
Anak laki-laki bernama Rian itu tampak mengaktifkan sesuatu di jam tangannya. Kemudian memasang headsheet kecil ke telinganya. "Iya, dia anak dari mafia itu," lirihnya hati-hati. Agar lima anak yang sedang tertidur di sebelahnya tidak terbangun.
"Nanti kalau gue dimutilasi duluan gimana?" tanya anak itu ketar-ketir. "Oke-oke, gue bakalan lakuin apa yang lo perintahin."
Rena mengerjap-ngerjapkan matanya melihat anak laki-laki berkewarganegaraan Indonesia itu berbicara sendiri. "Kamu ngomong sama siapa?" tanya Rena sambil mengucek-ngucek mata sayunya yang habis bangun tidur.
Rian langsung terjingkat kaget. Buru-buru ia mematikan ponsel berbentuk jam tangan yang ia kenakan.
"Kamu bisa ngeliat setan, ya?" tanya Rena polos.
"Udah tidur lagi sana!" Rian melototi Rena.
"Ih, nyuruh-nyuruh!" Rena memberengut sebal.
Rian mendengus karena sadar tidak ada habisnya berdebat dengan anak ajaib ini.
Cklekk...
Pintu terbuka menampilkan dua sosok pria memakai tuxedo hitam membawa beberapa kotak makanan untuk mereka.
Rena langsung beranjak dari posisinya kemudian melompat dan menggigit lengan pria itu.
"Lepasin aku sama temen-temenku!" pekik Rena kesal.
Bruuuggg...
Pria bertuxedo itu menghempaskan tubuh Rena ke tembok. "Makan yang banyak, biar laku mahal."
"Lepasin aku! Aku nggak mau dikurung di sini!" teriak Rena dengan air mata yang berlinangan membasahi pipinya.
Pria itu hanya tersenyum miring sembari meletakkan enam nasi box ke dekat mereka. Sementara pria berkulit hitam khas orang Afrika yang berdiri di ambang pintu tetap berdiri seperti patung.
Rian melirik ke arah Rena dengan tatapan kasihan. Sesaat kemudian ia beralih ke arah dua pria tua yang akan menutup pintu itu. "Tunggu!"
Pria itu terhenti kemudian menatap Rian dengan tatapan datarnya.
"Lepaskan dia, please!" Rian menunjuk Rena dengan wajah memelas.
Pria itu tersenyum miring, kemudian menarik knop pintu itu.
"Tunggu!" Rian langsung berlari menahannya. "Aku mau memberitahukan sesuatu."
Pria memakai tuxedo dengan rambut klimisnya itu mengernyit.
"Ayahku seorang ilmuwan handal di Bandung, Ayahku pandai menciptakan benda-benda biasa menjadi benda super canggih berkat percobaan-percobaan dan eksperimennya, aku mewarisi bakat Ayahku. Dan, sekarang aku punya rencana untuk kalian," ucap Rian dengan napas tersendat-sendat.
Pria itu menatap Rian tidak yakin. "Katakan sekarang?"
"Maukah kalian bekerja sama denganku? Aku tidak akan berkhianat."
Pria itu sepertinya tidak tertarik dengan tawaran Rian. Namun, Rian kembali menghentikan tangan pria itu saat akan menutup pintu.
"Aku akan menciptakan benda-benda canggih untuk kalian." Rian masih mencoba membujuk. "Kalau kalian tidak ingin membiayai keperluanku untuk bereksperimen aku bisa cari biaya sendiri. Pokoknya aku ingin bergabung di organisasi yang bergengsi ini."
Pria itu terdiam.
"Dia." Rian menunjuk Rena yang terkulai lemas di sana. "Dia anak orang terkaya di Indonesia. Kakeknya memiliki banyak perusahaan besar, Ayahnya sendiri menjabat sebagai orang nomor satu di perusahaan smartphone Indophone. Mustahil, Ayahnya tidak mau memberikan uang yang banyak untuk kita."
Pria itu termenung.
