
"Vilan, maafin aku, ya?" Zahra menunduk di hadapan pria tampan itu.
Vilan tersenyum, walaupun dadanya terasa sakit. "Aku yang harusnya minta maaf karena sudah mengganggu rumah tanggamu."
"Kamu nggak benci sama aku, kan, Lan?" lirih Zahra dengan tatapan sendu.
Vilan tersenyum tipis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Enggak,"jawabnya sambil memegang kedua bahu Zahra. "Terimakasih sudah mau dateng, ya?"
Mata Zahra sudah mulai berkaca-kaca menatap wajah mantan kekasihnya yang sudah pasti sedang terluka tak bisa disembuhkan. "Kamu jangan mencintaiku lagi," pinta Zahra dengan suara serak.
Vilan memejamkan mata sambil mengangguk lemah. Kesedihan benar-benar menyelimuti mereka berdua. "Aku ngajak ketemuan kamu sekarang. Karena ini yang terakhir." Suara Vilan terdengar bergetar.
"Ak...," Zahra meneguk ludahnya dengan susah payah. "Aku benar-benar minta maaf."
Vilan menurunkan tangannya dari bahu Zahra. Mencoba tegar, padahal Zahra tau Vilan sedang merasakan sesak yang sangat dalam di dadanya.
"Boleh aku peluk kamu?"
Zahra tersentak mendengar ucapan Vilan. Perempuan itu menatap Vilan dengan tatapan bingung.
"Untuk yang terakhir kali?" imbuh Vilan dengan suara berat.
Zahra ragu-ragu, namun, ia terpaksa untuk mengangguk. Vilan merengkuh tubuh Zahra erat. Sangat erat, seolah tidak ingin berpisah. Dan dipelukan itulah akhirnya air mata yang sudah Vilan tahan sejak tadi tumpah membasahi wajah. Vilan terisak dipelukan Zahra.
Tak lama kemudian Vilan melepaskan pelukannya. Lalu, memundurkan langkahnya meninggalkan Zahra. "Semoga kamu selalu bahagia, Ra!" teriaknya.
"Kamu masih ganteng, Vilan, semoga kamu mendapatkan perempuan yang lebih baik daripada aku!!!" teriak Zahra saat Vilan semakin jauh dari pandangannya kemudian hilang ditelan oleh kerumunan orang yang ada di bandara.
"Sudah selesai?" celetuk seseorang yang berada di belakang Zahra.
Zahra langsung menengok ke belakang, kemudian terkejut melihat Erwin sudah berdiri di sana dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana. Entah, sejak kapan Erwin berada di situ. Yang jelas Zahra takut kalau Erwin melihat dirinya berpelukan dengan Vilan.
"Ayo pulang?" Erwin menggandeng tangan Zahra keluar dari ruang tunggu bandara menuju ke parkiran. Sementara Zahra masih terlihat kikuk.
"Se..., sejak kapan kamu berada di sini?" Zahra mendongak menatap Erwin yang lebih tinggi darinya.
"Sejak kamu ada di sini." Erwin tersenyum manis seolah tidak terjadi apa-apa.
Gawat! Zahra mendengus dalam hati.
"Hari ini kamu harus memeriksakan kandunganmu ke dokter, makanya aku datang jemput kamu."
Tentu saja dari kata-kata itu Zahra tau bagaimana Erwin bisa sampai kesini. Mungkin, pria itu membuntutinya saat keluar dari rumah.
Saat sudah menaiki mobil, Zahra hanya terdiam. Menunggu Erwin memarahinya. Karena Zahra yakin kalau Erwin pasti akan menuduhnya selingkuh dengan Vilan.
Erwin masih mengemudikan mobilnya dengan tenang.
"Udah gitu doang? Kamu nggak marah?" tanya Zahra karena melihat ekspresi Erwin yang tenang.
"Kenapa harus marah?" jawab Erwin melirik ke arah Zahra sebentar kemudian fokus menatap ke depan.
