
"Viola, makan, yuk?" ucap Ibunya saat membuka pintu kamar.
Viola sama sekali tak memberi jawaban. Masih duduk di depan jendela sambil menatap air di kolam renang.
Ibunya melangkah, kemudian memegang kedua bahu Viola.
"Ada kabar dari Mas Erwin dan Rena?" tanya Viola dengan suara serak.
Ibu Viola menggeleng lemah. "Biar bagaimanapun hidup ini harus terus berjalan dengan atau tidak dengan mereka."
Viola menyeka air mata yang selalu setia menggenangi pipinya seminggu terakhir. "Anterin aku ke rumah Zahra, Ma!"
"Hmm, Zahra sekarang tinggal di panti asuhan." Ibu Viola yang selalu memantau perkembangan Zahra memberi tahu.
"Kenapa?" Viola tampak terkejut.
"Semua hartanya sudah dijual oleh pamannya. Dan, dia merasa tidak berhak menikmati harta yang ditinggalkan Erwin. Meskipun orang tua Erwin dan kakeknya sudah memaksa. Terlalu banyak kenangan di dalamnya."
Viola terenyuh, sambil menghela napas kasar. "Yaudah, ayo kesana!"
"Tapi, makan dulu, ya?"
Viola kembali terdiam beberapa saat kemudian mengangguk ragu.
***
Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam. Akhirnya Viola dan mamanya sampai di sebuah panti asuhan di kawasan Jakarta Selatan, tempat tinggal Zahra sekarang.
Sejak kecil, Zahra memang sering menginap di panti asuhan ini. Karena setelah kedua orangtuanya meninggal, tempat inilah yang membuat ia merasa masih memiliki keluarga. Sementara di rumahnya sendiri justru terasa seperti neraka. Keluarga paman Aji selalu memperlakukannya dengan kejam.
Viola melihat perempuan yang tidak asing lagi di depan panti. Buru-buru Viola langsung berlari menghampiri perempuan itu setelah turun dari mobil.
"Hey, kamu!" teriak Viola setelah sampai dihadapan perempuan memakai seragam kepolisian berwarna hitam itu.
"Kamu anggota kepolisian yang menyelamatkanku waktu itu, kan?"
Caramel menyunggingkan seulas senyum kemudian mengangguk. "Bagaimana keadaan anda?"
"Alhamdulilah, baik," angguk Viola antusias. "Kesini? Mau ngapain?"
"Pengen ketemu sama temen sekolahku."
"Owh," jawab Viola dengan mulut yang menganga.
"Itu temenku," tunjuk Caramel kepada perempuan yang memakai gamis balotelli berwarna navy.
"Ha?" Viola terkejut karena yang ditunjuk adalah Zahra.
__ADS_1
"Kenapa? Kaget? Itu istrinya tuan Erwin?" Caramel tertawa. "Iya, itu temenku."
"Ah, iya nggak nyangka." Viola terlihat kikuk.
Zahra menyalami Caramel, Viola, dan juga Ibu Viola.
"Kok, kalian bisa barengan gitu datengnya?" tanya Zahra tersenyum.
"Kebetulan banget, ya?" gurau Caramel kemudian terkikik.
Viola merasa iba dengan Zahra, yang meskipun sedang berduka tapi tetap terlihat ceria. Kini mereka berempat duduk di gazebo yang berada di taman panti.
"Bagaimana dengan keadaan kandunganmu?" celetuk ibu Viola, membuat Viola dan Caramel langsung mematung detik itu juga.
Zahra melirik ke arah perutnya, kemudian tersenyum miris ke arah ibu Viola. Bayi yang lahir tanpa kehadiran seorang ayah, batinnya.
Suasana ceria yang sempat tersaji lenyap begitu saja. Caramel hanya meneguk ludahnya dengan susah payah. Merasa bersalah karena Zahra kehilangan sosok suami karena kesalahannya. Caramel menjadikan Erwin sebagai umpan untuk mengetahui markas persembunyian Rustam, yang katanya di Beijeng ternyata berada di provinsi Hanan.
Zahra kembali terisak karena teringat dengan Erwin. Viola langsung mendekap tubuh Zahra untuk menenangkan. Viola menyadari kalau Zahra masih kecil, masih seumuran dengan adik Erwin. Wajar jika gadis yang harusnya kuliah seperti Zahra terpukul karena ditinggal suaminya.
"Mbak bakalan bantuin kamu jagain anak kamu." Viola mengusap-usap punggung Zahra yang bergetar didekapannya. "Kita urus anak kamu sama-sama, ya?" lirih Viola ikut menangis.
Caramel hanya bisa menggigit bibir bawahnya kemudian mendongak, tak kuat melihat pemandangan yang memilukan itu.
"Makasih, Mbak," ucap Zahra melepas pelukannya kemudian menyeka air mata yang lagi-lagi membasahi pipinya. "Eh, maaf jadi acara nangis-nangisan kayak gini, deh."
Deg.
"Berdoalah yang terbaik untuk tuan Erwin, Ra."
***
Zahra dan Viola mencoba menghibur diri mereka dengan mengunjungi kebun bintang Ragunan yang berada di Jakarta Selatan. Tak menyangka, tragedi itu membuat mereka menjadi sedekat ini bak seorang adik-kakak yang saling menyayangi.
