Bos Somplak

Bos Somplak
Part 35 : Nyindir!


__ADS_3

"Renaaaa...!!!" pekik Viola kesal, karena Rena menyetel musik dj Alan Walker terlalu kencang, sampai-sampai gendang telinganya pecah.


"Jangan keras-keras!" Viola mencabut kabel musik box dari terminal dengan kasar.


"Isshh, jangan dimatiin!" Rena mendengus lalu melempari Viola dengan boneka kecil tepat mengenai kepalanya.


Viola melotot sambil berkacak pinggang.


"His, Mama kalau melotot kayak iblis." Rena berdecih.


"Nggak usah nakal!"


Rena memutar bola matanya malas. "Nangis dibilang nakal, bunyiin musik dibilang nakal. Yang baik gimana? Nonton draKor?"


"Kamu ini dibilangin jawab terus, ya?!"


Rena memeluk kedua lututnya, kemudian menenggelamkan wajahnya sambil menangis terisak-isak.


Hal itu semakin memperkeruh pikiran Viola. Ia yang sudah pening memikirkan Rustam yang tidak pulang-pulang dari kemarin, malah ditambahi beban kebandelan Rena yang membuatnya semakin frustasi.


"Nangis sana, ah, Mama pusing!" Viola terduduk di sofa sambil memijat-mijat keningnya pening.


Ia meraih telepon rumah lalu mengetik beberapa digit angka untuk menelpon Rustam. Karena Viola masih belum memiliki ponsel genggam yang lebih canggih, karena tidak diperbolehkan oleh Rustam. Walaupun ia tau sudah puluhan kali panggilannya tak terjawab. Tapi, ia terus mencoba menghubungi suaminya itu karena khawatir.


Drrrttt... drrrrtttt... drrrtttt...


Sementara itu di tempat lain ponsel Rustam yang berada di atas nakas berdering. Tapi Rustam masih enggan untuk mengangkatnya. Sampai pada akhirnya, wanita yang diberbaring di sebelahnya mendengus kemudian beranjak dari posisinya dengan dibalut oleh selimut.


"Jangan diangkat!" sergah Rustam.


Wanita itu mengernyit. "Brisik, mau aku banting handponenya!"


"Bukan ide yang tepat."


"Dari siapa, sih?" tanya wanita itu kembali berbaring di sebelah Rustam karena masih mengantuk.


"Istri tercintaku."


Wanita itu tersenyum miris. "Kalau sayang kenapa kamu sakitin?"


"Kalau nggak ketahuan nggak bakal nyakitin, lah."


"Ada ya, suami sayang istri tapi masih main sama wanita lain?" sindir wanita itu.


"Ini hobiku sejak muda."


"Dih, menjijikan!" Wanita itu bergidik lalu memunggungi Rustam.


"Suka sama perempuan lain itu untuk bersenang-senang. Suka sama istriku itu komitmen, salah?"


"Hidung belang, ya, tetap hidung belang!" desis wanita itu.


"Itu prinsip hidup." Rustam terkekeh. "Seperti prinsip hidupmu, mencari uang dengan segala cara walaupun harus menjual diri."


***

__ADS_1


Erwin terdiam di teras rumah merenungi ucapan Ibu Viola kemarin. Rasa khawatir tetap senantiasa membungkus ketenangan hidupnya. Apalagi dengan rasa rindu yang menyeruak masuk memenuhi rongga di hatinya kepada Rena. Membuat Erwin semakin gelisah.


Begini ya, rasanya menahan rindu kepada anak? Begini, ya, sakitnya menahan rindu ingin bertemu? Begini, ya? Begini, ya? Kata-kata itu terus terngiang-ngiang dibenak Erwin. Membuat lelaki itu menyadari sesuatu. Bahwa kedua orangtuanya mengalami hal yang sama saat rindu kepadanya.


"Asstagfirullah." Erwin mengusap-ngusap wajahnya memohon ampun dan bertaubat kepada Allah. Mungkin ini sebuah teguran, bahwa sebenarnya ia masih punya orangtua yang menanti-nantikan kehadirannya walau hanya sebentar. Orangtua yang selalu mengurusinya dari kecil hingga dewasa, dan akhirnya lalai kepada mereka hanya karena sibuk mengurusi urusan dunia. Orangtua kita tidak butuh uang, tapi butuh senyuman indah dari anak-anak yang mereka besarkan. Ya, hanya itu. Sederhana. Tapi, sangat sulit untuk dikabulkan.


Erwin meraih ponselnya kemudian menelpon Zahra yang sedang bekerja di warung makan. "Assalamu'alaikum, hallo, Zahra?" ucap Erwin setelah telepon terangkat.


"..."


"Kita ke Malang sekarang."


"..."


"Aku pengen jenguk Ibu. Kalau kamu nggak mau ikut nggak papa, biar..."


"..."


"Yaudah, aku jemput, ya!"


***


Setelah mendapat telepon dari Erwin, Zahra langsung buru-buru pulang ke rumah. Bersiap-siap menata pakaian, untuk menginap. Setelah semua selesai, Erwin menelpon pesuruhnya untuk mencari tiket pesawat menuju ke Malang.