"Oke-oke, maksudku. Telpon Ayahnya ke sini untuk membawa uang tebusan untuk dia. Bilang saja tidak usah membawa polisi. Nah, setelah nanti Ayahnya menyerahkan uangnya. Ledakkan tempat ini agar dia terbunuh di sini."
Pria itu menatap Rian dengan tatapan kagum.
"Kalau perlu jemput Ayahnya ke Indonesia. Untuk mengantisipasi bahwa Ayah dia tidak membawa polisi yang membahayakan organisasi ini," jelas Rian.
__ADS_1
Pria itu tersenyum kemudian menutup pintu dengan keras. Rian langsung memukul-mukul pintu itu kesal. "Hey, aku belum selesai bicara!"
Sementara Rena menatap tajam ke arah Rian. Rena benci pada seseorang yang ingin berniat jahat kepada Ayahnya.
"Kamu mau membunuh Papaku?" Rena berlari menghampiri anak itu dan melayangkan pukulan bertubi-tubi.
"Diam!" Rian membentak.
Rena masih tak menyerah memukuli Rian. Walaupun tangan mungilnya sama sekali tidak berefek pada anak kelas tiga SMP itu.
"Kamu mau mengebom Papa Erwin setelah ngasih uang ke kamu?" Rena berteriak keras. Tau kalau memukul tidak akan berefek apa-apa. Rena akhirnya menggigit lengan anak itu.
"Argghhhh, sakit!" Rian meringis. Mencoba mengibas-ngibaskan tubuh mungil Rena di lengannya.
***
Erwin baru saja pulang dari kantor, melihat Zahra yang sedang mengepel lantai.
Ia langsung meletakkan tas kantornya di sofa kemudian berlari menghampiri Zahra. "Biar aku saja," ucap Erwin merebut alat pelnya dari tangan Zahra.
"Nggak papa, Mas, aku aja." Zahra menghela napas.
"Kamu istirahat aja." Erwin melanjutkan tugas Zahra mengepel lantai.
"Kamu yang harusnya istirahat, kamu, kan, baru pulang."
"Kamu harus banyak istirahat demi kesehatan jagoan kecil kita." Erwin melirik ke perut Zahra yang masih rata.
"Ya ampun, Mas, ngepel sambil olahraga kali." Zahra memutar bola matanya malas.
"Kalau nggak kita cari asistent rumah tangga aja gimana?" tanya Erwin.
"Nggak seru, ah. Aku pengen kayak ibu-ibu di tv, bisa ngurus rumah ini sendiri."
Tak lama kemudian, Erwin celingak-celinguk mencari kehadiran Zahra yang menghilang dari pandangannya. Ternyata perempuan itu berjalan menuju kamar. "Hey, mau kemana kamu?" teriak Erwin.
Zahra menolehkan kepalanya ke belakang. "Mau ke kamar."
"Aku gendong!" Erwin menghempaskan alat pelnya kemudian berlari menghampiri Zahra dan menggendongnya ala bridal style ke dalam kamar.
"Pokoknya kamu nggak boleh kecapean."
Zahra tersenyum sendiri melihat tingkah Erwin. Benar kata orang, kalau ibu sedang hamil, pasti mudah mendapat perhatian dari orang di sekeliling.
Erwin menatap wajah istrinya yang masih berumur 19 tahun itu lekat-lekat. "Kamu, kok, tambah makin cantik?" ucapnya sambil mencubit hidung Zahra.
"Hey-hey, Mas! Kamu udah melakukan pelanggaran hak cipta." Zahra memperingati.
"Kok, gitu?" tanya Erwin duduk di tepi ranjang sambil mengelus-elus lengan Zahra yang berbaring di sebelahnya.
"Habis, kamu ngehamilin anak di bawah umur."
"Emang anak 19 tahun itu di bawah umur?" Erwin malah bertanya.
"Yaiyalah."
"Emangnya umurku udah 50 tahun gitu, sampai-sampai kamu tuntut? Umurku masih 28 tahun dan masih cocok menggauli perempuan seumuranmu." Erwin mencapit hidung Zahra.
"Aku kemarin masih 18 tahun, aku masih cocok disebut gadis. Eh, malah kamu hamilin." Zahra mengerucutkan bibirnya.
