Bos Somplak

Bos Somplak
Part 6 : Kencan Pertama


__ADS_3

Zahra lagi ngapain?



...Yuk, rekomendasiin cerita ini ke temen-temen kalian, biar makin rame hehe......


...***...


Aku mengepel lantai sambil merenung. Memikirkan tawaran kak Rustam.


Aku memang sangat-sangat membutuhkan bantuan untuk mengambil kembali semua harta warisanku.


Sayang, persyaratan yang Rustam berikan sangat mustahil untuk dilakukan. Semua hartaku akan kembali, tapi aku harus mendekam di penjara karena sudah membunuh bos Erwin. Lah, sama aja boong, dong?


Lagian, apa salah pak Erwin sehingga aku harus membunuhnya? Apakah bosku itu benar-benar jahat sehingga Rustam menyuruh aku membunuhnya? Sungguh menambah beban pikiran ku saja.


Aku terlonjak kaget saat ada orang yang menepuk bahuku. Wajah tampan pak Erwin yang pertama kali aku lihat setelah menoleh ke belakang. Pria itu tersenyum tipis.


"Boleh minta tolong temani saya keluar sebentar?" tanyanya dengan suara beratnl yang khas.


Aku masih terdiam. Mencerna ucapan pria bertuxedo hitam itu.


"Aku tunggu di mobil." Pak Erwin berlalu pergi karena tak sabar menunggu jawaban.


Aku masih melongo tidak percaya. Dengan ragu-ragu menyisihkan alat pel-pelan, kemudian melenggang pergi menyusul bos Erwin.


Kulihat pria tampan itu bersender pada pintu mobil dengan santai. Kaca mata hitamnya sedikit mengkilat tersorot sinar matahari.


Bak tuan puteri, pak Erwin membukakan pintu untukku. Uhh, romantis sekali.


Aku terdiam kikuk.


"Ayo, tuan puteri," ujarnya.


Kulirik wajahnya yang rupawan. Dari jarak yang sangat dekat. Hidung mancung dan rahang tegasnya menghipnotisku beberapa saat.


"Hmm."


Langsung terbangun dari lamunan saat dia berdehem. Akhirnya aku masuk ke dalam, dengan jantung berdebar-debar.


Pria itu berjalan mengitari mobil lalu duduk di sebelahku. Di kursi kemudi. Memasang sabuk pengaman, lalu menginjak pedal gas perlahan.


Mobil melenggang pergi dari parkiran kantor.


"Kita mau ke mana, Pak?"


"Meeting sebentar," jawabnya singkat, masih fokus mengemudi mobil.


Kaca mata hitamnya benar-benar membuatku meleleh.


"Kok ngajak saya?" tanyaku bingung.


Bibir sensualnya tersenyum tipis. "Karena kamu cantik."


"Apaan sih pak?" Aku tersipu malu. "Nanti klien bapak kalau nanya gimana? Aku kan cuma makai seragam office girl. Nggak etis banget bapak ngajak office girl ke tempat rapat. Harusnya ngajak sekertaris aj ..."


"Sssttt!"


Aku terdiam saat pria tampan itu menaruh terlunjuknya di depan bibir. "Jangan ngoceh, nanti aku cium!"

__ADS_1


Ah, suara beratnya benar-benar membuatku melayang ke angkasa.


Drrrttt... Drrttt... Drrttt...


Ponsel pak Erwin yang berada di dashboard mobil berdering. Pria itu langsung meraihnya dengan satu tangan yang memegang kemudi.


"Hallo?"


Aku hanya terdiam mendengar percakapan pak Erwin dengan seseorang di seberang telepon.


Samar-samar terdengar kalimat.


"Mereka sedang berpacaran di taman, Pak."


Tut!


Pak Erwin mematikan ponselnya, kemudian melajukan mobil mewahnya dengan kecepatan penuh.


"Mereka sedang berpacaran di taman?" tanyaku dalam hati. Mengulangi ucapan pria yang menelpon pak Erwin.


Siapa?


Hmm, aku jadi bingung.


Sebenarnya pak Erwin mau mengajakku ke mana sih? Kalau rapat kenapa orang yang tadi menelpon menyinggung soal pacar?


Pak Erwin mengerem mobilnya secara mendadak. Kemudian berbelok ke dalam mall.


"Kita beli baju dulu buat kamu!" ucapnya dengan nada serius. Sangat berbeda dengan ciri khasnya yang biasanya santai dan murah senyum.