"Tara! Zahra aku beliin cappucino cincau, nih." Viola memperlihatkan minuman yang baru saja ia pesan. Setelah lelah mengelilingi taman ragunan, melihat berbagai jenis binatang. Mereka berdua akhirnya memutuskan beristirahat di bangku yang sudah disediakan di sudut-sudut taman.
Mereka berdua sedari tadi hanya ketawa-ketiwi seperti anak remaja yang lagi hangout. Sangat mirip ABG yang belum merasakan pahitnya kehidupan.
"Zahra wajah kamu mirip orangutan tadi, deh." Viola terkikik sambil menyeruput cappucino cincaunya.
"Ishh," dengus Zahra sambil menepuk bahu Viola. "Mbak Viola malah mirip kambing yang dikandangin tadi, embekkk...," ledeknya membuat mereka berdua langsung terbahak-bahak.
"Aduh, ah, aduh. Perut aku sakit ketawa mulu." Viola mencoba mengerem tawanya yang membuat perutnya ngilu.
Zahra menyeruput minumannya santai, kemudian tatapannya beralih ke arah dua pasangan suami istri dan dua anak yang terlihat heboh saat melihat gajah diujung sana. Raut wajah Zahra langsung berubah sendu.
"Ada apa?" tanya Viola yang menyadari perubahan ekspresi wajah Zahra.
__ADS_1
Zahra memaksakan seulas senyumnya. "Nggak papa."
Viola tampak berpikir sejenak. "Dulu setiap weekend Mas Erwin sering ngajak aku holiday ke tempat-tempat wisata."
Zahra terdiam.
"Kamu tau apa yang selalu aku ingat dari Mas Erwin?" ucap Viola tersenyum, namun jelas sekali ada kesedihan yang ia sembunyikan. "Hmm, Mas Erwin tetap nyempetin solat di manapun ia berada, walaupun acara rekreasi masih seru-serunya."
Zahra menjatuhkan kepalanya ke bahu Viola. Biarkanlah mereka membuka kenangan-kenangan indah dimasa lalu untuk memulai masa depan yang baru.
"Mbak juga rindu sama Mas Erwin?" tanya Zahra sambil mengusap-usap perutnya. Pandangannya terlihat kosong.
"Mungkin. Aku menyesal karena telah meninggalkan Mas Erwin hanya demi Rustam."
"Berarti...."
"Tapi aku juga senang. Semua yang telah terjadi pasti ada hikmahnya," sela Viola memotong ucapan Zahra yang belum sempat selesai. "Kalau aku nggak cerai sama Mas Erwin, pasti Mas Erwin nggak bakalan nikahin kamu. Kamu itu mutiara, Ra, kamu itu cahaya yang memberikan kehangatan dikehidupan Mas Erwin. Sementara aku cuma kerang kopong yang tak berisi. Tidak ada keindahan sama sekali."
"Masak?" tanya Zahra dengan ekspresi yang sama. Murung.
Viola mendengkus, terkadang Zahra sangat menyebalkan. Ia tidak yakin kalau Zahra mendengarkan kata-katanya tadi.
"Kenapa Mbak tetep selingkuh, padahal Mbak tau kalau Mas Erwin itu adalah laki-laki terbaik."
Viola menghela napas, kemudian kembali menyeruput minumannya. "Dibalik keharmonisan rumah tangga, selalu ada setan berwujud mantan yang siap menghancurkan."
Seketika itu juga Zahra teringat dengan Vilan yang akhir-akhir ini sedang gencar mendekatinya.
"Seolah menyuguhkan keindahan syurga, padahal setan selalu menjerumuskan kita ke lembah kehancuran. Jadi, manusia harus pandai mengontrol hawa nafsu. Karena setan sering mempengaruhi kita lewat hawa nafsu." Viola merangkul tubuh Zahra memberi suntikan semangat.
"Perlombaan selingkuh itu mempertemukan kita sebagai pemenang dengan tokoh utama yang gugur dalam pertandingan." Zahra kembali meracau.
"Apa kamu nggak berniat nikah lagi, Ra?" tanya Viola ragu.
"Jika mencintai Mas Erwin mengingatkanku kepada Tuhan, kenapa aku harus menghianatinya?"
Viola kembali memeluk Zahra, keduanya kembali terisak menahan kerinduan kepada Erwin.
"Celakalah perempuan-perempuan yang memilih laki-laki hanya karena hartanya, bukan karena akhlak dan agamanya. Sudahlah kenapa kau mencari dunia. Dunia itu kecil, hanya sebesar sayap nyamuk bagi Sang Pemilik Arasy yang Agung."
"Kalau Mbak Viola mau nikah lagi, jangan coba-coba selingkuh kayak dulu, ya, Mbak," pinta Zahra dengan suara seraknya.
Viola menggeleng. "Nggak akan," jawabnya dengan suara bergetar. "Kalau kamu? Punya rencana nikah lagi?"
Zahra menggeleng pelan. "Entahlah, Mbak. Aku pengen fokus membesarkan anak ini sendiri, sampai tumbuh besar, sampai sukses, sampai menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain. Kemudian aku akan mati dan menyusul Mas Erwin dan Rena ke syurga."
Viola tercekat, tenggorokannya terasa kering mendengar ungkapan kesetiaan Zahra kepada Erwin. "Syurga memang terlalu indah untuk ditukar dengan kenikmatan duniawi, Ra. Kamulah perempuan pilihan. Kamu perempuan pilihan. Benar-benar perempuan pilihan."
__ADS_1
Bersambung...