
Aku mencium aroma nasi goreng yang baru saja dimasak Zahra. Terlihat begitu lezat. Semakin tidak sabar untuk melahapnya.
"Masakanmu membuatku candu," pujiku sambil menghirup nasi goreng panas yang masih mengepulkan sedikit asap.
"Orangnya nggak bikin candu?" godanya sambil terkikik.
Aku tersenyum tipis. "Kok bisa ya?"
"Bisa apanya?"
"Aku menggauli perempuan di bawah umur."
Zahra mendengkus kesal sambil mencubit lenganku. "Ishh, aku udah berumur tahu!"
Aku terkekeh geli melihat ekspresi kesalnya. Beberapa saat kemudian, tawa kami terhenti setelah terdengar bunyi ponsel dari dalam kamar.
Drrttt… Drrrtttt…
"Bentar, aku angkat telepon dulu, ya." Zahra beranjak dari duduk. Kemudian melangkah menuju kamar.
Sorot mataku mengawasi kepergiannya. Lumayan lama, aku mengetuk-ngetukkan sendokku ke piring dengan bosan. Menunggu Zahra kembali.
Karena penasaran, akhirnya aku memutuskan untuk menyusul Zahra di kamar. Barangkali yang menelpon adalah Rena.
Aku berdiri di depan pintu setelah sampai di lantai dua. Zahra nampak meraih ponselnya yang berada di atas nakas. Dahi wanita itu mengernyit ketika melihat nama yang tertera pada layar ponselnya.
"Tante?" Zahra sedikit ragu untuk mengangkat panggil telepon. Manik matanya sempat menyorot ke arahku, aku mengangguk sebagai tanda agar dia segera mengangkat teleponnya.
"Ha… halo, Tante?"
"Zahra kamu sudah lupa? Tanggal berapa ini?"
"Seharusnya suamimu sudah setoran ke Tante sejak kemarin!" ucap wanita paruh bayah di seberang sana yang diloudspeaker oleh Zahra.
"Tante nggak tahu diri, ya!" Zahra mengepalkan tangan kesal.
"Suamimu sudah berjanji membayar pajak balas Budi kepada Tante setelah menikahi kamu, Zahra," ucap tante Susi enteng.
"Nggak punya otak! Anda sudah merampas semua hartaku bertahun-tahun, sekarang masih mau ngrampok lagi!" Zahra tampak kesal setengah mati.
"Perjanjian tetap perjanjian Zahra!"
"Nggak sudi! Sebentar lagi kalian akan aku usir dari rumahku!" teriak Zahra kesal.
"Dasar keluarga benalu tak tahu malu!"
Aku menghela napas kasar mendengar perdebatan mereka lewat telepon. "Bilang saja, aku akan transfer 60 juta hari ini, sesuai janjiku."
Perempuan itu menoleh ke arahku. "Pak Erwin?"
"Aku akan transfer
60 juta."
"Tapi Pak, kebutuhan ekonomi kita sebulan tidak sampai segitu. Sayang uangnya kalau cuma dikasihkan ke keluarga benalu," lirih Zahra menjauhkan ponselnya agar tantenya tidak mendengar apa yang diucapkannya kepadaku.
"Demi ketenangan hidup kita berdua," jawabku tak mau ambil pusing.
Zahra menghela napas kasar. "Ish!"
Tut.
Zahra mematikkan ponselnya lalu melemparnya asal ke atas kasur.
__ADS_1
Aku kembali tersenyum kemudian duduk di sebelah Zahra. "Jangan sedih," godaku.
"Huh, nanti uang kita habis gimana?"
Aku terkekeh. "Kalau kamu khawatir besok kita nggak bisa makan, berarti kamu sudah menghina Tuhan."
Zahra menyorotku dengan wajah sendu.
"Kalau kamu khawatir dengan susahnya hidup, berarti kamu sudah menghina Tuhan secara tidak langsung."