Aku masih terdiam saat bos muda itu membuka pintu. Tanpa disangka-sangka, pak Erwin menyambar tubuh mungilku ke gendongannya memasuki sebuah Mall.


Pria itu hanya bergeming. Melangkah dengan tergesa, hingga menabrak beberapa orang yang hilir-mudik di depannya. "Permisi!"


Pak Erwin membawaku ke stand penjual pakaian, menurunkan tubuh mungilku di depan kasir lalu berlari menuju deretan busana muslim di ujung sana.


Ia menyisir seluruh pakaian yang dipajang. Pandangannya jatuh pada gamis berwarna merah bermotif bunga-bunga. Kemudian menariknya.


Bos somplak itu langsung berlari ke kasir menyodorkan baju gamis tersebut. "Ini berapa, Mbak?" tanyanya dengan napas yang sedikit tersengal.


"Lima ratus sembilan puluh sembilan ribu, Pak," ucap mbak kasir itu ramah.


"Bayar pakai debit bisa, kan?" tanyanya terlihat gelisah. Melirik ke arahku sekilas kemudian mengeluarkan kartu debit di dalam dompet.


"Iya, Pak," angguk sang kasir.


"Kok bapak aneh sih?" tanyaku yang  hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuannya.


Pak Erwin menghela napas. "Kita harus buru-buru.


"Udah, Pak," sang kasir memberikan kartu debitnya kepada pak Erwin. Dia kembali menggendong tubuhku setelah meraih bungkusan gamis yang ia beli.


"Pak, jangan gendong-gendong terus kenapa, sih? Malu tau!" Aku memukul-mukul bahunya kesal.


Tadinya mau mukul kepalanya, tapi karena sadar dia bosku akhirnya nggak jadi. Lagi pula kasihan wajahnya yang tampan kalau aku pukul, harusnya dicium. Ea!


Pak Erwin membawaku ke arah ruang ganti. "Cepet ganti!"


Aku menerima baju yang dilemparkan pak Erwin. Menatap potongan kain itu, ragu. "Emang harus ya, pakai baju muslimah kayak gini?" tanyaku sambil tersenyum masam.

__ADS_1


"Biar anggun."


"Tapi aku nggak pernah pakai gamis, Pak?"


"Hufft! Ayolah cepat, waktu kita menipis!" Pak Erwin melirik jam tangannya, kemudian mendorongku masuk ke dalam ruangan.


Di dalam, aku masih terdiam sambil menatap pantulan diri di depan cermin. Rasanya aneh saja, seorang Zahra Amelia harus memakai pakaian longgar, dengan kerudung yang kebesaran.


Aku terhenyak saat pak Erwin menggedor pintu. "Zahra, cepetan!"


"Iya, iya ih!" Aku terpaksa memakai gamis tersebut dengan kesal. Setelah menanggalkan pakaian dinasku dengan susah payah.


Kemudian kerudung. Lagi, keraguan kembali menyergap. Seorang Zahra Amelia, harus memakai kerudung?


Pak Erwin kembali menggedor-gedor pintu. "Kalau lama, aku yang pakaikan, nih?"


Akhirnya aku menyampirkan kerudung itu ke atas kepala. Mengaitkan bros di bawah dagu dan selesai.


Hmm, cantik juga.


"Zahra, saya masuk nih?" teriak pak Erwin dari luar.


Dasar, bawel juga ternyata itu bos somplak.


Aku keluar dari ruang ganti sambil menenteng seragamku di dalam plastik.


Pak Erwin tampak membeku beberapa detik. Melepas kaca mata hitamnya dengan wajah terperangah. Seolah tersihir dengan kecantikanku.


"Cantik, 100% asli tanpa boraks dan formalin."


Bibir mungilku mengerucut. "Beneran, Pak?" tanyaku memastikan.


Pak Erwin langsung terbangun dari lamunan, kemudian melemparkan seulas senyum.


"Boleh aku cium kamu?"


Aku meringis. Pipiku memanas seperti kepiting rebus.


Wajah tampan pak Erwin mendekat, bibirnya sudah siap menyosor pipiku.


Plakk!!


"Nanti aja kalau udah halal!"


Pria itu menarik tanganku untuk segera keluar dari mall.


Asem!


Hargai penulis dengan follow Instagram Nurudin_fereira ya 🙏


Hayo mau diajak kemana nih Zahra?


komentar kalian dong buat Erwin?


komentar kalian buat Zahra?


komentar kalian buat keluarga paman Aji


komentar kalian buat Rustam?

__ADS_1


komentar kalian buat author wkwk


__ADS_2