Bos Somplak

Bos Somplak
Part 18 : Paman Pelit


__ADS_3

"Kalau nggak cinta kenapa nikahin saya?"


"Aku mencintaimu, Zahra."


"Bohong!" potongku cepat.


Pak Erwin menggigit bibir.


"Jujur saja, Pak! Apa tujuanmu menikahiku?"


"Karena ingin memilikimu."


"Bohong!" jawabku lagi.


Pak Erwin menghembuskan napas kasar, kemudian kembali duduk di kursinya. "Aku sedang mengurusi surat gugatan cerai istriku, Zahra. Sebentar lagi kamu akan menjadi istriku satu-satunya."


Aku terdiam mendengar ucapannya.


"Apa hal itu belum cukup menunjukkan rasa cintaku padamu?" Pak Erwin menaikkan sebelah alis.


"Lagi pula syarat menikah itu tidak perlu harus cinta," lanjutnya sambil menarik satu map dari tumpukan berkas.


"Orang-orang Jawa zaman dulu, sudah dinikahkan sebelum mereka bertemu. Bayangkan, boro-boro cinta, ketemu aja belum. Asal udah berumur langsung dijodohkan. Dan, pernikahan mereka langgeng-langgeng saja,  keturunannya banyak sampai terlahir kita."


"Orang-orang Arab kebanyakan menikah karena hasil perjodohan. Tapi kasus perceraian di sana sedikit. Berbeda dengan di Indonesia yang membudayakan pacaran sebelum nikah. Malah, banyak sekali kasus perceraian yang terjadi."


"Cinta akan hadir dengan sendirinya setelah menikah, Zahra."


Aku mengerucutkan bibir. "Kalau tanpa cinta, ketika pasangan suami istri merasa tidak cocok saat nikah gimana? Kita tersiksa seumur hidup, dong?"


"Katanya Socrates, menikahlah, kalau pasanganmu baik kamu akan bahagia, kalau pasanganmu tidak baik kamu akan jadi filsuf."


"Kalau katanya Syekh Jalaluddin Rumi, menikahlah, kalau pasanganmu baik kamu akan bahagia, kalau pasanganmu tidak baik kamu akan jadi sufi."


Pak Erwin tersenyum. "Menikah itu diniatkan ibadah. Kalau menikah karena cinta, setelah cintanya terkikis, kehidupan rumah tangga akan berubah hambar. Kalau diniatkan ibadah, hal apapun yang akan dilakukan bersama pasangan akan terasa menyenangkan. Makanya salah satu filosof terkenal mengatakan, nikahilah sahabatmu sendiri. Karena perjalanan hidupmu butuh teman dan partner yang baik."


Aku mengerutkan dahi. "Emang kita temen?"


Pak Erwin tersenyum tipis. "Dari awal kita udah cocok, makanya saya yakin kita bisa jadi teman yang baik."


"Cocok apanya?" tanyaku penasaran.


"Sama-sama somplak." Pria itu terkekeh.


Aku pura-pura berdecak kesal, sambil menahan senyum. Pak Erwin kembali melanjutkan kesibukannya.


"Ngomong-ngomong kapan kamu berhenti manggil saya, Bapak?" sindirnya sambil menanda tangani berkas-berkas.


"Nanti kalau nggak lupa."


"Hmmm." Pak Erwin melirik ke arahku sekilas. Kemudian kembali melanjutkan aktivitas.


"Pak," panggilku.


"Ya."


Aku menggigit bibir. Bingung ingin memulai mengatakan darimana.


"Kenapa?" tanyanya sambil meletakkan pulpen. Kemudian melipat kedua tangan di atas meja dan menyorot ke arahku.


"Ka-kapan ba-bapak mau membantu saya merebut harta warisan?" tanyaku sambil menyipitkan mata, kemudian menunduk. Menghindari tatapan intens pak Erwin.

__ADS_1


"Pengennya kapan?"


"Secepatnya."


"Hmm, oke," angguk pak Erwin. "Mulai besok kita tinggal di rumahmu. Sambil ngatur rencana supaya bisa ngusir mereka."


Wajahku langsung berbinar.


***


Aku melangkah turun dari mobil yang dikendarai pak Erwin. Baru beberapa hari di tinggal, rasanya aku sudah rindu dengan rumah ini.


Pak Erwin yang mengenakan kemeja putih berdasi yang terbungkus jas hitam ikut turun.


"Ayo," ajaknya sambil menyelipkan kedua tangan pada saku celana.


Kedua bodyguard yang mengikuti mobil kami langsung buru-buru mengambil koper dan tas berisi pakaian ganti kami berdua.


"Assalamualaikum!" salamku kepada seluruh penghuni rumah. Suaraku menggema ke seluruh ruangan.


Pak Erwin melanjutkan langkah sambil mendongak, menatap interior di rumahku yang lumayan mewah. Sepatu pantofelnya berdetak menapak lantai.


"Ayo langsung ke kamarku aja," ajakku menarik pak Erwin ke lantai dua. Kedua bodyguard tadi ikut mengekor di belakang.


Pintu kamar terkunci dari dalam. Aku langsung menggedor-gedor pintunya dari luar.


"Iya, iya, ada apa sih?!" dengkus seseorang di dalam sana.


Wajah berantakan kak Sari muncul setelah pintu terbuka. "Kenapa sih?"


Aku menatap bajunya yang lusuh serta rambut yang acak-acakan. "Aku mau menempati kamarku."


"Apa?" Matanya membulat. "Kalian mau tinggal di sini?"


