
Aldo menajamkan pandangannya saat mengendap-endap menyusuri lorong lantai lima. Perkiraannya, setiap kamar yang berada di hadapannya itu sudah dihuni oleh musuh bersenjata yang siap membunuhnya kapan saja.
Aldo dan pasukannya merayap, melangkah perlahan menyusuri lorong itu. Salah satu tim densus 88 mendobrak pintu kamar yang ada di dekatnya kemudian anggota yang lain langsung melemparinya dengan granad. Kepulan asap pun terlihat, mulai bermunculan beberapa orang dibalik pintu kamar dengan senapan laras panjangnya. Baku tembak pun tak terhindarkan.
Dengan cekatan Aldo langsung mengelak saat sebuah peluru dari senjata api meluncur cepat ke arahnya. Ia menggeram karena peluru itu malah menembus dada anak buahnya.
"Sial!" dengus Aldo kesal karena anak buahnya sudah banyak yang gugur. Pria itu membidikkan senapan laras panjangnya ke arah musuh yang semakin banyak bermunculan dari kamar apartement. Beberapa musuh berjatuhan saat Aldo menembaknya dengan membabi buta.
Aldo terkejut saat ada tangan yang menariknya masuk ke dalam ruang kamar di dekatnya. Rupanya salah satu anak buahnya, yang bersamaan dengan itu langsung menutup pintu kamar rapat-rapat.
Mereka semua langsung menarik beberapa sofa dan meja agar musuh di luar tidak bisa mendobrak pintunya. suara gedor-gedor pintu terdengar memekakkan telinga. Sepuluh anggota tim gabungan Densus 88 termasuk Aldo terlihat begitu panik. Ada beberapa dari mereka yang mengobati rekan-rekannya yang terluka.
Aldo menjatuhkan tubuhnya ke lantai dengan kedua tangan yang terkepal dingin. "Brengsek!!!" umpatnya geram. "Kita terkurung!"
Salah satu anggota tim Densus 88 bertekuk lutut di depan Aldo sambil menangis. "Kita terkurung, kita akan mati!" rintih pria bertubuh gempal itu dengan tubuh gemetar.
"Arrrgggghhh...!!!" Aldo memukulkan tangannya yang terkepal ke tembok. "Sudah banyak teman-teman kita yang sudah gugur!" gerutunya lirih.
"Sekarang bagaimana?" tanya salah satu personil Densus 88.
"Kalau begini caranya kita tidak bisa menangkap mafia kejam itu." Aldo mengusap-usap wajahnya lelah. "Negara kita han... cur!" lanjutnya penuh penekanan.
"Tim kita tinggal 10 orang, kita semua akan ikut mati, Pak!"
Aldo terdiam, menatap pintu yang terus di gedor-gedor oleh musuh di luar. Sembilan anak buahnya yang lain juga terdiam dengan napas terengah-engah.
"Kita turun lewat balkon." Aldo beranjak, kemudian meraih tongkat pemukul yang berada di belakang punggung anak buahnya. Ia menghampaskan pemukul itu ke jendela, hingga kaca jendela hancur berserakan.
Kesembilan anak buahnya mengikuti Aldo bergelantungan menuruni balkon lantai lima ke lantai empat. Ia juga membantu anggotanya yang terluka parah agar bisa melompati balkon untuk turun. Kemudian Aldo kembali memecahkan kaca jendela di salah satu kamar yang berada di lantai empat agar bisa masuk ke dalam.
"Rama, periksa pintunya!" ujar Aldo menyuruh salah satu anak buahnya untuk memeriksa pintu kamar di lantai empat yang mereka masuki.
Anak muda yang dipanggil Rama itu mengangguk, kemudian dengan hati-hati mengintip keadaan di lorong lantai empat. "Aman, Pak!" ucapnya sambil mengacungkan jempol.
"Kita akan mengatur strategi kita di sini, apakah kita akan pulang mencari jalan keluar, atau melanjutkan misi untuk menyeret mafia di atas sana ke jeruji besi," tukas Aldo tegas.
"Kita tinggal sepuluh orang, Pak. Sama saja bunuh diri kalau masih nekad melawan mereka," jawab salah satu anak buahnya yang berkepala plontos.