__ADS_1
"Tadi, kamu pasti lihat aku dipeluk Vilan. Pasti kamu juga ngiranya aku selingkuh sama Vilan."
Erwin tersenyum miring. "Jangan seudzon sama orang. Aku tidak menuduhmu seperti itu."
"Lalu?"
"Ya nggak pakai lalu."
Zahra hanya menggaruk-garuk keningnya yang tidak gatal. Ini orang gimana, sih?
"Kamu nggak cemburu?" tanya Zahra lagi.
Erwin terkekeh kecil. "Bener, ya, kalau laki-laki itu selalu salah di mata perempuan."
"Maksudnya?"
"Kalau tadi aku marah-marah pasti kamu bakalan ngomel-ngomel karena tuduhanku salah. Ini aku udah diam aja nggak comment apa-apa, tapi masih salah dimatamu." Erwin menghela napas lelah.
Zahra rasanya ingin tertawa melihat wajah memelas Erwin. Sejak pertama menikah, Erwin belum pernah sama sekali membentaknya. "Maksudku kenapa kamu nggak marah, istrimu yang cantik ini dipeluk Vilan."
"Orang yang dipeluk juga mau kenapa dimarahin? Dosa tanggung sendiri." Erwin tersenyum licik.
"Vilan nggak kamu tegur?" tanya Zahra lagi.
"Vilan juga berhak bahagia."
"Aku bisa saja lho, ngelakuin hal itu ke laki-laki lain?"
Zahra hanya tertawa. Erwin pun ikut tersenyum. Ia tau tadi adalah perpisahan menyedihkan antara Zahra dan Vilan. Erwin tidak marah karena ia berpikir jika menjadi Vilan akan terasa menyedihkan, bahkan Erwin mendoakan agar Vilan mendapatkan jodoh yang lebih baik. Itualah Erwin, sosok yang selalu berpikir rasional.
***
Zahra dan Erwin baru saja keluar dari ruang USG. Menurut pemeriksaan dokter anak mereka berjenis kelamin laki-laki. Erwin terlihat sangat bahagia, karena sehabis perempuan anaknya laki-laki. Semoga saja prediksi dokter benar.
"Mas, Mbak Viola mau dateng ke sini. Rena rewel pengen ikut kita." Zahra menunduk menatap pesan singkat yang tertera di layar ponselnya.
"Kenapa kita nggak jemput dia aja?"
"Enggak, mereka sudah sampai deket sini, kok. Rena nggak sabaran kalau nunggu dijemput."
"Huffttt, anak itu." Erwin duduk di sebuah kursi panjang yang ada di rumah sakit, sambil menunggu kedatangan Rena dan Viola.
Sementara Zahra masih asyik chattingan dengan Viola. Tak, lama kemudian Viola dan Rena akhirnya muncul dari lorong rumah sakit. Rena berlari meninggalkan Viola yang berjalan santai di belakangnya.
"Papa!" teriak Rena menghambur memeluk Erwin. Erwin langsung menangkap tubuh mungil Rena kemudian menggendongnya.
"Kamu ini nyusahin Mama Viola terus. Kalau mau ikut Papa langsung telepon aja, jangan malah nangis minta dianterin." Erwin mencubit pipi chubby Rena.
"Iya, kamu itu jadi anak nggak sabaran." Zahra tersenyum sambil mengacak-ngacak puncak rambut Rena.
Viola sudah sampai dihadapan mereka. "Aku mau langsung aja, Mas, titip Rena, ya?" ucap Viola dengan ekspresi datar.
__ADS_1
Erwin tersenyum ke arah Viola sambil berbincang-bincang dengan Rena.
Zahra menyadari raut kesedihan di wajah Viola. Entah kenapa Viola sedikit canggung dan sungkan jika bertemu dengan dirinya dan Erwin. Seolah tidak ada kata-kata sederhana yang bisa diucapkan untuk mengakrabkan diri. Viola hanya berbicara secukupnya saja kemudian langsung pergi.