"Tuhan nggak pernah tidur, Zahra. Tuhan selalu ada untuk membantu kita. Semua yang kita hadapi itu sudah ketetapan dari Tuhan. Selama kamu menjalani hidup, hidup ini tidak akan ada tenangnya. Tapi, percayalah Tuhan selalu berada di dekat kita." Aku mengelus-elus pipi Zahra dengan kelima jari.
"Di mana kebahagiaan kita nanti? Tentu saja di surga nanti. Makanya kita perlu sabar menjalani hidup, menjalankan segara perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya."
"Surga itu diibaratkan adzan magrib saat bulan puasa. Nikmat bukan berbuka puasa setelah menahan lapar dari subuh sampai magrib? Kenikmatan itu memang perlu ditahan agar lebih terasa nikmat lagi."
Zahra manggut-manggut. Aku tersenyum simpul.
Semua yang ada di dunia ini hanya tipuan. Seperti fatamorgana, semakin kau kejar semakin kau rakus, semakin kau telan semakin kau haus, tidak akan ada puasnya. Pada akhirnya kita akan tetap mengeluh, walaupun apa pun yang semuanya kita mau sudah terwujud.
"Lagipula saya sudah pernah bilang, jangan membicarakan soal uang di depanku. Hartaku tidak akan habis walaupun kamu pakai buat bikin rumah mewah satu komplek." Aku terkekeh.
"Terus kapan pak Erwin membantu saya mengusir mereka dari rumahku?" cicit Zahra.
"Nanti kalau kamu berhenti manggil saya Bapak. Saya suamimu Zahra, seharusnya kamu bisa lebih romantis kalau manggil."
Zahra berdecak kesal. Mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Nggak usah sedih, kita main ke panti asuhan kamu aja, yuk!" Aku memegang kedua pundak Zahra.
Zahra menoleh dengan antusias. "Benaran, Pak? Ayo! Aku udah lama juga nggak pernah ke panti." Zahra langsung beranjak dari duduknya kembali menuju ke ruang makan untuk melanjutkan sarapan.
Wanita itu memang memiliki panti asuhan yang ia kelola sendiri. Zahra sangat menyayangi mereka. Terlihat dari binar-binar di wajahnya ketika menceritakan soal kelucuan anak-anak panti.
***
Zahra mengenakan gamis berwarna hitam bercorak pink. Sementara aku, mengenakan kemeja hitam polos dengan celana formal khas pegawai kantor.
"Alhamdulilah, Bunda," jawab Zahra tersenyum kemudian memeluk bu Anti. Mereka terlihat sangat akrab.
"Hmm, ini pacar kamu?" tanya bu Anti setelah melepas pelukannya sambil meneliti penampilanku penuh rasa kagum.
"I … ini suamiku, Bunda." Zahra tersenyum kikuk
Bu Anti terlihat kaget. "Ya ampun, kamu sudah menikah
Kenapa nggak kabar-kabar?"
"Hmm, maaf, ceritanya panjang. Nanti aku ceritain. Eh, anak-anak mana, Bun?" tanya Zahra mengalihkan pembicaraan.
"Owh, sebentar, ya, Bunda panggilin dulu." Bu Anti mengangguk, meski masih terlihat penasaran. Mungkin, perihal pernikahan kami.
"Anak-anak, Kak Zahra datang!!!" teriak Bu Anti.
Sesaat kemudian ada banyak anak-anak kecil dan beberapa anak-anak yang seumuran dengan Zahra berhamburan keluar untuk memeluk Zahra. Mereka terlihat ceria ketika menyambut kedatangan Zahra.
Aku tersenyum simpul melihatnya.
"Zahra anak baik."
Aku menoleh saat Bu Anti membuka suara. Wanita paruh baya itu tersenyum saat melihat anak-anak menarik Zahra untuk bermain bersama mereka.
"Saya bersyukur panti asuhan ini tidak ikut jatuh ke tangan pamannya yang kejam itu. Panti asuhan ini satu-satunya peninggalan yang dikelola oleh anak kandung Setiawan sendiri."