"Tidak! Kita harus melanjutkan misi ini. Kita harus melanjutkan perjuangan teman-teman kita yang sudah gugur, kita tidak boleh jadi pengecut!" sahut Rama dengan rahang yang mengeras.
"Tapi kita hanya sepuluh orang!" bentak pria berkepala plontos itu.
"Nggak! Pasukan kita masih empat belas orang. Keempat anggota Team AR21 masih mencari keberadaan tuan Erwin. Mereka belum masuk ke dalam gedung ini," jawab Rama sinis.
"Mereka pasti juga bakalan mati, kalau sudah nginjek gedung ini!" Pria berkepala plontos itu menggertak.
"Caramel adalah gadis jenius, mustahil kalau dia bisa kalah dengan musuh yang mengandalkan nafsu daripada otak." Rama tidak kalah sengit.
__ADS_1
"Mau pakai apa mereka buat ngalahin musuh? Hah?!"
"Pakai kayu, kursi, tangan kosong, APAPUN!!! Asalkan kita bisa seret Rustam dan anak buahnya ke jeruji besi."
"SUDAH! SUDAH! CUKUP!!!" Aldo mencoba menengahi perdebatan mereka. "Kita adalah satu team, kita harus kompak dalam menjalankan misi."
***
Rustam menghisap rokoknya dalam-dalam, tak lama kemudian kepulan asap langsung mengepul di udara. "Aldo Flavio dan kesembilan anak buahnya bersembunyi di kamar 203 lantai empat," ucapnya sambil menatap monitor cctv.
Mr. Jacob yang masih duduk di kursi, menggigit apelnya sedikit. "Sepertinya para sniper kita juga banyak yang terbunuh."
"Apa kita perlu memanggil pendekar kungfu untuk mengusir tikus-tikus itu?" tanya Rustam sambil menjentikkan putung rokoknya.
"Hmm, sepertinya iya. Lihatlah monitor cctv sebelah kiri. Ada empat tikus-tikus yang baru masuk," tunjuk Mr. Jacob.
Mata Rustam membulat melihat sosok perempuan yang memimpin keempat penyusup itu. "Caramel Alisyia Pratama?" lirih Rustam dengan wajah terkejut.
"Apakah kau kenal?" tanya Mr. Jacob.
"Ah, tidak!" jawab Rustam kikuk.
Mr. Jacob tersenyum sinis. "Lexus, panggil pendekar kungfu untuk datang ke sini!"
"Baik, Pak!" jawab Lexus.
"Aku mau keluar dulu, ingin bersenang-senang dengan mereka." Rustam meninggalkan Mr. Jacob dan juga Viola begitu saja setelah sebelumnya berkata. "Aku titip istriku dulu."
***
"Kapten Aldo, anda di mana? Kapten!" Caramel memanggil-manggil Aldo lewat earpiece yang mereka gunakan untuk berkomunikasi. Namun, tidak ada sahutan sama sekali. "Sial!" Caramel berdecak sebal.
"Huh, lalu bagaimana?" tanya Aldi sambil berkacak pinggang menoleh ke atas.
"Kita harus naik ke atas," jawab Caramel singkat.
"Bagaimana kalau mereka semua mati?" tanya Aldi sinis.
"Terus lo takut? Kalau takut pulang aja. Gue akan maju sendiri!" Caramel langsung naik pitam. "Gue pengen nyelamatin suami sahabat gue."
"Tuan Erwin sudah mati!" Aldi meninggikan nada suaranya.
"Gue harus menemukan tuan Erwin meskipun dia udah mati. Gue yang jadiin dia umpan tanpa sepengetahuan Zahra. Gue yang harus bertanggung jawab." Caramel menghela napas.
Lift yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri tiba-tiba terbuka. Tampak dua pria bertuxedo hitam bersama dua pria China memakai kostum kungfu di belakangnya, menyeringai ke arah Caramel dan ketiga temannya.
"Hallo, saudaraku sebangsa dan setanah air. Maaf kami telat menyambut tamu terhormat seperti kalian," ucap pria bertuxedo itu tersenyum remeh. Sementara dua pendekar kungfu yang berada di belakangnya hanya bersedekap santai dengan tombak yang bersender di tubuh mereka..
__ADS_1
Caramel dan ketiga temannya, memundurkan langkah sambil mengacungkan pistol mereka. "Jangan bergerak, atau kami tembak!" ucap Caramel waspada.
