mereka. Dari situ gue tau kalau lo udah nikah sama Erwin Zamzami CEO muda tersukses yang punya pabrik ponsel pintar tercanggih di dunia."


Zahra hanya membatin dalam hati. Untung Caramel tidak tau kalau aku pernah terjun ke dalam dunia gelap sebagai kupu-kupu malam sebelum nikah sama Mas Erwin.


"Idih langsung ngelamun lagi," cibir Caramel terkikik.


"Sepertinya kamu mulai lapar." Zahra langsung memanggil Vina. "Vina, satu porsi, ya!"

__ADS_1


TBC


__ADS_2