Hmm, jadi mereka baru saja? Aku menggelengkan kepala saat otakku mulai traveling.


"Tunggu-tunggu! Katanya suamimu kaya.  Kenapa kamu sampai tinggal di sini? Bangkrut?" cibir Sari dengan nada merendahkan.


"Suka-suka kami dong, orang ini juga rumahku."


Kak Sari langsung kicep.


"Cepat kemasi barang-barang kalian. Aku mau tidur di kamar ini."


"Ha? Nggak salah denger? Ini kamarku!" Kak Sari berkacak pinggang sambil melotot.


Aku terbahak sambil melirik pak Erwin yang terdiam dengan wajah tenang. "Hallo, ini kamarku. Kalian cuma numpang di rumah ini."


"Ya tapi nggak bisa gitu dong, kalian kan kaya. Kenapa nggak bikin rumah sendiri yang gede sih? Kenapa harus ngusik hidup kami?"


"Kami mengusik?" Tawaku semakin kencang. "Ini rumahku. Jadi, keluargamu yang ngusik hidupku."


"Ngotak banget sih jadi orang." Kak Sari mendesis.


"Cepet kemasi barang-barang kalian, pindah ke kamar lain sana. Bertahun-tahun kalian menjajah kamarku." Aku melipat kedua tangan di depan dada. Mengangkat dagu dengan wajah angkuh.


"Nggak sudi. Kami sudah nyaman di sini. Kalian di kamar tamu aja!"


"Pindah kamar atau kalian aku usir dari rumah ini?" Aku menaik-turunkan alis.


Kak Sari mengepalkan tangan, kemudian membuka pintu kamarnya lebar-lebar. Memperlihatkan kak Rustam yang baru saja memakai baju.

__ADS_1


Pria yang rahangnya dipenuhi dengan bulu itu hanya terdiam. Tak mampu berkutik melihat kehadiran kami berdua.


Pak Erwin masih membeku di sebelahku, sorot matanya terus mengarah ke arah kak Rustam. Sesekali pandangan mereka bertemu. Namun, Rustam buru-buru mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Pebinor!" cibirku pada Rustam.


Pria itu menahan kesal, tapi hanya bisa diam. Kak Sari yang sedang melipat seprai menoleh. "Siapa yang pebinor?"


"Suamimu lah!"


"Jaga bicaramu?"


"Hadeh, kamu terlalu bodoh kak sampai nggak tahu tabiat asli suamimu," sindirku ke arah kak Rustam yang sedang sibuk memasukan baju-baju ke dalam koper.


Pak Erwin memegang tanganku. Memberi isyarat agar aku diam, tidak usah melanjutkan ucapan.


Mereka berdua melangkah keluar dari kamar. Setelah memberesi pakaian dan barang-barang mereka. Berpindah ke kamar bawah.


Pak Erwin tersenyum tipis, saat berpapasan dengan kak Rustam. Aku meminta dua bodyguard yang mengikuti kami memberesi kamar.


"Ada apa ini?" tanya seseorang di bawah tangga. Ternyata paman Aji dan Tante Susi baru pulang entah dari mana. Mereka berdua tampak rapi. Tante Susi menenteng banyak barang belanjaan di tangannya.


"Zahra? Kamu pulang?" tanya Tante Susi sambil mendongak.


"Iya, Tante."


"Suamimu nggak punya rumah sendiri, kan dia orang kaya?" lanjut beliau dengan nada menyindir.


"Rumahnya dijual Tante buat borong minyak goreng," jawabku malas.


"Buat apa borong minyak goreng sampai jual rumah?"


"Buat goreng kak Rustam sampai gosong, gurih-gurih nyoi!" Aku terkekeh melirik ke arah kak Rustam yang menggeram sambil mengacungkan tangannya.


"Lalu, kenapa Sari dan Rustam disuruh pindah kamar?" tanya paman Aji sambil menghisap rokoknya.


"Karena ini kamarku."


"Jangan gitu Zahra, bagaimana pun mereka saudaramu." Paman Aji mulai menceramahiku. Terkesan aneh memang kebijakan berat sebelahnya.


"Kami pengantin baru, Paman. Butuh kamar yang nyaman."


Mereka berdua masih ngomel-ngomel. Padahal ini kamarku, rumah milikku. Kenapa justru mereka yang merasa hartanya telah aku rampas?


***


Aku dan Pak Erwin keluar dari kamar untuk makan malam. Keterlaluan sekali keluarga paman Aji, pemilik rumah belum makan tidak ditawari makanan sama sekali.


Sesampainya di ruang makan. Keluarga benalu itu hanya menoleh sekilas. Kemudian melanjutkan malahap makanannya.


"Apakah tidak ada sisa-sisa makanan untuk kami?" tanya pak Erwin sopan. Mengelus-elus perutnya yang kelaparan.


Paman Aji hanya melirik sekilas, kemudian kembali melahap makanannya. Kak Sari dan kak Rustam tampak tidak peduli, menoleh pun tidak.


"Maaf Erwin, kami cuma masak dikit. Kalian beli sendiri aja, kalian kan orang kaya."


Aku menggeram marah. "Pelit banget, sih? Nggak tahu diri!"


"Kalau kamu laper masak sendiri sana, Zahra. Tapi bahan makanannya beli sendiri, jangan ngambil sayur-sayuran di kulkas. Itu punya kami." Tante Susi menjawab enteng.


Dasar benalu nggak tahu diri! Aku benar-benar kehilangan kesabaran. Awas kalian, ya!

__ADS_1


FOLOW INSTRAGAM @nurudin_fereira


__ADS_2