__ADS_1
Aku mengamati cerita Bu Anti dengan seksama.
"Setelah meninggalnya pak Setiawan dan istrinya dalam sebuah kecelakaan tragis. Hak asuh Zahra sebagai anak yatim jatuh ke tangan pamannya, pak Aji." Bu Anti menghela napas kasar.
"Namun, bukannya merawat anak yatim piatu sekelas Zahra dengan baik, mereka justru bertindak semena-mena kepada Zahra."
Aku termenung mendengar penjelasan dari Bu Anti.
"Tak hanya itu, mereka merampas semua harta yang sah menjadi milik Zahra sebagai ahli waris. Mereka memperlakukan Zahra dengan tidak baik sejak kecil. Mereka tidak pernah menyayangi Zahra sama sekali." Bu Anti menyeka peluh yang merembes ke pipinya.
"Zahra tidak pernah diizinkan kemana pun selain ke sekolah dan ke panti ini. Mereka takut jika Zahra bilang macam-macam."
Aku menyelipkan kedua tangan ke dalam saku celana. "Kasus ini bisa diseret ke jalur hukum."
"Masalahnya tidak ada yang bisa membantu Zahra untuk saat ini. Kami semua dibuat bungkam dengan ancaman-ancaman dari Pak Aji. Zahra juga tidak bisa berkutik karena pergerakannya di rumah itu terus dieksploitasi."
"Siapa pengacara pribadi keluarga Setiawan?" tanyaku dengan suara berat.
Bu Anti terdiam cukup lama. "Saya kurang tahu, Mas."
"Kita harus mencari pengacara pribadi tuan Setiawan untuk merebut harta Zahra kembali," tuturku.
"Tidak semudah itu, Mas."
"Kenapa?" tanyaku sambil melirik ke arahnya.
"Pak Aji adalah orang yang sangat licik. Bahkan ...," ucapan Bu Anti terhenti. Beliau tampak ragu-ragu.
"Apa?" tanyaku penasaran.
"Bahkan yang merencanakan pembunuhan atas pak Setiawan adalah beliau."
Aku tersentak.
"Dari awal, tujuan beliau memang menguasai harta Pak Setiawan."
Kedua tanganku terkepal. Ini semua memang tidak bisa dibiarkan.
"Beliau menggunakan segala cara untuk menyingkirkan pak Setiawan," lanjut Bu Anti.
"Saya curiga, kalau keluarga pak Aji sudah mengganti surat wasiat ahli waris, harta gono-gini pak Setiawan."
Tanganku semakin terkepal kuat. "Ini tidak bisa dibiarkan."
***
Aku mengumpulkan banyak orang untuk menulusuri riwayat hidup pak Setiawan. Guna menemukan siapa pengacara pribadi almarhum pak Setiawan.
Surat wasiat dan pembagian hak ahli waris itu harus segera diselesaikan. Sebelum keluarga pak Aji mengambil alih semuanya.
Zahra tidak tahu siapa pengacara pribadi ayahnya. Karena sejak kecil dia tidak pernah diizinkan kenal oleh orang terdekat pak Aji. Bahkan Zahra dikurung di dalam kamar ketika pak Aji menggelar sebuah acara di rumah.
Hartaku memang banyak, tidak akan habis walau digunakan foya-foya anak-cucu kami di masa mendatang. Hanya saja kekejian keluarga paman Aji sedikit menyakiti perasaanku.
Sebagai suami Zahra, aku merasa bertanggungjawab atas ini semua. Meski harta keluarga Zahra tidak ada setengah dari gajiku.
Aku melirik ke arah Zahra yang melamun di sebelahku. Mungkin, sedang sibuk berpikir siapa pengacara yang paling dekat dengan keluarganya.
Pandanganku kembali beralih ke depan. Ke arah jalan raya.
Yang jelas, aku menyadari satu hal. Apakah aku mulai benar-benar mencintai Zahra?
Jangan lupa follow Instagram nurudin_fereira
__ADS_1