"Istri yang pas buat laki-laki berumur 28 tahun itu, ya, sekitar 17 sampai 19 tahun. Karena perempuan itu lebih cepet tua daripada laki-laki yang awet muda." Erwin terkekeh.
Zahra langsung terbelalak. "Sok awet muda!" ucapnya ketus.
"Lihat aja nanti kalau kita udah punya anak tiga. Pasti kamu udah keriput, kalau nggak perut kamu udah bengkak kemana-kemana nggak ramping lagi kayak gini."
__ADS_1
Zahra terdiam. Ada benarnya. "Terus kalau udah gitu. Aku kamu tinggalin? Nikah lagi, gitu?"
"Ya, enggak, lah. Istriku cuma Viola. Kamu pemain cadangannya. Berhubung Viola udah hengkang dari hidupku, jadi kamu jadi satu-satunya sekarang."
"Jadi posisiku sekarang bukan setelah? Tapi, selalu, kan?" tanya Zahra polos.
Erwin mengangguk. "Posisimu sekarang adalah penjaga gawang utama."
"Isshhh, ngeselin, Bapak-Bapak!" Zahra mencubit lengan Erwin.
"Hey lihat nanti, ya, kalau anak kita udah tiga pasti kamu lebih terlihat jadi nenek-nenek daripada aku."
"Banyak amat, sih, buat anak sampai tiga." Zahra merapihkan rambut panjangnya yang berantakan menjatuhi wajah.
"Biar seru." Erwin terkekeh.
"Ganas!"
"Biarin, aku ganasnya cuma sama kamu." Erwin menciumi pipi Zahra.
"Yaiyalah, istri kamu, kan, aku. Ganas sama tukang cendol, ya, jadinya lucu," cibir Zahra.
Erwin berhenti menciumi Zahra setelah ponselnya berdering. Pria itu langsung mengangkat telepon dari nomor yang tidak di kenal. "Assalamualaikum, ada yang bisa saya bantu?"
"...."
Mata Erwin langsung membulat. "Apa, sekarang anda sedang menculik Rena?"
"...."
Wajah Erwin langsung terlihat panik. "Oke-oke, saya mohon jangan apa-apakan anak saya. Saya akan tebus anak saya 3 miliyar untuk anda."
"...."
"Iya, saya tidak akan bawa siapa-siapa. Saya sendiri ke sana. Tolong jangan apa-apa, kan, anak saya."
Tut... Tut... Tut...
"Hallo? Hallo?!!" teriak Erwin saat panggilannya terputus.
"Kenapa, Mas?" tanya Zahra yang sedari tadi mendengar percakapan Erwin dengan orang yang tidak dikenal. Perempuan itu mengusap-usap punggung Erwin untuk menenangkan.
"Rustam telah memberikan Rena kepada penadah jaringan perdagangan manusia. Aku harus menebusnya 3 miliyar kalau ingin Rena selamat."
"Aku akan terbang ke Beijing besok." Erwin menghela napas gusar.
"Kamu harus bawa polisi."
"Mereka akan membunuh Rena kalau aku bawa polisi." Erwin mengusap-usap rambut Zahra.
"Mereka licik, Mas, aku takut mereka ngapa-ngapain kamu." Zahra memeluk Erwin erat.
"Aku akan baik-baik saja. Tuhan akan selalu melindungiku."
"Kamu yakin, akan ke sana sendiri?" tanya Zahra dengan mata berkaca-kaca.
Erwin mengangguk. "Mereka akan menjemputku di bandara. Mereka sangat berhati-hati kepadaku. Mereka melakukan hal itu untuk mengantisipasi bahwa aku tidak membawa polisi saat terbang ke sana."
"Mas...," lirih Zahra tak tau harus berkata apa.
Erwin mencium lembut perut Zahra, kemudian mengusap-usapnya. "Do'akan aku, supaya tetap menjadi ayah saat bayi ini lahir nanti."
Zahra semakin menangis terisak-isak. Perasaannya bertambah tidak tenang.
Bersambung...
__ADS_1