"Buat apa, Mas?" Zahra menurunkan telepon genggam yang dipegang Erwin.


"Kita mau naik apa?" Erwin mengernyitkan dahinya.


"Sopir pribadi." Zahra menaik-turunkan alisnya kepada Erwin kemudian beralih ke arah pintu.


"Ekhmm... ekhmm...." Suara deheman itu terdengar begitu familiar di telinga Erwin. Tampak ujung sepatu pantopel di ambang pintu, kemudian hadir sosok pria memakai jas kantor lengkap dengan dasi kupu-kupunya setelah pintu terbuka.


"Saya bersedia mengantarkan Bapak ke sana." Refan mengangguk hormat kepada Erwin.


"Kok, kamu tiba-tiba ada di sini?" Erwin terlihat bingung.


"Biasa, selingkuhan aku, Mas." Zahra nyengir kuda, yang disambut Erwin dengan pelototan tajam.


"Hehe, iya-iya becanda." Zahra mengacungkan jari tengah dan jari telunjuknya.


"Selingkuh sama pejabat nggak boleh, bolehnya sama tukang ojek!" Erwin mencubit tangan Zahra pelan, hingga membuat Zahra terkekeh.


"Aduh, kok, jadi ngungkit-ngungkit masa lalu gini, sih?" Refan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Dia tadi itu nungguin kamu di warung, Mas. Tapi, kamu nggak dateng-dateng Eh, pas banget kamu nelpon ngajak ke Malang. Dia dengan baik hatinya menawarkan diri menjadi sopir pribadi," jelas Zahra.


"Hmm, selingkuhan idaman." Erwin berdehem singkat.


"Selingkuh itu makanan apa, sih?" tanya Zahra sok polos.


"Makanan mahal yang kamu makan di restoran tapi nggak kamu bayar, dan akhirnya digebukin."


"Isshh, stop-stop!! Nggak usah ngomongin soal selingkuh."


Erwin terkekeh kemudian beranjak sambil menenteng koper berukuran kecil. "Kamu dulu yang mulai."

__ADS_1


"Salah ketik."


"Tapi kelamaan kalau naik mobil pribadi."


"Hmm, nggak pa-pa. Sekali-kali kita merasakan mudik pakai mobil, sambil jalan-jalan menikmati pemandangan."


"Aku mau nelpon kakek. Mau ikut apa tidak," ucap Erwin.


"Tidak usah, Pak. Kakek tidak suka berada di kampung. Bapak lupa, kalau kakek masih kesal karena orang tua pak Erwin tidak mau menggantikan kakek memimpin perusahaan."


"Ah, iya. Ayo kita siap-siap berangkat."


Zahra jadi tahu, kenapa hubungan kakek dengan kedua orang tua Erwin tidak harmonis.


Hmm, untung saja cucunya ini mau menuruskan mengembangkan perusahaan kakek.


***


Mereka bertiga kini sudah naik ke dalam mobil. "Sebelum berangkat kita berdoa dulu. Biar perjalanannya lancar. Doa berpergian, ditambah baca sholawat, surah al-iklash, dan ayat kursi."


Refan tersenyum sembari berdoa dalam hati. Ia rindu dengan tausyiah-tausyiah Erwin.


"Kok, banyak banget, Mas?" protes Zahra.


"Coba kamu tanya orang yang mengalami kecelakaan. Tanya saja diperjalanan baca sholawat nggak? Baca surah Al-iklash nggak? Baca ayat Kursi? Pasti jawabnya enggak."


"Tapi itu namanya musibah, Mas."


"Sssttt, nggak ada salahnya kita berikhtiar. Dengan doa dan usaha. Jangan terlalu pasrah dengan takdir, semua bisa dirubah dengan doa."


"Takdir tidak bisa dihindari..."


Erwin terdiam.


"Kamu itu comment mulu, readers Bos Somplak aja nggak ada yang mau comment, kok."


"Bodo, aku, kan, nggak setega mereka."


"Lagian aku heran sama yang baca cerita Bos Somplak, kok banyak yang nggak mau comment sama sekali, ya?"


"Mungkin kebanyakan nonton Tom & Jerry. Wujudnya ada tapi suaranya nggak ada."


"Tapi masih ada beberapa butir yang comment, alhamdulilah. Berarti mereka ngefans sama kita." Erwin terkekeh.


"Yang nggak mau comment kita doain mereka biar tangannya jadi jempol semua, yuk, Mas."


"Huss, nggak boleh doa yang jelek-jelek!"


"Habis mereka ngeselin! Zahra udah dandan imut-imut kayak gini mereka nggak mau comment."


"Gimana kalau kita ngambek nggak usah nongol?" tanya Erwin memberi ide.


"Jangan, ah, aku kasihan sama yang nunggu ceritanya update."


"Huufftt..." Erwin menghela napas. "Lagian mereka disindir bukannya nyadar malah nambah ngeselin."

__ADS_1


Refan yang sedang menyetir mobil mendengus. "Ngomongin apa, sih? Sungguh tidak menjiwai peran sama sekali."


Bersambung...


__ADS_2