"Tunggu, Mbak!" sergah Zahra membuat langkah Viola terhenti. Wanita yang kini sudah berhijab itu kembali menoleh ke arah Zahra.
"Ayo ikut jalan-jalan ke puncak, Mbak?" ucap Zahra mengajak Viola.
Viola hanya tersenyum tipis, kemudian menggeleng. "Enggak. Aku di rumah aja," ucapnya kemudian melanjutkan langkahnya meninggalkan Erwin dan Zahra, setelah sebelumnya menatap Erwin dengan tatapan datar.
Zahra merasa tidak enak hati dengan perubahan Viola. Tidak seperti dulu saat Erwin belum pulang, Viola tampak perhatian dan bersahabat dengannya. Zahra hanya bisa mendoakan Viola supaya mendapatkan kebahagiaan yang ia impi-impikan.
***
Erwin yang baru saja memasuki kamar mengerutkan dahi saat dihadang oleh Zahra.
Keduanya terdiam, saling pandang beberapa menit. Sampai pada akhirnya Zahra tersenyum ke arah Erwin.
"Hmm, apa yang kamu pikirkan?" tanya Erwin curiga.
Zahra tidak menjawab. Perempuan itu membantu Erwin melepaskan dasi di kerah bajunya.
Enrah kenapa Erwin terlihat menggoda di mata Zahra. Meskipun setiap hari bertemu, tapi rasa kangennya kepada Erwin selalu muncul setiap saat.
Zahra mendorong tubuh Erwin sampai terjatuh ke kasur. Kemudian Zahra melompat ke pelukan Erwin.
"Asstagfirullahaladzim, kelakuanmu kayak Trio Macan."
Zahra terkikik sambil memeluk Erwin yang ada di bawahnya. "Pengen."
"Jadi? Enak yang selingan apa yang halal?"
"Yang halal, lah, aneh." Zahra mendengus.
"Jadi, jangan pernah selingkuh, ya?" Erwin tersenyum kemudian mengecup pipi Zahra.
"Oke... Nggak akan ada lagi Lomba Selingkuh!"
"Merdeka!!!"
KESIMPULAN
Perselingkuhan adalah sebuah penyakit sosial yang sering terjadi di dalam rumah tangga maupun kisah cinta para remaja. Seperti virus yang bisa menyerang dan menggoda siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan.
Selingkuh adalah sebuah kenikmatan dunia. Tapi perlu diingat, bahwa melestarikan perselingkuhan sama saja menambah dosa secara konsisten. Membunuh karakter, sehingga tidak ada lagi batas kebaikan maupun keburukan. Pengeluaran membengkak, sehingga keluarga sendiri malah terlantar. Bahkan, selingkuh juga mengakibatkan penyakit mental yang akan membuat orang berselingkuh itu mengalami stres, dihantui rasa bersalah, dan hidup menjadi tidak tenang.
Terkadang pacar simpanan kita terlihat lebih baik dan lebih indah daripada pasangan kita sendiri. Tapi sadarlah, jika tahap promosi itu selalu menampilkan yang baik-baik, padahal ada jutaan kejelekan yang tersembunyi dari balik senyuman indahnya. Tak khayal orang yang mengkhianati pasangannya akan menyesal di kemudian hari, seperti sosok Viola di dalam cerita ini.
Kemudian Zahra, tokoh yang memberi banyak pelajaran untuk kita. Sosok yang mencerminkan ketegaran, kesetiaan, dan ketulusan yang hakiki. Tidak ada balasan yang pantas untuk dirinya selain kebahagiaan dunia dan akhirat. Setia dengan suaminya, taat kepada Tuhannya, bagus akhlaknya, itulah RATU DUNIA KITA, almaratus-solehah, istri yang solehah. Kita jaga ratu-ratu dunia di rumah kita, bukan untuk dipamerkan, bukan untuk diperlombakan tapi untuk mencari ridho Allah SWT.
TAMAT
__ADS_1
Alhamdulilah, akhirnya cerita ini selesai hehe...