"Lihat di belakangmu." Pria bertuxedo itu menunjuk dengan dagunya.
Caramel langsung menoleh ke belakang. Sudah ada tiga sniper bersenjata laras panjang yang siap menembaknya. "Bangsat!" desisnya.
"Turunkan senjata kalian!"
Mau tidak mau, Caramel dan ketiga temannya menjatuhkan pistolnya. Mereka berempat meneguk ludahnya dengan susah payah saat musuh mulai berjalan mendekat.
"Kalian bertiga tendang senjata yang dibawa sniper di belakang kita, lalu lari. Biar aku yang urusi pendekar kungfu di depan kita," bisik Caramel pelan kepada ketiga anggotanya yang terlihat gugup.
Satu...
Dua...
Tiga...
"Hiaaakkk...!!!" Ketiga anak buah Caramel langsung berbalik badan dan menendang tiga sniper di belakangnya hingga jatuh tersungkur, tak lupa mereka mengambil senjata laras panjang yang dipegang para sniper itu sebelum lari. Sementara Caramel menerobos kolong kaki salah satu pendekar kungfu agar terhindar dari pengeroyokan.
Caramel dikejar oleh kedua pendekar kungfu itu, ia terdesak karena liftnya tak kunjung terbuka. Terpaksa ia harus melawannya, beberapa kali Caramel mengelak dari pendekar kungfu yang memiliki kekuatan bela diri yang cukup luar biasa itu. Bahkan, ia menggunakan kaki dan tangannya untuk menangkis tombak yang diarahkan ke perutnya. Untung saja Caramel pernah berlatih pencak silat sebelum bergabung dengan Badan Intelijen Nasional.
Caramel meringis kesakitan saat ujung tombak menggores lengan dan kaki kirinya hingga robek dan tembus ke kulit. Ia tidak boleh lengah, Caramel menendang tombak yang di pegang salah satu pendekar itu hingga terpental jauh, kemudian melawan mereka yang terus menendang dan memukulnya berkali-kali seperti jurus yang sering ditampilkan Bruce Lee.
Caramel mulai lemas, rasanya tubuhnya sudah tidak bisa digerakkan akibat dari pukulan bertubi-tubi yang mengenai urat syarafnya. Sekujur tubuhnya juga sudah dipenuhi luka yang serius. Wajah cantiknya sudah babak belur tak keruan. Sepatu pendekar kungfu itu berbunyi, berjalan mendekat sambil menyeret tombak yang baru saja ia ambil.
Napas Caramel tersendat-sendat. Ia hanya bisa menyeret kakinya mencoba menjauh dari psikopat asal negeri Tiongkok itu. Sebelum pendekar itu melayangkan tombaknya ke perut Caramel, buru-buru Caramel menendang tulang keringnya, hingga pendekar itu meringis kesakitan. Caramel memanfaatkan celah itu untuk kabur dengan terpincang-pincang. Masuk ke dalam kamar yang terbuka lalu menerjang jendela kaca hingga pecah berserakan untuk kabur sejauh mungkin melewati balkon. Pelan-pelan ia melompat turun ke balkon yang berada satu tingkat di bawahnya.
Dorrr!!!
Caramel mengelak saat musuh yang berada di bawah membidikkan pelurunya. Buru-buru ia masuk ke dalam gedung lagi. Kepalanya berputar-putar pandangannya mulai mengabur. Ia berjalan dengan tertatih-tatih menyusuri lorong dengan setengah kesadaran yang hampir hilang.
Tiba-tiba ada yang menarik tubuhnya. Ia meronta-ronta dengan sisa-sisa tenaganya.
"Diam!"
"Ini aku!"
Caramel menghela napas lega. Ia memejamkan mata untuk menetralisir kepanikannya. Napasnya tersengal-sengal. Gadis itu terlihat begitu memprihatinkan. "Rustam."
Rustam tersenyum tipis kemudian menutup pintu kamar.
Bersambung...
Lho? Kok, Caramel malah tenang banget ketemu sama Rustam? Padahal Rustam penjahatnya.
Lalu, keadaan Erwin sama Rena gimana, ya?
__ADS_1
Tunggu terus kelanjutannya hehe...